Tata Cara Membatalkan Tiket Kereta Api (Sebuah Drama)

img_20180613_094837.jpg

SAYA punya kategori khusus di blog ini yang bernama “Save Our Nation”. Entah kenapa saya pilih itu tapi mungkin karena dulu saya berpikir banyak hal-hal yang dilakukan bangsa ini dan masyarakatnya yang perlu diperbaiki dan jika tidak segera diperbaiki akan membuatnya ketinggalan dan usang dan menjengkelkan.

Untuk tulisan ini, saya tanpa ragu memilih kategori tersebut karena saya pikir ini memerlukan perbaikan. SANGAT AMAT memerlukan perbaikan. Karena jika dibiarkan begini terus menerus, saya jamin akan lebih banyak lagi keluhan-keluhan semacam ini beredar di dunia maya dan nyata sampai menteri perhubungan bisa tahu dan mau menyuruh bawahan-bawahannya memperbaiki kondisi yang ada.

Berlawanan dari kemudahan yang ditawarkan saat kita membeli tiket kereta api secara daring di aplikas-aplikasi semacam Tiket.com dan Traveloka.com, hanya ada kesengsaraan saat kita akan membatalkan tiket itu.

Mudah beli, susah kembali.

“Tapi ya sudah untung masih bisa dikembalikan, kan?” begitu mungkin pikir orang yang menganggap tiket kereta seharga setengah juta rupiah sebagai recehan belaka. Saya mau berpikir seperti itu. Sayangnya, saya hanya pemudik jelata yang mencoba mengerem setiap pengeluaran jelang, selama dan setelah musim Lebaran yang super konsumtif ini.

Saya paham dan maklum bahwa PT KAI memotong 25% dari harga tiket karena kerepotan yang disebabkan. Saya rela. Masukkan saja itu sebagai infak bagi perbaikan sarana transportasi bangsa yang saya akui makin memuaskan. Tapi untuk sektor pengembalian uang tiket yang dibatalkan, rasanya pengakuan itu tidak bisa saya berikan begitu saja.

Urgensi perbaikan prosedur pembatalan dan pengubahan jadwal tiket ini sudah saya rasakan sejak saya sampai di stasiun seminggu sebelumnya. Kata petugas, tiket baru bisa dicetak jika sudah masuk periode seminggu sebelum tanggal keberangkatan. Saya pun ke stasiun seminggu sebelum hari H. Dan tebak apa kata mesin cetak tiket mandiri itu di layarnya. TIDAK BISA DICETAK.

Untung saya masih puasa jadi saya meninggalkan stasiun tanpa berteriak-teriak seperti orang gila. Kenapa saya harus mencetaknya dulu? Karena saya butuh bukti fisiknya agar bisa diurus dan dibatalkan.

img_20180613_094846.jpg

Lalu saya kembali beberapa hari setelah itu dengan tekad bulat. Sudah tengah hari dan loket 9-10 di stasiun Gambir itu terlihat agak penuh tapi tak sampai berdesakan dan meluber. Saya bingung apakah harus ke Customer Service (ternyata di depan pintu mereka sudah memajang peringatan tidak melayani pembatalan tiket) atau mengantre. Ok, saya antre tapi bahkan sebelum saya mengambil nomor antrean, seorang petugas yang saya tanya mengatakan kurang lebih begini:”Wah, sudah ratusan hari ini, pak. Besok lagi. Kalau mau mulai antre, dari jam 4.”

Sekali lagi saya pulang dengan tangan hampa.

Esoknya saya bangun pukul 3.30 dan tidak peduli belum sahur saya ke stasiun dan tebak apa yang saya temukan di depan loket pembatalan tiket? Sembilan orang laki-laki sudah mengantre di depan mesin pemberi nomor antrean. Bahkan antrean untuk mengambil noor antrean saja sudah dimulai pukul 3.50 dini hari. Saya dapat nomor 10.

Alhamdulillah!

Tinggal menunggu dipanggil dan saya akan dapat uang 75% dari harga tiket itu, pikir saya polos dan sederhana dan naif.

Saya lari ke gerai makanan cepat saji dan memesan makanan dan sebelum saya menghabiskan gigitan pertama, saya lihat nomor antrean pertama dipanggil ke depan. Saya buru-buru ke kursi tunggu, takut tertinggal. Saya pikir cuma satu loket yang dibuka tapi ternyata dua. Bagus, saya apresiasi itu.

Tiba giliran saya dalam waktu kurang dari 30 menit. Cukup cepat, saya akui.

Saya serahkan formulir pembatalan (foto pertama di atas) dan KTP dan mengharapkan penggantian dalam bentuk tunai, bukan transfer.

Alasan saya pilih tunai?

Kalau transfer, lebih lama pengembaliannya. Dan saya tidak mau ambil risiko, mereka lupa mentransfer dan saya menunggu seperti orang dungu memeriksa saldo rekening setaip hari. Kalau tunai, saya bisa lebih cepat dapat dan saya pikir sekarang juga.

Ternyata tidak, saudara-saudaraku terkasih.

Uang itu akan baru bisa diambil setidaknya sebulan setelah hari ini saat saya mengajukan pembatalan di stasiun terdekat. Setelah tanggal itu bahkan masih bisa diambil tapi tidak sebelum tanggal itu, kata petugas.

Apa daya saya?

Uang yang saya harap masih bisa saya dapatkan di saat yang relatif penting seperti lebaran, ternyata tertahan.

Drama ini masih akan berlanjut setidaknya 30 hari ke depan. Jadi, nantikan kelanjutannya. Saya pastikan akan ada kabar terbaru di sini begitu saya rampung dengan ‘episode hidup’ saya ini.

‘Cegukan’?

Fenomena ini menunjukkan betapa seringnya kita sebagai bangsa berlari sekencang-kencangnya dalam mengadopsi satu aspek teknologi saja dan abai untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan lainnya. Tersedak atau hiccup mungkin istilah tepatnya. Terlalu bernafsu dengan digitalisasi ini itu. Semua jadi online. Tapi di sisi-sisi yang terkesan remeh dan sepele, kita lupa memikirkan solusinya. Seperti kasus ini: membeli online dan modern dan praktis dan cukup duduk di depan laptop atau menggenggam ponsel, tapi membatalkan masih harus offline, bolak-balik, primitif, menghabiskan waktu, tenaga, dan kewarasan, dan harus bangkit keluar rumah, mengantre sebelum subuh.

Bagaimana menurut Anda sendiri, pernah mengalami hal semacam ini juga? (*/)

 

 

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in save our nation and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.