Kelainan Itu Bernama “Cantik”

Candu ketik atau yang disingkat dengan “cantik”, ialah suatu kelainan yang diidap oleh seseorang yang merasa rileks atau bersuka cita mendengarkan suara papan ketik ditekan berkali-kali.

Kelainan ini makin menjadi-jadi menjelang musim libur panjang begini. Karena penderitanya akan dipaksa berjauhan dari laptop atau komputer yang ia pakai sehari-hari selama lebih dari 8 jam.

Cantik mendorong pengidapnya membawa laptop ke mana pun ia pergi. Pokoknya begitu ada kesempatan, ia bisa duduk dan membuka lalu mengetik di laptopnya.

Suara ketikan yang ia timbulkan di laptop membuat si pengidap Cantik merasa produktif. Sehari saja absen mengetik, ia merasa kesal, menyesal, hampa dan depresi.

Ini sangat berkaitan dengan jenis pekerjaan pengidapnya yang rata-rata adalah penulis, blogger, atau penyunting. Mereka menganggap produktivitas setara dengan kecepatan mengetik dan jumlah kata yang dihasilkan per menit.

Meski mengetik di ponsel layar sentuh menghasilkan jumlah kata yang sama, pengidap Cantik tetap tak mau meninggalkan papan ketik yang lebih lapang. Blackberry tetap tak bisa mengalahkan papan ketik yang lebar dan lapang.

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda juga memiliki kelainan yang serupa? (*/)

Tunggulah Sampai ‘Tua’, Baru Menulis

Lee Child bukan penulis favorit saya. Lain dari Haruki Murakami yang karya-karyanya pernah saya baca, karya-karya Child sama sekali tak familiar bagi saya. Bahkan film yang dibuat berdasarkan karakter utama dalam novel-novelnya juga tak bersarang dalam kepala saya.

Child juga bukan jenis penulis yang genrenya saya sukai.

Ia juga memiliki gaya hidup yang sama sekali tak sehat. Ia merokok; ia suka menulis sambil begadang; ia tak berolahraga; ia tak berniat mengubah pola makannya yang sarat makanan ‘sampah’. Dan ia tak peduli jika umurnya lebih pendek karena semua itu. Alasannya, karena ia justru bisa menikmati hidupnya dengan cara begitu. Intinya, cuma selera saja.

Namun demikian, saya mengamini tatkala ia mengatakan menulis itu tak harus dimulai sejak dini. Ini mungkin salah satu nasihat menulis yang paling kontraintuitif, menurut hemat saya. Hampir semua penulis yang saya ketahui kerap mendengungkan nasihat “mulai saja menulis dengan apa yang kau ketahui”, “jangan khawatir tulisanmu dikritik di usia muda”, atau “siapa saja bisa menulis jika ada niat”.

Meskipun nasihat-nasihat tadi tak sepenuhnya salah, saya menemukan adanya ambisi yang tersirat untuk  buru-buru menulis hanya demi menjadi penulis yang terkenal dan kaya raya.  Pokoknya mau jadi setajir pengarang sekelas J.K. Rowling, atau Stephanie Meyer, atau John Greene, Elizabeth Gilbert. Novelnya keluar dan laris manis di seluruh dunia. Plus, kemudian ada produser Hollywood melirik novel itu menjadi film box-office.

Padahal dalam kenyataannya, menulis memerlukan dedikasi yang tidak tanggung-tanggung. Menulis bukan cuma duduk mengetik di ruangan sejuk dan sesekali menyesap kopi di kafe yang modern dan nyaman. Banyak orang tak tahu betapa banyak pengorbanan yang harus dikeluarkan demi bisa sesukses penulis-penulis tadi. Dan kalaupun sudah sukses, apakah kesuksesan itu akan bisa dipertahankan? Atau akan tenggelam begitu saja setelah karya pertama keluar layaknya Harper Lee, sang pengarang novel “To Kill the Mockingbird”?

Begini nasihat Child yang terbenam dalam-dalam di benak saya: “Menulis ialah sesuatu hal yang Anda seharusnya tunggu sampai mencapai usia yang matang… sampai Anda bisa menyaksikan lebih banyak hal di dunia. Sampai Anda memiliki pesan yang benar-benar ingin disampaikan.”

Ia menyatakan itu bukan karena tanpa alasan. Ia sendiri baru mulai menulis di usia 40 tahun. Dan meski baru setua itu mulai menulis, kesuksesannya juga jangan dianggap sebagai suatu hal yang instan dan keberuntungan semata. Child sudah menggandrungi buku sejak kecil. Ia banyak membaca buku, menggemari cerita-cerita dan bekerja penuh waktu di dunia hiburan yang juga memiliki pertalian erat dengan dunia pengisahan cerita.

Di usia matang itu, Child dipecat dari pekerjaannya yang mapan sebagai direktur presentasi di Granada Television. Dalam sebuah wawancara, ia menumpahkan kekesalannya melawan otoritas di perusahaannya itu. Ia menceritakan pernah meretas komputer di kantornya sebagai perlawanan terhadap upaya perampingan perusahaan karena ia menganggapnya tak adil. Ia menghimpun kekuatan di antara para pekerja agar perusahaan harus menghormati hak-hak mereka. Rupanya latar belakangnya sebagai lulusan ilmu hukum dari University of Sheffield dan kepribadiannya yang tegas dan keras dan tak menyukai ketidakadilan itu memang tak bisa dibendung. Ia akhirnya dipecat dan memilih menegakkan keadilan melalui dunia fiksi melalui karakter utamanya Jack Reacher.

Ia juga sangat meyakini bahwa faktor terpenting yang membuatnya menjadi penulis seperti sekarang ialah pengalaman hidup yang kaya. Usia yang lebih tua membuat seorang penulis menjadi lebih banyak memiliki hal-hal menarik untuk diceritakan. (*/)

 

Kenangan 90-an


Jika ada lagu soundtrack “Aladin” itu, saya malah lebih teringat dengan lagu “Kalau Sempet” dari Padhyangan Project ini. Grup band ngocol ini digawangi oleh Iszur Muchtar, Denny Chandra, Daan Aria, Joe P Project, Iang Darmawan, Wawan Hanura, dan Denden Hermann.

Lagu yang sering saya putar di tape player semasa masih SD dulu ini memang cuma parodi alias banyolan dari versi aslinya “A Whole New World” yang dinyanyikan oleh Brad Kane dan Lea Salonga.

Akan slalu ingat
Kuping dijewer hansip
Waktu kita hinggap di atas atap WC nya
Janganlah kau lepas
Sabuk pengaman itu
Karna kita kan terbang dengan magic karpetnya
Kalau sempet…
Boleh kau jemput ibumu
Kita ke Kairo lewat Tokyo dan pulang ke Purworejo
Kalau sempet…
Jalan-jalan ke Eropa…
Berhenti di Paris, beli kismis atau keju yang sangat enak itu …
Hampir tak percaya
Semua ini terjadi
Kita bisa terbang menembus awan yang hitam
Kalau sempet (kalau ada waktu)
Turun dulu dong sebentar (sorry tak ada waktu)
Badanku yang dingin, masuk angin
Dan aku perlu BBO
Kepalaku pusing
Aku belikan antimo (aduh perutku mual)
Tetapi sekarang, tahan dong yang
Jangan mabuk atau kulempar gincu Kalau sempet (iya kalau sempet)
Turun dulu (aduh tanggung udah tinggi nih)
Kalau tidak (eh eh eh, kulempar loh, bener loh)
Aku mabok (aduh, aduh, aduh, jangan, jangan sekarang, aduh, duh turun, turun, turun!)
(Aladin, jangan Aladin aaaaaaah!!!)

Tapi kalau Anda tak suka itu dan lebih suka versi aslinya ini dia. Suara asli Brad Kane dan Lea Salonga yang sangat khas. Karakter suara Kane memang sangat pas untuk si Aladin karena sangat boyish. Dan Salonga juga memiliki jenis suara yang childlikely girly.

Bahkan saat Kane dan Salonga kembali bernyanyi 23 tahun setelah mereka merekam lagu itu.

Meskipun badan mereka sudah seperti om-om dan tante-tante tapi suara mereka tetap OK sekali untuk ukuran penyanyi paruh baya.

Hmm, jadi ingin tahu apa rahasia mereka bisa mempertahankan kualitas suara.

Anyway, berikut liriknya, kalau mau sedikit berkaraoke.

Aladdin:] i can show you the world
shining, shimmering, splendid
tell me, princess, now when did
you last let your heart decide?
i can open your eyes
take you wonder by wonder
over, sideways and under
on a magic carpet ride
a whole new world
a new fantastic point of view
no one to tell us no
or where to go
or say we’re only dreaming
a whole new world
a dazzling place i never knew
but when i’m way up here
it’s crystal clear
that now i’m in a whole new world with you
unbelievable sights
indescribable feeling
soaring, tumbling, freewheeling
through an endless diamond sky
a whole new world
don’t you dare close your eyes
a hundred thousand things to see
i’m like a shooting star
i’ve come so far
i can’t go back to where i used to be
a whole new world
with new horizons to pursue
i’ll chase them anywhere
there’s time to spare
let me share this whole new world with you
a whole new world
that’s where we’ll be
a thrilling chase
a wondrous place
for you and me

Suka Duka Pekerja Jasa

Kalau naik bus transjakarta, saya kerap ingin bertanya pada sopir atau kondekturnya:”Kalau mau kencing di tengah jalan, atau pas macet, solusinya gimana?”

Bagaimana tidak saya ingin bertanya seperti itu. Sopir dan kondektur ini biasanya berjam-jam di jalan. Entah itu duduk atau berdiri.

Yang saya amati, para sopir biasanya pria yang lebih tua. Ada sopir yang mirip siput. Walaupun jalan lega, tak sekalipun ia berniat menginjak pedal gas lebih dalam lagi. Mungkin ia pernah terkena tilang yang traumatis, atau mendengar seseorang mengalami kecelakaan yang tragis dan mampus seketika di aspal Jakarta yang membara terpanggang matahari tropis.

Sementara itu, yang ugal-ugalan juga ada. Mengerem suka mendadak. Membuat penumpang di barisan paling belakang melambung saat ban belakang terantuk sambungan logam di batas antara jalan biasa dan jalan layang. Nyeri bukan main kalau kurang sigap mengamankan bokong dan tulang ekor yang begitu berharga ini.

Para kondektur umumnya pemuda-pemudi umur duapuluhan. Masih bugar. Belum didera penyakit-penyakit degeneratif. Kandung kemih mereka masih kuat sehingga masih bisa menahan kencing berjam-jam. Usus besar dan rektum juga kuat untuk menahan berak di atas bus yang beroperasi seharian.

Saya terus saja bertanya bagaimana manusia bisa sekuat itu bekerja sambil menahan berak dan kencing dan dinginnya AC di dalam bus yang kadang ekstrim. Karena saya saja yang bekerja di dalam ruangan berpendingin harus ke kamar kecil setidaknya 1 jam sekali.

Apakah mereka pernah kencing atau berak di celana?

Belum pernah saya punya kelancangan melontarkan penyelidikan ini.

Pun saat saya mengunjungi restoran tatkala musim berbuka puasa sekarang. Saya bertanya-tanya, apakah pelayan-pelayan restoran ini sudah berbuka sendiri atau mereka terpaksa tak puasa karena tuntutan kerja? Mereka terus saja memasakkan dan menyuguhkan hidangan pada tetamu tetapi bagaimana dengan mereka sendiri? Apakah mereka cukup makan juga?

Kadang saya merasa bersalah juga melihat pelayan-pelayan itu mencuri pandang pada saya yang sibuk mengunyah. Saya merasa amat egois. Tapi tak bisa berbuat apa-apa.

Jarang sekali saya melihat mereka ke kamar mandi atau sekadar salat selama 5 menit. Saat kerja, berjalan dan berdiri adalah menu utama. Duduk cuma sesekali saat restoran sepi.

Dan meski sepi, tak juga saya lihat mereka makan atau minum. Ini manusia atau mesin sih? Saya yang semula kasihan menjadi heran.

Begitulah kerasnya kehidupan pekerja jasa di Jakarta.

Bahkan jika penghasilan Anda di sektor ini melebihi sopir transjakarta dan pelayan restoran yang mungkin sedikit lebih tinggi dari upah minimum regional DKI, belum tentu Anda bisa bersantai di sela-sela jam kerja.

Apakah mereka pernah memikirkan hal yang lain selain kerja dan kerja dan kerja?

Hobi misalnya?

Olahraga misalnya?

Menjaga pola makan contohnya?

Memikirkan rencana pengembangan karier contohnya?

Atau sekadar bersantai di tujuan rekreasi yang cukup dekat dan terjangkau misalnya?

Atau mengetahui perkembangan kebudayaan kontemporer contohnya?

Rasanya susah karena dunia mereka tak mengizinkan itu.

Dan cara satu-satunya memutus lingkaran setan ini ialah dengan mengenyam pendidikan yang lebih tinggi lagi.

Sehingga saat mendengar seorang office boy putus kuliah, saya sarankan ia melanjutkan lagi di kelas karyawan atau kelas akhir pekan. Pokoknya jangan sampai tidak kuliah. Karena berbekal ijazah S1 saja, persaingan kerja begitu ketat. Apalagi cuma ijazah SMA? (*/)

Hadiah Pintu yang Sangat Aku

Berpuluh kali event/ acara yang saya ikuti dan menjanjikan pemberian hadiah pintu alias doorprize yang selangit berlalu begitu saja dengan saya pulang gontai dengan tangan hampa.

Konon tidak perlu terlalu memperlihatkan ambisi mendapatkan hadiah itu. Cukup duduk, diam dan berdoa dalam hati agar keberuntungan itu menghampiri. Sebuah pendekatan pasif agresif yang selalu gagal untuk saya.

Namun, tidak kali ini. Dengan pikiran yang tak menghiraukan adanya hadiah pintu yang bisa diboyong pulang, saya menghadiri acara buka bersama di kantor.

Buka bersama pertama di kantor ini diawali dengan ceramah soal kehidupan yang berkah karena berkiblat pada sunah Nabi. Bahwa mereka yang mengaku muslim sejati dan haruslah meniru cara hidup Nabi Muhammad SWA sampai serinci mungkin lalu mengolok dan memojokkan mereka yang tak menyerupai Nabi. Sungguh itu bukan cara dan pendekatan nan bijak, kata si ustadz yang jenaka.

Ia melanjutkan bahwa kita yang berpuasa di masa sekarang ini sungguh beruntung karena masih diberikan kelonggaran untuk makan sahur sehingga dalam sehari kita masih bisa makan dua kali. Tidak seekstrim orang dulu yang kalau puasa cuma bisa makan sekali sehari saja dan begitu mereka terlewat waktu berbuka, mereka harus kembali berpuasa. Tanpa ampun. Tanpa keringanan.

Karena ada keluhan dari seorang pekerja di masa Nabi yang berpuasa tapi sempat terlewat masa makan sampai akhirnya pingsan, akhirnya turun wahyu untuk mengizinkan umat berpuasa dari malam hingga terbit fajar asalkan sepanjang matahari muncul, tidak makan dan minum dan melakukan tindakan-tindakan yang dilarang lainnya.

Itulah yang menjadi pembeda puasa yang dijalankan umat Islam dan umat agama Yahudi. Puasa umat muslim ada sahurnya (dan ironisnya ada sebagian umat muslim yang sengaja melewatkan sahur ini karena dianggap merepotkan dan saat dini hari tak merasa nafsu makan padahal kan itu sebuah kenikmatan yang hakiki dan berpahala pula), sementara puasa umat Yahudi tidak.

Sahur di zaman Nabi tak dibatasi imsak. Kenapa? Karena imsak itu baru muncul di masyarakat muslim belakangan saja. Nah, di Al Quran sendiri dijelaskan bahwa kita masih diperbolehkan makan dan minum hingga jelas benang hitam dan benang putih.

Mereka yang memaknai ayat tadi dengan literal atau harafiah pun makan sahur sambil menyiapkan sehelai benang hitam dan putih. Jika sudah bisa kentara bedanya dengan mata telanjang, mereka akan berhenti makan sahur.

Sementara itu, imsak adalah peringatan saja. Yang sudah di dalam mulut tidak perlu dimuntahkan tetapi tetap lanjut makan saja. Namun, jangan menambah menyuap makanan lagi. Justru harus siap-siap berhenti. Ibaratnya, imsak adalah lampu kuning dalam berkendara. Tapi karena budaya orang beda-beda, lampu kuning justru diinterpretasikan sebagai pemacu. Makan sebanyak-banyaknya saat imsak berkumandang dan baru benar-benar berhenti tatkala azan subuh. Nah, kalau masih makan saat dengar azan subuh, haruslah memuntahkan makanan itu tak peduli seberapa enak rasanya.

Cara Berbuka Sesuai Cara Nabi

Lalu bagaimana tata cara mengakhiri puasa yang dilakukan Nabi? Ya karena Nabi orang Arab dan tinggal di tanah Arab yang vegetasi alaminya adalah salah satunya pepohonan kurma, maka tak heran akalu menu berbukanya adalah buah kurma. Dan kurma yang kita banyak temui di toko-toko di sini sejatinya tak menyerupai kurma Nabi sama sekali karena kurma Nabi tidak dicelupkan ke cairan glukosa/ gula. Justru kurma Nabi atau yang disebut kurma Ajwa (mukjizat) bersifat padat dan berwarna hitam. Dan karena dikonsumsi Nabi itulah, harga kurma jenis ini dibanderol sangat tinggi. Di luar jangkauan akal. Harganya 3oo real per kg!

Asal muasal nama “Ajwa” atau yang artinya mukjizat ini karena dulu ada orang Yahudi yang memberikan biji kurma yang sudah kering dan dibakar dan jika Nabi bisa menanam dan menjadikannya hidup menjadi pohon, maka tak diragukan lagi Nabi Muhammad memang sebenar-benarnya nabi. Dan mukjizat itu memang nyata, karen a begitu ditanam Nabi Muhammad, biji kurma yang harusnya tak bisa lagi berkecambah karena sudah kering dan dibakar itu masih bisa tumbuh.

Karena menu mereka kebanyakan buah kurma itulah tidak heran juga jika sunah Nabi juga menyarankan kita makan dengan tiga jari. Tentu sunah ini akan tak berlaku di Indonesia karena kita makan bukan melulu kurma! Kalau kita makan takjil biji salak atau bubur ayam dengan tiga jari saja, bagaimana bisa?! Makanya, kita tidak mesti mematuhi sunah itu secara ketat dan literal.

Yang penting ternyata bukan kurma tetapi makanan apapun yang manis. Dan manis ini bukan berasal dari gula pasir atau bahan pemanis sejenisnya. Justru manisnya yang alami. Misalnya, ustaz menyebutkan, buah labu. Anda yang sudah terbiasa makan makanan manis mungkin akan bertanya:bagaimana bisa buah labu terasa manis? Blah! Hei, itu karena lidah kita terlalu banyak dijejali makanan manis buatan pabrik saat ini sehingga yang manis alami sudah terasa tawar.

Labu seperti apa yang disukai Nabi Muhammad? Tak disebutkan secara spesifik, karena dicemaskan nantinya labu tertentu juga akan melonjak harganya hanya karena disebut menjadi makanan favorit berbuka puasa Nabi Muhammad.

Kesukaan Nabi atas buah labu ini berawal dari hidangan buah labu yang hampir basi dari seorang tetangga beliau yang kebetulan beragama Yahudi (entah kenapa harus disebut agama si pemberi oleh si ustadz).

Entah karena bercanda saja atau memang serius, ustadz ini menyebutkan buah yang tak disukai Nabi ialah buah mangga. Alasannya mudah: karena buah mangga di Arab tidak ada dan kalaupun ada harganya mahal sekali karena mesti diimpor dari negara lain.

Jadi, kalau mau ikut sunah Nabi, jangan makan mangga! Mungkin begitu kesimpulan Anda tetapi ingatlah bahwa ketidaksukaan itu hanya karena mangga bukan buah lokal! Sehingga harganya selangit.

Maka, kalau kita memang mau mengikuti sunah Nabi, haruskah kita berbuka dengan kurma saja yang harganya bisa saja lebih mahal dan menghindari mangga yang malah lebih murah dan berlimpah ruah?

Berpakaian Cara Nabi

Kemudian sunah dalam berpakaian. Tentu harus menutup aurat. Di masa Nabi, gradasi warna yang lazim ada hanyalah hitam, putih dan hijau. Warna-warna lain tak tersedia secara luas.

Lalu bagaimana dengan kita yang di Indonesia mengenal khasanah warna busana yang lebih majemuk? Haruskah kita membatasi diri dengan memakai busana yang cuma berwarna hitam, putih dan hijau saja?

Lalu dengan demikian apakah memakai busana dengan warna-warni yang tidak dikenal di zaman Nabi akan menjadikan pakaian kita tidak syar’i?

Tentu tidak. Karena semua itu cuma elemen fashion yang tidak esensial dalam ajaran religi. Mempermasalahkan hal-hal superfisial hanya membuang-buang waktu dan energi saja kan?

Hanya dengan membiarkan rambut Anda gondrong dan membelah sisirannya di tengah tak berarti membuat anda sesuai cara hidup Nabi karena ternyata cara memperlakukan rambut semacam itu juga didopsi oleh tokoh kafir Quraisy Abu Jahal dan Abu Lahab juga.

Cara Menyisir Rambut

Mau tahu cara Nabi menyisir rambut? Bayangkan Anda mengambil sisir lalu membelah tengah rambut Anda yang tergerai sebahu. Istri Nabi, Aisyah, pernah bertanya pada beliau mengenai inspirasi gaya rambut itu.

Nabi berkata yang intinya rambut gondrong itu diilhami gaya rambut pria Yahudi sementara belahan tengah itu dari kaum pria Nasrani.

“Itu artinya apa?” tanya si ustadz,”Nabi mengikuti perkembangan dunia fashion!”

Namun, apakah dengan begitu serta merta kita mengubah gaya rambut menjadi panjang dan dibelah tengah? Kalau kita hidup di masyarakat Indonesia modern yang menghargai kerapian pria, tentu memotong rambut menjadi pendek lebih dihargai daripada rambut panjang. Rambut panjang pada pria diasosiasikan dengan jiwa urakan, tidak disiplin, atau artistik. Mungkin gaya rambut semacam ini bisa diadopsi pria-pria yang bekerja di bidang tertentu tetapi jika bekerja di sektor formal, rasanya tak mungkin bisa.

Mari Utamakan Kearifan Lokal dalam Beragama

Di sinilah, kearifan lokal juga diperlukan dalam beragama. Makin banyak umat Islam yang kukuh untuk meniru perilaku dan sikap Nabi dalam kehidupan tanpa memperdulikan konteks. Pokoknya asal meniru. Tidak peduli faktor lain. Dan ironisnya malah melupakan esensi dari cara hidup nabi itu sendiri, yakni arif, tidak memaksakan diri dan mengutamakan yang lokal.

Hendaknya kita jangan terlalu mudah menghakimi seseorang belum meniru cara hidup Nabi hanya dengan melihat aspek-aspek superfisial. Misalnya, jika seorang dosen ingin mengajar di kampusnya, apakah perlu menunggang unta dan menolak memakai sepeda motor hanya karena Nabi tak pernah menunggangi kendaraan bermotor sepanjang hidupnya? Tentu konyol.

Yang perlu kita pegang teguh adalah esensi cara, pandangan hidup beliau. Dalam hal ini kita harus meniru kegigihan dalam menyebarkan ilmu. Namun, cara menyebarkan ilmu itu tak melulu harus persis dengan Nabi di masa lalu. Cara-caranya bisa disesuaikan dengan kondisi kebudayaan, peradaban, dan iklim di sekitar kita.

Jadi kembali lagi ke hadiah pintu yang berupa buku tadi, saya berterima kasih sudah diberi hadiah yang sesuai dengan minat saya (meski yang lain anehnya dapat hadiah kain, hmm?). Ditambah dengan pengetahuan baru dari ustadz ini. Sungguh bukber yang produktif! (*/)

Cimon Seafood (Sebuah Ulasan)

Satu restoran yang sering kusambangi akhir-akhir ialah Cimon Seafood yang mengklaim cuma menjual makanan-makanan lezat pilihan.

Begitu seringnya datang sampai tiap kali saya masuk, para pelayannya melenguh. Dalam hati tentu saja, sambil bergumam,”Pasti dia mau pesen sayur asem lagi. Nasi liwet lagi. Jus alpuket murni lagi. Dasar freak!!! Alpuket digituin mana enak. Iyuh!!!”

Tapi ia salah.

Saya kerap melebihi ekspektasi pelayan perempuan itu.

Selain item di atas, saya pesan ikan nila tim ala Hongkong. Ditim karena saya menghindari olahan gorengan sebisa mungkin. Semoga lebih sehat.

Lain kali, saya buat ia bingung. Pesan nasi tim ayam lalu gado-gado tanpa lontong. Tanpa terlihat terperangah, pelayan itu mencoba mencatat dan mengulangi pesanan yang ia tulis, berharap saya sadar itu banyak juga.

Di kesempatan lain, saya pesan sapo tahu seafood. Tahu sutra yang gurih dan lembut, saking lembutnya menggelincir begitu saja lewat tenggorokan ke lambung. Tanpa banyak dikunyah. Kombinasinya nasi goreng pete. Klopt en lekker, kata orang Belanda zaman dulu.

Untuk menu mie dan nasi banyak pilihan tapi saya menyukai nasi goreng pete dan nasi goreng ikan asin saja.

Nasi liwet balinya juga lumayan mengenyangkan. Ada yang reguler dan ada yang deluxe. Bedanya jenis nasi dan tambahan cumi yang dicincang. Saya yang tak begitu bernafsu dengan cumi, lumayan bisa menelannya juga.

Cimon ini selalu ramai karena letaknya strategis di pinggir jalan Prof. Dr. Satrio. Tujuan tepat kalau Anda lapar dan kebetulan tinggal atau lewat di kawasan Karet Kuningan, Mega Kuningan, dan Karet Pedurenan di kecamatan Setiabudi, Jaksel.

Cimon ini kerap dijadikan lokasi buka bersama karyawan-karyawan DBS Indonesia atau Tokopedia. Ya, pantas saja karena lokasinya cuma selemparan handphone dari gedung DBS Tower dan Tokopedia Tower di situ.

Lebih dari keenakan masakannya ialah suasananya. Lebih nyaman daripada mall yang di jam buka puasa bisa mirip seperti sarang tawon. Bikin pusing orang introvert.

Di sini ada anak batita yang diajak ibunya bekerja. Dan sering ia lalu lalang bermain. Sampai suatu ketika ia main kolak pisang panas di troli dan membuat geger karena badannya ketumpahan kolak. Alih-alih si ibu yang menangani, malah ini majikan perempuannya yang menggendong dan membersihkan lalu menidurkan si batita. Duh, beratnya jadi ibu pekerja di Jakarta!

Praktisnya kalau mau salat juga bisa memakai ruangan tertutup di dekat meja kasir. Jadi tak usah risau kalau terlewat salat maghrib begitu kelar bukber. (*/)

Yang Biru Bikin Sendu

Tak bermaksud untuk mengumbar aurat keuangan di sini. Karena telah saya tutup dengan coretan yang minimal tapi cukuplah membuat imajinasi berkelana liar. Menaksir berapa digit yang tersisa dan tak seberapa dibanding banyak orang di luar sana.

Inilah layar biru yang dapat membuat seseorang haru biru atau sendu di hari begini.

THR cair pekan kemarin. Lalu merebaklah segala penawaran “pay day” dan diskon Lebaran. Midnight Sales di mana-mana tiba tiba ada.

Kata Rufus Humphrey, ayah si pacar proletar Serena van der Woodsen, saldo rekening tak menentukan derajat dan masa depan seseorang.

Dasar kutipan opera sabun konyol!

Tentu saja, saldo berkaitan erat dengan derajat dan masa depan kita.

Saldo turut menentukan moda transportasi yang bisa kita pilih saat mudik, menentukan volume oleh-oleh yang kita bisa keruk dan suguhkan di depan manusia-manusia lain saat berkumpul di hari raya, menentukan tingkat kesuksesan seseorang sebagai perantau/ pebisnis/ pejabat/ polisi/ profesional, dan lain-lain.

THR yang sempat lewat membuat terbuai di awang-awang meski cuma sesaat. Tagihan-tagihan rutin bulanan dan tahunan membuatnya kembali turun secepat kilat.

Begitulah nasihat para penasihat keuangan, bayar dulu utang baru belanja.

Banyak yang belanja dulu baru bayar utang setelahnya.

Kelabakan? Saldo minus?

Ah, tak masalah. Kartu kredit ada di dompet. Siap menjadi sokongan keuangan dalam kondisi darurat finansial seperti musim mudik sekarang.

“Tapi itu kan ribaaa?!!” Kata sahabat yang sudah berhijrah kaffah.

Ya maafkanlah. Daripada mengutang saudara lalu hubungan retak seumur hidup karena gagal mengembalikan.

Mungkin lebih baik dikejar-kejar debt collector dengan ancaman verbal dan parang di tangan.

Setidaknya kau bisa kabur pindah alamat.

Tapi dengan saudara, kau harus tetap bertemu setidaknya setahun sekali dalam acara silaturahmi famili. Sambil terus berdoa agar ia tak menghampiri atau sama sekali lupa menagih.

Sedot Debu, Lepas Stres

appliance carpet chores device
Hobi baru itu bernama menyedot debu. (Foto: Pexels.com)

Pernah suatu ketika penulis novel “Gone Girl” Gillian Flynn disindir oleh pembawa acara diskusi bukunya. Sebagai wanita yang dikenal begitu feminis, ia menulis karakter-karakter wanitanya sebagai seorang anti-heroine yang tangguh dan juga culas. Sama seperti karakter pria juga.

Ia disindir bahwa di saat senggangnya, agar writer’s block tak terus menyergap, ia melakukan aktivitas yang amat ‘domestik’ yakni menyedot debu dengan mesin vacuum cleaner.

Sebagai penulis, ia menampik ‘tuduhan’ itu dengan gaya melucu yang ‘gelap’. Ia mengaku lebih suka menyisir internet untuk mencari nama karakter yang pas di website-website. Untuk melepas penat ia juga lebih memilih berkaraoke dengan memutar video YouTube. Bahkan ia menyemangati dirinya dengan memutar lagu rap Eminem saat kepayahan menulis saat masa mengandung bayi.

Justru si pembawa acara pria itu yang akhirnya mengaku bahwa dirinya sendiri yang menikmati kegiatan menyedot debu sebagai pengisi waktu saat ide untuk melanjutkan menulis draft buku ‘mampet’. Menyedot debut ia namakan sebagai sebuah ‘target practice’, yang mengacu pada sebuah pelatihan sistematis dengan banyak repetisi untuk membidik sasaran dengan tembakan. Tujuannya bermacam-macam, bisa untuk mengasah keterampilan atau sekadar melampiaskan kepenatan. Penulis membutuhkan hal ini untuk bisa menyegarkan pikirannya kembali. Setelah otak diharuskan berpikir kreatif terus menerus saat menulis, ada baiknya otak diistirahatkan dengan mengerjakan tugas-tugas yang monoton dan repetitif. Nah, kontraintuitif kan? Tapi begitulah memang nyatanya.

Saya sendiri menemukan keasyikan itu beberapa waktu terakhir. Kebetulan saya membeli sebuah mesin penyedot debu. Pikir saya untuk nanti dipakai jika sudah memiliki rumah sendiri. Jadi, untuk sementara saya akan menggunakannya membersihkan kamar sewaan.

Ternyata enak dan praktis juga membersihkan kamar dengan mesin ini. Saya tinggal menyalakannya dan mengarahkan corongnya yang bisa diganti-ganti bentuknya itu ke permukaan lantai atau dinding atau langit-langit yang berdebu atau bersarang laba-laba. Lalu seketika, semuanya bersih. Tak perlu mengelap perlahan agar debu tak mengepul ke kasur atau benda lain yang bersih di kamar. Sangat memanjakan!

Dan kegiatan ini lumayan menguras keringat juga. Cukuplah menggerakkan tubuh di bulan puasa.

Tak peduli mesin penyedot debu ini dikatakan ilmuwan tidak efektif mengusir alergen kutu di sekitar kita, saya terus menikmatinya. Sebab saya toh juga bukan orang yang sering alergi ini itu.

Dan karena ini termasuk mesin penyedot debu model baru, saya tak perlu khawatir ia bisa melepaskan lebih banyak bakteri dan debu daripada menyedotnya. Sungguh, saya baru tahu bahwa mesin penyedot debu yang model lama dan dibanderol lebih murah justru mengeluarkan – bukannya menyedot – debu dan segala kutu itu. Alangkah mubazirnya membeli model lama seperti itu!

Kini saya baru bisa merasakan keasyikan seorang teman yang katanya kalau stres berat atau galau, ia memilih untuk menghabiskan waktu dan tenaganya untuk mencuci pakaian kotor atau menggosok lantai kamar mandi. Serius, semua itu merupakan kegiatan pelampiasan emosi negatif yang sangat amat produktif! (*/)

Kurangi Risiko Serangan Jantung dengan “Tooth Scaling and Polishing”

green and white denture toy
Photo by rawpixel.com on Pexels.com

Hari ini saya pergi ke dokter gigi lagi setelah sekian lama absen. Dan kali ini saya sengaja mencoba sebuah prosedur bernama “scaling and polishing”.

Sebelumnya saya memang hanya ke dokter gigi cuma untuk cabut gigi, dan itu sudah lama sekali saat usia anak-anak. Namun, sekarang saya ingin lebih intensif lagi merawat gigi karena ternyata kesehatan gigi tak cuma berkaitan dengan pencernaan. Dampak kesehatan gigi lebih jauh daripada itu.

Prosedur “scaling and polishing” ini sebenarnya mirip penyikatan gigi tetapi jauh lebih efektif karena dokter gigi profesional yang melakukannya dengan menggunakan alat yang tak tersedia secara luas. Dan karena membersihkan gigi hanya dengan sikat gigi dan pasta gigi serta benang gigi (dental floss) belum cukup untuk kebersihan gigi yang paripurna. Secara rutin tiap 6 bulan sekali setidaknya kita mesti melakukan prosedur ini agar gigi terhindar dari penumpukan plak yang membandel dan bisa memicu lubang dan masalh gigi lainnya.

Sebelum menjalani prosedur pemeriksaan gigi, saya diharuskan melakukan pemotretan rontgen. Tujuannya agar terlihat posisi gigi saya dan apakah harus ada tindakan medis untuk memperbaikinya. Di foto rontgen panoramic gigi ini, akan terlihat potensi gigi berlubang sehingga dokter gigi bisa cepat mencegahnya dan merekomendasikan pada pasien tentang cara untuk menjaga giginya dari gangguan karies dan sebagainya.

Begitu saya duduk di kursi pasien, saya disuruh membuka mulut dan dokter menggunakan alat-alatnya untuk menggerus lapisan plak dan tartar di permukaan gigi saya tanpa kecuali. Saya tetap bisa tenang karena kebetulan saya tidak begitu takut dengan kisah mengerikan dokter gigi. Bagi saya, dokter adalah penyelamat meskipun mereka membuat saya sakit sebentar. Asal sakit yang sebentar ini bisa menghilangkan sakit yang lebih lama dan parah, kenapa tidak?

“Mungkin rasanya bakal agak ngilu ya, tapi tidak bakal lama kok,” ucap dokter gigi saya. Dan ia memang benar.

Scaling ini dilakukan dengan alat berbahan aluminium yang tajam untuk merontokkan plak dan tartar dari permukaan gigi. Tak heran rasanya jadi gigi agak ‘semriwing’. Sensasi kesatnya juga terasa.

Kemudian setelah disuruh berkumur, saya kembali berbaring untuk menjalani prosedur kedua: polishing. Di sini digunakan sikat gigi khusus yang berputar cepat untuk menghilangkan noda-noda di permukaan gigi saya. Mereka yang suka minum kopi, teh, dan sebagainya, mungkin harus menjalani prosedur ini agak lama karena noda yang membandel. Namun, karena saya bukan penggemar minuman-minuman tadi, saya cuma harus menjalani scaling dalam waktu 15-20 menit.

Dokter gigi saya juga memuji karena gigi saya cukup bagus, tidak ada lubang. “Tinggal dirawat dengan baik. Enam bulan sekali harus dibersihkan begini,” ujarnya.

Karena dokter gigi saya ini cukup kenal saya yang menyukai pola makan sehat, ia mengatakan ada kaitannya juga antara kesehatan gigi dan makanan berserat. Makanan tinggi serat seperti sayur dan buah juga ternyata bisa turut membersihkan permukaan gigi kita. Serat-serat makanan di dalamnya bertindak mirip bulu-bulu sikat gigi. Karena itulah mungkin, kita menggunakan buah sebagai “pencuci mulut” (meski kurang tepat juga mengonsumsi buah setelah makan berat karena malah menjadi susah dicerna).

Saya sendiri juga merasakan demikian setelah makan buah-buahan tertentu. Coba saja makan buah berserat tinggi seperti apel, Anda akan bisa rasakan gigi terasa lebih bersih dan kesat. Lain rasanya jika dibandingkan makan makanan yang tinggi karbohidrat seperti nasi goreng dan tinggi gula seperti produk manisan cokelat (yang ditambahi gula pasir, buka cokelat murni), yang jika menumpuk akan memicu kondisi asam sehingga gigi lebih rawan berlubang.

Dan manfaat yang tak pernah terpikirkan dari pembersihan gigi yang lebih sempurna ini ialah penurunan risiko serangan jantung.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan sejumlah ilmuwan di Taiwan dan dipublikasikan di American Heart Association’s Scientific Sessions pada tahun 2011 lalu, diketahui memang ada kaitan antara prosedur “tooth scaling” dan frekuensi serangan jantung dan stroke. Studi ini patut dipercaya karena melibatkan 100 ribu subjek penelitian dan berlangsung selama 7 tahun.

Lebih lanjut, dikatakan penurunan risiko serangan jantung yang dicapai bisa sampai 24%. Sementara itu, untuk penurunan risiko stroke bisa menurun hingga 13%. Semua angka ini dihasilkan dengan membandingkan mereka yang menjalani “tooth scaling” secara teratur dan mereka yang tak pernah sama sekali menjalaninya.

Frekuensi “tooth scaling” yang dianggap standar ialah dua kali atau lebih dalam periode waktu dua tahun. Dengan kata lain, standarnya ialah sekali setahun.

Mereka yang menjalani pembersihan gigi secara intensif ini lebih terlindung dari risiko serangan jantung dan stroke karena ternyata dapat mengurangi peradangan (inflamasi) yang memicu pertumbuhan bakteri yang bisa berujung pada dua gangguan kesehatan fatal tersebut.

Tak heran, kita bisa memprediksi risiko serangan jantung dan stroke pada seseorang dengan menilai kesehatan gigi dan gusinya. (*/)

22 Mei, (Media Sosial) Jakarta Lumpuh!

“Jakarta lumpuh!”

Kata seseorang di sebuah gang yang saya lewati tadi.

Mendengar itu, saya tertawa dalam hati.

Seorang wanita di dekatnya juga mencibir,”Lumpuh apanya?”

Media sosialnya?

Tadi malam memang diberitakan ada aliran massa ke sekitar gedung Bawaslu di Thamrin yang jaraknya 5km dari tempat tinggal saya. Lalu paginya ada kabar kebakaran di markas Brimob Petamburan yang notabene dekat markas FPI.

Sementara itu, di WhatsApp beredar foto-foto dan video yang konon adalah kondisi terkini sekitar Bawaslu. Memanas pokoknya.

Tetapi begitu pagi tadi datang, saya menyingkirkan semua ketakutan itu dan mendatangi Taman Menteng. Bukan untuk menonton kerumunan sebagaimana adat ‘kepo” orang Indonesia tetapi untuk berolahraga seperti biasa.

Puasa begini masih olahraga?

Tentu saja. Kalau berhenti olahraga, justru badan terasa tidak enak padahal kita berbuka dan sahur kan ‘ugal-ugalan’.

Menu hari ini adalah squat 50 kali, l-sit juga agar perut tak membuncit. Hosh hosh!

Letak taman ini dekat sekali dengan gedung KPU di jalan Imam Bonjol dan juga dekat Bundaran HI yang biasa diluberi massa.

Di sini situasi begitu tenang. Hanya ada satu orang berolahraga lebih dulu dari saya bersama pelatih pribadinya. Begitu tiba pukul 7 barulah sekompi TNI berkumpul setelah turun dari truk. Mereka menggerakkan badan, melakukan jumping jacks, push ups, dengan riuh rendah. Sementara itu, saya juga mulai memanaskan badan. Cuaca cerah.

Sejurus kemudian sepasukan polisi berbondong-bondong memasukkan sepeda motor mereka ke taman.

Setelah apel pagi, mereka pun bersantai.

Ada yang duduk di bawah pohon bermain ponsel, ada yang berkerumun menonton video bersama, meminjam terpal di Koramil Menteng untuk berbaring manja di rerumputan taman, lalu ada juga yang berolahraga.

Masalahnya yang berolahraga cuma satu orang saja. Kebanyakan polisi-polisi ini pria paruh baya yang sudah menunjukkan perlambatan metabolisme dan penurunan aktivitas fisik dan penambahan asupan makanan. Badan agak gembur, perut tambun, gerak agak lamban tetapi semua tertutup dengan besarnya badan.

Sementara itu ada juga beberapa polisi militer apel pagi. Hanya sedikit. Tak sebanyak TNI dan Polri.

Entah menunggu tugas atau bersantai saja setelah bertugas, banyak yang beristirahat di taman yang penuh pohon rindang. Damai dan tenang.

Sejumlah TNI bergabung dalam kelompoknya, duduk bersama dan menonton sesuatu di ponsel teman mereka dan ribut memperbincangkan isinya. Mereka ini lebih muda dari polisi-polisi paruh baya tadi sehingga masih enerjik dan suka berkomentar soal apa saja. Yang sudah berkeluarga, memilih asyik sendiri dengan ponselnya untuk terus memberi kabar pada keluarga di rumah. Ya, sebaris dua baris kalimat di WhatsApp untuk menandakan mereka masih hidup, tidak terluka.

Ya, saya tidak meragukannya kok. TNI dan Polri sudah berjuang maksimal mengamankan negeri ini.

Sementara itu, Instagram dan WhatsApp serta Telegram kedapatan lumpuh. Saya sempat mengunggah foto di atas ini ke Instagram sekitar pukul 9 atau 10 lalu setelah itu tak ada lagi pembaruan. Anehnya, saat mengakses di Instagram melalui peramban web di laptop, saya masih bisa memantau feed. Apakah akses ke Instagram mobile saja yang diblokir? Aneh juga.

Sampai petang ini berlangsung. Pesan di WhatsApp menggantung di udara, tak kunjung terkirim dan terbaca. Telegram juga baru bisa digunakan sore tadi. Bahkan saat saya hendak menulis di Kompasiana, upaya log in berbuah kegagalan.

Namun, blog WordPress ini masih tetap bisa digunakan.

Begitu saya pulang, saya tanyai pengemudi ojek daring,”Kok masih kerja, pak? Kemarin ada yang bilang aplikasi dimatikan?”

“Ah nggak mas. Itu mungkin pilihan pribadi drivernya. Yang mau kerja ya kerja aja sih. Mungkin dia males aja karena di mana-mana jalan diblokir. Susah cari rute alternatif,” tuturnya.

Bener ugha…

Hahaha

Alhamdulillah ya.

Singkatnya, ibukota aman kok. Kerusuhan itu memang terjadi namun berhasil dilokalisir karena upaya preventif yang efektif dari Polri dan TNI.

Update:

8.13 pm

Wah ternyata benar. Menkominfo membatasi penggunaan media sosial hari ini. Itu untuk melokalisir hasutan provokatif di grup-grup WhatsApp agar tak makin meluas. Sementara itu, Line, telepon dan pesan singkat (SMS) masih bisa. Yes!!! ( sambil menonton press conference penangkapan 257 tersangka kerusuhan di markas brimob Petamburan)

Google Maps dan Privasi yang Terampas

smartphone car technology phone
Google Maps, buah simalakama. (Sumber foto: Pexels.com)

Turun dari ojek online yang saya tumpangi sore ini, saya terkejut.

Bukan karena saya menyaksikan pengemudi saya sedang menabrak sesuatu di depan kami. Ia mengendara dengan baik dan tertib. ia juga mengantarkan saya tepat di depan tempat tinggal saya.

Hanya saja, di depan kami ada seorang pria tinggi besar.

Bukan karena perawakannya yang demikian tetapi lebih karena barang bawaannya.

Barang bawaannya ini sangat menjulang. Bahkan sampai melampaui ubun-ubun kepalanya yang ditutupi oleh topi berwarna biru tua.

Sementara itu, barang bawaan di tas punggung besar tadi juga berwarna biru tua dan tampaknya sebuah kamera.

Kamera untuk apa?

Nah, karena penasaran saya terus ikuti gerak gerik pria itu hingga di ujung gang.

Benar saja dugaan saya. Alat yang ia bawa adalah perangkat kamera khusus dari Google untuk merekam lekuk-lekuk permukaan ‘tubuh’ Jakarta.

Saya jadi teringat dengan keisengan teman-teman kerja saya yang di suatu sore membuka Google Maps di komputer mereka dan secara virtual menelusuri rute dan lokasi rumah tempat tinggal masing-masing.

Area Jakarta dan sekitarnya tentu sudah bisa dirambah karena pada dasarnya semua sudah terekam jelas via satelit di atas bumi.

Hanya saja yang belum terekam adalah area permukiman yang masih belum ada akses memadai. Gang-gang sempit di permukiman urban yang kumuh dan padat penduduk.

Yang menurut saya agak mengejutkan adalah akurasi detailnya yang cukup ‘mengerikan’.

Betapa tidak?

Meskipun rumah asal saya bukan di ibukota, saya ternyata sudah bisa menemukannya di Google Maps. Itu artinya seseorang dengan mengendarai mobil (karena rumah orang tua saya tepat di depan jalan kampung) yang dilengkapi peralatan kamera Google Maps sudah melintas dan merekam tampilan fisik depan rumah kami. Tampak jelas properti yang dimiliki, misalnya berapa kendaraan pribadi yang dimiliki, berapa lantai di rumah tersebut, warna catnya, jenis gaya arsitektur rumahnya, dan kalau ‘beruntung’, terekam juga para penghuninya yang sedang berdiri atau duduk santai di teras rumah. Sekalian ‘mejeng’ dan terkenal di Google.

Untuk mereka yang hanya berpikir soal bagaimana menjadi terkenal dengan bisa dilacak orang lain dengan tampil di Google Maps, tentu hal ini dipandang sebagai suatu kecanggihan teknologi yang patut disyukuri. Belum ada teknologi semacam ini sebelumnya. Dan sangat membanggakan jika kita bisa menjadi bagian darinya. Setidaknya jika bukan sebagai produsen, menjadi konsumen juga tidak masalah. Asal tidak ketinggalan zaman!

Namun, tidak semua orang berpikiran demikian juga. Ada yang menyingkirkan pola pikir semacam itu dan justru berpikir sebaliknya, bahwa apa yang dianggap sebagian orang sebagai “kemajuan teknologi” ini adalah ancaman bagi privasi diri dan keluarganya.

Alasan ketakutan ini tentunya bukan tanpa alasan.

Ada risiko penyalahgunaan data tersebut oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab dan juga parahnya akan susah dilacak.

Keterbukaan akses menuju Google Maps ini patut menjadi perhatian kita semua.

Karena siapa yang mau rumahnya bisa diintai oleh oknum-oknum yang berniat kurang baik?

Kebetulan saja teman saya yang membuka Google Maps tidak berniat buruk dan cuma iseng ingin mengetahui seperti apa rumah saya. Bagaimana jika orang itu adalah mereka yang berniat mencuri, membobol rumah kita di musim Lebaran nanti?

Tentu saja skenario ini terkesan paranoid atau berlebihan. Namun, harus diakui bahwa ini celah yang bisa dimanfaatkan oleh para kriminal.

Dengan semakin ‘telanjangnya’ kita di depan Google, rasanya kita mesti mulai memikirkan bagaimana mengatasi risiko ini agar tidak menyesal di kemudian hari. (*/)

Jawa (Semestinya) Tak Lagi ‘Koentji’

Jakarta seharusnya memang sudah tidak layak menjadi ibukota abadi nusantara. Jawa apalagi Jakarta sudah habis-habisan. Penduduk padat, kemacetan yang menghabiskan biaya, masalah kompleks, beban lingkungan tinggi.

Wacana perpindahan ibukota sudah ada sejak 8 tahun lalu. Tapi tak juga terwujud. Cuma saat masa-masa jelang mudik seperti sekarang ini, terasa peliknya kepadatan arus mobilitas di Jawa dan mendesak adanya solusi segera.

Kalimantan dipilih karena risiko bencananya relatif lebih rendah kecuali risiko kebakaran hutan. Letusan gunung berapi relatif rendah karena memang tidak berada di Lingkaran Api (Ring of Fire).

Di era jokowi, terjadi upaya pergeseran paradigma negara agraris di era orba ke negara maritim.Lokasi ini idealnya tak perlu dipusingkan di provinsi mana karena ada yang lebih serius yakni perpindahan pusat peradaban sebuah bangsa besar.

Kota mana yang berpotensi menjadi pengganti Jakarta?Balikpapan, Batulicin, Tarakan bisa dikatakan kota kota dengan potensi tinggi karena aktif sebagai kota pelabuhan.Kriteria pemilihan ibukota baru ialah kondisi yang tak butuh biaya tinggi untuk penataan dan konstruksi. Yaitu yang landai, aman dari bencana-bencana alam.Sementara ini, yang digadang-gadang oleh jokowi ialah palangkaraya yang di kalimantan selatan.

Kenapa tidak bangun kota yang benar-benar baru? Karena biaya yang dibutuhkan bisa tinggi dan jaraknya juga biasanya dekat dengan pusat aktivitas pemerintahan dan ekonomi yang sudah ada.Selama ini ada kecemasan di antara kalangan pegawai negeri karena mereka harus pindah mengikuti ibukota sebagai pusat pemerintahan.

Tiga tahapan yang harus dilalui ialah:

1. Penentuan lahan yang pasti

2. Tata ruang yang beres: ada integrasi antara ibukota baru dengan kota di sekitarnya, bagaimana ibukota baru terkoneksi dengan

3. Peran dan fungsi: tentukan dulu fungsi dan peran ibukota baru. Misalnya Canberra menjadi pusat pemerintahan dan militer, bukan ekonomi Australia.Saat ini media terlalu cepat mengambil pemberitaan dengan pembangunan istana dsb.

Kita tidak perlu buru buru karena semua tahapan tadi dilalui dengan baik sehingga tidak ada kesalahan fatal.

Dan jangan lupa pengelolaan ibukota baru tersebut. Skema dan institusi pembiayaannya perlu dipikirkan masak-masak. Misalnya Batam diatur oleh badan Otorita Batam untuk membiayai pengelolaannya tanpa mengandalkan APBN.

Kalimantan jangan dibayangkan sebagai belantara hutan saja karena di dalamnya ada potensi kemaritiman. Daerah pesisirnya bisa dimanfaatkan secara maksimal, misalnya pulau derawan yang telah dikenal sebagai tujuan wisata menyelam yang molek.Biaya perpindahan bisa ditentukan dengan menaksir konektivitas infrastruktur. Misalnya Tarakan yang sudah banyak aktivitas antarkota dan penduduknya. Kota ini belum sebesar Banjarmasin atau Makassar tapi sudah relatif berpotensi tinggi.

Kita tak perlu pusing biaya dulu karena itu bergantung pada lokasinya. Biaya bisa disesuaikan bahkan bisa lebih rendah jika kita pilih lokasi yg tepat.

Lalu bagaimana dengan nasib Jakarta?

Ia bisa menjadi hunian yang lebih tertata karena bebannya sudah dikurangi!Isu ini memang sudah lama menyeruak dan kembali muncul. Jadi kali ini direalisasikan saja dengan memberikan payung hukum yang nyata. Apalagi sudah dilakukan sejumlah penelitian. Momentum ini jangan disia-siakan.

Bappenas sudah menentukan penyelesaian pemindahan ibukota ini hingga 2024. Idealnya adalah dengan membentuk institusi formal pengelolaan ibukota baru ini. Pembentukannya harus berdasarkan kompetensi sehingga tidak cuma birokrasi.

Percepatan dan pemerataan pembangunan memang bisa dicapai dengan pemindahan ibukota ini. Namun, tidak bisa disingkirkan risiko adanya kerusakan hutan di Kalimantan seiring dengan pemindahan ibukota. (*/)

%d bloggers like this: