Pilah Pilih ‘Kambing Putih’‎

MUSIM politik begini, yang lebih segar pastinya membicarakan soal beragam sisi kehidupan di luar politik itu sendiri. Memang kita “zoon politicon” tapi apa perlu semua disangkut pautkan dengan politik? Di foto, canda seseorang, menunjukkan satu atau dua jari bisa dianggap sebagai simpatisan capres tertentu.

Pusing!

Jadi bersyukurlah para penduduk kota mungil bernama Fair Haven. Mereka ini memilih pemimpin kotanya secara demokratis, tanpa kampanye yang menghabiskan duit miliaran, tanpa sebar tempel selebaran dan materi promosi di mana-mana, tanpa bikin jengah orang yang menonton televisi karena dibombardir dengan iklan politik.

Walikota yang terpilih bernama Lincoln. Bukan Abraham Lincol yang berjenggot kambing itu. Tetapi Lincoln ini memang benar-benar seekor kambing.
Lincoln tidak bisa diremehkan. Ia bukan sembarang kambing. Sebagai pendatang anyar di kancah politik, silsilahnya yang terdokumentasi dengan baik membuatnya bisa mengungguli kandidat lama sekalipun.

Lincoln menang setelah menggugurkan lebih dari 15 calon walikota lain yang berasal dari berbagai jenis spesies di luar Homo Sapiens. Sammie, seekor anjing, menjadi saingan beratnya.

Apakah ia akan menjalankan roda pemerintahan? Tentu tidak. Lincoln yang baru berusia 3 tahun ini menang dalam jajak pendapat yang ditujukan untuk mengumpulkan dana pembangunan taman bermain anak -anak. Jumlahnya mencapai lebih dari 100 dolar saja.

Dikatakan ini upaya untuk menarik anak-anak belajar soal demokrasi dan pemerintahan yang kerap sulit dipahami karena rumit dan berliku-liku.

Lincoln tidak akan menjadi walikota sebenarnya. Tugas itu dijalankan Joseph Gunter, yang diberi mandat sebagai Manajer Kota.

Tugas Lincoln cuma mewakili walikota dalam event parade di kota itu selama setahun. Di Fair Haven, ada banyak parade yang digelar saban Jumat sepanjang musim panas, dari Parade Memorial Day, Apple Fest sampai acara-acara lain yang terbuka bagi masyarakat.

‎Andai saja pilpres juga sama mudahnya seperti memilih walikota fauna semacam ini. Hewan lebih mudah dipilih karena mereka lebih apa adanya, tidak ada ‘topeng’, tanpa rekayasa dan rencana tim sukses, dan tidak ada segerombol manusia berbibir tipis dan berjempol ringan dalam melayangkan komentar sepedas merica dan tamparan sandal tipis. (*/)

Sent from my BlackBerry 10 smartphone.

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in writing. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.