Menjembatani Dunia Akademik dan Industri

Berpendidikan tinggi tidak selalu berarti mudah mendapatkan pekerjaan. Faktanya, menurut data BPS per Februari 2018 persentase pengangguran terbuka berlatar belakang universitas mencapai 6,31%, masih kalah rendah dengan lulusan SD (2,67%) dan SMP (5,18%). Masih menurut BPS, persentase lulusan perguruan tinggi yang terserap pasar tenaga kerja dari jumlah total lulusan perguruan tinggi cuma sekitar 12%. Bila tidak tertangani, masalah ini akan berdampak besar pada masa depan bangsa.

Apa penyebabnya? Dan bagaimana Sampoerna School System berkontribusi dalam pemecahan masalah besar bangsa ini?

Untuk mengupas isu ini, Marshall Schott (Chief Academic Officer di Sampoerna School System) berdiskusi dengan Desi Anwar dari CNN Indonesia. Kiprah Schott di bidang pendidikan tinggi tidak diragukan lagi. Sebagai catatan, Schott telah memiliki pengalaman dalam bidang pendidikan tinggi selama 18 tahun sejak bekerja di University of Houston hingga Lonestar College sebelum kemudian bergabung dengan Putra Sampoerna Foundation sejak 2015 lalu untuk menangani strategi dan operasional.

Bagaimana pendapat Anda tentang kondisi pendidikan di Indonesia yang masih banyak perlu dibenahi, dari mutu SDM dan daya serap lulusan perguruan tinggi yang rendah hingga kurikulum yang terus berubah?

Kami menyaksikan adanya kesadaran dari pemerintah mengenai pentingnya reformasi pendidikan yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi RI yang berpotensi menjadi salah satu dari 10 negara dengan perekonomian terbesar di dunia sebagaimana dikemukakan oleh perusahaan konsultan McKinsey. Penambahan persentase anggaran pendidikan hingga 20% dari APBN juga menandakan adanya kesadaran tersebut.

Sementara itu, di lapangan ditemukan kesenjangan antara kurikulum yang diajarkan dengan kebutuhan pasar tenaga kerja sekarang.

Saran untuk pemerintah agar reformasi pendidikan tercapai adalah membangun kerangka kerja berkualitas antara pendidikan, bisnis dan industri; meningkatkan relevansi antara kurikulum dan kebutuhan pasar tenaga kerja; dan memperbaiki mutu pengajar.

Bagaimana peran guru saat ini tatkala pengetahuan dapat diakses dengan sangat mudah?

Guru memiliki peran yang banyak dan kompleks sehingga harus dipilah. Di abad teknologi ini, para guru berperan sebagai fasilitator, bukan lagi sebagai sumber pengetahuan satu-satunya.

Bagaimana Anda menyiapkan anak-anak Indonesia yang belum familiar dengan peran guru sebagai fasilitator ini?

Kami melakukannya dengan mengadakan Konferensi Pendidik Nasional tiap dua tahun. Fokus kami dalam konferensi ini ialah pentingnya pendidikan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics). Dengan hibah dari USAID, kami merancang program untuk menarik guru-guru dari berbagai pelosok Indonesia dan menunjukkan cara menggunakan teknologi saat mengajar dengan lebih menarik dan efektif.

Hal apa yang dapat memberikan dampak nyata pada pendidikan Indonesia?

Kami mengusulkan desentralisasi dan deregulasi pendidikan tinggi. Kemendiknas diharapkan memberdayakan institusi dengan wewenang lebih besar untuk meningkatkan otonomi pendidikan. Saat otonomi tercapai, kreativitas dan inovasi dalam mengatasi permasalahan bangsa akan meningkat pula. Standar yang berlaku tidak hanya satu. Bisa berbeda-beda karena kondisi dan situasi tiap universitas juga berbeda-beda.

Dengan sumber daya yang terbatas, perlu dibedakan satu institusi dengan lainnya. Untuk institusi yang mendidik orang dengan kemampuan menengah (misalnya politeknik), diberlakukan standar yang lain dari institusi yang berfokus pada riset, teknologi, komersialisasi dan kepemimpinan kelas dunia.

Seperti apa pendidikan ideal di abad ke-21? Apa makna belajar sesungguhnya?

Saat ini penguasaan materi pelajaran tidak lagi cukup. Ekonomi kreatif dan inovatif membutuhkan berbagai keterampilan lain seperti keterampilan 3C (Critical thinking, Collaboration, Communication). Pengajaran yang bersifat interdisipliner juga membantu mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan dalam ekonomi kreatif.

Karena Sampoerna School System menerapkan metode yang lain dari sekolah lain, kelas kami juga tampak berbeda. Dalam ruang kelas, murid-murid bisa berpindah tempat duduk sesuai kebutuhan proyek yang harus dikerjakan di hari tertentu. Peran guru sebagai fasilitator dan pengarah siswa serta memberi informasi untuk bereksplorasi. Para siswa dididik untuk menjadi pembelajar seumur hidup. Tak peduli kondisi, mereka akan bisa bertahan di dunia yang makin dinamis berkat keterampilan yang bisa dialihkan.

Materi apakah yang dipelajari di Sampoerna University?

Materi interdisipliner dengan dasar yang luas menjadi materi inti kami. Yang menjadi ciri khas ialah kewajiban mengikuti kelas STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics) karena 80% pekerjaan di masa datang akan membutuhkan kompetensi ini.

Bagaimana cara penilaiannya?

Penilaian dilakukan secara terus-menerus dan bersifat kumulatif. Ujian akhir hanya bagian dari keseluruhan, bukan satu-satunya penentu kelulusan.

Yang dinilai ialah penguasaan materi, penyelesaian tugas, kemampuan komunikasi, kegigihan dan partisipasi. Di sini harus ada keseimbangan antara soft skills dan pertumbuhan pribadi siswa.

Bagaimana semua ini diajarkan?

Kami mengajarkan ini dengan menggunakan konsep abstrak dalam beragam konteks. Siswa mesti dapat menerapkan berbagai pengetahuan dalam kondisi dan situasi yang berbeda-beda. (Baca: TEAM Expo 2018: Bangun, Buat, dan Jelajahi Melalui STEAM)

Investasi seperti apa yang diutamakan mengingat keterbatasan sumber daya ini?

Dengan anggaran yang terbatas, kami memfokuskan pada hal-hal yang memengaruhi hasil pembelajaran siswa seperti teknologi dan infrastruktur (kelas, guru dan sumber daya pembelajaran).

Apakah para guru juga harus meningkatkan kemampuan?

Hal ini menjadi tantangan global. Semua guru abad ini harus memperbaiki kualitas mereka. Saya melihat guru-guru muda lebih mudah beradaptasi dalam penerapan teknologi di kelas. (Baca: Meningkatkan Kualitas Guru untuk Persiapan Abad ke-22)

Bisakah ini dibawa ke seluruh pelosok Indonesia?

Kami menjangkau daerah-daerah terpencil dan bekerjasama dengan para guru dan pemimpin lokal untuk menerapkan metodologi pengajaran modern dan kerangka kerja Cambridge yang memiliki keunggulan konten.

Kami terlibat dalam kerjasama di tingkat sekolah dasar di daerah-daerah di Sumatra, Jatim dan Papua. Bentuk kerjasama ini ialah kemitraan bisnis antara perusahaan dan publik. Dengan upaya-upaya ini, industri dan bisnis diharapkan akan makin dekat dengan pendidikan.

Apa yang dibutuhkan dunia kerja saat ini?

Asian Development Bank (ADB) menyatakan hampir 40% lulusan perguruan tinggi menganggur atau setengah menganggur setelah 12 bulan lulus karena adanya kesenjangan kurikulum dan kebutuhan dunia kerja.

Sampoerna School System mengadakan dua forum dengan bisnis dan industri dalam enam bulan terakhir dan menemukan kebutuhan tenaga kerja dengan kemampuan berbahasa Inggris yang bagus. Perusahaan multinasional membutuhkan orang dengan kemampuan bahasa Inggris yang memadai untuk bisa bekerja lintasbatas, berkemampuan komunikasi baik, bekerja baik dalam tim, kemampuan memecahkan masalah, berpikir kritis, dan kepemimpinan. Semua ini soft skills yang tidak bisa diajarkan dalam kelas seperti materi dan keahlian.

Indonesia kehilangan lapangan kerja karena tidak bisa bersaing dengan tenaga kerja asing yang lebih mumpuni dalam bahasa Inggris. Apakah daya saing generasi saat ini lebih baik?

Potensi, bakat dan semangat memang sudah ada pada generasi Indonesia saat ini. Untuk mengoptimalkan itu semua, kami menggunakan sistem STEAM. Hanya saja patut dipahami bahwa Indonesia begitu luas sehingga untuk menjangkau anak-anak berpotensi dan memberikan mereka peluang belajar masih menjadi tantangan besar. Karena itu, harus ada kerjasama bisnis dan masyarakat dalam penyediaan beasiswa.

Menurut Kemenkeu RI, Indonesia kekurangan 30.000 insinyur per tahun tetapi hanya kurang dari 20% dari siswa di Indonesia yang belajar STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics). Dengan menguasai STEAM, kita tidak perlu cemas anak-anak kita akan menganggur setelah lulus.Kami bergembira dengan adanya sejumlah inisiatif dari pemerintah sejak 2015 yang memberikan harapan. Salah satunya ialah internasionalisasi pendidikan di Indonesia. Caranya ialah dengan melihat best practice dari negara-negara lain. Dengan demikian, percepatan pembangunan akan tercapai. (*/)

Author: akhlis

Writer & yogi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: