Bocah Ngapak: Perlawanan Jakartasentrisme dalam Dunia Hiburan Indonesia

Adalah Rendra, seorang youtuber yang mengangkat dialek Ngapak Jawa dalam serial komedi situasi di kanalnya. Tokoh utamanya tiga anak-anak usia SD yang bernama Ilham, Azkal dan Fadly.

Isi tayangan ini ringan saja: kisah-kisah lucu nan menghibur yang dihadirkan di antara keseharian. Latar yang dipakai juga simpel, perkampungan di sebuah tempat di pulau Jawa.

Tayangan tersebut awalnya cuma beredar di YouTube tetapi belakangan stasiun televisi swasta Trans TV mengadopsinya menjadi salah satu mata acaranya.

Bagi saya sendiri, tayangan ini mengejutkan karena keluar dari pakem kesuksesan sebuah tayangan hiburan di pertelevisian nasional kita yang menjemukan ini.

Pakem itu adalah APBN.

“Asal Putih Bisa Ngomong”…

Tengok saja deretan tayangan di televisi kita.

Paling utamanya ialah sinetron.

Proragonis-protagonisnya tidak bisa tidak adalah orang-orang yang dipilih sedemikian rupa karena kemulusan kulit, kemiripan fisik dengan standar keelokan aka Kaukasia atau Korea. Tinggi, kurus, kadar melanin sesedikit mungkin.

Lalu ditambah dengan lansekap politik yang penuh drama dari hari ke hari. Ada saja polah tingkah politikus kita. Semuanya mau menarik perhatian rakyat. Meski itu artinya menggadaikan harkat dan martabat.

Sementara itu, tayangan berjenis reality show abal-abal tidak kalah memuakkannya. Entah itu rekayasa atau benar, tetap saja mempertontonkan hal-hal privat di televisi nasional itu jauh dari ideal. Saya mempertanyakan pentingnya kita mengetahui makan siang keluarga selebriti muda, alasan kenapa anaknya ngambek, atau asisten pribadi yang dijadikan korban keisengan.

Gosip selebriti juga makin memperparah kondisi. Semuanya tentang kehidupan mewah yang tidak terjangkau. Pesta pernikahan yang serba berlebihan, belanja harian yang di luar batas kelaziman bagi standar masyarakat kebanyakan, mobil sports, tas mahal, dan lain sebagainya.

Dan semua ini bersumber dari Jakarta.

Jakartasentrisme benar-benar merasuki tiap tontonan kita.

Jadi, bisa dipahami betapa melegakannya bisa menemukan tayangan “Bocah Ngapak”.

Pertama, karena tidak ada wajah-wajah mulus artifisial karena hasil facial dan penggunaan krim dermatologis di sini. Semua pemerannya bukan pelakon ibukota yang berakting jadi orang desa. Saya paling jengkel kalau menonton FTV dengan karakter utama orang yang ndeso tapi muka kota. Wagu tur lucu! (Aneh dan lucu). Apakah tidak ada talent dari daerah yang bisa memerankannya? Saya jadi bertanya, jadi aktor ini dipilih cuma karena penampilan fisiknya, bukan karena kemampuan aktingnya yang meyakinkan. Terang sudah para produser dan pelaku industri tak mau ambil risiko. Asal terkenal, ya sudahlah.

Kedua, karena tidak ada aktor-aktor yang berlatar belakang istimewa. Mereka tidak dipilih karena beruntung terlahir dari pasangan aktor dan aktris terkenal. Mereka ada di dalamnya karena memang pas dan cocok secara alamiah.

Yang perlu diantisipasi dari tayangan ini ialah kesan peyoratif yang melekat pada bahasa Ngapak, yang semestinya bisa dipandang setara dengan bahasa gaul semacam dialek Betawi Jakarta yang sudah malang melintang di tayangan-tayangan hiburan kita. Entah kenapa penggunaan dialek Ngapak dianggap lucu semata karena para penuturnya kebanyakan adalah orang rural, bukan urban (baca: Jakarta). Mereka juga dipandang marjinal dan suplemental, bukan sentral.

Ada yang berharap Ilham, Fadly dan Azkal menjadi pengganti Dono, Kasino dan Indro. Namun, menurut saya itu mustahil. Mereka berbeda, dan tidak bisa disamakan begitu saja. Bukannya trio Bocah Ngapak ini tidak setara tetapi biarlah mereka memiliki ciri khasnya sendiri. Bukan sekadar mengekor Warkop DKI nan legendaris tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.