After 9 Years of Blogging Tirelessly…

I am still going strong!

The 27th of October has always been a special day on my calendar since forever. Besides the fact that it’s my birthday (cough!), it’s also National Blogger Day in Indonesia. Today also marked my ninth year of blogging. I’ve never thought I would’ve gone this far. Especially these days, when social media enjoyment has taken over the joy of hitting ‘publish’ button on your blog dashboard and get some likes and comments from readers of your blog(s). But this is definitely not the end of my blogging pursuit.

It’s true that I’d never planned to develop this blog to be a really professionally-managed one so that I can make some money of it. As you can see, this blog has some spots of Google Ads but to be brutally honest, it doesn’t generate even a single cent of income for the blogkeeper. That said, I get into thinking that I must soon take down all these useless ads and quit being the disgruntled ad publisher. It doesn’t add value for my readership anyway.

So why do I keep blogging if I don’t make money AT ALL? You may ask.

In my first amateurish blog (akhlispurnomo.blogspot.com), in the most confident and shameless way I picked a tagline, “Blogging, My Second Religion”. You can laugh at it now, but that’s somehow still the perfect description of my reason of writing this blog (and some others).

Very few of these write-ups on my blogs generated enough money to feed me, at the very least. Yet, I always long for the satisfaction that I can only feel when there are some readers who leave comments or silent readers who never leave comments but someday I ran into and told me they liked some of my articles a lot. Probably this is very self-centered. It’s a way to satiate my hungry ego, but once again why should I stop blogging when I can entertain and inform people around me or around the world with some bits of my thought and opinions?

I’ve got to admit that I almost completely abandoned this blog’s domain, which is like a hard-earned domain. I once had a domain of my full name but along the way I failed to renew it (blame it on the M@#$%^& credit card!) and it got bought by some opportunistic domain buyer who may have thought I would beg him or her to give me the domain at a much higher cost.

Just a month ago, before my domain expired, I came to a decision that I might just let this go. “It’s a hobby so why bother spending money for it?” I thought. I considered relying only on the free blog hosting service like WordPress.com and Blogger.com but then I reweighed it after a course of content marketing that I took. It said owning a domain that bears our name is a must if we aim to be a competent, competitive digital player. Well, I made up my mind and renewed it.

Each word in this blog (and some others) shows you my ups and downs; progress and regress; happiness and sorrow. It’s a long winding road of my life journey and self-development. I get almost completely intellectually naked in my blog write-ups, which I further think is quite scary and risky in the future. That’s why every time I write, I keep reminding myself of the risk of posting stuff on the web. No blogging allowed when I get angry and emotional! Or else I’ll regret it. And even if I intended my write-ups to be less offensive and more helpful for some, I still find some others getting upset by what I write on this very blog.

Lesson to learn? We can never satisfy everyone.

Though I humbly admit that my blog is not an extremely popular one, I take pride of it. In this social media age, when Instagram caption or Facebook status or tweets is what you call ‘write-ups’, I can still find time and collect my intellectual energy for this seemingly pointless undertaking.

I guess this clearly defines what passion is really. Passion is something we still do even if we no longer (or never) can make money of it, or something we keep doing even if we have to make money from other jobs but we still stick to this one ‘useless’ thing.

So I can say after 9 years of tirelessly blogging, I hardly made money from this blog but the blog has made it POSSIBLE for me to land many jobs, ranging from a journalist, a copywriter, a translator, an editor, a book writer, a magazine writer and even a guest lecture, which never snapped on my mind. All these jobs are paying ones (forget about the image of a lonely, tortured, poverty-stricken writer). This would be different if I had spent my time for writing Facebook updates, producing tweets like crazy, or selecting the right diction for a caption on Instagram to impress followers.

Anyway, happy National Bloggers Day! Keep blogging no matter what! (*/)

Dari “Gemar Film Pendek #10” Kineforum

8adbfe_40d582c73e964a6bb5f122af5da6298cmv2Kalau ingin film yang sekadar menghibur, kita bisa banyak temukan di luar sana. Namun, jika ingin menonton film yang lebih menggugah dan mengilhami kita, tontonlah film-film yang tidak ditayangkan di bioskop arus utama (mainstream). Begitu kira-kira pesan yang saya tangkap setelah menonton serangkaian film pendek di KineForum siang ini. Film-film yang saya tonton ini merupakan bagian dari “Candu Daya” yang berlangsung dari 5-7 dan 12-14 Oktober 2018 di KineForum, Kompleks Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

Menonton film-film pendek ini bagi saya mirip dengan membaca cerpen. Tak panjang tetapi sarat makna dan sering memaksa para penontonnya untuk berpikir keras menebak pesan di baliknya. Karena akhir film kadang bukan akhir dari cerita itu sendiri tetapi seolah dipaksa berhenti karena kungkungan durasi. Ending yang menggantung ini cocok bagi tipe penonton yang menyukai stimulasi intelektual dalam menikmati sebuah karya seni. Bukan cuma duduk lalu disuguhi tontonan yang sudah berpola jelas, polarisasi protagonis VS antagonis yang baku, dan akhir cerita yang tertebak dengan amat mudah bahkan oleh anak TK zaman sekarang. Saya bukannya hendak menghakimi tipe penonton box office movies, tetapi produk budaya populer kadang membuat kita berpikiran sama dan berselera serupa. Di sini, film-film indie menyuguhkan ide dan konsep alternatif sebagai upaya mempertahankan keragaman ideologi dalam budaya kontemporer.

Berikut sekilas ulasan saya mengenai tiga film pendek yang saya baru saja saksikan dengan khidmat di bioskop film alternatif ini untuk pertama kalinya. Saya bukan penggemar film yang maniak jadi maklumi jika ulasan saya bersifat apa adanya dan abal-abal.

SIMBIOSIS (2015)

8adbfe_9350c6da7cf44ad8979cb7e4cd0118a1mv2

Film pertama ini berdurasi cuma 15 menit, terpendek dari dua film lain. Sutradaranya Wiranata Tanjaya. Simbiosis dibuat bukan untuk diikutsertakan dalam festival tetapi untuk memenuhi persyaratan akademis kelulusan (tugas akhir) sang sutradara dan timnya di Universitas Multimedia Nusantara. Langkah yang kreatif dan bagus untuk membuat karya akademis  menurut saya. Mirip seperti menerbitkan buku dari skripsi.

Film ini alurnya linier saja sebagaimana film-film pendek kebanyakan. Dikisahkan dua orang anak laki-laki kakak beradik mencari harta karun. Latar waktunya sangat tidak zaman digital, ditandai dengan radio analog portabel yang dibawa sang adik. Sebenarnya ini agak tidak masuk akal juga karena radio portabel bukan benda yang lazim dibawa ke mana-mana oleh seorang anak kecil. Plus, satu lagi ketidakmasukakalan lain yang saya temui di sini ialah tenda biru yang menaungi kaka adik ini saat malam hari di hutan. Saya tidak melihat mereka membawa tas besar atau apapun yang besar dan berbobot berat selayaknya sebuah tas yang berisi tenda. Ini kejanggalan yang harus dibereskan dari segi logika.

Kejanggalan berikutnya ialah peti besar harta karun yang berat bisa dibawa oleh sang adik hingga begitu jauh sampai sang kakak tidak bisa menemukannya dengan mudah. Untuk seorang anak SD yang masih berbadan mungil dan sudah berhari-hari tidak diberi makan oleh kakaknya yang egois (kakaknya di tengah perjalanan merampas berbotol-botol susu dari seorang pria dan susu itu ia simpan hanya untuk dirinya). Sepanjang film juga tak tampak adegan adik makan sesuatu sehingga logikanya ia tidak akan bisa bertahan selama berhari-hari di alam terbuka. Tapi ini kenapa ia bisa sekonyong-konyong membawa sebuah peti besar dan berat dari kayu yang kokoh (begitu kokohnya sampai kakaknya saja kesulitan membuka)? Saya agak terusik soal ini.

Namun, dari sudut pandang lain seperti pelajaran moral dari kisah kakak adik ini, saya bisa temukan satu isyarat bermakna dari percakapan penyiar radio dan sang bintang tamu yang diceritakan sudah bekerja dengan gaji tinggi di luar negeri tetapi memilih pulang ke Indonesia karena keluarga. Alasannya karena waktu untuk berkumpul dengan orang-orang tercinta tidak bisa dibeli dengan uang. Toh ia masih bisa bekerja di tanah air. Mangan ora mangan asal kumpul, begitu filosofi orang Jawa (yang juga makin luntur sekarang sebab makin banyak orang Jawa berdiaspora). Family comes first. Dan di sini, sang adik memegang teguh pemahaman tersebut (tecermin dari perkataannya soal ibu di rumah) yang kemudian disergah kakaknya yang tak mau pulang dan menganggap tempat itu adalah kebebasan. Pulang bukanlah pilihan bagi sang kakak yang terkesan egois tetapi memiliki pemikiran liberal dan jauh ke depan. Sebetulnya pergulatan ini sangat lazim ditemui di masyarakat modern Indonesia. Di sebuah keluarga pastilah ada anggota keluarga yang merantau atau merasa harus mengembangkan diri di luar zona nyaman di sekitar tempat tinggal mereka. Di sisi lain, ada juga anggota keluarga yang memilih setia di tempat kelahiran dan bagaimanapun juga sangat ingin mendarmabaktikan dirinya pada tempat asalnya. Masing-masing memiliki alasannya sendiri. Sang kakak mungkin terkesan jahat dan egois tetapi bisa jadi ia memiliki alasannya sendiri yang tidak kita tahu dari apa yang dipaparkan sutradara dalam film ini. Si adik juga belum tentu kasihan atau benar, karena ia malah mencelakakan sang kakak dengan membawa kompas itu dan mencari jalan pulang sendirian (dari awal si adik ini cukup pintar dengan meninggalkan jejak berupa topi, dasi, agar bisa pulang meski peta harta karun itu rusak terbelah dua). Ia tidak berpikir panjang bahwa diperlukan kekuatan besar untuk bisa mengarungi perairan yang memisahkan mereka dan tempat adanya harta karun itu. Jika ia saja sudah mengeluh kelelahan saat mendayung bersama kakaknya, bagaimana ia bisa sampai dengan selamat dengan hanya mengayuh sendirian di atas perahu yang tidak memiliki motor? Inilah argumen saya kenapa si adik juga tidak sepenuhnya benar. Ia memiliki sisi egoisnya sendiri juga, dan itu justru mencelakakan diri dan keluarganya yang terdekat saat itu: kakaknya.

THE FOX EXPLOITS THE TIGER’S MIGHT (2015)

8adbfe_ab7f51edbf7447d5b37939f9e5196737mv2

Lucky Kuswadi membuat film ini berdasarkan pengalamannya sebagai seorang keturunan Tionghoa di Indonesia. Film 24 menit ini berlatar belakang pertemanan dua orang anak laki-laki usia SMP bernama David dan Aseng. David ini saya duga anak pribumi dan ia anak keluarga TNI. Ayah David punya ajudan dan ajudannya ini seorang pria muda yang gagah dan tampan (diperankan Surya Saputra) dan rupanya memanfaatkan kegantengannya untuk merayu dan memeras ibu Aseng yang hidup sendirian tanpa suami. Ibunya ini meski usianya sudah jauh di atas si ajudan tetapi juga agak menyambut baik kasih sayang dari si ajudan yang mata duitan itu karena ia tak terlihat keberatan saat dipeluk dan dipuji memiliki kulit halus bak perawan oleh si ajudan. Padahal usianya sudah paruh baya dan badannya tak begitu terawat karena sibuk mengurusi toko kelontongnya yang laris manis. Uangnya banyak tetapi ia kesepian. Jadi ia menukar uang yang ia miliki itu dengan sejumput kasih sayang dari si ajudan yang kadang berkunjung sekadar untuk mengantar David menemui Aseng temannya di sekolah. Dugaan lainnya ialah sang ajudan ini memeras ibu Aseng karena ajudan itu tahu ibu Aseng menjual minuman Red Tiger yang ilegal.

Film ini bagi saya termasuk agak metaforis juga karena mungkin takut dengan sensor. Ini bisa dilihat dari penggunaan pistol (baik gesture tangan dan pistol betulan) sebagai pengganti phallus alias penis yang identik dengan kekuasaan dan patrarki yang menguasai dunia. Nuansa patriarkis juga kental dengan adegan anggota TNI yang digembleng dalam latihan fisik, wara wiri bertelanjang dada dalam sesi lari bersama atau push up dan sit up yang membuat mereka berpeluh parah. Sebuah keputusan sutradara yang relatif bijak, mengingat masyarakat Indonesia yang masih sensitif dengan isu kelamin seiring dengan menguatnya pengaruh kaum garis keras.

Bagi saya, film ini sebagai pengingat bahwa kekuasaan hanyalah sebuah dinamika, tarik ulur kekuatan dan pengaruh dari berbagai pihak sehingga bisa saja berubah susunannya kapan saja. Di film ini, mayoritas yang dominan (diwakili David) ternyata bisa dibalas oleh si minoritas submisif (diwakili Aseng). David yang seenaknya mengejek atau menekan si minoritas submisif (diwakili Aseng) akhirnya dipaksa untuk melayani Aseng secara seksual. David awalnya marah karena saat keduanya berfantasi seks bersama soal Erva Arnaz (sehingga bisa dikatakan mereka bukan anak SMP zaman sekarang), justru Aseng memfantasikan dirinya bisa menyetubuhi David juga. Tetapi ini bukan karena Aseng gay atau homoseksual, menurut saya, tetapi karena semata ia sangat geram hingga ke ubun-ubun dan ingin membalas segala dominasi David dalam kehidupannya bahkan keluarganya. Aseng yang marah mengambil pistol ayah David di rumahnya dan memaksa David untuk melakukan apapun yang Aseng inginkan termasuk membuka mulutnya dan memaksa David memuaskan hasratnya. Cuma di film Anda tidak akan menyaksikan Aseng berdiri membuka celana sembari David berlutut melakukan oral seks pada temannya yang menodongkan pistol ke arahnya. Tetapi seperti yang saya katakan tadi, si sutradara mengambil jalan tengah untuk menaruh pistol sebagai perlambang bagi phallus yang berkuasa daripada benar-benar menggunakan adegan oral seks yang berisiko membuat film menjadi kontroversial dan justru dipermasalahkan tidak berdasarkan esensi di dalamnya tapi semata-mata karena mengandung pornografi.

JOKO (2017)

8adbfe_cdf4bf7175a443949f616bf7bfa4c8b5mv2

Film ini ialah debut aktivis film Suryo Wiyogo sebagai sutradara yang juga produser film baik pendek dan panjang. Ia bahkan sempat terlibat dalam banyak produksi film dengan sutradara tersohor Indonesia semacam Hanung Bramantyo. Karena banyak berkecimpung di Yogyakarta, ia banyak bersentuhan dengan budaya lokal. Kali ini dia membahas tema yang cukup kompleks: kuasa pria atas wanita dan sesama pria. Ia juga beruntung bisa mendapuk aktor lokal berpengalaman dari Yogya sendiri sehingga kualitas karyanya terbilang baik.

Di film ini, aktor utamanya yang memerankan sebagai juragan penambangan pasir ilegal ini cukup meyakinkan sebagai seorang pria berorientasi seksual nyeleneh. Indri yang menjadi pembantu administrasi bisnis toko bahan bangunannya juga sudah tahu bahwa bosnya itu suka menggauli anak-anak laki-laki di bawah umur tetapi tampak memaklumi dan bahkan tidak berusaha menunjukkan rasa jijik atau keberatan membantu sang bos memuaskan nafsunya. Justru wanita ini yang menyarankan bosnya untuk segera merayu pemuda tanggung putus sekolah bernama Joko yang dianggapnya menarik untuk digarap sebagai korban berikutnya.

Di akhir kisah, bos toko bangunan itu tampak ingin menghabisi seorang pekerja penambangan pasir yang membuat kisruh. Bisa jadi ia adalah pekerja yang nasibnya mirip Joko, seorang pria muda yang polos dan dieksploitasi secara seksual kemudian tidak bisa menerimanya dan berupaya menggunakan dalih lain untuk menghancurkan bisnis tersebut. Kenapa? Karena di masyarakat Indonesia, tidak bakal ada yang percaya kalau laki-laki bisa diperkosa. Saat seorang laki-laki merasa dieksploitasi secara seksual oleh pihak lain dengan paksaan, tidak akan ada penegak hukum yang percaya dan aturan kita juga tidak bisa secara setimpal memberikan balasannya. Alih-alih mendapatkan keadilan, seorang pria korban kekerasan seksual justru akan memendamnya (karena masyarakat patriarkis kita juga tak pernah memberikan cara bagaimana merespon pelecehan dan penindasan seksual pada laki-laki karena secara alami semua laki-laki dianggap kebal dari tindakan ekspolitatif semacam itu). Karena itu, pria yang menjadi korban akan mencari pelampiasan lainnya agar bisa mendapatkan keadilan yang tidak bisa disediakan oleh hukum yang berlaku. Jadi meskipun sesama laki-laki, seseorang bisa ditindas secara seksual oleh sesamanya jika ada ketimpangan kekuasaan yang jauh dari kedua pihak. Dalam hal ini, bos itu lebih unggul dalam hal pengalaman dan ekonomi dari Joko yang hanya berusia 15 tahun dan menjadi pekerja kasar.

Yang patut disesalkan sehabis pemutaran film pendek ini, saya tidak bisa berdiskusi secara langsung dengan para sutradara atau penulis skenario ketiga film. Kebetulan mereka berhalangan hadir dengan berbagai alasan. Diskusi hanya dipandu oleh perwakilan dari Boemboe.org yang menjadi pihak yang memungkinkan pemutaran film ini dilakukan. Sesi ini membedakannya dari pemutaran film box office, selain harga tiketnya yang cuma Rp30.000 dan pemutaran film yang berdurasi hanya sekitar 60 menit. (*/foto-foto diambil dari Kineforum.org)

 

 

#DeleteInstagram: Saat Instagram Menjadi ‘Titisan’ Facebook

“If you are not willing to see your company or your vision gets degraded at least a little bit, don’t sell your company. That’s the truth.”- Alexia Tsotsis (jurnalis teknologi dan mantan editor blog TechCrunch.com)

facebook application icon
Instagram berisiko kehilangan para pengguna setianya jika makin mirip menjadi Facebook. (Foto oleh Pixabay di Pexels.com)

Setelah skandal Cambridge Analytica beberapa waktu lalu, saya menanggalkan status saya sebagai pengguna Facebook. Saya hapus akun dan tidak berniat untuk mengunggah data pribadi apapun saya lagi di sana. Dan karena sesekali memang ada desakan dari pekerjaan agar saya menggunakan Facebook, saya kemudian ‘terpaksa’ membuat satu akun baru namun begitu kewajiban profesional itu usai, saya tak berniat berkegiatan lagi di Facebook sebagaimana yang dulu saya rasakan di tahun 2008.

Seorang teman mengkritik saya sebagai orang yang kaku. Kalau saya tidak mau ketinggalan, saya harus mau terjun kembali ke Facebook (meskipun media sosial bukan cuma Facebook tapi kenyataannya dominasi Facebook memang sudah tak terbendung lagi di dunia). Tetapi bagaimanapun lemahnya kekuatan saya sebagai seorang pengguna/ konsumen, saya mesti menunjukkan sikap. Dan saya memang agak kurang ‘sreg’ dengan makin dominannya Facebook di seluruh dunia.

Dengan meninggalkan Facebook, saya mencoba beralih ke layanan media sosial lainnya seperti Twitter. Sayangnya, di Twitter kesenangan untuk menulis panjang layaknya di Facebook tak begitu bisa terakomodasi meskipun batasan karakternya sudah dikendurkan juga sebetulnya.

Lalu juga LinkedIn. Di jejaring profesional ini, tentunya hampir semuanya berbau pekerjaan. Dan memang sudah semestinya LinkedIn demikian. Sesekali saya risih juga saat menyaksikan sesama teman di LinkedIn yang mengunggah konten yang kurang profesional dan terlalu pribadi, kurang edukatif dan informatif. Bahkan ada juga yang terlalu relijius dan politis. Saya merasakan adanya perlawanan massal di LinkedIn bahwa pengguna tidak diperbolehkan menggunakannya layaknya Facebook. Kalau mau liar atau norak atau julid, lakukan saja di Facebook! Begitu kasarnya. Saya sendiri juga sangat antipati terhadap penggunaan LinkedIn selain untuk sarana berjejaring yang beradab bagi kaum profesional global.

Kemudian Instagram. Baik sebelum dan sesudah diakuisisi Facebook, jejaring sosial satu ini menjadi salah satu tempat ‘pelarian’ saya dari Facebook. Maka, saat mengetahui berita akuisisi Instagram oleh Facebook enam tahun lalu, rasanya memang agak kecewa.  Hanya saja karena dijanjikan memang ada independensi bagi para pendiri Instagram (Kevin Systrom dan Mike Krieger) dalam menjalankan bisnisnya, saya menganggap Instagram sebagai sebuah ‘bisnis istimewa’ layaknya sebuah teritori bisnis spesial yang berotonomi khusus meski ada di bawah naungan perusahaan yang lebih raksasa.

Tetapi memang keistimewaan itu makin lama makin menjadi sebuah ilusi semata karena diberitakan beberapa waktu lalu bahwa Facebook terus mendesak Instagram agar mau membantunya menarik kembali para pengguna milenial dan yang lebih muda, yang sudah mulai muak dan meninggalkan Facebook karena Facebook sudah sesak dengan berita politik dan hoax yang disebarkan oleh orang-orang seumuran orang tua, paman, tante, dan kakek nenek mereka. Sebagai konsekuensinya, mereka yang lebih lemah harus mengalah. Akhirnya, Systrom dan Krieger mengundurkan diri (atau didepak?) dari Instagram (untuk lengkapnya, baca di sini). Tak cuma di Instagram, dominasi dan kekuasaan Facebook makin mengencang di sejumlah perusahaan yang mereka akuisisi seperti WhatsApp hingga menimbulkan benturan kekuasaan yang membuat mereka yang lebih lemah yang terpental. Dan untuk menggantikan para pendiri Instagram, Facebook mengirimkan para eksekutif top yang loyal pada kepentingan mereka sehingga dapat dipastikan Instagram tak akan lagi sama.

Yang menarik, setelah tersingkir dari WhatsApp, Brian Acton dari WhatsApp yang mencemaskan aspek privasi pengguna pasca kepergiannya, melontarkan kampanye “Delete Facebook” di Twitter.

Lalu sekarang apakah akan ada kampanye yang sama untuk “Delete Instagram”?

Mungkin suatu saat nanti jika itu benar-benar terjadi (Instagram benar-benar menjadi Facebook kedua), saya akan meninggalkannya. Dan kembali pada media sosial yang tetap tak tergantikan: blog. (*/)

Faedah Sumpah Serapah

man wearing silver skull ring
Memaki-maki ternyata memiliki manfaat. (sumber foto: Pexels.com)

TIDAK ada yang lebih memuaskan daripada saat kita jengkel lalu bisa menemukan kebebasan untuk sekadar memuntahkan kekesalan dalam bentuk verbal. Ada yang selera makiannya bentuk eksplisit. Ada juga yang implisit. Ada yang suka dengan makian dari bahasa daerahnya karena lebih susah dipahami orang di luar sukunya. Ada pula yang memilih memaki dalam bahasa asing supaya lagi-lagi tak bisa dipahami orang lain sehingga bisa lebih leluasa baginya dalam melampiaskan uneg-uneg.

Ya, sumpah serapah memang terkesan barbar, tidak sopan, dan bahkan bisa membuat kita kehilangan pekerjaan [apalagi jika Anda memaki-maki di media sosial]. Tetapi jangan terlalu memusuhi makian juga karena ternyata sumpah serapah memiliki faedahnya tersendiri kalau kita mau telisik secara ilmiah.

swearbook

Emma Byrne, penulis buku “Swearing Is Good for You: The Amazing Science of Bad Language“, mengklaim bahwa menggunakan bahasa kasar dalam percakapan atau interaksi sosial dengan tepat justru bisa memberikan kita kredibilitas dan membantu membangkitkan rasa kepercayaan dan pertemanan di antara orang-orang dalam sebuah grup yang menghabiskan banyak waktu bersama.

“In some cases, she conludes, peppering our language with dirty words can actually give us credibility and establish a sense of camaraderie.” [sumber: Smithsonianmag.com]

Byrne adalah peneliti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang tinggal di London, Inggris. Ia sangat tertarik dengan bidang penelitian linguistik terutama sumpah serapah dan menelitinya dengan lebih mendalam dengan berfokus pada alasan mengapa manusia begitu suka memaki dan bagaimana bersumpah serapah membantu manusia dalam mencapai efek retorik.

Temuan Byrne yang menarik dan dipublikasikan di bukunya ini ialah bahwa makian jika ditambahkan secara proporsional dan terencana bisa memberikan efek yang positif dalam membangun kredibilitas atau reputasi seseorang saat berbicara di depan publik. Di bawah ini adalah simpulan dari penelitiannya yang melibatkan sejumlah subjek yang berstatus mahasiswa yang menonton video 2 pembicara: yang satu berbicara dengan makian (damn) dan yang lainnya benar-benar bersih dari kata-kata kotor. Tema paparan yang disampaikan kedua pembicara adalah isu tuntutan penurunan uang kuliah.

“What’s more, the students who saw the videos with the swearing were significantly more in favor of lowering tuition fees after seeing the video than the students who didn’t hear the swear word.” [sumber: Smithsonianmag.com]

Pembicara yang memaki dianggap lebih kredibel dalam merealisasikan harapan sebab ia mampu menunjukkan intensitas melalui paparannya. Sementara itu, pembicara yang sopan dan halus tanpa memaki dianggap kurang intens sehingga kurang kredibel dalam mencapai janji yang ia berikan.

Hanya saja, untuk mendapatkan kredibilitas itu seseorang tidak bisa seenaknya memaki. Terlalu sering memaki di saat yang kurang pas justru malah memberikan efek negatif.  Di sinilah Byrne menekankan pentingnya proportional swearing. Memakilah secara proporsional, nasihatnya. Bedanya memaki sembarangan dari memaki secara proporsional ialah seseorang memaki secara sengaja dan terencana. Bukan memaki karena tanda kejujuran.

“As with rehearsed gestures and well-orchestrated photo opportunities, swearing can be used instrumentally to give an impression of passion or authenticity.” [sumber: Smithsonianmag.com]

Namun demikian, apa enaknya memaki yang diatur dan direncana, bukan? Bukankah enaknya makin terletak pada spontanitasnya? Mungkin begitu pikir Anda.

Rekomendasi Byrne untuk menggunakan proportional swearing tentu berlaku untuk para politisi atau pembicara publik yang ingin menyita perhatian publik terutama jelang tahun politik ini. Tetapi untuk kita yang bukan bekerja di ranah semacam itu, proportional swearing bukanlah saran yang tepat.

Di sebuah lingkungan kerja, jika Anda menemukan ada orang yang tak malu memaki dalam percakapan untuk mengungkapkan rasa frustrasi terhadap masalah tertentu yang dihadapi bersama justru memberikan efek kedekatan dan menciptakan pertemanan dan solidaritas, sebagaimana yang disinggung Byrne sebagai “a sense of camaraderie”. Dan ini bukanlah makian yang proporsional juga karena lebih spontan.

Sudahkah Anda bersumpah serapah hari ini? (*/)

%d bloggers like this: