Pilpres yang Bikin Satu Negara Stres

person dropping paper on box

Apa hubungannya pemilu dan level kortisol? (Foto oleh Pexels.com)

Meskipun animo dan partisipasi masyarakat Indonesia di Pemilu tahun ini begitu tinggi (sampai 80%), harga yang harus ditebus juga tidak ‘murah’.

Tadi malam saat makan di sebuah tempat makan langganan, saya ‘terpaksa’ menonton berita. Dikatakan sebanyak 107 petugas pemilu pekan kemarin meninggal dunia.

Sebabnya bervariasi. Ada yang meninggal karena kecelakaan, ada yang karena kelelahan, ada yang stres sampai bunuh diri. Ya, mau bagaimana lagi tekanan di mana-mana. Masing-masing kubu ada yang bersikap begitu fanatik dan kalau kalah, mereka kurang bisa menerima secara ksatria. Sikap seperti ini memang mencederai demokrasi.

Namun, apakah memang pemilu harus memberikan tekanan yang seberat ini pada sebuah masyarakat?

Sains membuktikan bahwa memang benar pemilu membuat warga mengalami tekanan. Dan tekanan itu tidak cuma berakhir setelah keluar dari bilik suara.

Tim peneliti dari Ben-Gurion University of the Negev (BGU) menemukan bahwa pemungutan suara ialah peristiwa yang memberikan tekanan pada warga yang terlibat di dalamnya. Termasuk di dalamnya ialah perubahan hormonal dalam diri para manusia yang memberikan suara. Reaksi-reaksi emosional yang disertai dengan tekanan fisik dan psikologis dapat memengaruhi pembuatan keputusan.

Pada diri subjek penelitian yang terlibat dalam pemilihan umum, tingkat hormon kortisol yang diasosiasikan dengan tingkat stres menunjukkan peningkatan. Tidak tanggung-tanggung, sebelum pemungutan suara kenaikan kadar kortisol ini bisa sampai hampir 3 kali lipat!

Yang menarik buat saya ialah bahkan setelah 21 bulan setelah pemilu dilakukan dan sudah ada hasilnya, tingkat kortisol itu masih bertahan hampir dua kali lipat dari semula.

Begitu dahsyatnya pengaruh pemilu pada kehidupan kita.

Dan terus terang, dalam sejarah kita di Indonesia belum ada pemilu yang segegap gempita sekarang ini.

Mengapa pemilu sekarang bisa memberikan kesan yang begitu menyesakkan dada?

Kalau boleh saya berhipotesis, media sosial menjadi katalisnya. Saya anggap katalis karena ia hanya alat. Biang keladi utamanya tetaplah kita manusia, yang belum dewasa dalam bertindak-tanduk, berkata, dan bersikap.

Tidak berlebihan kalau ada rumah sakit jiwa yang menyatakan mereka siap menampung para caleg dan politisi yang gagal merengkuh ambisi mereka di kancah perpolitikan.

Bagaimana dengan Anda? Apakah menurut Anda pemilu kali ini seru, antusias, menggembirakan, atau malah memuakkan, membuat jengah? (*/)

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in save our nation and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.