Boncu VS Tommaso: Studi Komparasi Nasib Kucing

Biasanya Boncu siap siaga di sekitar pintu Space. Dan sore itu saya tidak menyaksikannya ada di sana.

Aneh?

Tidak juga. Ia kucing yang masih kecil dan sangat eksploratif.

Saya yakin ia masih sibuk menjelajahi lingkungan sekitar sarangnya.

Saya sendiri tidak pernah menyaksikannya bersama orang tuanya. Entah itu induk atau ayahnya. Saudara bahkan tidak. Boncu sebatang kara.

Lalu muncul kabar dari seorang teman bahwa Boncu menurut keterangan seorang petugas keamanan gedung di sekitar Space bahwa Boncu mati ditabrak motor beberapa hari sebelumnya.

“Di mana? Kapan?? Dikubur di mana???” Interogasi teman saya. Antara panik, marah, kesal, geram, bercampur aduk tak karuan.

Pasalnya ia bukan cuma peliharaan biasa yang kami berikan nasi dan ikan asin sisa. Boncu kami sudah berikan perhatian khusus yang melimpah ruah.

Ia kami belikan makanan kucing khusus bermerek yang mahal dan bergizi tinggi, dengan formula istimewa bagi anak kucing sekitar umur tertentu.

Baru-baru ini Boncu juga sakit flu dan karena itu kami sediakan sarang dari kain bekas dan keranjang belanja bekas yang masih bersih. Itu karena kami sudah sediakan kardus bekas untuk ia tidur tapi lagi-lagi diangkut oleh petugas kebersihan. Dikira kardus bekas yang mesti dimasukkan tempat sampah, akhirnya kardus itu kami putuskan direlakan dan diganti dengan sesuatu yang lebih ‘proper’ dan permanen.

Boncu – kalau saya buka pintu – selalu tertendang daun pintu. Dan kalau saya hendak masuk, ia berjaga di pintu, lalu bergerak seolah ingin ikut masuk juga. Dengan lembut saya arahkan dia agar tak sampai menelusup masuk.

Walaupun kucing liar dengan silsilah yang kabur, rupa Boncu relatif menarik dan lucu. Bulunya cokelat muda dan putih. Berpadu dan berbaur apik.

Boncu hanyalah salah satu dari jutaan kucing urban di dunia ketiga yang nasibnya rata-rata tragis. Pilihan nasibnya hanya tiga: hidup terlantar tapi tetap bisa kenyang makan sisa manusia di sekitar pasar atau warung makan; hidup nelangsa 100% di jalanan; atau hidup beruntung di dalam dekapan warga perkotaan borjuis yang kesepian, punya uang lebih dan menjunjung tinggi kasih sayang untuk semua makhluk.

Di dunia pertama, nasib kucing sudah naik level.

Mereka ini memiliki tingkat kesejahteraan tinggi yang bahkan melebihi para manusia di negeri-negeri morat-marit di dunia ketiga.

Perkenalkan Tommaso, seekor kucing yang nasibnya bak langit ketujuh dibandingkan Boncu. Setelah pemeliharanya yang bernama Maria Assunta dari Italia menghembuskan napas terakhir tahun 2011, Tommaso mewarisi 13 juta dollar AS. Hitung saja sendiri jika dirupiahkan. Pokoknya tak akan habis hanya untuk menghidupi beberapa ribu atau ratus ribu manusia dengan lebih manusiawi.

Melihat ini memang pastinya langsung memantik perdebatan: apa pantas memberikan hewan perlakuan seistimewa itu sementara masih banyak manusia yang menderita dan memerlukan bantuan di luar sana?

Kalau saya sih cuma bisa berkata: Ya biarkan saja, toh itu uang Nyonya Assunta sendiri. Kecuali dia merugikan masyarakat, barulah rasanya pantas kita memprotes keputusan mewariskan uang sebanyak itu ke seekor kucing. (*/)

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in miscellaneous and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.