Faedah Sumpah Serapah

man wearing silver skull ring

Memaki-maki ternyata memiliki manfaat. (sumber foto: Pexels.com)

TIDAK ada yang lebih memuaskan daripada saat kita jengkel lalu bisa menemukan kebebasan untuk sekadar memuntahkan kekesalan dalam bentuk verbal. Ada yang selera makiannya bentuk eksplisit. Ada juga yang implisit. Ada yang suka dengan makian dari bahasa daerahnya karena lebih susah dipahami orang di luar sukunya. Ada pula yang memilih memaki dalam bahasa asing supaya lagi-lagi tak bisa dipahami orang lain sehingga bisa lebih leluasa baginya dalam melampiaskan uneg-uneg.

Ya, sumpah serapah memang terkesan barbar, tidak sopan, dan bahkan bisa membuat kita kehilangan pekerjaan [apalagi jika Anda memaki-maki di media sosial]. Tetapi jangan terlalu memusuhi makian juga karena ternyata sumpah serapah memiliki faedahnya tersendiri kalau kita mau telisik secara ilmiah.

swearbook

Emma Byrne, penulis buku “Swearing Is Good for You: The Amazing Science of Bad Language“, mengklaim bahwa menggunakan bahasa kasar dalam percakapan atau interaksi sosial dengan tepat justru bisa memberikan kita kredibilitas dan membantu membangkitkan rasa kepercayaan dan pertemanan di antara orang-orang dalam sebuah grup yang menghabiskan banyak waktu bersama.

“In some cases, she conludes, peppering our language with dirty words can actually give us credibility and establish a sense of camaraderie.” [sumber: Smithsonianmag.com]

Byrne adalah peneliti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang tinggal di London, Inggris. Ia sangat tertarik dengan bidang penelitian linguistik terutama sumpah serapah dan menelitinya dengan lebih mendalam dengan berfokus pada alasan mengapa manusia begitu suka memaki dan bagaimana bersumpah serapah membantu manusia dalam mencapai efek retorik.

Temuan Byrne yang menarik dan dipublikasikan di bukunya ini ialah bahwa makian jika ditambahkan secara proporsional dan terencana bisa memberikan efek yang positif dalam membangun kredibilitas atau reputasi seseorang saat berbicara di depan publik. Di bawah ini adalah simpulan dari penelitiannya yang melibatkan sejumlah subjek yang berstatus mahasiswa yang menonton video 2 pembicara: yang satu berbicara dengan makian (damn) dan yang lainnya benar-benar bersih dari kata-kata kotor. Tema paparan yang disampaikan kedua pembicara adalah isu tuntutan penurunan uang kuliah.

“What’s more, the students who saw the videos with the swearing were significantly more in favor of lowering tuition fees after seeing the video than the students who didn’t hear the swear word.” [sumber: Smithsonianmag.com]

Pembicara yang memaki dianggap lebih kredibel dalam merealisasikan harapan sebab ia mampu menunjukkan intensitas melalui paparannya. Sementara itu, pembicara yang sopan dan halus tanpa memaki dianggap kurang intens sehingga kurang kredibel dalam mencapai janji yang ia berikan.

Hanya saja, untuk mendapatkan kredibilitas itu seseorang tidak bisa seenaknya memaki. Terlalu sering memaki di saat yang kurang pas justru malah memberikan efek negatif.  Di sinilah Byrne menekankan pentingnya proportional swearing. Memakilah secara proporsional, nasihatnya. Bedanya memaki sembarangan dari memaki secara proporsional ialah seseorang memaki secara sengaja dan terencana. Bukan memaki karena tanda kejujuran.

“As with rehearsed gestures and well-orchestrated photo opportunities, swearing can be used instrumentally to give an impression of passion or authenticity.” [sumber: Smithsonianmag.com]

Namun demikian, apa enaknya memaki yang diatur dan direncana, bukan? Bukankah enaknya makin terletak pada spontanitasnya? Mungkin begitu pikir Anda.

Rekomendasi Byrne untuk menggunakan proportional swearing tentu berlaku untuk para politisi atau pembicara publik yang ingin menyita perhatian publik terutama jelang tahun politik ini. Tetapi untuk kita yang bukan bekerja di ranah semacam itu, proportional swearing bukanlah saran yang tepat.

Di sebuah lingkungan kerja, jika Anda menemukan ada orang yang tak malu memaki dalam percakapan untuk mengungkapkan rasa frustrasi terhadap masalah tertentu yang dihadapi bersama justru memberikan efek kedekatan dan menciptakan pertemanan dan solidaritas, sebagaimana yang disinggung Byrne sebagai “a sense of camaraderie”. Dan ini bukanlah makian yang proporsional juga karena lebih spontan.

Sudahkah Anda bersumpah serapah hari ini? (*/)

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in miscellaneous and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.