Mengulik Strategi Merek Mozilla

INDONESIA menempati posisi istimewa di hati Mozilla. Meskipun di sini memang tidak ada kantor cabangnya yang resmi (yang ada ‘hanya’ ruang komunitas), Mozilla berkomitmen untuk terus memelihara keberadaan komunitas pecinta produk-produknya terutama peramban Mozilla Firefox di tanah air.

Kemarin (30 Juli 2018, Senin) saya sebagai salah satu keyholder alias relawan di Mozilla Indonesia Community Space berkesempatan tidak hanya menghadiri tetapi juga memandu acara “Branding Strategy” yang sedianya menghadirkan Mary Ellen Muckerman yang bekerja sebagai Vice President of Brand Strategy and Services di Mozilla AS sana. Di kunjungannya kali ini, ia tidak hanya menyambangi ruang komunitas Mozilla Indonesia tetapi juga berencana akan memberikan sejumlah paparan di beberapa tempat yang akan ia kunjungi di beberapa kota.

Saya sendiri tertarik dengan topik yang dibahas karena bidang pekerjaan yang kerap bersentuhan dengan dunia merek baik itu merek diri (personal brand) hingga merek perusahaan (company brands). Tetapi Mozilla adalah perusahaan yang unik karena ia bersifat nirlaba dan memiliki idealisme dan visi yang sangat berbeda dari perusahaan atau entitas internet lainnya. Keberadaan dan kegiatannya di tanah air juga sangat didukung oleh para relawan sehingga aktivitas branding rasanya tidak akan melulu soal menjual atau meningkatkan jumlah konsumen atau meraup keuntungan finansial.

Pertama-tama Mary membuka dengan bertanya pada hadirin apakah merek-merek favorit kami. Saya sendiri mengaku tidak memiliki merek yang digandrungi setengah mati. Alasan saya karena mereklah yang seharusnya memanjakan saya dan saya tidak mau menghamba pada merek. Jika merek-merek itu tidak melayani kebutuhan dan tujuan saya, kenapa saya harus membeli secara membabi buta dan terus setia? Sebagai konsumen, saya ingin kebebasan dalam menentukan.

Sebagai brand strategist, Mary mendefinisikan merek sebagai sebuah janji yang ditawarkan pada konsumen. Dalam merek, ada logo, citra, reputasi, dan kepribadian. Merek menciptakan nilai (value) bagi konsumen. Dan ini berlangsung dengan cara timbal balik. Strategi bukan hanya melulu soal apa yang harus dilakukan tetapi juga apa yang kita jangan lakukan sebagai merek.

Strategi merek dengan demikian ialah peta jalan (roadmap) dalam membuat dampak tertentu dengan merek. Di sini ada idealisme dan visi yang sepintas terkesan muluk-muluk tetapi menjadi panduan dalam bekerja.

Dalam ke Luar

Strategi merek memiliki empat pilar utama: budaya, kapabilitas (kelebihan kita), produk/ jasa yang ditawarkan, baru kemudian komunikasi (penyebarluasan pesan). Salah kaprah yang banyak ditemukan Mary ialah bahwa banyak orang menganggap branding melulu soal komunikasi. Bukan. Branding justru dimulai dari dalam diri sendiri. “It starts with who you are,” tandasnya. Kenapa demikian? Karena dengan begitu, kita bisa lebih jujur dan otentik dengan apa yang kita tawarkan pada orang lain.

Strategi merek mengharuskan kita mengetahui dengan baik apa yang menjadi keistimewaan kita sebagai merek dan apa yang dibutuhkan oleh pihak lain. Persilangan di antara keduanya adalah apa yang bisa kita persembahkan pada dunia. Kita sebut ini sebagai brand idea. Jadi, jangan asal buat produk atau jasa kalau tidak mau kita buang waktu, energi dan semuanya sia-sia begitu saja. Brand idea akan memandu kita dalam bekerja dan bergerak sebagai sebuah organisasi.

Strategi Nirlaba

Bermula dari hanya sebagai relawan, kemudian Mary menjadi bagian dari Mozilla sebagai staf resminya sejak 4 tahun lalu. Ia mengenal Mozilla sebagai organisasi yang memiliki visi dan misi yang kuat untuk menjadikan internet sebagai sumber daya publik yang aman, bisa diakses siapa saja. Di samping itu, Mozilla memiliki produk yang dikenal luas oleh publik, yakni Mozilla Firefox, yang mungkin Anda sedang pakai menampilkan tulisan di blog ini. Firefox menurut Mary menjadi produk yang sanggup mencerminkan jatidiri merek Mozilla secara nyata dan konkret.

Selama ini kita mengenal Firefox sebagai peramban (browser) yang identik dengan kesan aman, ramah pengguna, mudah dikustomisasi, dan sebagainya. Apa yang mungkin terlewatkan ialah bagaimana Mozilla memperlakukan pengguna Firefox, yakni dengan cara yang lebih egaliter. Lain dari apa yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan komersial raksasa yang bergerak di internet (Frightful Five) seperti Apple, Microsoft, Facebook, dan sebagainya, Mozilla tidak mengejar keuntungan finansial dan lebih mengutamakan idealismenya yang disebut Mozilla Manifesto yang ditulis 1 dekade lalu oleh pendirinya Mitchell Baker. Mozilla Manifesto baru-baru ini ditambahi untuk menyesuaikan dengan kondisi internet yang terus menerus berubah. “Mereka (perusahaan-perusahaan internet lain) harus membayar kembali para pemegang saham. Mozilla tidak memiliki tekanan seperti itu,” ujar Mary. Karena tidak memiliki pemegang saham yang harus dipuaskan ketamakannya, Mozilla lebih leluasa memanjakan pengguna mereka.

Itu dari sisi dalam ke luar. Sekarang bagaimana membawa dunia luar (baca: kebutuhan konsumen) ke dalam merek? Dengan keterbatasan sumber daya manusia di Mozilla yang hanya 1000 orang dan selebihnya diperkuat jaringan relawan yang mencapai sekitar 10.000 orang, Mozilla harus menyusun prioritasnya dalam bekerja. Mozilla mengidentifikasi jenis-jenis pengguna internet yang bersedia untuk tidak cuma memakai produk mereka tetapi juga memberikan kontribusi pada Mozilla secara sukarela demi tercapainya visi. Orang-orang ini Mozilla namai sebagai conscious users. Mereka adalah pengguna internet yang peduli mengenai isu-isu yang lebih idealis dan utopis seperti keamanan, privasi dan inklusi, bukan hanya praktis (seperti lambat tidaknya koneksi internet). Dan bagi saya pribadi, kesadaran (consciousness) adalah bagian dari yoga yang saya pelajari. Dengan bergabung ke Mozilla, saya bisa tetap sadar sebagai pengguna internet. Setelah riset di AS, Jerman dan Brazil, keluarlah angka 23% yang dikatakan Mary sebagai persentase conscious users dibandingkan jumlah warganet dunia.  Dengan membidik conscious users ini saja, Mozilla bisa lebih berfokus pada pembiayaan aktivitas-aktivitas mereka. Menurut Mary, saat ini jumlah pengguna Firefox 15% dari jumlah pengguna internet global.

Karakteristik conscious users itu unik karena mereka peduli kualitas produk. Pengetahuan mereka biasanya lebih luas sehingga bisa membandingkan satu produk dengan yang lain lalu menjatuhkan pilihan secara sadar. Tidak cuma karena tren atau keterpaksaan. Mereka ini juga amat cerewet soal kontrol atas data mereka. Conscious users menjunjung tinggi kesetaraan sehingga siapa saja idealnya bisa menggunakan internet dan mengambil manfaat. Transparansi juga menjadi poin utama yang mereka cari dari produk yang dipakai. Mereka tidak suka produk dengan ‘kejutan’. Kalau ada pengguna internet yang kerap menyuarakan boikot ini atau itu, bisa jadi mereka conscious users juga. Satu ciri lain yang tak kalah menonjol ialah idealisme yang tinggi. Mereka ini gemar berbicara soal bagaimana internet seharusnya dan menjadi sosok berpengaruh di lingkaran pergaulannya karena keyakinan mereka yang kuat terhadap idealisme tadi. Pengguna jenis ini juga kebingungan saat harus memilih produk di internet karena tak semuanya transparan. Mozilla paham betul karakter tersebut.

Performance with Purpose

Kembali ke brand idea, kini Mozilla memiliki dua: kinerja (performance) dan tujuan (purpose). Dengan gagasan tersebut, Mozilla kemudian merinci kembali. Merek mereka idealnya bersifat inspiratif dan tetap bisa dilaksanakan, unik dan relevan. Dan brand idea ini menjadi penentu apa yang harus dilakukan dan jangan dilakukan Mozilla jika ingin merek Firefoxnya terus konsisten di jalurnya sekarang.

Uniknya, Mozilla meninggalkan tagline. “Anda tidak akan menemukan tagline di bawah logo Firefox,” ungkap Mary tanpa membeberkan alasan tentang strategi itu.

Mozilla mengembangkan budaya yang sangat menghargai keterbukaan dan kebebasan berpendapat.

Studi Kasus

Mary mencontohkan bagaimana Mozilla memanfaatkan momen-momen budaya seperti skandal pelanggaran privasi Facebook Maret tahun ini yang membuat gempar seluruh dunia untuk mengangkat merek Mozilla di tengah masyarakat pengguna internet sekaligus mengampanyekan misi dan visi mereka. Ia menampilkan untaian percakapan di media sosial mengenai asal muasal Facebook Container yang idenya dilontarkan salah satu staf Mozilla dan kemudian disambut oleh yang lain. Ide intinya ialah bagaimana membuat ekstensi yang bisa dipakai di Mozilla Firefox agar Facebook tidak bisa melacak kita saat menelusuri internet.

Langkah lain yang ditempuh Mozilla untuk mengangkat mereknya ialah juga dengan menggunakan petisi dalam melawan hal-hal yang bertentangan dengan Mozilla Manifesto. Begitu skandal Facebook-Cambridge Analytica pecah, Mozilla menghimpun suara publik dalam bentuk petisi daring untuk menyatakan perlawanan dan desakan agar Facebook segera berubah.

Dari segi komunikasi, Mozilla kemudian menampilkan diri di media di akhir Maret 2018 saat skandal Facebook mencapai ekskalasi di tataran publik. Menurut Mary, saat itu bahkan Mozilla bisa mendapatkan kesempatan untuk tampil di jaringan TV nasional MSNBC yang cakupannya luas untuk menunjukkan tuntutan mereka atas tindakan Facebook yang melanggar batas tersebut. Semua ini terjadi dalam waktu sepekan saja.

Dampak

Dari semua langkah yang ditempuh tadi, Mary kemudian mengukur dampak yang dihasilkan dari strategi merek yang ia lakukan seputar skandal Facebook tadi. Ia menyebutkan 4 poin penting:

  1. earned media,
  2. advocacy impact (petisi yang diikuti jutaan orang),
  3. product usage (jumlah unduhan Facebook Container dan pengguna Firefox naik), dan
  4. brand interest (minat publik pada merek Mozilla yang bisa diketahui via media sosial).

Tak cukup di situ, Mary juga mengatakan pihaknya menggunakan brand tracker di sejumlah pasar penting bagi Mozilla. Pelacakan merek yang meneliti 800 pengguna internet di tiap pasar/ negara ini dilakukan tiap tiga bulan di AS, Kanada, Jerman dan Indonesia. Keempatnya ialah pasar penting bagi Mozilla. Adapun pasar lainnya yang akan dijjajaki lebih lanjut ialah Perancis, Inggris dan India.

Indonesia Istimewa

Bisa dikatakan Mozilla menganggap Indonesia pasar yang istimewa karena ada komunitas yang sangat terlibat aktif. Komunitas ini memiliki inisiatif dalam memmikirkan solusi atas masalah yang ada dan turut membantu riset untuk pengembangan produk yang ditujukan untuk warganet Indonesia seperti Firefox Rocket yang ditujukan untuk pengguna ponsel cerdas di wilayah-wilayah yang berkoneksi internet berkecepatan rendah dan labil. Selain itu, produk ini menghemat konsumsi data kita sehingga paket data tak cepat habis, sebuah kecemasan yang khas Indonesia karena di sini paket data masih relatif mahal.

Selain Firefox Rocket, ada juga Firefox Focus yang mengutamakan privasi dan kecepatan karena tidak memuat iklan.

Mary menyatakan Firefox rocket sebagai kisah sukses Mozilla di tanah air karena tingkat retensi (penggunaan setelah unduh) relatif lebih tinggi daripada produk Mozilla lainnya di pasar lain.

Keistimewaan Indonesia ditunjukkan melalui laporan pelacakan merek Mozilla. Disimpulkan bahwa pengguna Firefox di Indonesia memiliki persepsi merek yang sangat positif mengenai Indonesia dibandingkan pasar lain di dunia.

Razia

Ketenaran merek Mozilla Firefox di Indonesia sempat meredup karena tergerus Google Chrome sekitar tahun 2010-an. Tapi kemudian pihak berwenang menerapkan razia karena ada desakan untuk melarang penggunaan produk bajakan di komputer. Komputer dan laptop di perusahaan-perusahaan pun dijadikan objek pemeriksaan. Piranti dan program bajakan dipastikan lenyap atau si pemilik mendapat denda setimpal.

Mozilla tanpa melakukan apapun ternyata menuai manisnya razia. Hal ini terjadi karena masyarakat pengguna internet di Indonesia kemudian berlomba mengganti peramban mereka dari Internet Explorer yang harus dibeli lisensinya dengan harga selangit dengan Mozilla Firefox yang cuma-cuma dan fungsinya tidak jauh berbeda.

Selain itu, kalangan penggemar TI di Indonesia memiliki Firefox sebagai peramban favorit. Dan orang Indonesia suka berbagi pengalaman mereka menggunakan produk. Jadi, saat mereka puas dengan Firefox, tak aneh pengalaman itu disebarluaskan.

Mozilla menurut Mary akan terus setia dengan pasar Indonesia dan mempertahankan pangsa pasar mereka di kisaran ideal 20-25%. “Itu karena jika persentasenya kurang dari 20%, para pengembang enggan membuat produk untuk pasar itu,” pungkasnya. (*/)

mary_ellen_muckerman_of_mozilla

Pengalaman Ganti Baterai iPhone 5

iPHONE dikenal sebagai ponsel yang ‘haus energi’. Ada benarnya juga pameo yang beredar luas di kalangan pengulas kinerja ponsel itu. Tatkala sebuah smartphone biasa dicas sehari sekali, iPhone bisa dua kali sehari. Fakta ini saya alami juga. Tapi memang begitu ‘watak’ iPhone saya rasa. Dari model ke model, mana ada iPhone yang mengunggulkan keawetan baterai sebagai daya jualnya? Di situlah, inovasi mendasar yang tak pernah Apple bisa suguhkan.

[Baca juga: Inovasi Dangkal, Inovasi Vital]

Karena iPhone 5 saya ini barang bekas alias second, tentunya sudah ada penurunan kualitas komponen. Tetapi hingga tahun ketiga kepemilikan, yang saya keluhkan paling banyak memang masih soal daya tahan baterainya itu!

Saat saya memilikinya pertama kali di tahun 2016, iPhone 5 ini masih berumur 1-2 tahun dan saat itu menurut pemiliknya barangnya masih bagus. Hanya saja memang ia akui baterainya sudah ia ganti karena sudah soak. Saya pun girang karena itu artinya saya tak perlu ganti baterai lagi.

Awal Oktober 2017 atau sekitar 1,5 tahun dari tanggal serah terima dari teman saya ke saya, iPhone 5 ini tiba-tiba ‘mogok kerja’. Gejala awalnya ialah saat dicas, ia cuma menunjukkan layar booting atau starting lalu mampus lagi. Pokoknya tidak bisa dipakai apa-apa. Tentu saya kaget karena saya sebelumnya masih bisa memakainya dan tidak ada gejala awal kerusakan.

Karena pertama kali saya mengalami masalah ini, saya panik. Saya duga ada masalah software atau sejenisnya karena saya kebetulan baru memperbarui piranti lunak (update software) sistem operasi ponselnya juga. Saya kemudian berpikir, apakah pemutakhiran sistem operasi malah membuat ponsel saya yang sudah lumayan ‘jadul’ ini almarhum?

Saya pun bingung karena setelah ke gerai reseller resmi produk Apple seperti Infinity, saya hanya menemukan jawaban bahwa mereka tidak memberikan layanan purna jual semacam itu. Jadi, praktis tidak ada harapan ke pihak reseller. Mereka cuma mau jual putus. Risiko setelah itu sepenuhnya ditanggung pemilik barang.

Karena saya sudah putus asa (untung saya masih ada ponsel cadangan Samsung Galaxy Nexus 2 yang masih berfungsi bagus, kecuali karena RAM-nya yang terbatas sehingga lagging-nya cukup menguras kesabaran di waktu genting), saya bulatkan tekad ke gerai-gerai servis ponsel di Ambassador Mall yang tidak resmi itu. Ada alasan memang kenapa bisnis semacam ini menjamur di ITC Roxy Mas dan ITC Kuningan (dua tempat yang paling termasyhur sebagai tempat servis ponsel pintar di Jakarta). Sederhananya karena Apple masa bodoh dengan pasar Indonesia. Entah karena apa sebabnya. Padahal potensinya sangat besar. Tapi ya sudahlah, itu masalah Apple Inc. sendiri. Intinya, orang Indonesia pemilik iPhone tidak mau kirim barang mereka yang rusak atau ada keluhan ke Singapura dan menunggu lama. Mereka bisa jual saja barang itu dan beli baru. Indonesia kaya raya!

Singkat cerita, saya saat itu pasrahkan iPhone 5 yang mati itu ke sebuah gerai yang tak sempat saya catat namanya. Dan saya ketahui dari penjaga dan tukang servisnya bahwa baterai saya memang sudah ‘kaput’ (dari bahasa Belanda “kapot” yang artinya rusak). Berarti tidak ada hubungannya dengan sistem operasi yang baru saja digelontorkan itu. Saya bernafas lega, karena saya pikir reparasi software bakal lebih rumit dan mahal daripada piranti keras semacam baterai.

[Baca juga: Update Software Biang Konsumerisme?)

Hanya dalam 10-20 menit menunggu, saya bisa mendapatkan iPhone 5 saya lagi dalam kondisi hidup. Senangnya! Tapi untuk menebus rasa senang itu, saya mesti merelakan Rp250.000 melayang. Garansinya seminggu saja. Oke, saya bisa terima mengingat ini baterai tak resmi, bukan orisinal. Yang orisinal hanya bisa didapatkan dengan harga mahal di Singapura sana, sebab di Jakarta tak ada Apple Store.

Kemudian sembilan bulan berselang tepatnya sebelum Lebaran tahun ini, keluhan yang sama terulang. Diagnosis saya langsung pada baterai lagi. Kenapa? Karena saya yakin dengan pola pemakaian saya yang tidak kasar (sering jatuh atau kena air). Saya akui saya sering memakai ponsel saat masih dicas tetapi saya menghindari meninggalkan ponsel terkoneksi ke listrik semalaman penuh atau berjam-jam.

Dan satu kebiasaan buruk lain ialah menonton video selama berjam-jam di iPhone dengan aplikasi konten multimedia semacam Iflix dan Viu yang pastinya menguras daya. Baterai saya tak gembung tetapi entah kenapa bisa langsung mati begitu saja. Saya memang tidak ada bukti yang ilmiah untuk bisa sampai ke simpulan ini tetapi melihat pola pemakaian saya sendiri selama 9 bulan terakhir, saya pastikan menonton konten di ponsel terlalu lama bisa membuat aus baterai lebih cepat. Jadi, sekarang saya berpikir seribu kali jika hendak menonton video di ponsel. Lebih baik memang di bioskop atau televisi karena itulah tempat dan perangkat yang semestinya dipakai untuk menonton konten dalam waktu yang lama. Ponsel cuma untuk menonton video berdurasi 5-10 menit. Lebih dari itu dan dilakukan setiap hari, sepertinya bisa membuat baterai bobrok lebih cepat.

Jadi kemarin saya putuskan membawa iPhone 5 saya kembali ke ITC Kuningan lantai tiga tempat banyak gerai servis non resmi itu berada. Kali ini saya melakukan survei singkat ke sejumlah gerai (4-5 gerai) dan baru menjatuhkan pilihan. Ada yang berkata 250 ribu, lalu menurunkannya menjadi 200 ribu. Ada juga gerai yang mengatakan 450 ribu! Gila. Dipikirnya saya tidak tahu bahwa di internet ada artikel yang mengatakan harga baterai KW iPhone saja cuma Rp150.000. Dengan kata lain, jasa penggantian cuma Rp50.000 lah! Lebih dari itu rasanya sangat kejam.

Saya pun ke gerai yang kebetulan dijaga seorang anak muda sendirian. Ia menjawab dengan singkat dan tanpa ragu bahwa biayanya cuma Rp200.000. Lain dari penjaga toko sebelumnya yang menjawab Rp250.000 tetapi kemudian ragu dan menurunkan menjadi Rp200.000. Ia pun menyuruh saya duduk dan memberi segelas air mineral kecil dan beberapa menit kemudian ia kembali dengan sebuah baterai baru. Tak banyak cakap ia buka skrup-skrup kecil di bagian bawah iPhone 5 saya dan membukanya lalu mengganti baterai dengan mudahnya. Setelah itu, ia memasang kembali. Dan saya merasakan ada yang aneh karena ternyata ia kurang sempurna mengembalikan iPhone saya seperti semula iPhone saya jadi tampak menggembung. Ternyata setelah saya menekan pinggirannya sedikit, ponsel kembali ke ukuran semula. Hal lain yang saya keluhkan ialah di sini cuma menerima pembayaran tunai sehingga saya mesti susah payah ke ATM dan pemuda itu menemani saya menarik tunai dari rekening saya. Barulah ia menuliskan tanda terima agar saya bisa meminta ganti bila dalam jangka waktu seminggu ada keluhan dengan baterai baru ini.

Saya tidak tahu kapan saya akan ganti baterai lagi. Tetapi saya akan pastikan lebih dari setahun lagi. Sebab saat ini saja saya sudah tidak ingin membuang uang untuk biaya perbaikan ponsel yang penyebab kerusakannya bisa dihindari. (*/sumber foto: dok. pribadi)

 

Gila Gula: Pembiaran Peredaran Mamin Tinggi Gula dan Naiknya Angka Diabetes

six assorted color lollipops
Zaman sekarang tidak cuma permen yang berkandungan gula tinggi. Semua makanan dan minuman sekarang ditambahi gula. Gila!!! (Sumber foto: Pexels.com)

KONTROVERSI “susu kental manis” yang diharuskan ganti nama menjadi “kental manis” oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) beberapa waktu terakhir ini memang cukup membuat kegaduhan. Namun, kegaduhan ini sudah seharusnya terjadi walaupun kalau dipikir-pikir kegaduhan itu sudah seharusnya terjadi dahulu kala.

BPOM dituding sebagian masyarakat kurang responsif karena produk kental manis ini sebenarnya sudah beredar sejak lama. Kalau memang dipermasalahkan kenapa baru sekarang? Apakah BPOM ‘kecolongan’? Banyak praduga yang terus bermunculan.

Terlepas dari itu, di sisi konsumen sendiri, masih banyak yang tidak sadar dan tidak mau tahu tentang kandungan gula yang mereka konsumsi. Bukan suatu kutukan atau cobaan dari Yang Maha Kuasa bahwa bangsa ini menduduki peringkat ketujuh sedunia dalam ‘hal jumlah pasien diabetes (baca: Miris, Indonesia Peringkat 7 Pasien Diabetes Terbanyak di Dunia). Dengan kata lain, orang-orang Indonesia yang secara tidak sadar mengutuk diri mereka sendiri.

Kita bisa tanya diri kita, seberapa banyak gula yang sudah masuk ke dalam tubuh kita setiap harinya lalu dibandingkan dengan intensitas kegiatan fisik dan kebutuhan asupan gula kita setiap hari? Apakah defisit, pas, atau surplus?

Saya sendiri dulu pernah merasa miris mendengar seorang lansia yang dengan bangga mengatakan ia masih sehat berkat olahraga dan minum ‘susu’. Usut punya usut yang dimaksudkannya dengan ‘susu’ itu adalah susu kental manis cap … [isi dengan sesuatu yang bisa berkibar].  Saya tidak sampai hati menyampaikan bahwa susu itu kandungan gulanya tinggi padanya. Karena sulit meyakinkan orang awam sepertinya bahwa kental manis itu bukan susu. Kata “susu” di kemasan cukup ampuh mencuci otak konsumen bahwa mereka sudah sehat dengan mengonsumsi itu. Ditambah dengan harga kental manis yang lumayan murah daripada susu sapi, pantas saja ia menjadi pilihan utama masyarakat yang berekonomi lemah.

Siapa saja yang tidak membaca label kandungan nutrisi dalam kental manis tetapi masih bisa merasakan dengan lidah yang ‘jernih’, pastinya bisa merasakan bahwa manisnya produk itu lumayan tinggi. Yang kalau diminum setiap hari dalam jumlah yang berlebihan dan tidak diiringi aktivitas fisik yang sepadan sepertinya akan mendatangkan lebih banyak penyakit daripada kesehatan.

Masalahnya, masyarakat kita sudah kurang peka dengan gula karena mereka sudah telanjur dicekoki dengan gula yang banyak sejak kecil atau bahkan sejak lahir. Budaya menghidangkan minuman manis misalnya saat Lebaran sudah dianggap keharusan karena makin manis, artinya Anda makin dermawan pada para tetamu. Sirup pun diberikan dalam takaran yang tidak terkendali (bahkan selama puasa pun, pesta gula saban berbuka sudah dianggap lazim dengan berkedok pada dogma ‘berbukalah dengan yang manis’).

Budaya konsumsi segala macam yang manis terbukti membuat lidah orang Indonesia manja bahkan saat mereka berbuka mengonsumsi kurma yang bagi Nabi dahulu sudah manis. Saya pernah mendengar cerita dari orang tua saya, teman-teman mereka membuang kurma-kurma mahal yang mereka beli di Tanah Suci karena rasa kurma itu justru tidak manis. Cuma sepat atau agak pahit. Untuk menegaskan asumsi saya bahwa konsumen Indonesia memang sudah gila gula, Anda bisa menemukan banyak produk kurma impor yang kemudian di Indonesia dikemas lagi dan sudah ditambahi (dicelup atau disalut) dengan sirup glukosa (yang artinya sama saja dengan gula pasir) untuk membuatnya lebih manis. Karena saya duga, bagaimana bisa kurma-kurma itu terjual kalau rasanya sepat atau agak pahit? Orang Indonesia mana suka? Padahal dalam buah-buahan juga sebetulnya sudah ada kandungan gula alami yang lebih sehat (adanya serat membuat gula alami ini juga terserap lebih lambat sehingga aman bagi penderita diabetes sekalipun jika dikonsumsi secara wajar dan bijak). Jadi, Anda bisa bayangkan konyolnya kebanyakan masyarakat kita yang masih menambahkan gula pasir dalam jus buah-buahan yang sudah tinggi kandungan gula alami seperti mangga, pisang, jeruk.

Dan ini bukan cuma orang dewasa saja. Di bus Trans Jakarta, saya pernah mendengar tanpa bermaksud menguping percakapan seorang bapak yang sedang membawa anak laki-lakinya yang mungkin baru berusia 5-6 tahun. Mereka tampak asyik menikmati pemandangan di luar, sementara si bapak membawa sebotol minuman teh kemasan yang saya tahu kandungan gulanya gila-gilaan. Kenapa saya memvonis kandungan gulanya gila-gilaan? Karena saya pernah minum seteguk saja dan tenggorokan saya langsung protes. Serak! Di telepon genggamnya, tanpa rasa bersalah ia menjelaskan pada saudaranya di kampung bahwa dirinya sedang jalan-jalan dengan anaknya dan si anak ini memuaskan dahaganya di cuaca terik dengan meneguk dua botol minuman teh kemasan itu. Bayangkan! DUA! Saya satu teguk saja sudah tidak kuat. Saya berani taruhan orang tua yang belum sadar kesehatan semacam ini banyak di Indonesia. Jangankan mengawasi konsumsi gula anak-anak mereka, mengawasi konsumsi gula mereka sendiri saja belum bisa. Makanya janganlah heran menemukan diabetes makin banyak dijumpai di kelompok usia muda bahkan anak-anak yang dahulu jumlahnya lebih jarang.

MIRIS!

Sekali lagi untuk membuktikan bahwa makanan dan minuman kemasan yang beredar sekarang ini banyak yang kandungan gulanya tinggi, saya kemudian mencoba melakukan survei kecil-kecilan pada produk-produk makanan dan minuman kemasan mengenai kandungan gulanya. Kandungan gula dalam produk minuman biasanya dihitung per sachet sehingga lebih mudah ditakar. Begini hasilnya:

  • Ceremix Chocolate Sereal => 14 g
  • Good Day Carrebian Nut => 12 g
  • Energen Jahe => 17 g
  • Good Day Original => 13 g
  • ABC Kopi Susu => cuma mencantumkan bahwa produknya mengandung gula tanpa menyebut persis jumlah gramnya
  • Energen Kacang Hijau => 16 g
  • Good Day Mocacinno => 11 g
  • Kapal Api Kopi Susu => cuma mencantumkan bahwa produknya mengandung gula tanpa menyebut persis jumlah gramnya
  • Energen Cokelat => 17 g
  • Mintz Zig Zag (per sajian permen) => 2 g

Untuk kandungan gula dalam produk makanan seperti biskuit, hitung-hitungannya lebih rumit dari makanan. Kenapa? Karena entah kenapa alasannya, produsen menggunakan istilah “per sajian” (per serving) dan definisi sajian ini bervariasi, tergantung selera si produsen masing-masing. Ada yang mendefinisikan satu sajian itu tiga keping biskuit produknya, lalu yang lain berkata empat. Pokoknya tidak seragam. Jadi, kalau makan sebungkus biskuit, sangat mungkin konsumsi gula Anda sudah melebihi dari apa yang dicantumkan oleh si produsen. Misalnya, di kemasan ditulis kandungan gula 15 g. Nah, jangan beranggapan seluruh biskuit di kemasan itu kandungan gulanya cuma 15 gram. Telisik lagi informasinya. Lima belas gram itu per sajian yang dalam kurungnya apa? Nah, baru Anda kalikan dengan jumlah keping biskuitnya. Katakanlah di dalam kemasan ada 10 keping biskuit. Lalu produsen memproklamirkan kandungan gula produk per sajiannya cuma 10 g dan definisi sajian menurutnya adalah 2 keping. Maka, kandungan gula total sebungkus biskuit itu adalah 50 g. Angka itu sudah mencapai ambang batas konsumsi gula harian yang disarankan Kemkes (baca di sini)! Tetapi yang namanya orang Indonesia, mana bisa makan biskuit saja sehari? Pasti ada 3 porsi nasi putih (nasi juga gula sejatinya!), dan es teh manis. Nah, sudah jelas gula yang masuk ke tubuh Anda berlebihan. Itu sehari saja. Kalau sudah menjadi kebiasaan, efeknya tentu bisa dibayangkan.

Saya tidak menuduh mengonsumsi makanan dan minuman kemasan yang disebut di atas pasti akan memicu diabetes, tetapi kita hanya perlu lebih berpikir bijak dalam mengonsumsi semua itu. Jangan minum semua itu selayaknya minum air putih (saya pernah kenal orang yang hampir tak pernah minum air putih dan sehari-hari minum kopi kemasan saja) atau memakan biskuit seperti makan sayur segar. Namun, masyarakat kita banyak yang masih menggantungkan kesehatan pada pemerintah, artinya mereka cenderung berpikir,”Kan ini semua sudah dibolehkan beredar pemerintah, jadi pastinya sudah aman dan sehat dikonsumsi lah! Masak iya negara membiarkan rakyatnya sakit?” Ini yang mengkhawatirkan.

Sekali lagi, kita sebagai konsumen juga memiliki tugas untuk menjaga kesehatan diri sendiri. Tidak bisa manja, apalagi di negara yang pemerintahnya belum sepeduli itu dalam upaya pencegahan penyakit. Pemerintah baru mau keluar duit banyak kalau masyarakat sudah terkena penyakit. Buktinya, BPJS menjadi fokus upaya ‘peningkatan’ kesehatan masyarakat kita. Upaya pencegahan belum populer dan masyarakat juga belum banyak yang tertarik kecuali yang sudah telanjur terkena penyakit. Padahal angka prevalensi diabetes melitus di negeri ini menurut catatan Kemenkes naik dari tahun ke tahun. Parahnya lagi dari mereka yang sudah terkena, banyak yang tidak sadar punya diabetes melitus (baca di sini) sehingga mereka baru tahu memiliki diabetes begitu sudah mengalami komplikasi parah. Dan di Indonesia, jumlah penderita yang ada akan terus naik (baca di sini).

pexels-photo-207381.jpeg
Anak-anak muda makin banyak yang menderita prediabetes, yakni suatu kondisi pada seseorang yang belum sampai ke tahap diabetes tetapi kadar gula darah puasanya sudah lebih tinggi dari normal. (Sumber foto: Pexels.com)

“Kenapa kok diabetes mewabahnya baru sekarang? Dulu kakek nenek kita makan manis-manis saban hari juga tidak kena diabetes?” Mungkin begitu gumam Anda. Masalahnya aktivitas fisik manusia modern sudah jauh menurun dan asupan mereka malah makin banyak. Orang-orang makin jarang bergerak (ke warung tetangga saja naik sepeda motor) tetapi ketersediaan pangan sudah makin baik (mau makan apa saja tinggal pesan di aplikasi daring). Dengan kata lain, surplus terus! Numpuk terus! Tidak pernah dibakar. Modyarrr! (*/)

18 Hasil Studi tentang Diabetes yang Harus Anda Ketahui

person holding black tube
Diabetes sudah menjadi salah satu penyakit paling lazim di dunia. ( Sumber foto Pexels.com)

Diabetes atau kencing manis telah menjadi momok bagi jutaan orang di dunia saat ini. Di sekitar kita, entah itu keluarga atau tetangga atau teman kerja, pasti ada satu atau dua orang yang sudah divonis menderita kencing manis dan harus menjalani pengobatan selama sisa hidupnya. Kebanyakan karena gaya hidup yang sudah jauh melenceng dari cara hidup sehat.

Berikut ini adalah sejumlah hasil studi ilmiah mengenai diabetes yang mengungkap faktor-faktor yang bisa mempertinggi risiko kita terkena diabetes beserta cara pencegahan dan penanganannya agar tidak terus memburuk dengan cepat. Sebagaimana kita ketahui, begitu seseorang didiagnosis menderita diabetes, kondisi itu tidak bisa dipulihkan sepenuhnya. jadi, yang hanya bisa dilakukan ialah memperbaiki cara hidup agar lebih seimbang dan sehat.

Ortu merokok, anak perempuan berisiko lebih tinggi terkena diabetes

Satu lagi dosa yang harus ditanggung para orang tua yang merokok. Peneliti UC Davis menyimpulkan bahwa para wanita yang ibunya dulu merokok selama kehamilan memiliki risiko menderita kencing manis dua atau tiga kali lebih tinggi saat dewasa. Para ayah juga diduga berkontribusi serupa pada risiko diabetes anak-anak perempuan mereka.

Bekerja malam hari tingkatkan risiko diabetes

Anda bekerja dalam sistem giliran sehingga kadang mesti kerja di malam hari? Saatnya waspada, karena sebuah penelitian menyatakan para perempuan Afro-Amerika dengan sistem kerja bergiliran bahkan hingga harus bekerja di jam-jam tidur memiliki risiko 22 persen lebih tinggi terkena diabetes. Ditambah dengan faktor BMI dan gaya hidup yang kurang sehat, risikonya bertambah lagi 12 persen, menjadi 34 persen totalnya.

Diabetes gestasional bisa ‘menular’ ke suami

Mungkin kata ‘menular’ kurang tepat dalam konteks ini tetapi data penelitian McGill University menunjukkan jika seorang wanita menderita diabetes selama kehamilan, risiko sang suami mengalami diabetes juga naik, bahkan sampai 33 persen lebih tinggi dari para suami yang istrinya tidak menderita diabetes saat hamil.

Kekuatan genggaman tentukan risiko diabetes seseorang

Apa hubungannya kekuatan genggaman tangan Anda dan risiko diabetes yang Anda miliki? Sekilas tidak ada, tapi sebuah penelitian menunjukkan bahwa seberapa kuat genggaman tangan Anda mampu mengidentifikasi orang-orang dengan hipertensi dan diabetes yang tidak terdiagnosis. Hipertensi dan diabetes ‘senyap’ semacam ini ditemui pada mereka yang bertubuh kurus tapi memiliki kadar lemak tinggi dalam tubuhnya. Indeks massa tubuh mereka normal atau di bawah normal bahkan tapi porsi lemaknya lebih tinggi daripada massa otot (lemak pada pria 25 persen lebih, dan wanita 35 persen lebih sudah termasuk tinggi). Nah, di sinilah kekuatan genggaman berperan. Mereka yang bermassa otot kurang dari normal akan sulit menggenggam erat apapun dengan tangan mereka.

Pencegahan diabetes turut menjauhkan diri dari Alzheimer’s

Tak banyak yang tahu ada kaitan antara diabetes dan Alzheimer’s. Studi tim penelitian Washington University menyatakan kadar gula darah yang tinggi juga ikut menggenjot kadar amyloid beta, sebuah unsur plak di otak yang ditemui pada pasien Alzheimer’s.

Persepsi pengaruhi efektivitas upaya pencegahan diabetes

Perbedaan persepsi pada masing-masing orang mengenai diabetes ternyata turut mempengaruhi efektivitas upaya pencegahan diabetes. Fakta yang diperoleh dari studi ilmiah dari New York University ini menegaskan bahwa tidak ada satu pendekatan yang efektif untuk diterapkan pada semua orang. Misalnya mereka yang tidak memiliki anggota keluarga yang menderita diabetes lebih rendah kesadarannya terhadap risiko diabetes dan saat diberi edukasi diabetes, mereka cenderung lebih santai dan tidak begitu emosional karena merasa kecil kemungkinan terkena.

NYU

Menonton TV tingkatkan risiko diabetes

Saatnya menyingkirkan televisi dari rumah Anda. Temuan sebuah studi menyatakan bahwa untuk setiap jam menonton televisi, risiko seseorang terkena diabetes naik hingga 3,4 persen. Makin sedikit waktu menonton televisi per hari menurunkan risiko diabetes.

Risiko autisme pada anak meningkat jika ibu derita diabetes

Sebuah peringatan bagi para perempuan agar tidak mengabaikan kesehatannya sejak dini. Anak-anak yang terlahir dari ibu yang menderita diabetes memiliki risiko 4 kali lipat lebih didiagnosis autisme. Demikian ungkap tim peneliti dari Johns Hopkins University.

Istri cerewet baik bagi kesehatan suami dengan diabetes

Apa pasal? Ternyata menurut hasil sebuah penelitian oleh Michigan State University, saat hubungan pernikahan menjadi tegang karena sang istri lebih cerewet perkara kesehatan, suami penderita diabetes justru menuai manfaatnya. Ini karena istri biasanya secara terus menerus mengatur perilaku kesehatan suami, apalagi jika sang suami sudah divonis terkena diabetes. Sehingga meskipun pada permukaannya istri tampak menjengkelkan suami dan kerap membuatnya berang, sebetulnya hal ini baik bagi pencegahan kondisi suami dari situasi yang lebih buruk lagi. Kecerewetan itu adalah bentuk kepedulian dari para istri yang masih mencintai dan mengharapkan bisa berdampingan dengan para suami yang mereka cintai.

Kadar testoteron tentukan risiko diabetes pada pria

Sejak lama dokter mengetahui bahwa pria dengan kadar testosteron rendah berpeluang lebih tinggi menderita diabetes tipe 2. Namun, sebuah studi terbaru pertama kalinya menunjukkan bagaimana hormon membantu pria mengatur kadar gula darah dengan memicu mekanisme penanda utama dalam sel-sel dalam pankreas yang memproduksi insulin. Mereka sepakat bahwa testosteron berperan sebagai hormon anti diabetes pada pria. Untuk menerapkan temuan ini pada pengobatan diabates, masih diperlukan studi lanjutan agar tidak ada efek samping pada pasien pria.

Optimisme perpanjang harapan hidup penderita diabetes

Kalimat “mind over matter” bisa jadi berlaku juga dalam menyikapi diabetes jika Anda sudah terkena. Sikap optimis dan pantang menyerah serta keyakinan bahwa diabetes tidak bisa menghentikan Anda menikmati kehidupan semaksimal mungkin ternyata berguna memperpanjang harapan hidup. Peneliti membandingkan usia antara mereka yang terkena diabetes tetapi optimis bahwa luka di kaki mereka akan sembuh dan usia mereka yang juga menderita diabetes tetapi memilih bersikap cemas, kewalahan dan putus asa karena yakin luka itu akan membuat mereka meninggal lebih cepat. Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok pertama lebih panjang usianya daripada yang kedua.

Depresi meningkatkan risiko diabetes

Digabungkan dengan berbagai faktor pencetus diabetes lainnya, depresi akan mempertinggi risiko seseorang terkena diabetes tipe 2. Demikian hasil studi ilmiah dari McGill University tahun ini. Kehadiran depresi dalam pikiran seseorang ternyata ikut membebani tubuh dan terus menyeretnya ke diabetes. Tidak tanggung-tanggung, depresi menaikkan risiko itu sampai enam kali lipat!

 

Lemak bisa mengobati diabetes

Sel-sel lemak ternyata bisa mengobati mereka yang terkena diabetes. Ilmuwan dari ETH Zurich membuktikan bahwa sel-sel pokok yang diekstrak dari jaringan lemak subjek penelitian bisa dipakai sebagai obat diabetes melalui pemrograman ulang genetis untuk membuat sel-sel itu lebih dewasa menjadi sel-sel beta yang berfungsi normal. Jika nantinya sukses, diramalkan para penderita diabetes bisa mengobati dirinya sendiri dengan prosedur medis tertentu yang menggunakan sel-sel lemak mereka sendiri.

Kecemasan berlebihan berkaitan dengan diabetes

Saya pernah mendengar bahwa diabetes juga bisa disebut sebagai sakit karena pikiran. Artinya, seseorang menderita diabetes karena terlalu banyak memikir hal-hal yang belum terjadi dan tidak pasti. Sebuah penelitian oleh peneliti di Rice University menegaskan hipotesis tersebut. Mereka menemukan kaitan antara stres emosional dan diabetes, yang berakar dari kemampuan otak mengendalikan kecemasan. Hal ini terjadi karena saat stres, tubuh cenderung mudah mengalami inflamasi atau peradangan. Mereka yang mengalami kesulitan mengendalikan diri cenderung lebih mudah tergoda dan tertarik pada hal negatif yang membahayakan kesehatan secara umum. Jika ini terjadi, ornag disarankan untuk mempraktikkan mindfulness dalam kehidupan sehari-hari sehingga lebih terkendali dalam setiap langkahnya.

Ketidakseimbangan populasi bakteri tertentu di perut picu diabetes

Kita tahu banyak faktor pemicu diabetes seperti kegemukan, makan sembarangan, resistensi insulin karena faktor keturunan, tapi belum pernah kita diberitahu bahwa penyakit ini ada kaitannya dengan ketidakseimbangan jumlah bakteri tertentu dalam saluran cerna seseorang. Sebuah studi terbaru di University of Copenhagen menghasilkan temuan bahwa ketimpangan mikrobiota di usus ialah salah satu pencetus utama terjadinya resistensi insulin yang dianggap menjadi biang keladi diabetes tipe 2. Dua bakteri yang menjadi biang keladinya ialah Prevotella copri dan Bacteroides vulagtus. Jadi ternyata diabetes tidak melulu warisan atau gaya hidup yang kurang sehat lho!

Penderita diabetes menjadi panutan dalam keluarga

Temuan studi ilmuwan Penn State University ini menunjukkan bahwa mereka yang hidup dengan diabetes justru bisa menginspirasi anggota keluarganya yang lain untuk memperbaiki cara hidup agar lebih sehat dan seimbang. Bahkan pada kasus para penderita yang sudah cukup parah, anggota-anggota keluarga merasakan perjuangan antara hidup dan mati setiap harinya. Mereka mengatakan bangga dengan ketabahan dan semangat dalam menghadapi penyakit ini.

Diabetes bisa dicegah dengan SMS

Di India, pencegahan diabetes di kelompok usia 30-an dan 40-an dilakukan dengan pengiriman SMS berisi saran kesehatan seperti pengingat berolahraga, menjaga asupan dengan mengurangi lemak dan lebih banyak makan buah dan sayur segar. Selain program pengiriman SMS, muncul juga aplikasi mobile myArogya yang dikembangkan untuk membantu warga India mencegah diri dan orang yang disayanginya terjangkit diabetes dan penyakit kronis lainnya.

Obat diabetes turut berantas kanker payudara

Ilmuwan telah menemukan bahwa pioglitazone, obat yang biasa dikonsumsi pasien diabetes tipe 2,  memberikan alternatif menekan kadar protein NAF-1 yang dalam jumlah banyak bisa menyuburkan pertumbuhan sel-sel tumor. Peneliti menyatakan bahwa ada kemungkinan obat diabetes ini bisa dipakai sebagai senjata melawan tumor, kanker payudara dan sejenisnya. Kadar NAF-1 yang terlampau tinggi dikaitkan dengan berbagai kanker, dari prostat sampai liver.

Puasa Miliki Manfaat Anti Diabetes

feast_or_famine_in_warren2c_ri
Puasa terbukti memiliki khasiat kesehatan yang tidak terbayangkan sebelumnya. Berkat sains, kita tahu beragam manfaatnya. (Sumber foto: Wikimedia Commons)

PUASA terus mendapatkan pengakuan dunia mengenai manfaat kesehatannya secara ilmiah. Sebuah eksperimen klinis terbaru menunjukkan bahwa pola makan yang mirip puasa memiliki manfaat kesehatan yang mirip dengan puasa setiap hari.

Sebuah eksperimen ilmiah membuktikan pola asupan yang biasa disebut sebagai ‘intermittent fasting’ memiliki khasiat memperpanjang usia dan meminimalkan risiko menderita penyakit degenaratif. Dalam pola ini, Anda tidak akan disuruh berpantang makan dan minum sama sekali sebagaimana puasa Ramadan. Anda cukup melewatkan makan pagi, makan siang atau makan malam serta masih dibolehkan minum asal yang tidak mengandung banyak kalori (minum teh, air putih masih boleh) sehingga secara teknis, pencernaan istirahat selama 16 jam sehari.  Namun, menurut riset ini Anda tak disarankan minum suplemen antioksidan karena malah membuat manfaat puasa tak maksimal.

Bagi Anda yang memiliki kondisi prediabetes (kadar gula darah puasa sudah lebih tinggi dari 120 padahal belum terdiagnosis diabetes dan biasanya masih merasa sehat dan usia masih muda), rajinlah berpuasa karena ternyata puasa menurunkan risiko diabetes juga. Puasa menekan tingkat hormon insulin. Menurut peneliti, tubuh mengeluarkan protein tertentu karena tekanan oksidatif sehingga muncul radikal bebas dalam jumlah sedikit dalam sistem tubuh ini. Karena ada radikal bebas, tubuh mengalami stres (makanya saat puasa tidak dianjurkan minum suplemen antioksidan). Kadar radikal bebas yang jumlahnya sedikit dan terkendali ini justru berdampak baik bagi perlindungan tubuh.

Dugaan ilmuwan ialah dengan memberikan stres oksidatif dalam tingkat rendah pada tubuh secara rutin, tubuh bisa membangun respon yang lebih baik terhadapnya. Peneliti menemukan bahwa puasa menurunkan kadar insulin sehingga tidak berlebihan jika puasa memiliki khasiat anti diabetes.

Lebih rinci, pola makan seperti apa yang dimaksud oleh para ilmuwan di sini? Mereka menguji subjek penelitian dengan memberikan asupan 650 kalori untuk hari khusus puasa sementara untuk hari berikutnya mereka diberikan kesempatan melahap sampai 4550 kalori. Dengan kata lain, mereka cuma makan 25 persen dari anjuran asupan kalori harian dan kemudian melampiaskan rasa lapar itu di hari berikutnya dengan makan sampai 175 persen dari jumlah kalori yang direkomendasikan. Makanan yang dimasukkan juga tidak sepenuhnya sehat dan segar. Mereka bisa makan biskuit, daging merah berminyak, dan sebagainya sampai sekenyang mungkin. Tetap efek menyehatkan puasa itu terasa. Namun, sayangnya bagi mereka yang mengonsumsi suplemen antioksidan semacam vitamin C dan E saat puasa, efek menyehatkan puasa tersebut malah lebih rendah alias kurang optimal.

Yang menarik adalah sebagian subjek penelitian ini mengaku lebih susah menjalani fase berpesta pora (makan sampai kenyang) daripada saat harus berpuasa. Aneh? Bagi saya sendiri, hal itu masuk akal karena makan itu termasuk jenis kegiatan yang menghabiskan energi dan waktu juga lho! Belum lagi saat tubuh harus mencerna makanan yang banyak dan berat, pastinya diperlukan energi lebih banyak lagi. Berpuasa membuat kita jadi lebih ringan dan gesit beraktivitas karena tubuh sudah tidak ada kewajiban mencerna dan mengolah makanan. Tetapi di saat yang sama, tubuh juga sudah tercukupi asupannya dari makanan dan minuman saat sahur atau makan terakhir sebelum berpuasa. Makanya, justru bagi sebagian orang berpuasa itu lebih mudah. (*/sumber: University of Florida)

Agar Linimasa Anda Bersih dari Politik

Jepretan Layar 2018-07-05 pada 07.30.37

PAGI ini saya iseng mengotak-atik pengaturan di akun Twitter dan menemukan sebuah fitur yang mungkin sudah lama ada tetapi terlupakan dan terbukti sangat bermanfaat menjelang musim politik yang ‘panas’, ‘bising’, dan ‘riuh’ sekarang ini.

Setelah menyeleksi beberapa akun yang terbukti membuat linimasa Twitter saya penuh energi negatif, persengketaan, aksi tuduh-menuduh dan saling menyalahkan yang membuat saya lelah dan demotivated di pagi hari yang semestinya menjadi momen paling bergairah untuk memulai hari, akhirnya saya menelusuri fitur yang bisa ditemukan di settings => notifications => Mute specific words from your notifications and timeline. Langkah ini saya rasa lebih praktis daripada hanya memblokir beberapa akun yang kontennya kita hindari dengan berbagai alasan.

Jepretan Layar 2018-07-05 pada 07.30.57

Baiklah, karena saya sudah mulai muak dengan berbagai pemberitaan yang santer soal perpolitikan Indonesia di tahun 2019 nanti, saya putuskan menambahkan frasa “pilpres2019” ke dalam saringan konten saya di Twitter. Bukannya saya hendak abai terhadap politik yang penting untuk menentukan masa depan bangsa (karena saya juga tidak akan golput begitu saja di 2019) tetapi saya ingin linimasa yang lebih adem di pagi hari maupun di sore hari.

Jepretan Layar 2018-07-05 pada 07.32.38

Beginilah daftar beberapa istilah yang saya blokir dari linimasa saya agar kesejukan bermedia sosial tercipta. Kalau saya ingin membaca berita politik, saya baru akan menuju ke situs berita yang tepercaya dan kredibel, bukan dengan membaca tweet-tweet komentar orang yang sok tahu dan sok paham politik dan membuat kacamata saya untuk melihat dunia ini menjadi keruh dan suram. (*/)

 

 

%d bloggers like this: