Pengalaman Ganti Baterai iPhone 5

iPHONE dikenal sebagai ponsel yang ‘haus energi’. Ada benarnya juga pameo yang beredar luas di kalangan pengulas kinerja ponsel itu. Tatkala sebuah smartphone biasa dicas sehari sekali, iPhone bisa dua kali sehari. Fakta ini saya alami juga. Tapi memang begitu ‘watak’ iPhone saya rasa. Dari model ke model, mana ada iPhone yang mengunggulkan keawetan baterai sebagai daya jualnya? Di situlah, inovasi mendasar yang tak pernah Apple bisa suguhkan.

[Baca juga: Inovasi Dangkal, Inovasi Vital]

Karena iPhone 5 saya ini barang bekas alias second, tentunya sudah ada penurunan kualitas komponen. Tetapi hingga tahun ketiga kepemilikan, yang saya keluhkan paling banyak memang masih soal daya tahan baterainya itu!

Saat saya memilikinya pertama kali di tahun 2016, iPhone 5 ini masih berumur 1-2 tahun dan saat itu menurut pemiliknya barangnya masih bagus. Hanya saja memang ia akui baterainya sudah ia ganti karena sudah soak. Saya pun girang karena itu artinya saya tak perlu ganti baterai lagi.

Awal Oktober 2017 atau sekitar 1,5 tahun dari tanggal serah terima dari teman saya ke saya, iPhone 5 ini tiba-tiba ‘mogok kerja’. Gejala awalnya ialah saat dicas, ia cuma menunjukkan layar booting atau starting lalu mampus lagi. Pokoknya tidak bisa dipakai apa-apa. Tentu saya kaget karena saya sebelumnya masih bisa memakainya dan tidak ada gejala awal kerusakan.

Karena pertama kali saya mengalami masalah ini, saya panik. Saya duga ada masalah software atau sejenisnya karena saya kebetulan baru memperbarui piranti lunak (update software) sistem operasi ponselnya juga. Saya kemudian berpikir, apakah pemutakhiran sistem operasi malah membuat ponsel saya yang sudah lumayan ‘jadul’ ini almarhum?

Saya pun bingung karena setelah ke gerai reseller resmi produk Apple seperti Infinity, saya hanya menemukan jawaban bahwa mereka tidak memberikan layanan purna jual semacam itu. Jadi, praktis tidak ada harapan ke pihak reseller. Mereka cuma mau jual putus. Risiko setelah itu sepenuhnya ditanggung pemilik barang.

Karena saya sudah putus asa (untung saya masih ada ponsel cadangan Samsung Galaxy Nexus 2 yang masih berfungsi bagus, kecuali karena RAM-nya yang terbatas sehingga lagging-nya cukup menguras kesabaran di waktu genting), saya bulatkan tekad ke gerai-gerai servis ponsel di Ambassador Mall yang tidak resmi itu. Ada alasan memang kenapa bisnis semacam ini menjamur di ITC Roxy Mas dan ITC Kuningan (dua tempat yang paling termasyhur sebagai tempat servis ponsel pintar di Jakarta). Sederhananya karena Apple masa bodoh dengan pasar Indonesia. Entah karena apa sebabnya. Padahal potensinya sangat besar. Tapi ya sudahlah, itu masalah Apple Inc. sendiri. Intinya, orang Indonesia pemilik iPhone tidak mau kirim barang mereka yang rusak atau ada keluhan ke Singapura dan menunggu lama. Mereka bisa jual saja barang itu dan beli baru. Indonesia kaya raya!

Singkat cerita, saya saat itu pasrahkan iPhone 5 yang mati itu ke sebuah gerai yang tak sempat saya catat namanya. Dan saya ketahui dari penjaga dan tukang servisnya bahwa baterai saya memang sudah ‘kaput’ (dari bahasa Belanda “kapot” yang artinya rusak). Berarti tidak ada hubungannya dengan sistem operasi yang baru saja digelontorkan itu. Saya bernafas lega, karena saya pikir reparasi software bakal lebih rumit dan mahal daripada piranti keras semacam baterai.

[Baca juga: Update Software Biang Konsumerisme?)

Hanya dalam 10-20 menit menunggu, saya bisa mendapatkan iPhone 5 saya lagi dalam kondisi hidup. Senangnya! Tapi untuk menebus rasa senang itu, saya mesti merelakan Rp250.000 melayang. Garansinya seminggu saja. Oke, saya bisa terima mengingat ini baterai tak resmi, bukan orisinal. Yang orisinal hanya bisa didapatkan dengan harga mahal di Singapura sana, sebab di Jakarta tak ada Apple Store.

Kemudian sembilan bulan berselang tepatnya sebelum Lebaran tahun ini, keluhan yang sama terulang. Diagnosis saya langsung pada baterai lagi. Kenapa? Karena saya yakin dengan pola pemakaian saya yang tidak kasar (sering jatuh atau kena air). Saya akui saya sering memakai ponsel saat masih dicas tetapi saya menghindari meninggalkan ponsel terkoneksi ke listrik semalaman penuh atau berjam-jam.

Dan satu kebiasaan buruk lain ialah menonton video selama berjam-jam di iPhone dengan aplikasi konten multimedia semacam Iflix dan Viu yang pastinya menguras daya. Baterai saya tak gembung tetapi entah kenapa bisa langsung mati begitu saja. Saya memang tidak ada bukti yang ilmiah untuk bisa sampai ke simpulan ini tetapi melihat pola pemakaian saya sendiri selama 9 bulan terakhir, saya pastikan menonton konten di ponsel terlalu lama bisa membuat aus baterai lebih cepat. Jadi, sekarang saya berpikir seribu kali jika hendak menonton video di ponsel. Lebih baik memang di bioskop atau televisi karena itulah tempat dan perangkat yang semestinya dipakai untuk menonton konten dalam waktu yang lama. Ponsel cuma untuk menonton video berdurasi 5-10 menit. Lebih dari itu dan dilakukan setiap hari, sepertinya bisa membuat baterai bobrok lebih cepat.

Jadi kemarin saya putuskan membawa iPhone 5 saya kembali ke ITC Kuningan lantai tiga tempat banyak gerai servis non resmi itu berada. Kali ini saya melakukan survei singkat ke sejumlah gerai (4-5 gerai) dan baru menjatuhkan pilihan. Ada yang berkata 250 ribu, lalu menurunkannya menjadi 200 ribu. Ada juga gerai yang mengatakan 450 ribu! Gila. Dipikirnya saya tidak tahu bahwa di internet ada artikel yang mengatakan harga baterai KW iPhone saja cuma Rp150.000. Dengan kata lain, jasa penggantian cuma Rp50.000 lah! Lebih dari itu rasanya sangat kejam.

Saya pun ke gerai yang kebetulan dijaga seorang anak muda sendirian. Ia menjawab dengan singkat dan tanpa ragu bahwa biayanya cuma Rp200.000. Lain dari penjaga toko sebelumnya yang menjawab Rp250.000 tetapi kemudian ragu dan menurunkan menjadi Rp200.000. Ia pun menyuruh saya duduk dan memberi segelas air mineral kecil dan beberapa menit kemudian ia kembali dengan sebuah baterai baru. Tak banyak cakap ia buka skrup-skrup kecil di bagian bawah iPhone 5 saya dan membukanya lalu mengganti baterai dengan mudahnya. Setelah itu, ia memasang kembali. Dan saya merasakan ada yang aneh karena ternyata ia kurang sempurna mengembalikan iPhone saya seperti semula iPhone saya jadi tampak menggembung. Ternyata setelah saya menekan pinggirannya sedikit, ponsel kembali ke ukuran semula. Hal lain yang saya keluhkan ialah di sini cuma menerima pembayaran tunai sehingga saya mesti susah payah ke ATM dan pemuda itu menemani saya menarik tunai dari rekening saya. Barulah ia menuliskan tanda terima agar saya bisa meminta ganti bila dalam jangka waktu seminggu ada keluhan dengan baterai baru ini.

Saya tidak tahu kapan saya akan ganti baterai lagi. Tetapi saya akan pastikan lebih dari setahun lagi. Sebab saat ini saja saya sudah tidak ingin membuang uang untuk biaya perbaikan ponsel yang penyebab kerusakannya bisa dihindari. (*/sumber foto: dok. pribadi)

 

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in technology and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Pengalaman Ganti Baterai iPhone 5

  1. CLL says:

    Menarik sekali ceritanya gan, saya malah dalam setahun hampir tiga kali ganti baterai, sampai r asanya mulai frustasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.