Relasi Kuasa di Angkutan Umum

Apa sih itu “relasi kuasa“? Sederhananya, relasi kuasa itu interaksi antara kelompok-kelompok yang berbeda di masyarakat. Relasi kuasa ialah kemampuan sebuah kelompok atau seseorang untuk mengendalikan orang lain dan mereka ini selalu ada di setiap tingkatan dalam masyarakat manapun.

Di Indonesia, relasi kuasa dalam hal gender sudah jelas menerapkan sistem patriarkis totok. Kaum pria “berkuasa”, atau mungkin tepatnya sengaja secara sistematis diberi peluang untuk berkuasa. Dan dengan demikian kaum selain pria dianggap marjinal atau setidaknya memiliki posisi lebih rendah dalam tatanan masyarakat. Meskipun kita pernah mengangkat perempuan sebagai presiden, bukan berarti secara otomatis Indonesia sebagai bangsa lebih baik dalam hal demokrasi yang lebih ramah perempuan dan hak-hak mereka dibandingkan negara-negara demokrasi lain di dunia.

Namun, tatanan patriarkis ini bisa dijungkirbalikkan di dalam gerbong kereta komuter dan bus Trans Jakarta yang melayani pelaju (commuters) dari dan ke beragam wilayah di ibukota dan sekitarnya.

Sebagian dari penumpang perempuan memiliki sikap dan pemikiran yang menggunakan feminisme sebagai kedok untuk mendapatkan tempat duduk.

Sebagaimana kita ketahui, di moda transportasi umum ini ada beberapa jenis penumpang yang dianggap pantas menjadi prioritas, yakni penumpang berusia senja, penumpang perempuan yang hamil, penumpang dengan anak-anak kecil, dan penumpang dengan keterbatasan fisik.

Sejumlah perempuan yang jelas-jelas masih muda dan segar dan bisa berdiri tanpa kelelahan sepanjang perjalanan menganggap ini sebagai ‘kesempatan’. Dan untuk memperbesar peluang itu, mereka secara sengaja menuju ke gerbong campuran dan tidak mau di gerbong bercat pink yang diperuntukkan khusus perempuan. Alasannya, karena persaingan di sana untuk mendapatkan tempat duduk juga lebih sengit! Di gerbong campuran, mereka mungkin berisiko menjadi korban pelecehan pria tetapi di sisi lain mereka sadar bahwa perilaku pelecehan akan hancur lebur begitu mereka berteriak sedikit saja. Petugas akan mencari biang keladi dan seluruh penumpang gerbong akan bersimpati. Pelaku atau yang diduga pelaku akan segera remuk redam dihajar massa. Atau setidaknya dipermalukan dengan menjadi konten berita di media massa daring atau media sosial yang haus sensasi dan klik.

Di gerbong campuran, sebagian penumpang perempuan bisa menggunakan secara manipulatif sisi ”kelemahan’ mereka dalam sudut pandang patriarkis sebagai senjata dalam mendesak para pria untuk menyerahkan tempat duduk mereka.

Dengan menulis ini, saya paham bahwa sebagian dari Anda tidak sepaham. Harus saya akui, tidak semua penumpang perempuan di moda transportasi umum juga bersikap dan berperilaku demikian. Ada yang sengaja masuk ke dalam gerbong perempuan agar bisa lebih aman, dan ada juga yang masuk di gerbong campuran karena tidak ada pilihan. Naik saja tanpa bisa memilih karena yang terpikir hanya bagaimana bisa secepatnya sampai di rumah untuk beristirahat. (*/)

man holding black laptop bag

Terus berdiri sampai varises tetapi harus tetap akting gembira, kuat, santai dan cool. Like nothing happened.(Foto oleh Pexels.com)

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in miscellaneous and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.