Kenapa Orang Indonesia Buang Sampah Sembarangan

img_20160912_074832
Bahkan di tempat peribadatan sesakral masjid pun kesadaran menjaga kebersihan sangat rendah. Foto diambil di Masjid Istiqlal Jakarta setelah salat Idul Fitri. (Dok: Pribadi)

BUANG SAMPAH SEMBARANGAN ialah satu kebiasaan buruk masyarakat Indonesia. Memang kebiasaan ini bukan monopoli orang kita. Jorok merupakan suatu bagian sifat manusia tanpa kenal ras dan bangsa. Bahkan di Barat, kebiasaan ini juga bisa dijumpai di area perdesaan yang kelihatan sekilas permai dan hijau di musim panas.

Akan tetapi, masalahnya efek buruk kebiasaan ini di tanah air terlihat bahkan di tempat-tempat umum yang seharusnya dijaga kebersihannya secara ketat oleh semua elemen masyarakat. Pembiaran ini menjadi pemberian pesan bahwa seolah-olah membuang sampah sembarangan bukan perilaku memalukan, dan meskipun sudah didirikan papan-papan peringatan bahwa pembuang sampah akan didenda sekian ratus ribu rupiah atau bla bla, saya ragu aturan itu secara serius ditegakkan.

Ada beberapa alasan mengapa orang Indonesia bisa sampai separah ini.

Pembiaran dalam keluarga

Melihat anak-anak yang mau membuang sampah di tempat yang seharusnya masih jarang. Alasan sederhananya karena orang tua mereka tidak memberi teladan juga. Mungkin mereka ini hanya dinasihati untuk buang sampah dan menuruti cuma di sekolah tapi di luar setelah sekolah usai, buang sampah sesukanya bukan lagi masalah.

Kebersihan cuma formalitas

Penghargaan Adipura adalah bentuk nyata paling memuakkan dari poin argumen saya ini. Saya dari dulu mempertanyakan apa tujuan mengadakan penghargaan semacam itu kalau hanya menilai kebersihan sebuah kota di area-area tertentu dan mengabaikan manajemen sampah, cara hidup masyarakat, tata kota, dan pemeliharaan kebersihannya secara keseluruhan. Bukan cuma di jam-jam tertentu, tanggal tertentu, tapi juga sepanjang tahun. Kebersihan menjadi semacam kedok semata. Topeng yang bisa menaikkan gengsi sebuah daerah dan kepala daerahnya.

Sampah bisa membusuk dan hilang dengan sendirinya

Kesadaran yang amat rendah itu bisa dipahami karena masyarakat menganggap sampah terutama yang anorganik dan plastik itu sama dengan dedaunan yang bisa busuk dengan sendirinya. Padahal tidak! Akibatnya orang membeli dan memakai plastik secara bebas bak nenek mereka yang membeli dan memakai daun pisang untuk membungkus makanan secara leluasa.

Sudah ada pengurus sampah dan pemulung petugas kebersihan yang bisa dibayar

“Kenapa susah-susah jalan ke sana kemari mencari tong sampah kalau bisa tinggal buang? Toh nanti juga ada yang bersihkan.” Begitu pikiran orang-orang Indonesia pada umumnya. Pasukan petugas kebersihan yang dipekerjakan pemerintah memang sudah membuat manja masyarakat. Alhasil, mereka cuma peduli pada kebersihan di sekitar rumah. Di luar pagar rumah, ya urusan kebersihan itu ada pada pundak pemerintah. Ini juga menjelaskan kenapa perumahan-perumahan mewah selalu resik dan permukiman orang miskin selalu kumuh dan kotor.

Penegakan hukum yang lemah

Apakah ada berita seseorang yang ketahuan membuang sampah langsung diseret ke meja hukum dan menjadi sorotan? Musykil. Di tengah animo masyarakat yang haus berita sensasional, berita semacam itu kurang menarik. Dan karena itulah, orang jadi kurang sadar bahwa membuang sampah sembarangan adalah kejahatan serius juga bagi lingkungan. Tidak jelas juga siapa yang bisa melaporkan pelaku pembuangan sampah sembarangan. Semua orang berpikir,”Ya itu kan urusan aparat/ pejabat. Bukan saya. Apalah saya?” Plus, biasanya pelaku buang sampah sembarangan adalah orang yang kita kenal sendiri, misalnya tetangga atau keluarga. Bisa jadi kita hanya bisa memaklumi dan menganggap tak pernah terjadi.

Penanganan sampah yang amburadul

Manajemen sampah di Indonesia tidak pernah serius dan menyeluruh dan pemerintah tidak pernah menunjukkan itikad untuk memperbaikinya secara sistematis dan berkelanjutan dan nyata. Itu terlihat dari cara membuang sampah yang sembarangan. Masyarakat sampai petugas kebersihan tidak pernah diberi edukasi mengenai pemisahan sampah yang sepatutnya (saya menahan diri untuk tidak membandingkan dengan masyarakat negara ‘maju’) tetapi pemerintah membeli saja tempat sampah dengan tiga kategori berbeda (organik, anorganik dan B3) untuk disediakan di tempat-tempat umum. Alhasil, sama saja bohong. Semua sampah bercampur begitu saja di ketiga tempat sampah tadi. Label sama sekali tidak berpengaruh. Orang tak akan ambil pusing untuk membedakan mana yang organik, mana yang anorganik, dan mana yang limbah berbahaya. Jadi, tempat-tempat sampah yang sok ‘maju’ itu cuma lelucon saja bagi saya. Omong kosong dan formalitas.

Kebersihan sebagian dari iman?

Bukan kebetulan bahwa masyarakat Indonesia muslim dan tak peduli kebersihan. Selama ini mereka hanya diajari bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. “Ya, tak masalah lah, masih ada sebagian lainnya kok. Nggak hilang semuanya kan,” begitu pikiran bawah sadar mereka berkelit. Kekotoran sebagian dari dosa, mungkin begitu seharusnya cara pandang itu mulai dibalik. (*/)

jakarta_slumlife65
Keseriusan menangani sampah baru sebatas mengangkut dan menumpuk sampah di satu tempat. Mengolahnya agar bisa digunakan dan didaur ulang rasanya masih terlampau muluk-muluk. (Foto: Wikimedia Commons)

2 thoughts on “Kenapa Orang Indonesia Buang Sampah Sembarangan

    1. Nah, mindset itu emang agak susah diubah ya. Kesel. Murah karena cuma nyingkirin sampah dari pandangan mata. Bukan mengolah. Nimbun doang di TPA. Haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.