Aku Bukan Cina

347px-the_chinese_boy_and_girl_page_155Ya ya ya.

Siapa yang percaya juga kalau saya Cina.

Wajar saja karena saya berkulit sawo (ke)matang(an) dan (not so) virgin olive oil. Bisa dikatakan warna minyak zaitun yang sedikit terpapar dengan udara bebas sehingga agak teroksidasi.

Jadi begini ceritanya, teman saya ini bukan orang yang susah beradaptasi dengan lingkungan di sekitarnya. Sangat lain dengan saya yang perlu waktu agak lama untuk bisa lebur dengan sekeliling.

Orang ini secara fisik dan etnik sangat kentara sekali Cina. Tapi karena sudah begitu merasa melebur dengan budaya lokal (baca: Sunda), ia mungkin bisa dikatakan mengalami sejenis ‘krisis identitas’ karena ia tidak bisa mengidentifikasi dirinya sebagai satu jatidiri saja. Dan ini sangat wajar menurut saya. Bukankah kita hidup di negara yang sangat majemuk?

Sebut saja nama Peter Pan dari negeri bernama Neverland. Meski sipit, ia sering merasa jengah saat disapa “koh”. Lho, bukannya wajar ya kalau panggil laki-laki bermata segaris dengan bentuk panggilan seperti itu? Bagi sebagian orang memang wajar tetapi untuk Peter Pan tidak sama sekali. Ia wanti-wanti agar kami tidak memanggilnya demikian.

Tentu saja kami menertawakannya. Ini sama saja seperti saya yang bermata lebar dan berkulit cokelat tua dan berperawakan Asia Tenggara serta lahir di Jawa lalu menolak dipanggil “mas”.

Absurd.

Tapi karena ini pilihan pribadinya, kami menghormatinya dan tidak pernah memanggilnya “koh”.

Jatidiri budaya yang tecermin dari bentuk panggilan ini memang sulit dipisahkan dari pergaulan sehari-hari.

Dan dari apa yang saya baca, sikap yang diambil oleh teman saya Peter Pan ini ternyata patut diapresiasi karena terbukti secara ilmiah turut mempengaruhi kesehatan mental seseorang saat masa remaja. Dan pada kasus Peter Pan ini, saya pikir sikapnya itu terus berlanjut bahkan hingga dewasa.

Jika kita bisa menganggap bentuk panggilan “koh” ini sebagai salah satu bentuk identitas budaya seseorang sebagaimana pakaian, maka bisa dikatakan Peter Pan teman saya ini memiliki kesehatan mental yang relatif bagus. Itu karena menurut studi ilmiah dari Queen Mary, University of London, status kesehatan mental seseorang dan jatidiri budaya mereka berkaitan erat. Hubungan ini terlihat dalam objek studi pemuda-pemuda Bangladesh yang mengenakan pakaian formal ala Barat dan para pemuda kulit putih Inggris yang mengenakan busana non-Barat menunjukkan status kesehatan mental yang terbaik. Dengan kata lain, risiko untuk mengalami masalah kesehatan mental pada individu-individu yang mau merangkul unsur-unsur kebudayaan asing dalam kehidupan sehari-hari mereka ternyata lebih stabil.  (*/)

 

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in miscellaneous and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.