Drama Medical Checkup

421px-physical_examination

“Kok nggak ikut periksa kesehatan?” kata saya pada bang Muri, office boy di kantor yang perawakannya sama dengan saya. Kurus seperti model. Model Men’s Health edisi ectomorph.

Malu-malu ia menjawab,”Nggak ah, mas. Takut…”

“Takut? Kan cuma diambil darah sedikit buat periksa gula darah dan tekanan darah,” saya tetap bersikukuh agar ia ikut.

“Takut ketahuan penyakitnya,” sergahnya lagi.

Lain lagi dengan Dino yang berperawakan lebih subur dari saya (dan karena saya paling ceking di kantor, otomatis semua juga lebih subur dari saya). Ia sudah mencuri start. Beberapa hari sebelumnya, ia meminta izin tak masuk dengan alasan menjalani pemeriksanaan kesehatan di sebuah rumah sakit kenamaan yang dekat dengan kawasan bisnis termegah di Indonesia. “Mumpung promo, pak,” terangnya saat ditanya Tino, manajer kami yang kerap mengatai saya aki-aki dan nini-nini karena suka chamomile tea dan minyak-minyak itu.

“Situ kan rumah sakit paling mahal,” kata Tino kagum dengan pilihan rumah sakit Dino yang wah. Ia menggenggam tangannya di depan dada. Menganga.

Saya menghela napas. Dengan nada datar berucap sekejap,”Ah, biasa aja…”

Sontak mereka meradang, berteriak kencang,”Belagu loee malihh!!”

Untung saya tidak diserang ala smackdown, karena jika mereka melakukannya, saya akan remuk seketika. Ngeri kan? Bayangkan Elyas Pical ditandingkan dengan Evander Holyfield.

Tetapi itu belum seberapa karena ada sebuah insiden menarik sebelum giliran saya datang. Tino yang sudah siap maju ke depan, diharuskan menimbang berat badan di timbangan khusus yang juga dilengkapi fitur khusus untuk menaksir usia sel tubuh.

Timbangan itu gagal mengukur berat badan dan usia selnya. Dengan nada datar, si petugas dari rumah sakit itu menegurnya,”Pak, timbangannya error. Ulang lagi ya…”

Agak menusuk tetapi apa daya. Ia terima saja sembari memendam rasa dongkol. Saya meringkik, membayangkan ia geram dan membanting timbangan yang tak bersalah itu hingga remuk seremuk-remuknya dan tiap potongannya menghambur di seantero ruangan itu.

Kembali ke kantor, kami saling membandingkan hasil. Dalam banyak hal, saya patut lega kecuali tekanan darah. Kata salah satu perempuan di meja pemeriksaan tadi, saya mesti diet garam. Duh! Ini gara-gara rakus asupan protein dan kurang sayur mayur dan buah segar. Dan mungkin juga, seloroh saya, karena stres akibat serbuan permintaan revisi yang tiada henti.

Tapi tak perlu bersedih. Setidaknya saya punya banyak hal untuk dirayakan.

Tebak siapa yang paling muda usia sel tubuhnya?

Tak perlu disebutkan…

Tino yang usia tubuhnya 62 tahun itu langsung panik tampaknya. Sore hari saat santai dan saya buat lemon-infused water, ia buru-buru ingin menjajal. Dimasukkannya dengan penuh semangat irisan lemon itu ke wadah air putihnya dan ia teguk. Perlahan. Dan mukanya berseri. “Enak juga…” Lalu ia mencanangkan rencana besar ambisius. “Mari kita beli lemon besok!!!”

Kembali di tempat duduk, saya menyeruput air lemon saya sendiri. Tentu sembari membatin,”Let’s see how long it’ll last.”

Sementara itu, wanita bernama Gamalama yang rambutnya bersasak setinggi Monas itu mengutuk kinerja mesin penimbang dan penaksir usia tubuh tadi. Sambil membuang kertas hasil pengukuran saya yang memberikan estimasi 18 tahun untuk tubuh saya, ia menghardik dengan lengkingan seperti penyanyi rock Nicky Astria,”Ini mesin salah. Nggak akurat!!!” Lirikan matanya yang antagonis mengingatkan saya dengan alis Ratna Sarumpaet yang legendaris itu.

Lalu ia kejang-kejang.

Dan saya lanjut menikmati air lemon dengan tenang.

“Eat that, mother father….” ucap saya lirih, meniru cacian khas Tino. (*/)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.