5 Pelajaran Hidup dari Freddie Mercury di Bohemian Rhapsody

gray metal statue of man raising hand near dock
Photo by bruce mars on Pexels.com

Sebelum menonton film biopic Freddie Mercury ini, saya cuma sepintas lalu mengenal band bernama Queen. Karena genrenya yang kurang familiar plus periode kepopuleran mereka yang jauh sebelum kesadaran musikal saya terbangun, saya terus terang kurang paham siapa saja personel band tersebut, lagu-lagu hitsnya, kehidupan mereka sebagai seniman, musisi dan pribadi.

Tentu saja karena ini jenis film biopic, kendalanya ialah ketimpangan antara film dan ‘kenyataan’ versi para pelakon peran di kehidupan nyata. Ada banyak selentingan bahwa film itu kurang pas menggambarkan Freddie. Ia bukan biang kerok bubarnya Queen karena sebelum ia merintis karier solo, sebelumnya ada juga anggota Queen lain yang sudah melakukan hal serupa. Lalu ada juga yang mengritik film ini karena dianggap melenceng dari sejarah. Untungnya semua itu bukan masalah bagi saya yang bukan penggemar berat Queen.
Tanpa ekspektasi macam-macam sejak awal, saya duduk di bioskop dan cuma mengharap adanya hiburan yang cukup layak untuk mengisi waktu senggang.

Kisah hidup Mercury ini berawal dari dirinya yang masih bekerja serabutan sambil mondar-mandir mencari posisi sebagai penyanyi profesional. Dan di dalam film, saya menemukan banyak pelajaran hidup dari jalan hidup Freddie yang tidak lazim. Berikut di antaranya.

PELAJARAN 1: “Uang tidak bisa membeli kebahagiaan tapi bisa memberikannya.”
Orang kaya yang tidak bahagia memang menyedihkan. Tetapi lebih menyedihkan lagi orang miskin yang tidak bahagia. Saya sepakat dalam hal ini. Uang memang bisa membebaskan manusia dari tuntutan pemenuhan kebutuhan ekonomi. Uang memberikan kita pilihan. Orang kaya dan miskin bisa saja sama-sama jalan kaki tetapi bisa saja karena si orang miskin terpaksa jalan kaki karena tak punya uang. Sementara itu, si orang kaya bisa saja naik mobil tetapi memilih berjalan karena ingin menikmati suasana, berolahraga, atau menikmati udara segar. Motifnya sudah lain sama sekali. Yang satu karena tidak ada pilihan, yang lain karena sengaja memilih. Yang satu merasa terpaksa dan berat hati, yang lain merasa rela dan senang.

PELAJARAN 2: “Saat saya mati, saya ingin diingat sebagai musisi yang punya nilai dan substansi.”
Freddie tidak berkarya hanya karena ia ingin keuntungan finansial atau ketenaran. Ia menggubah lagu agar lagu itu bisa diingat sepanjang masa. Melewati generasinya sendiri jika bisa. Dan itu terbukti.
Idealisme Freddie juga ditunjukkan dengan karakter keras kepalanya saat berhadapan dengan seorang produser musik kenamaan yang tak memahami keunikan Bohemian Rhapsody. Jadi, walaupun usianya tak bisa dikatakan panjang, hidup Freddie lumayan bermakna karena idealisme, nilai dan substansi tadi.

PELAJARAN 3: “Saya selalu tahu saya seorang bintang dan sekarang semua orang sepakat dengan itu.”
Meski sering dipanggil pemuda ‘Paki” (karena ia anak imigran Pakistan), Freddie mengetahui panggilan jiwanya dari muda, yakni menjadi penampil yang berkualitas. Ia menolak anjuran ayahnya untuk hidup selayaknya pemuda lain seumurannya yang kuliah, mengantongi gelar dan merintis karier yang bagus dan membanggakan hingga pensiun usia tua nanti. Freddie yakin ia tak dilahirkan untuk menjalani kehidupan semacam itu. Bukan berarti kehidupan berkarier semacam yang banyak dari kita jalani itu lebih buruk tetapi ia hanya yakin bahwa ia memiliki pilihan yang lebih sesuai dengan jiwanya. Dan ia tidak cuma meminta profesi idamanya itu datang kepadanya. Ia berusaha keras untuk itu.

PELAJARAN 4: “Saya hanya seorang pelacur musik.”
Di balik glamornya profesi seniman dan musisi yang ia lakoni, Freddie tahu dirinya tetap manusia biasa. Yang membuatnya luar biasa adalah optimisme dan semangatnya dalam berkarya secara maksimal dalam rentang waktu hidupnya yang relatif pendek tetapi bernas. Kehidupan sebagai rock star juga tidak membuatnya berubah kepribadian. Ia tetap tahu esensi pekerjaannya: pengamen. Ia menyanyi dan tampil untuk menyenangkan orang. Dan ia melakukan tiap pekerjaannya dengan tingkat keseriusan yang tinggi.

PELAJARAN 5: “Perbuatan yang baik, perkataan yang baik, pemikiran yang baik”
Filosofi ini didengungkan oleh ayah Freddie yang datang ke Inggris sebagai seorang kepala keluarga imigran. Sebagai seorang ayah, ia berharap Freddie bisa membanggakan dirinya dengan mengikuti jalur yang diterima oleh masyarakat kebanyakan. Tetapi Freddie bukanlah pribadi yang biasa sehingga ia tidak sanggup mengungkung dirinya dalam kehendak sang ayah dan tuntutan masyarakat. Untungnya Freddie memiliki seorang ibu yang mendukung apapun yang dilakukan anaknya. Adegan tentang Freddie yang menuju ke rumahnya untuk ‘sowan” ke orang tuanya sebelum tampil di panggung konser amal Live Aid cukup mengharukan karena di situ, Freddie akhirnya menyaksikan ayahnya luluh dan mengakui bahwa pencapaian anaknya di dunia musik memang membawa kebaikan bagi banyak orang. Freddie, seburuk apapun ia di mata diri ayahnya, memiliki dedikasi yang tidak terkira pada dunia musik dan ia menggunakan popularitasnya untuk membantu orang lain yang dekat dengannya dan bahkan yang jauh darinya seperti orang-orang di Afrika yang rentan terjangkit AIDS.

99 Wisdom: Kumpulan Kisah Pendek Pemberi Makna dari Gobind Vashdev

Dalam perjalanan sering saya membawa bacaan berupa buku. Bukan buku digital tetapi buku fisik yang terbuat dari kertas.

‎Ada alasan kenapa saya memilih itu. Sebab saya sudah banyak menatap layar. Untuk mengistirahatkan mata dari radiasi layar gawai, saya pikir lebih nyaman menatap lembaran kertas.

Buku tulisan Gobind Vashdev ini saya pikir cocok untuk dibaca di perjalanan. Sebagai ganti membaca beranda media sosial, buku ini sesuai karena isinya sangat mudah dicerna bahkan bagi pembaca awam sekalipun.

Isinya sebetulnya kumpulan tulisan-tulisan pendek Gobind di media sosial Facebook, yang beberapa saya sempat nikmati juga. Kebetulan kami pernah berteman di Facebook (dan sekarang saya sudah menghapus akun Facebook pribadi saya karena beragam alasan) dan tulisan-tulisan yang berupa status panjang itu cukup menghibur dan menginspirasi.

Karena panjang tiap tulisan ‎yang cuma sekitar 500 – 1000 kata, dalam sekali duduk kita bisa melahapnya. Dan bagi orang yang kesulitan memfokuskan perhatian dan ingin tetap produktif dengan membaca di sela kegiatan atau perjalanan, membaca buku ini tidak begitu menyusahkan.

Membahas mengenai kandungannya, saya yakin Anda akan sangat menyukainya dan bisa menjadikannya bahan perenungan dalam kehidupan sehari-hari. Gobind selalu memiliki idealismenya sendiri dengan berbagai alasan. Ia menurut saya sosok yang unik. Selalu bertindak dengan kesadaran. Tiap langkahnya selalu ada alasan.

Pandangan-pandangannya terpantul dari tulisan-tulisan pendek yang tersusun acak dari berbagai tema. Ia gemar mengeskplorasi berbagai kejadian sehari-hari dan menarik pelajaran berharga dari situ seperti saat ia menulis hikmah dari kejadian kehilangan ponsel di kendaraan travel.

Buku ini menarik untuk dimiliki, bukan hanya dipajang. Karena isinya sangat praktis, dan membumi. Ini bukan jenis buku yang bahasanya berbelit-belit. Anda akan diajak menelusuri diri ke dalam karena Gobind sepertinya sangat menyukai gagasan non dualisme (bahwa tidak ada positif dan negatif, semuanya satu dan mesti diterima dan dirangkul), kesadaran penuh (mindfulness) dalam menjalani kehidupan‎, ajakan hidup yang lebih ramah lingkungan, kebersahajaan (semangat anti konsumerisme) dan sebagainya.

Sent from my BlackBerry 10 smartphone.

The Returning (Sebuah Ulasan Penuh Kesan)

Karena bukan jenis orang yang suka berkali-kali menonton satu film yang sama (sebagus apapun itu), akhirnya saya memutuskan menonton sebuah film yang meskipun judulnya dalam bahasa Inggris ternyata diproduksi para pelaku sineas Indonesia.

Bintang yang saya langsung kenali sudah pasti ialah Laura Basuki. Sementara itu, muka lawan mainnya yang pria kurang saya ketahui. Mungkin karena wawasan film Indonesia saya kurang banyak. Jujur, ini kali pertama saya menonton film horor produksi Indonesia setelah sekian lama. Lagi-lagi karena di jam pemutaran yang sama, saya tidak mau menonton Bohemian Rhapsody (biopic Freddie Mercury) lagi apalagi menonton film remake The Nutcracker yang klasik dan plotnya sudah tertebak. Saya berharap setidak film Indonesia ini bisa menawarkan sebuah plot yang terpilin dengan aneh dan tanpa dugaan.

Apakah film ini berhasil memenuhi ekspektasi saya tentang film dengan plot twist yang menarik?

Baca terus saja ulasan suka-suka ini.

Jadi begini ceritanya kalau saya bisa mampatkan jadi satu alinea: seorang ibu dengan dua anak mengalami tragedi dalam kehidupan rumah tangganya yang harmonis. Tak disangka-sangka sang suami yang hobi bertualang mengalami kecelakaan dan tak ditemukan jasadnya. Istri yang setia itu pun syok. Hingga 3 bulan pasca menghilangnya sang suami, ia tak bisa menerima kenyataan bahwa ia itu sudah menjanda. Janda cerai mati, tepatnya. Meski jenazah suaminya belum ditemukan, tetap saja harapan itu tipis. Anaknya yang pertama mencoba mengingatkan bahwa ayahnya sudah tiada dan ibunya mulai harus melanjutkan hidup dengan menatap masa depan. Teman dekatnya juga mengatakan hal yang sama, bahwa ia harus berhenti berharap. Dan saat ia merasakan masih adanya kehadiran sang suami, justru ia disarankan menemui psikiater karena dianggap berhalusinasi dan mengalami depresi. Semua itu ditambah dengan tekanan dari ibu mertua yang meski terlihat perhatian tetapi tidak pernah menganggapnya becus mengurus anak. Kemudian entah bagaimana suami yang sudah hilang itu mengetuk pintu rumah. Tanpa ada luka dan cedera, pria itu mengisi kembali kekosongan dalam keluarga kecilnya. Semua berbahagia. Hanya saja ada satu yang mengganjal: sang suami bukan orang yang sama. Entah kenapa ada keanehan-keanehan yang menampakkan bahwa si suami ini ada sisi gelap yang tak tersembunyi. Ia ditampilkan terlihat makan berbutir-butir apel di tengah malam. Anak-anak mereka diteror sosok kelelawar raksasa yang mirip monster di pepohonan depan rumah. Istri dan anak-anak terus bergelut dengan kejutan-kejutan yang menunjukkan keanehan-keanehan dalam diri suami dan ayah ini. Kecurigaan pun muncul: apakah ia masih orang yang sama atau bukan? Ternyata memang keanehan itu bukan tanpa alasan. Pelan-pelan suaminya menemukan sebuah altar pemujaan dengan patung manusia kelelawar. Karena tak tahu altar itu milik siapa, ia mengkonfrontasi istrinya. Mengakulah sang istri bahwa di tengah kegundahan dan kerinduannya pada sang suami, ia membuat kesepakatan dengan makhluk berkekuatan gelap. Wujudnya mirip kelelawar. Seorang pria tua ternyata secara tak diundang memberikannya kitab untuk meneken perjanjian dengan siluman kelelawar agar suaminya bisa kembali. Dan sang istri, dengan penuh semangat, melakukan hal itu agar suaminya lekas kembali, agar dapat kembali hidup bersamanya dan membimbing anak-anak mereka dan menghadapi ibu mertua yang meremehkan kerja kerasnya. Singkat cerita, sang suami dan istri bersatu padu menghadapi siluman kelelawar yang menuntut tumbal. Sang istri secara licik sudah mengajukan sang ibu mertua sebagai tumbal tapi karena kalung yang dijadikan mahar itu ternyata dihadiahkan kembali ke cucunya, akhirnya diceritakan agar sang anak selamat, si istri sekaligus ibunya merebut kalung itu dan merelakan dirinya direngkuh sang siluman kelelawar ke alamnya (yang diibaratkan berada dalam tungku pemanggang tembikar). Akhirnya, sang suami tetap hidup bersama dua anaknya.

Ekspektasi saya terpenuhi. Plotnya cukup tak terduga. Saya pikir suaminya yang jelmaan setan atau manusia jadi-jadian tetapi saya salah besar. Wajar saja, karena penulis skenario dan sutradaranya mengarahkan sedemikian rupa agar ia tampak aneh, dan bukan lagi dirinya. Saya terkecoh. Apalagi di sini ditampakkan sang istri yang digambarkan sebagai karakter yang baik, kuat, tabah, dan setia. Tetapi siapa sangka ia bisa bersekutu dengan siluman demi sesuatu yang dicintainya? Dalam hal ini, saya angkat topi untuk penulis skenarionya.

Hanya saja, ada sejumlah kejanggalan logika di situ. Pertama, sang suami dikisahkan mengalami kecelakaan tapi bagaimana ia bisa kembali dengan kondisi sehat walafiat tanpa lecet sedikit pun? Tentu kritik ini bisa ditangkis dengan jawaban bahwa ia sudah diselamatkan siluman itu dari maut. Tapi kalau untuk saya, itu jawaban yang tak logis dan terlalu instan.

Kemudian bagaimana bisa pria tua pembawa kitab itu tahu bahwa si istri ini baru kehilangan suami dan begitu ingin sekali suaminya kembali ke rumah? Janggal bukan?

Kejanggalan lain ialah akting si ibu mertua alias ibu kandung si suami. Ekspresinya saat bertemu anaknya kembali setelah berbulan-bulan tak bertemu sungguh tidak wajar. Kurang ‘dapat’, istilahnya. Jangankan berbulan-bulan tak bertemu setelah anaknya dinyatakan hilang dalam kecelakaan tragis, seorang ibu tak bertemu anaknya sehari saja sudah rindu dan terus menangis. Dan menyaksikan ibu mertua ini menyuruh sang istri menerima ‘kenyataan’ bahwa suaminya sudah mati karena berbulan-bulan tak muncul itu juga aneh bin ajaib. Bagaimana bisa seorang ibu mengatakan hal itu? Kalau ada yang seharusnya paling tidak bisa menerima dugaan kematian sang anak justru itu ialah ibu kandung. Saya curiga ini bukan ibu kandung si suami. Tetapi sang penulis skenario tampaknya tak ingin mengulik lebih dalam soal ibu mertua itu jadi asumsi ini mengambang saja jadinya.

Soal efek visual, saya juga harus katakan sudah lumayan halus. Adegan-adegan saat siluman keleawar itu muncul, cukup meyakinkan. Adegan klimaks pamungkas saat si istri direnggut secara paksa oleh siluman kelelawar itu untuk diboyong sebagai tumbal juga relatif bagus dan meyakinkan.

Terlepas dari semua itu, saya harus mengapresiasi kerja keras insan perfilman kita yang sudah melakukan yang terbaik. Akting Laura Basuki, misalnya, terbilang ciamik. Ia mampu memerankan sosok istri yang begitu setianya pada suami dan mendedikasikan diri pada keutuhan keluarganya meskipun itu artinya mengorbankan perasaan bahkan nyawanya sendiri.

Tiga bintang dari 5 yang tersedia untuk film bergenre horor ini. (*/)

%d bloggers like this: