Arsip: Kesayangan Penulis

Saya pernah menonton sebuah video YouTube yang isinya tur dalam kediaman seorang penulis kawakan. Ia mengatakan sudah menulis sejak usia belia, dan masih terus berlanjut hingga kini jadi renta.

Tak saya ragukan lagi pernyataannya bahwa ia sudah menulis berpuluh-puluh tahun karena penulis yang saya lupa namanya itu memamerkan koleksi manuskrip lamanya yang menggunung, baik manuskrip yang diterbitkan dan belum sampai diterbitkan karena berbagai sebab.

Dengan bangga, ia mengajak juru kamera menelusuri satu persatu berkas kertas yang terkumpul dalam map-map yang kaku dan keras.

Hebat! Batin saya.

Dan ia juga menyimpan surat-surat yang ia terima dan segala macam catatan dan draft tulisan yang ia buat. Jadi tidak cuma naskah final yang disimpan.

Yang membuat repot ialah karena semua berkas ini berupa lembaran kertas fisik. Perlu banyak ruang untuk menyimpannya. Dan memang gudang penyimpanannya sangat besar. Memenuhi satu ruangan terpisah di dalam rumahnya. Sangat ‘cluttered‘. Bukan ruangan yang menganut ajaran minimalisme Marie Kondo yang legendaris itu. Entah kenapa orang-orang yang bekerja di bidang kreatif termasuk penulis susah sekali menerapkan gaya hidup minimalis secara penuh. Ya, mungkin karena kami suka sekali menumpuk memori dalam bentuk kertas-kertas, buku-buku, benda-benda remeh yang membangkitkan emosi dan kenangan baik yang positif dan negatif. Ketergantungan kami pada masa lalu memang tinggi.

Dan pagi ini saya rasanya ingin mengarsipkan semua karya saya juga. Secara tak sengaja saya kunjungi beberapa situs web yang saya pernah kerjakan. Banyak sekali artikel yang saya buat dan telah tayang di situ tetapi sekarang semuanya tak tahu ke mana. Si pengelola situs web itu sekarang sudah merombak struktur dan rupanya membuang konten lama.

Remuk saya mengetahuinya….

Harusnya saya simpan berkas-berkas tulisan saya di situs-situs itu, terutama tulisan-tulisan hasil wawancara yang menurut saya paling bagus, menginspirasi dan paling banyak membutuhkan energi dan perjuangan untuk menghasilkannya. Kalau cuma artikel-artikel hasil tulis ulang, saya tak begitu sayang. Ya, karena membuatnya tak butuh perjuangan banyak.

Kini saya mencoba mengumpulkannya di blog ini saja.

Karena membuat arsip fisik terasa sangat memakan ruang, arsip digital tampak lebih masuk akal dan praktis.

Asal WordPress tidak secara semena-mena menutup layanannya (semoga tidak!!!! Makanya lebih rajinlah blogging daripada main media sosial ‘laknat’ penyedot waktu yang hampir tanpa faedah itu), saya bisa terus menikmatinya sampai akhir hayat dan mungkin juga bisa dijadikan materi rujukan bagi generasi setelah saya. (*/)

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in writing. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.