Gamalama dan Cita-cita “Ayam”-nya

Puncak Gunung Gamalama di Ternate tampak sangar, gahar dan akbar. Kesangaran itulah yang juga ditemui dalam diri manusia bernama Gamalama satu ini. Tak heran, karena konon kata “Gamalama” berasal dari frase “Kie Gam Lamo” yang artinya “negeri yang besar”. Ya, BESAR…

Selalu begitu. Kalau Gamalama sedang gundah dengan pekerjaannya, entah karena ada atasan yang sedang tengil dan menjengkelkan, dan labil sampai pasif agresif atau karena ia sedang menderita suasana hati yang buruk, celetukannya yang paling apatis adalah:

“Kalo kek gini, rasanya gue pengen banget resign terus jadi chicken (baca: ayam)”.


Sungguh demotivasional sifatnya bagi kami rekan-rekan sekerjanya. Alasannya karena hidup sebagai “ayam” terkesan sederhana, tidak ‘neko-neko’. Tinggal ongkang-ongkang, dapat cuan (duit). Ya, meskipun faktanya juga tidak semudah itu. Pasti juga ada usaha yang keras, kan? Memangnya semua pil KB, tes HIV, dan antibiotik pencegah VD itu pengobatan lumrah, generik yang bisa diperoleh di Puskesmas terdekat dengan berbekal selembar kartu keanggotaan BPJS???

Gamalama mengingatkan saya pada Bridget Jones. Iya, tokoh rekaan dari dalam dunia fantasi Helen Fielding itu sempurna menggambarkan dirinya. Perempuan usia 30-an dengan status lajang dan sedang bersemangat mengejar lelaki idaman untuk ‘dijerat’ dalam tali pernikahan dan agak putus asa menghadapi dunia sekitarnya yang mendesak untuk segera menikah, punya anak dan … Tahulah. Bedanya, Bridget suka menulis diary. Gamalama suka berbicara. Begitu ia harus menulis, ia tersiksa. Katanya ia sempat menangis disuruh bekas atasannya mengerjakan newsletter. “Aku nggak sukak (ngerjain gituan),” kenangnya dengan air mata menggenang di pelupuk mata. Seolah ia sedang mengenang sepenggal masa lalunya yang nista dan amat kelam.

Dengan statusnya yang demikian, tak heran Gamalama menjadi pengguna intens aplikasi Tinder. Siang malam, subuh senja, pagi sore (bukan rumah makan Padang) ia memantau notifikasi di aplikasi favoritnya itu dan berharap ada cowok yang ‘nyangkut’. Setidaknya mau bertemulah. Urusan benar-benar cocok itu belakangan.

Untuk bisa menjerat, Gamalama menggunakan strategi-strategi dari yang berupa modifikasi visual, nasal, verbal, sampai behavioral. Strategi visualnya ialah dengan mengubah penampilan yang menarik, ‘nafsuin’, dan eksklusif. Ia pernah ingin mengeriting rambut yang sudah ikal tetapi kami menyarankan sebaliknya. Karena ia akan tampil lebih korporat dengan rambut lurus daripada rambut megar. Ia mewarnai kukunya, kemudian memakai bau-bauan (parfum) vanilla yang ‘nafsuin’ pria-pria untuk ‘mengigit’ karena mereka menjadi seolah-olah sedang bertemu dengan roti raksasa. Untuk modifikasi verbal, di telepon ia kerap menggunakan volume suara yang rendah dan cenderung mendesah. Nada suaranya diturunkan sedemikian rupa untuk menciptakan nada manja. Seperti saat sebuah sore, ia hendak berkencan dan si pria dari Tinder bertanya apakah cuaca di tempatnya berada baik-baik saja sehingga ia bisa bertemu di tempat yang sudah ditentukan. “Di sini ujan… Petir…Takut…,” ucapnya sembari menggenggam ponsel. “Palsu!!!” sergah Tino di sebelahnya. Tawa meledak di seantero ruangan. Buru-buru Gamalama mengambil langkah seribu ke luar ruangan dan meneruskan percakapan dengan nada manjanya tadi. Beberapa waktu setelah itu, ia mengemukakan alasannya berucap manja demikian. “Ya ampun kalian itu nggak paham ya? Kalau aku terlihat manja dan lemah itu biar mereka terlihat dibutuhkan. Kalau terlihat mandiri banget nanti malah mereka merasa nggak dibutuhin dan takut,” terangnya dengan nada nyaris patah arang.

Sesekali ia tentu beruntung bisa menemukan cowok yang antusias bertemu dengannya. Ada yang ‘elub’ (baca terbalik) dan ada juga yang Timur Tengah dan juga ada yang asli produksi nusantara. Sesekali bertemu dengan yang impor dari Eropa, ia malah ditinggal pulang ke negara asal si pria. Pupus harapannya disunting dan diboyong ke negeri matador. Sebenarnya ia cocok dengan cowok matador ini, karena Gamalam ini mirip banteng di toko keramik. Segala yang sentuh bisa jatuh. Tidak rusak saja sudah beruntung.

Lain lagi kalau dengan yang Timur Tengah. Alih-alih percakapan romantis, mereka di Tinder malah berdebat soal mana yang lebih hebat: Pakistan atau Indonesia? Si pria yang berprofesi sebagai pilot dan sok tahu soal Indonesia itu pun langsung didamprat balik oleh Gamalama yang tidak terima negaranya dilecehkan. “Enak aja, dia nggak tahu apa kalau Indonesia GDP-nya lebih tinggi….Grhhh!!!” Chat pun menjadi penuh dengan cuilan-cuilan fakta pencapaian ekonomi Indonesia dan komparasinya dengan Pakistan. Melayanglah pria Pakistan tampan tetapi chauvinistis itu. Coret!!!

Satu cowok Indonesia yang ia merasa sreg membuatnya optimis, seolah secercah cahaya lilin mungil di lorong gelap yang tak berujung. Pria itu mengundangnya ke restoran yang ternyata milik keluarganya, dan restoran itu ternyata punya banyak cabang juga. “Wah, pas nih!” gumamnya kegirangan. Kaya dan punya restoran, pas karena Gamalama sendiri menggandrungi wisata kuliner. Mereka duduk dan bercakap-cakap dan karena si pria itu malu kalau ketahuan sang ayah yang berseliweran di restoran itu bahwa ia sedang berkencan dengan Gamalama, ia menggiring topik pembicaraan ke hal-hal yang lebih kaku seperti topik-topik bisnis. “Apa sih kerjaan loe?” begitu tanya pria itu pertama-tama. Sialannya, dari situ malam makin tersedot ke dalam topik pembicaraan yang jauh dari dugaan. Karena Gamalama piawai di disiplin ilmu branding, si pria ini terus bertanya-tanya soal pendapat Gamalama mengenai apa yang bisa dilakukan untuk mempromosikan restorannya. “Ujung-ujungnya malah dia nanya-nanya cara dan tips branding buat restorannya,” Gamalama berkeluh kesah. Beberapa hari kemudian, ia dihubungi lagi oleh si pria muda tadi dan mengira akan kencan kembali kedua kalinya. “Eh, Gamalama, elo mau nggak freelancing buat ngerjain branding di restoran gue?” baca pesan dari pria itu di iPhone 5S lapuk Gamalama. “Gagal totallll!!! Maunya jadi pacar malah dijadiin freelancer!!!” perempuan itu menyumpah serapah. Menurut saya, setidaknya ia bisa buktikan pada pria itu, ia berguna. Kalau itu terbukti, mungkin saja ia akan berpikir menikahi Gamalama karena nanti bisa branding gratis kalau sudah menikahinya. Sayangnya, pria itu berpikiran jauh lebih praktis. No strings attached. Belum diketahui apakah Gamalam menyanggupi tawaran itu atau tidak. Yang pasti lumayan juga buat pemasukan sampingan. “Nah, nanti bisa dibuat jadi modal buat cari cowok lain,” saran saya pada Gamalama yang menunjukan kegundahan yang memuncak. “Always think positively, Gama,” pesan saya tiap kali dia merasa dunia ini tidak adil.

Kalau ada perempuan yang menurutnya cerdas, anggun dan ‘nafsuin’ tapi tidak terlihat murahan, ia selalu tergoda untuk menjadikan perempuan itu sebagai panutan. Role model, begitu istilahnya. Gamalama berasumsi jika dirinya bisa menjadi perempuan dengan kualitas setara dengan orang itu, ia juga pastinya akan lebih mudah mendapatkan jodoh yang diidamkan.

Seperti hari Jumat itu. Ia sudah mempersiapkan diri dari pagi buta. Meskipun panduan berbusana kami hari itu di kantor ialah pakaian batik, ia mengabaikannya dan memilih pakaian terbaiknya yang bukan batik. Busana dengan brokat hitam, yang menurut saya lebih pas dikenakan di acara pemakaman. Tapi Gamalama menganggapnya tepat untuk dikenakan di saat-saat genting dan krusial dalam kariernya yang mengalami ‘plateau’. Kami berani taruhan ia menghabiskan waktu berjam-jam untuk mematut diri di depan cermin untuk memutuskan busana untuk menemani tamu istimewa kami hari itu.

Belum cukup, ia nyalakan mesin catok rambut itu dan meluruskan sehelai demi sehelai rambutnya yang sebetulnya sudah diluruskan secara kimiawi di salon secara cuma-cuma karena kami sudah berikan sebuah voucher di hari jadinya yang ke empat puluh lima (berdasarkan mesin pengukur usia sel tubuh yang dipakai dokter saat medical checkup).

Namanya ibu Sophie Ellis Bextor. Kulitnya sepucat dan selicin lantai yang terbuat dari batu pualam murni, tanpa campuran, apalagi sepuhan. Rambutnya hitam dan disanggul sederhana dan rapi. Lipstiknya marun, membuat bibirnya terlihat penuh dan – dalam istilah Gamalama – ‘nafsuin’ tapi ‘nggak murahan’. Karena ia istri mantan duta besar negara sahabat (yang kadang-kadang juga jadi musuh), ia sangat akrab dengan budaya Indonesia yang menunjung tinggi kesopanan. Alhasil, meski suhu agak gerah, ia tetap memakai busana tertutup meskipun tanpa penutup rambut.

“Aku tuh pengen banget kayak dia,” Gamalama terus meracau soal idola barunya ini. Ia menceritakan kekagumannya soal cara duduk ibu Sophie yang menurutnya sangat berkelas. Lain dari cara duduknya sendiri yang, katakanlah, jelata sekali. Sama-sama menyilangkan kaki tetapi entahlah kelihatan berbeda. Kalau ibu Sophie duduk di meja sekalipun, terlihat oke dan sopan saja. Tetapi begitu Gamalama duduk di meja, jadinya mirip preman mau menagih utang. Gahar dan ‘pencilakan’. Belum lagi mendengarkan caranya bertutur kata, nada dan intonasi beserta semua isi dan pesan dalam kalimat-kalimatnya.

Intinya, Gamalama kalah telak.

Saya sarankan ia kursus kepribadian ke Okky Asokawaty. Ia mencibir, menyorongkan moncongnya ke depan,”(Idemu itu) Aneh…”

“I’m just trying to help, b*tch...,” gumam saya lagi. Dalam hati tetapi.

Lalu untuk mengembalikan suasana hatinya, ia butuh suntikan gula dan micin dalam jumlah raksasa ke dalam tubuhnya. Biskuit bersalut cokelat gula, lalu keripik berpenyedap rasa kuat plus makanan ringan apapun di dalam laci meja kerjanya.

Dan selalu setelahnya ia berteriak,”Aku nggak mau naik berat lagi. Aku mau langsing. Oke besok aku mau olahraga. Aku mau bla bla bla (isi dengan jenis olahraga apapun), supaya cowok-cowok Tinder itu terpesonah…”

Kami bertepuk tangan, mencoba menyemangati.

You go, Gamalama!!!” Tino memberi stimulus verbal pada semangat Gamalama yang turun naik. (*/)

Author: akhlis

Writer & yogi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: