Sufjan Stevens and Fireflies

“Fourth of July” by Sufjan Stevens

The evil it spread like a fever ahead
It was night when you died, my firefly
What could I have said to raise you from the dead?
Oh could I be the sky on the Fourth of July?

Well you do enough talk
My little hawk, why do you cry?
Tell me what did you learn from the Tillamook burn?
Or the Fourth of July?
We’re all gonna die

Sitting at the bed with the halo at your head
Was it all a disguise, like Junior High
Where everything was fiction, future, and prediction
Now, where am I? My fading supply

Did you get enough love, my little dove
Why do you cry?
And I’m sorry I left, but it was for the best
Though it never felt right
My little Versailles

The hospital asked should the body be cast
Before I say goodbye, my star in the sky
Such a funny thought to wrap you up in cloth
Do you find it all right, my dragonfly?

Shall we look at the moon, my little loon
Why do you cry?
Make the most of your life, while it is rife
While it is light

Well you do enough talk
My little hawk, why do you cry?
Tell me what did you learn from the Tillamook burn?
Or the Fourth of July?
We’re all gonna die

“Fourth of July”, which is sung by Sufjan, refers the U.S. independence day. But ironically the background is not something related to United States of America but instead the destruction it had made on Japanese cities.

The clip is basically a footage from Japanese anime “The Grave of Fireflies”. And it tells us how horrible war can really become. It kills humans just like bugs, fireflies. Fireflies can live up to two months long. And their flickering light is said to be the warning for predators that they are not edible, or to attract prey. Either way, fireflies’ light at night is a treat to our eyes.

Pilpres yang Bikin Satu Negara Stres

person dropping paper on box
Apa hubungannya pemilu dan level kortisol? (Foto oleh Pexels.com)

Meskipun animo dan partisipasi masyarakat Indonesia di Pemilu tahun ini begitu tinggi (sampai 80%), harga yang harus ditebus juga tidak ‘murah’.

Tadi malam saat makan di sebuah tempat makan langganan, saya ‘terpaksa’ menonton berita. Dikatakan sebanyak 107 petugas pemilu pekan kemarin meninggal dunia.

Sebabnya bervariasi. Ada yang meninggal karena kecelakaan, ada yang karena kelelahan, ada yang stres sampai bunuh diri. Ya, mau bagaimana lagi tekanan di mana-mana. Masing-masing kubu ada yang bersikap begitu fanatik dan kalau kalah, mereka kurang bisa menerima secara ksatria. Sikap seperti ini memang mencederai demokrasi.

Namun, apakah memang pemilu harus memberikan tekanan yang seberat ini pada sebuah masyarakat?

Sains membuktikan bahwa memang benar pemilu membuat warga mengalami tekanan. Dan tekanan itu tidak cuma berakhir setelah keluar dari bilik suara.

Tim peneliti dari Ben-Gurion University of the Negev (BGU) menemukan bahwa pemungutan suara ialah peristiwa yang memberikan tekanan pada warga yang terlibat di dalamnya. Termasuk di dalamnya ialah perubahan hormonal dalam diri para manusia yang memberikan suara. Reaksi-reaksi emosional yang disertai dengan tekanan fisik dan psikologis dapat memengaruhi pembuatan keputusan.

Pada diri subjek penelitian yang terlibat dalam pemilihan umum, tingkat hormon kortisol yang diasosiasikan dengan tingkat stres menunjukkan peningkatan. Tidak tanggung-tanggung, sebelum pemungutan suara kenaikan kadar kortisol ini bisa sampai hampir 3 kali lipat!

Yang menarik buat saya ialah bahkan setelah 21 bulan setelah pemilu dilakukan dan sudah ada hasilnya, tingkat kortisol itu masih bertahan hampir dua kali lipat dari semula.

Begitu dahsyatnya pengaruh pemilu pada kehidupan kita.

Dan terus terang, dalam sejarah kita di Indonesia belum ada pemilu yang segegap gempita sekarang ini.

Mengapa pemilu sekarang bisa memberikan kesan yang begitu menyesakkan dada?

Kalau boleh saya berhipotesis, media sosial menjadi katalisnya. Saya anggap katalis karena ia hanya alat. Biang keladi utamanya tetaplah kita manusia, yang belum dewasa dalam bertindak-tanduk, berkata, dan bersikap.

Tidak berlebihan kalau ada rumah sakit jiwa yang menyatakan mereka siap menampung para caleg dan politisi yang gagal merengkuh ambisi mereka di kancah perpolitikan.

Bagaimana dengan Anda? Apakah menurut Anda pemilu kali ini seru, antusias, menggembirakan, atau malah memuakkan, membuat jengah? (*/)

Pemilu 2019, Pemilihan Paling Sukses atau Paling Destruktif?

Dulu sebagai cucu TNI dan anak PNS, saya sudah paham sedikit apa itu Golkar. Saat pemilu digelar tahun 1992, saya yang masih duduk di SD kelas 3 sudah lumayan paham soal pemilu. Ada mobilisasi massa, ada bendera-bendera parpol berkibar. Hijau, kuning dan merah. Begitu usai semua huru-hara kampanye, orang-orang dewasa akan berduyun-duyun ke TPS. Untuk mencoblos, kata mereka. Lalu kondisi kembali tenang. Sederhana.

Saya sendiri sering iseng bermain bendera golkar. Bukan karena dipaksa. Ya karena di rumah adanya bendera itu. Tatkala pemilu menjelang, saya kibarkan bendera itu di tiang kayu dan menegakkannya di pagar rumah dengan bangga.

Sebatas itu keterlibatan saya dalam politik praktis di masa kanak-kanak.

Setidaknya seingat saya.

Saya tidak paham siapa Ismail Hassan Metareum atau Soeryadi Sudirja atau Megawati. Dan meski saya sudah paham siapa presiden saya, saya kala itu tidak diajarkan untuk membenci para sosok pemimpin oposisi ini baik oleh sekolah dan guru dan media dan orang-orang dewasa di sekeliling saya.

Tetapi sekarang ini, saya sungguh tidak bisa memaklumi mengapa bahkan anak-anak saja harus sampai diajari untuk berpihak dalam proses demokrasi yang sangat sarat dengan kepentingan politik praktis. Tahu sendiri kita betapa menjijikkannya politik praktis.

Dan yang tidak bisa saya nalar dan cerna ialah betapa meluasnya dan mendalamnya kebencian yang telah secara sengaja dan tak sengaja tertanam pada benak anak-anak soal kontestasi politik ini.

Bagaimana bisa saya memaklumi kenyataan bahwa anak-anak sekolah dasar saja sudah berani mengatakan membenci tokoh ini dan itu hanya karena itu mereka lawan politik kandidat yang didukung orang-orang dewasa di sekitarnya?

Bukankah ini sudah terlampau jauh?

Bukankah ini tidak seharusnya meresahkan?

Bukankah ini sungguh sebuah kegilaan?

Siapapun kalian yang merancang semua taktik licik memenangkan suara rakyat demi tampuk kekuasaan, semoga Tuhan mengampuni kalian karena telah menanamkan kebencian di benak anak-anak yang seharusnya di usia mereka lebih menikmati proses belajar nilai-nilai luhur kehidupan.

Jadi, kalau dikatakan apakah bangsa ini perlu bangga dengan pelaksanaan pemilu kali ini?

Jawaban saya, TIDAK.

Ini adalah pemilu paling destruktif yang pernah ada dalam sejarah Indonesia. Yang tidak cuma menggerus persatuan bangsa tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan dan kebajikan.

Dan saya yakin kegilaan politik ini tak akan rampung begitu saja usai KPU mengumumkan pemenang. Akan ada episode lanjutan lagi pastinya yang akan terus menguras energi bangsa.

Kalau Anda mau merenungi makna di balik ilustrasi di atas, mungkin Anda akan sedikit memahami menyedihkannya anak-anak yang terperangkap dalam keruwetan politik praktis. Mereka tak merasakannya saat kecil tapi begitu tumbuh dewasa, barulah mereka memahaminya.

Biarkanlah anak-anak itu menjalani keruwetannya sendiri dalam proses pembelajaran memahami dunia tapi jangan sampai diseret dalam kompleksitas intrik orang dewasa. (*/)

Cara Menghentikan Layanan Tak Diminta Penggerus Saldo Indosat Oreedo

Beginilah nasib pelanggan kelas teri. Kalau beli paket yang murah (baca: di bawah Rp100.000), ada saja trik dari operator untuk menggondol sisa dana dalam saldo yang ada.

Saya mulanya isi Rp100.000. Lalu membeli paket internet yang konon tak terbatas itu seharga Rp75.000.

Sisanya Rp25.000. Logikanya begitu.

Tapi saya paham betul. Pasti ada saja celah Indosat Oreedo menyedot sisa dana saya ini. Bukan prasangka buruk tapi fakta.

Terbukti sehari setelahnya, dana sisa saya itu perlahan menyusut. Sampai 13.000an.

Dan barulah ada pesan pendek untuk mengakhiri layanan yang saya tidak tahu saya pernah setujui untuk berlangganan.

Kini saya paham. Sebulan sebelumnya Indosat Oreedo memang menawarkan paket menggiurkan Rp100.000 yang sudah memberikan kuota tanpa batas untuk akses media sosial dan YouTube dan saya merasa sangat senang tentunya.

Apa daya itu cuma ‘pancingan’.

Perangkap.

Umpan.

Apapun itu namanya.

Di paket 100.000 itu saya juga sekaligus dibuat sedemikian rupa menjadi berlangganan WAPIN, chat atau apalah yang saya tidak pernah baca ketentuannya dan tak pernah saya sepakati.

Pokoknya tiba tiba saya merasa dibuat berlangganan.

Tidak ada keterangan apapun di aplikasi My IM3 soal ini. Setidaknya tulisan mikroskopis “syarat dan ketentuan berlaku” pun tidak ada. Seolah pelanggan tak perlu tahu.

Tahunya tiba tiba pulsa tersedot.

Sayuran dan Buah Segar sebagai Pengganti Deodoran

Teman-teman saya menjerit heran tatkala saya menyatakan tidak pernah memakai deodoran.

“Hiiy, nggak takut bau badan ya?”

“Ya ampun, kok bisa-bisanya nggak pake? Kalo ada yang pingsan gimana?”

Saya tidak tersinggung karena saya paham mereka sudah tercuci otak dengan pesan subliminal bahwa bau badan HANYA bisa ditangkal dengan benda bernama deodoran.

Deodoran itu baru kita kenal kapan sih? Ya bisa jadi di abad lalu lah ya. Nah, bagaimana dengan manusia sebelum ada deodoran? Bagaimana mereka mengatasi bau badan?

Atau mungkin masalah bau badan cuma dialami manusia di abad ini? Tidak juga kan?

Lagi-lagi ini sebenarnya soal makanan yang dimasukkan ke tubuh.

Bagaimana bisa?

Begini lho penjelasannya: ternyata saat seseorang mengonsumsi banyak sayur mayur dan buah segar, tak cuma kesehatannya yang membaik tetapi juga bau keringatnya.

Mereka yang mengadopsi pola makan yang didominasi bahan pangan nabati berupa sayur mayur dan buah segar (bukan olahan pabrik, misalnya permen rasa stroberi atau minuman rasa sirup apel, sama saja bohong!!) diketahui memiliki bau badan yang lebih bersahabat dan secara alamiah bahkan menarik lawan jenisnya. Bukan saya yang sembrono mengatakan ini lho. Di bawah ada tautan rujukan yang bisa dibaca jika tak percaya kata-kata saya.

Penelitian menarik ini melibatkan sejumlah pria muda yang sehat. Mereka dites tingkat konsumsi sayuran dan buah dengan alat bernama spektrofotometer. Kulit para pria yang makan sayur dan buah lebih banyak memancarkan semburat karetinoid yang biasa dijumpai pada sayur dan buah yang berwarna merah, kuning dan oranye.

Dari uji keringat dan pendapat wanita yang menghidu sampel, disimpulkan keringat pria-pria berpola makan sehat ini lebih ‘sedap’ daripada yang banyak makan daging dan karbohidrat.

Daging membuat bau keringat makin intens dan ‘keras’. Sementara itu, karbohidrat membuat keringat menjadi kurang ‘sedap’.

Tak percaya, mari kita buktikan dengan lebih banyak makan sayur dan buah segar!

Rujukan:

https://www.npr.org/sections/thesalt/2017/08/14/540059875/men-listen-up-women-like-the-smell-of-guys-who-eat-a-certain-diet

Relasi Kuasa di Angkutan Umum

Apa sih itu “relasi kuasa“? Sederhananya, relasi kuasa itu interaksi antara kelompok-kelompok yang berbeda di masyarakat. Relasi kuasa ialah kemampuan sebuah kelompok atau seseorang untuk mengendalikan orang lain dan mereka ini selalu ada di setiap tingkatan dalam masyarakat manapun.

Di Indonesia, relasi kuasa dalam hal gender sudah jelas menerapkan sistem patriarkis totok. Kaum pria “berkuasa”, atau mungkin tepatnya sengaja secara sistematis diberi peluang untuk berkuasa. Dan dengan demikian kaum selain pria dianggap marjinal atau setidaknya memiliki posisi lebih rendah dalam tatanan masyarakat. Meskipun kita pernah mengangkat perempuan sebagai presiden, bukan berarti secara otomatis Indonesia sebagai bangsa lebih baik dalam hal demokrasi yang lebih ramah perempuan dan hak-hak mereka dibandingkan negara-negara demokrasi lain di dunia.

Namun, tatanan patriarkis ini bisa dijungkirbalikkan di dalam gerbong kereta komuter dan bus Trans Jakarta yang melayani pelaju (commuters) dari dan ke beragam wilayah di ibukota dan sekitarnya.

Sebagian dari penumpang perempuan memiliki sikap dan pemikiran yang menggunakan feminisme sebagai kedok untuk mendapatkan tempat duduk.

Sebagaimana kita ketahui, di moda transportasi umum ini ada beberapa jenis penumpang yang dianggap pantas menjadi prioritas, yakni penumpang berusia senja, penumpang perempuan yang hamil, penumpang dengan anak-anak kecil, dan penumpang dengan keterbatasan fisik.

Sejumlah perempuan yang jelas-jelas masih muda dan segar dan bisa berdiri tanpa kelelahan sepanjang perjalanan menganggap ini sebagai ‘kesempatan’. Dan untuk memperbesar peluang itu, mereka secara sengaja menuju ke gerbong campuran dan tidak mau di gerbong bercat pink yang diperuntukkan khusus perempuan. Alasannya, karena persaingan di sana untuk mendapatkan tempat duduk juga lebih sengit! Di gerbong campuran, mereka mungkin berisiko menjadi korban pelecehan pria tetapi di sisi lain mereka sadar bahwa perilaku pelecehan akan hancur lebur begitu mereka berteriak sedikit saja. Petugas akan mencari biang keladi dan seluruh penumpang gerbong akan bersimpati. Pelaku atau yang diduga pelaku akan segera remuk redam dihajar massa. Atau setidaknya dipermalukan dengan menjadi konten berita di media massa daring atau media sosial yang haus sensasi dan klik.

Di gerbong campuran, sebagian penumpang perempuan bisa menggunakan secara manipulatif sisi ”kelemahan’ mereka dalam sudut pandang patriarkis sebagai senjata dalam mendesak para pria untuk menyerahkan tempat duduk mereka.

Dengan menulis ini, saya paham bahwa sebagian dari Anda tidak sepaham. Harus saya akui, tidak semua penumpang perempuan di moda transportasi umum juga bersikap dan berperilaku demikian. Ada yang sengaja masuk ke dalam gerbong perempuan agar bisa lebih aman, dan ada juga yang masuk di gerbong campuran karena tidak ada pilihan. Naik saja tanpa bisa memilih karena yang terpikir hanya bagaimana bisa secepatnya sampai di rumah untuk beristirahat. (*/)

man holding black laptop bag
Terus berdiri sampai varises tetapi harus tetap akting gembira, kuat, santai dan cool. Like nothing happened.(Foto oleh Pexels.com)

Pil-pil Pahit Lima Tahunan Itu Bernama Pilpres dan Pileg

Apa yang digadang-gadang sebagai pesta demokrasi ini sedang mendekati hari H-nya. Sudah kurang dari sepekan, bung!

Kita akan bisa berlega melihat lansekap urban Jakarta dan kota-kota dan desa-desa yang akan kembali seperti sediakala. Setidaknya tiada lagi materi promosi parpol, paslon, caleg yang mencederai mata ini. Tapi tidak bisa dipungkiri, semua ini juga ada manfaat ekonominya. Tanya saja pengusaha sablon dan percetakan dan periklanan.

Saya sendiri sudah hilang nafsu di pemilihan kali ini. Ibarat menu, saya dipaksa memilih satu dari dua padahal SAYA MAU MENU BARU. Yang tidak ada sebelumnya.

Di sinilah saya terjebak pada analogi atau pengumpamaan yang tidak pas dan salah sebagaimana yang dilakukan para politisi itu. Bagaimana bisa menyamakan pemilihan akbar ini dengan memilih menu restoran? Pilih menu restoran boleh saja itu-itu melulu tetapi memilih presiden yang itu lagi juga rasanya tidak ‘sreg’. Sebegitu kurangnya kah negeri ini dengan manusia berpotensi?

Memilih yang belum pernah menjabat? Duh, tapi dia bagian rezim yang dzalim dan tidak pantas dirindukan dengan alasan apapun. Tidak progresif dan mengandalkan kampanye destruktif. Tidak simpatik.

Dua menu ini sudah ada di periode sebelumnya dan pertarungannya sengit melebihi Barathayudha. Heran saya dengan kegegapgempitaan tersebut. Apa sih yang didapatkan dari kengototan mendukung paslon? Pahala? Itu hak Tuhan saja. Jangan bicara soal pahala atau dosa jika kamu masih menapak di tanah.

Mengamati proses demokrasi di negeri yang konon rajanya HAM dan penerapan demokrasi saja saya mau mencibir,”Apa manfaat semua jungkir balik demokrasi itu jika hasilnya adalah presiden sekaliber Trump?!”

Suara rakyat kadang bukan suara Tuhan.

Suara mayoritas kadang justru suara Setan.

Tentu opini ini bisa disangkal dengan menyodorkan negara demokrasi dengan pemimpin berkualitas jempolan seperti di negeri kiwi.

Tetapi itu kan di sana saja. Sementara itu tren politik identitas makin mengglobal, menggerus demokrasi.

Kepercayaan pada parpol sudah di titik nol. Korupsi, kolusi, nepotisme tidak lenyap dari parpol-parpol itu. Cuma menyublim ke wujud yang lebih subtil, halus, tak kasat mata. Ngeri kan?

Padahal di Indonesia, parpol merajai segalanya. Gila.

Yang lucu, ada yang menginginkan khilafah tapi masih berpartisipasi aktif dalam permainan demokrasi yang dicatut dari peradaban Yunani (baca: dedengkotnya peradaban Barat).

Lalu semua silang sengkarut ini harus bagaimana?

Apakah yang bisa diperbuat agar bisa lepas dari lingkaran setan demokrasi yang melibatkan proses memilih, memuja dan kecewa berulang kali?

Mungkin tidak ada.

Karena suara saya terlalu unik.

Karena suara saya tak bisa diwakilkan.

Karena suara saya terlalu berharga untuk digadai.

Saya memilih memihak pada calon independen tapi entah kenapa proses demokrasi di sini tak memungkinkannya. Terlalu menyederhanakan selera. Padahal sebenarnya bisa lebih dari dua.

Saya mau alternatif.

Saya mau yang tengah-tengah.

Buka cuma dua yang memecah- belahnya.

Ketampanan Memang Hanya Sedalam Kulit Tapi Segala-galanya

man in black jacket
Handsomeness is only skin deep but the impact on one’s life is way more than you can imagine. (Foto oleh Pexels.com)

Manusia memang munafik. Tidak pria, tidak wanita. Semuanya.

Kalau ada yang berkata “Beauty is only skin deep...”, saya akan meludahi mukanya karena sungguh di masyarakat yang semakin ter-Instagram seperti sekarang, rupa sangat menentukan. Bahkan di atas apapun juga.

Meskipun adagium klasik itu membahas soal kecantikan, ternyata kemolekan rupa dan segala konsekuensinya dalam hidup tidak hanya terjadi pada kaum Hawa. Para pria juga menjadi sasarannya.

Pernah seorang teman perempuan bertanya secara terbuka dengan nada bercanda: apakah harus memilih seorang pria tua yang kaya raya atau pria muda tampan untuk menjadi suaminya?

Saya mengatakan – dengan nada bercanda juga – bahwa ia bisa mendapatkan dua-duanya. Caranya adalah dengan menggunakan strategi sebagai berikut: pilihlah pria tua kaya raya yang memiliki tingkat kesadaran rendah terhadap pentingnya menjaga kesehatan. Ia harus gemuk, ia harus malas sekali berolahraga, ia harus tidak mau makan sehat sesedikit apapun, ia harus jijik melihat dokter dan rumah sakit. Intinya, ia harus cepat mati. Plus, sebagai istrinya, teman saya bisa menyajikan hidangan-hidangan lezat, berkalori tinggi dan bernutrisi tidak seimbang agar suami rentanya lekas ‘wassalam’. Dengan demikian, ia akan bisa cepat mendapatkan warisan tersebut dan kemudian menikahi si pemuda tampan idamannya. Masalah terpecahkan, bukan? Idealnya demikian.

Dan meskipun sebagian wanita berkoar-koar:”Jangan nilai kami dengan rupa kami,” atau “Kami lebih dari sekadar tubuh indah yang berlekuk,” atau “Perempuan tidak sedangkal pria dalam menilai kualitas pribadi”, apa daya sains membuktikan bahwa kalau soal ‘mata keranjang’, pria dan perempuan itu SAMA SAJA.

Mau bukti?

Tim peneliti yang dipimpin Madeleine Fugère dari the Eastern Connecticut State University di AS menemukan bahwa saat para ibu dan anak perempuan mereka diharuskan memilih pasangan masa depan, mereka sangat mengutamakan tampang alias tampilan fisik.

Para ibu akan cenderung memilih pria-pria yang relatif tampan untuk para anak perempuannya. Para anak perempuan – jika dibandingkan ibu mereka – malah memperlihatkan standar yang lebih tinggi soal rupa fisik. Mereka tidak mau membidik pria-pria yang cukup tampan tetapi hanya mendambakan pria-pria dengan kriteria fisik yang di atas rata-rata. Harus tinggi, harus putih, harus mancung, harus six pack, harus seperti model …bla bla bla, begitu biasanya (ini bukan keterangan ilmuwan itu tapi dari sekeliling saya).

Karakter intrinsik dalam pribadi pria-pria itu tidak diindahkan. Gadis-gadis ini LEBIH TIDAK PEDULI apakah si pria punya rasa hormat pada sesama, apakah si pria ramah pada orang di sekitarnya atau dingin, apakah si pria memiliki kecerdasan yang membuatnya tidak memalukan saat diajak berdiskusi ilmiah atau bergaul di lingkaran terdidik. Pokoknya maunya ganteng saja. Titik.

Tidak peduli seorang pria memiliki kecerdasan seperti profesor atau memiliki sopan santun tinggi pada lingkungan sekitar atau menunjukkan keramahan yang berlimpah ruah pada sesama, kalau dia memiliki rupa yang tidak menarik dan jelek, kasarnya, maka tidak ada peluang sedikit pun untuk dipertimbangkan menjadi calon pasangan.

Peribahasa “jangan nilai buku dari sampulnya” rasanya mencerminkan betapa hipokritnya masyarakat kita dari dahulu. Daya tarik fisik tetaplah yang utama, mau disangkal segigih apapun.

Jadi, saat sebagian perempuan merasa jijik dengan sejumlah pria yang terobsesi dengan perawatan kulit ala aktor-aktor Korsel dan Hollywood, maka bercerminlah:”Apakah saya dan teman-teman saya mendorong para lelaki ini untuk gila-gilaan merawat tubuh dan wajah mereka?”

Jangan-jangan jawabannya iya. (*/)

photo of man wearing white shirt
Looks are everything! Deal with it. (Photo by Gabriel Carvalho on Pexels.com)

Boncu VS Tommaso: Studi Komparasi Nasib Kucing

Biasanya Boncu siap siaga di sekitar pintu Space. Dan sore itu saya tidak menyaksikannya ada di sana.

Aneh?

Tidak juga. Ia kucing yang masih kecil dan sangat eksploratif.

Saya yakin ia masih sibuk menjelajahi lingkungan sekitar sarangnya.

Saya sendiri tidak pernah menyaksikannya bersama orang tuanya. Entah itu induk atau ayahnya. Saudara bahkan tidak. Boncu sebatang kara.

Lalu muncul kabar dari seorang teman bahwa Boncu menurut keterangan seorang petugas keamanan gedung di sekitar Space bahwa Boncu mati ditabrak motor beberapa hari sebelumnya.

“Di mana? Kapan?? Dikubur di mana???” Interogasi teman saya. Antara panik, marah, kesal, geram, bercampur aduk tak karuan.

Pasalnya ia bukan cuma peliharaan biasa yang kami berikan nasi dan ikan asin sisa. Boncu kami sudah berikan perhatian khusus yang melimpah ruah.

Ia kami belikan makanan kucing khusus bermerek yang mahal dan bergizi tinggi, dengan formula istimewa bagi anak kucing sekitar umur tertentu.

Baru-baru ini Boncu juga sakit flu dan karena itu kami sediakan sarang dari kain bekas dan keranjang belanja bekas yang masih bersih. Itu karena kami sudah sediakan kardus bekas untuk ia tidur tapi lagi-lagi diangkut oleh petugas kebersihan. Dikira kardus bekas yang mesti dimasukkan tempat sampah, akhirnya kardus itu kami putuskan direlakan dan diganti dengan sesuatu yang lebih ‘proper’ dan permanen.

Boncu – kalau saya buka pintu – selalu tertendang daun pintu. Dan kalau saya hendak masuk, ia berjaga di pintu, lalu bergerak seolah ingin ikut masuk juga. Dengan lembut saya arahkan dia agar tak sampai menelusup masuk.

Walaupun kucing liar dengan silsilah yang kabur, rupa Boncu relatif menarik dan lucu. Bulunya cokelat muda dan putih. Berpadu dan berbaur apik.

Boncu hanyalah salah satu dari jutaan kucing urban di dunia ketiga yang nasibnya rata-rata tragis. Pilihan nasibnya hanya tiga: hidup terlantar tapi tetap bisa kenyang makan sisa manusia di sekitar pasar atau warung makan; hidup nelangsa 100% di jalanan; atau hidup beruntung di dalam dekapan warga perkotaan borjuis yang kesepian, punya uang lebih dan menjunjung tinggi kasih sayang untuk semua makhluk.

Di dunia pertama, nasib kucing sudah naik level.

Mereka ini memiliki tingkat kesejahteraan tinggi yang bahkan melebihi para manusia di negeri-negeri morat-marit di dunia ketiga.

Perkenalkan Tommaso, seekor kucing yang nasibnya bak langit ketujuh dibandingkan Boncu. Setelah pemeliharanya yang bernama Maria Assunta dari Italia menghembuskan napas terakhir tahun 2011, Tommaso mewarisi 13 juta dollar AS. Hitung saja sendiri jika dirupiahkan. Pokoknya tak akan habis hanya untuk menghidupi beberapa ribu atau ratus ribu manusia dengan lebih manusiawi.

Melihat ini memang pastinya langsung memantik perdebatan: apa pantas memberikan hewan perlakuan seistimewa itu sementara masih banyak manusia yang menderita dan memerlukan bantuan di luar sana?

Kalau saya sih cuma bisa berkata: Ya biarkan saja, toh itu uang Nyonya Assunta sendiri. Kecuali dia merugikan masyarakat, barulah rasanya pantas kita memprotes keputusan mewariskan uang sebanyak itu ke seekor kucing. (*/)

Arsip: Kesayangan Penulis

Saya pernah menonton sebuah video YouTube yang isinya tur dalam kediaman seorang penulis kawakan. Ia mengatakan sudah menulis sejak usia belia, dan masih terus berlanjut hingga kini jadi renta.

Tak saya ragukan lagi pernyataannya bahwa ia sudah menulis berpuluh-puluh tahun karena penulis yang saya lupa namanya itu memamerkan koleksi manuskrip lamanya yang menggunung, baik manuskrip yang diterbitkan dan belum sampai diterbitkan karena berbagai sebab.

Dengan bangga, ia mengajak juru kamera menelusuri satu persatu berkas kertas yang terkumpul dalam map-map yang kaku dan keras.

Hebat! Batin saya.

Dan ia juga menyimpan surat-surat yang ia terima dan segala macam catatan dan draft tulisan yang ia buat. Jadi tidak cuma naskah final yang disimpan.

Yang membuat repot ialah karena semua berkas ini berupa lembaran kertas fisik. Perlu banyak ruang untuk menyimpannya. Dan memang gudang penyimpanannya sangat besar. Memenuhi satu ruangan terpisah di dalam rumahnya. Sangat ‘cluttered‘. Bukan ruangan yang menganut ajaran minimalisme Marie Kondo yang legendaris itu. Entah kenapa orang-orang yang bekerja di bidang kreatif termasuk penulis susah sekali menerapkan gaya hidup minimalis secara penuh. Ya, mungkin karena kami suka sekali menumpuk memori dalam bentuk kertas-kertas, buku-buku, benda-benda remeh yang membangkitkan emosi dan kenangan baik yang positif dan negatif. Ketergantungan kami pada masa lalu memang tinggi.

Dan pagi ini saya rasanya ingin mengarsipkan semua karya saya juga. Secara tak sengaja saya kunjungi beberapa situs web yang saya pernah kerjakan. Banyak sekali artikel yang saya buat dan telah tayang di situ tetapi sekarang semuanya tak tahu ke mana. Si pengelola situs web itu sekarang sudah merombak struktur dan rupanya membuang konten lama.

Remuk saya mengetahuinya….

Harusnya saya simpan berkas-berkas tulisan saya di situs-situs itu, terutama tulisan-tulisan hasil wawancara yang menurut saya paling bagus, menginspirasi dan paling banyak membutuhkan energi dan perjuangan untuk menghasilkannya. Kalau cuma artikel-artikel hasil tulis ulang, saya tak begitu sayang. Ya, karena membuatnya tak butuh perjuangan banyak.

Kini saya mencoba mengumpulkannya di blog ini saja.

Karena membuat arsip fisik terasa sangat memakan ruang, arsip digital tampak lebih masuk akal dan praktis.

Asal WordPress tidak secara semena-mena menutup layanannya (semoga tidak!!!! Makanya lebih rajinlah blogging daripada main media sosial ‘laknat’ penyedot waktu yang hampir tanpa faedah itu), saya bisa terus menikmatinya sampai akhir hayat dan mungkin juga bisa dijadikan materi rujukan bagi generasi setelah saya. (*/)

Kepribadian Berhubungan Erat dengan Pilihan Politik

Mau tahu pilihan politik seseorang? Kita ternyata bisa sedikit banyak membacanya melalui pengamatan pada kepribadian seseorang. Ini bukan sekadar pepesan kosong karena menurut sebuah studi yang dilakukan oleh peneliti dari University of Toronto, terdapat hubungan yang kuat dan erat antara pilihan politik seseorang dengan kepribadiannya.

Para peneliti di universitas tersebut menunjukkan bahwa bila seseorang memiliki kecenderungan psikologis ke aspek kasih sayang dan kesetaraan, ia bisa dikatakan memiliki pola pikir yang liberal. Sementara itu, mereka yang lebih memilih ketaatan pada norma, aturan dan tradisi akan lebih condong ke pola pemikiran konservatif/ kolot.

Kelompok konservatif cenderung untuk lebih tinggi dalam karakter kepribadian yang disebut ketertiban dan kurang mengindahkan keterbukaan. Hal ini berarti bahwa mereka yang konservatif akan lebih memperhatikan aspek keteraturan dan tradisi dan memiliki motif yang kuat untuk mempertahankan struktur sosial yang sudah ada sekarang, demikian pernyataan Jacob Hirsh, seorang mahasiswa psikologi doktoral di University of Toronto sekaligus peneliti utama dalam riset tersebut.

Sementara itu, mereka yang liberal biasanya diasosiasikan dengan aspek-aspek kasih sayang, empati dan kesetaraan dalam kehidupan.

Semua ini mungkin terasa logis. Namun, berkat ilmu psikologi kaitan antara kepribadian dan pilihan politik menjadi bisa dijelaskan secara ilmiah. Kini kita tahu bahwa perilaku dan pandangan politik seseorang sangat dimotivasi oleh kebutuhan-kebutuhan psikologis mereka.

Bagaimana dengan mereka yang memiliki pandangan politik moderat? Bisa jadi mereka mempunyai motif yang sama kuat dalam hal kesetaraan dan ketaatan pada tradisi/ norma.

Dan yang paling menarik ialah bahwa semua ini berkaitan erat juga dengan nilai-nilai yang tertanam dalam diri seseorang secara genetis. Maka preferensi politis biasanya tidak begitu saja terbentuk atau muncul dalam diri seseorang. Preferensi politis ini tidak terbentuk hanya dengan pemikiran rasional yang sederhana mengenai isu-isu yang ada.

Lalu kembali lagi, manakah yang bagus dan buruk? Peneliti mengatakan kedua kekuatan ini – konservatisme dan liberalisme – sama-sama dibutuhkan dalam menjaga keberlangsungan sebuah masyarakat atau bangsa. Tidak ada salah satunya yang bisa berdiri sendiri atau eksis tanpa yang lain. Keduanya mirip unsur Yin dan Yang dalam alam semesta menurut pemahaman masyarakat China.

Tugas setiap elemen masyarakat ialah menjaga keseimbangan kedua kekuatan ini di lingkup kehidupan mereka sehingga tarik ulur yang terjadi tidak akan membawa masyarakat ke kehancuran. (*/)

%d bloggers like this: