Pemilu 2019, Pemilihan Paling Sukses atau Paling Destruktif?

Dulu sebagai cucu TNI dan anak PNS, saya sudah paham sedikit apa itu Golkar. Saat pemilu digelar tahun 1992, saya yang masih duduk di SD kelas 3 sudah lumayan paham soal pemilu. Ada mobilisasi massa, ada bendera-bendera parpol berkibar. Hijau, kuning dan merah. Begitu usai semua huru-hara kampanye, orang-orang dewasa akan berduyun-duyun ke TPS. Untuk mencoblos, kata mereka. Lalu kondisi kembali tenang. Sederhana.

Saya sendiri sering iseng bermain bendera golkar. Bukan karena dipaksa. Ya karena di rumah adanya bendera itu. Tatkala pemilu menjelang, saya kibarkan bendera itu di tiang kayu dan menegakkannya di pagar rumah dengan bangga.

Sebatas itu keterlibatan saya dalam politik praktis di masa kanak-kanak.

Setidaknya seingat saya.

Saya tidak paham siapa Ismail Hassan Metareum atau Soeryadi Sudirja atau Megawati. Dan meski saya sudah paham siapa presiden saya, saya kala itu tidak diajarkan untuk membenci para sosok pemimpin oposisi ini baik oleh sekolah dan guru dan media dan orang-orang dewasa di sekeliling saya.

Tetapi sekarang ini, saya sungguh tidak bisa memaklumi mengapa bahkan anak-anak saja harus sampai diajari untuk berpihak dalam proses demokrasi yang sangat sarat dengan kepentingan politik praktis. Tahu sendiri kita betapa menjijikkannya politik praktis.

Dan yang tidak bisa saya nalar dan cerna ialah betapa meluasnya dan mendalamnya kebencian yang telah secara sengaja dan tak sengaja tertanam pada benak anak-anak soal kontestasi politik ini.

Bagaimana bisa saya memaklumi kenyataan bahwa anak-anak sekolah dasar saja sudah berani mengatakan membenci tokoh ini dan itu hanya karena itu mereka lawan politik kandidat yang didukung orang-orang dewasa di sekitarnya?

Bukankah ini sudah terlampau jauh?

Bukankah ini tidak seharusnya meresahkan?

Bukankah ini sungguh sebuah kegilaan?

Siapapun kalian yang merancang semua taktik licik memenangkan suara rakyat demi tampuk kekuasaan, semoga Tuhan mengampuni kalian karena telah menanamkan kebencian di benak anak-anak yang seharusnya di usia mereka lebih menikmati proses belajar nilai-nilai luhur kehidupan.

Jadi, kalau dikatakan apakah bangsa ini perlu bangga dengan pelaksanaan pemilu kali ini?

Jawaban saya, TIDAK.

Ini adalah pemilu paling destruktif yang pernah ada dalam sejarah Indonesia. Yang tidak cuma menggerus persatuan bangsa tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan dan kebajikan.

Dan saya yakin kegilaan politik ini tak akan rampung begitu saja usai KPU mengumumkan pemenang. Akan ada episode lanjutan lagi pastinya yang akan terus menguras energi bangsa.

Kalau Anda mau merenungi makna di balik ilustrasi di atas, mungkin Anda akan sedikit memahami menyedihkannya anak-anak yang terperangkap dalam keruwetan politik praktis. Mereka tak merasakannya saat kecil tapi begitu tumbuh dewasa, barulah mereka memahaminya.

Biarkanlah anak-anak itu menjalani keruwetannya sendiri dalam proses pembelajaran memahami dunia tapi jangan sampai diseret dalam kompleksitas intrik orang dewasa. (*/)

Author: akhlis

Writer & yogi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: