Jawa (Semestinya) Tak Lagi ‘Koentji’

Jakarta seharusnya memang sudah tidak layak menjadi ibukota abadi nusantara. Jawa apalagi Jakarta sudah habis-habisan. Penduduk padat, kemacetan yang menghabiskan biaya, masalah kompleks, beban lingkungan tinggi.

Wacana perpindahan ibukota sudah ada sejak 8 tahun lalu. Tapi tak juga terwujud. Cuma saat masa-masa jelang mudik seperti sekarang ini, terasa peliknya kepadatan arus mobilitas di Jawa dan mendesak adanya solusi segera.

Kalimantan dipilih karena risiko bencananya relatif lebih rendah kecuali risiko kebakaran hutan. Letusan gunung berapi relatif rendah karena memang tidak berada di Lingkaran Api (Ring of Fire).

Di era jokowi, terjadi upaya pergeseran paradigma negara agraris di era orba ke negara maritim.Lokasi ini idealnya tak perlu dipusingkan di provinsi mana karena ada yang lebih serius yakni perpindahan pusat peradaban sebuah bangsa besar.

Kota mana yang berpotensi menjadi pengganti Jakarta?Balikpapan, Batulicin, Tarakan bisa dikatakan kota kota dengan potensi tinggi karena aktif sebagai kota pelabuhan.Kriteria pemilihan ibukota baru ialah kondisi yang tak butuh biaya tinggi untuk penataan dan konstruksi. Yaitu yang landai, aman dari bencana-bencana alam.Sementara ini, yang digadang-gadang oleh jokowi ialah palangkaraya yang di kalimantan selatan.

Kenapa tidak bangun kota yang benar-benar baru? Karena biaya yang dibutuhkan bisa tinggi dan jaraknya juga biasanya dekat dengan pusat aktivitas pemerintahan dan ekonomi yang sudah ada.Selama ini ada kecemasan di antara kalangan pegawai negeri karena mereka harus pindah mengikuti ibukota sebagai pusat pemerintahan.

Tiga tahapan yang harus dilalui ialah:

1. Penentuan lahan yang pasti

2. Tata ruang yang beres: ada integrasi antara ibukota baru dengan kota di sekitarnya, bagaimana ibukota baru terkoneksi dengan

3. Peran dan fungsi: tentukan dulu fungsi dan peran ibukota baru. Misalnya Canberra menjadi pusat pemerintahan dan militer, bukan ekonomi Australia.Saat ini media terlalu cepat mengambil pemberitaan dengan pembangunan istana dsb.

Kita tidak perlu buru buru karena semua tahapan tadi dilalui dengan baik sehingga tidak ada kesalahan fatal.

Dan jangan lupa pengelolaan ibukota baru tersebut. Skema dan institusi pembiayaannya perlu dipikirkan masak-masak. Misalnya Batam diatur oleh badan Otorita Batam untuk membiayai pengelolaannya tanpa mengandalkan APBN.

Kalimantan jangan dibayangkan sebagai belantara hutan saja karena di dalamnya ada potensi kemaritiman. Daerah pesisirnya bisa dimanfaatkan secara maksimal, misalnya pulau derawan yang telah dikenal sebagai tujuan wisata menyelam yang molek.Biaya perpindahan bisa ditentukan dengan menaksir konektivitas infrastruktur. Misalnya Tarakan yang sudah banyak aktivitas antarkota dan penduduknya. Kota ini belum sebesar Banjarmasin atau Makassar tapi sudah relatif berpotensi tinggi.

Kita tak perlu pusing biaya dulu karena itu bergantung pada lokasinya. Biaya bisa disesuaikan bahkan bisa lebih rendah jika kita pilih lokasi yg tepat.

Lalu bagaimana dengan nasib Jakarta?

Ia bisa menjadi hunian yang lebih tertata karena bebannya sudah dikurangi!Isu ini memang sudah lama menyeruak dan kembali muncul. Jadi kali ini direalisasikan saja dengan memberikan payung hukum yang nyata. Apalagi sudah dilakukan sejumlah penelitian. Momentum ini jangan disia-siakan.

Bappenas sudah menentukan penyelesaian pemindahan ibukota ini hingga 2024. Idealnya adalah dengan membentuk institusi formal pengelolaan ibukota baru ini. Pembentukannya harus berdasarkan kompetensi sehingga tidak cuma birokrasi.

Percepatan dan pemerataan pembangunan memang bisa dicapai dengan pemindahan ibukota ini. Namun, tidak bisa disingkirkan risiko adanya kerusakan hutan di Kalimantan seiring dengan pemindahan ibukota. (*/)

14 Comments Add yours

  1. dwimp3 says:

    jakarta menjadi begini karena urbanisasi yang tinggi akibat kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin yang besar. lebih banyak uang negara berputar di jakarta daripada kota-kota lain di Indonesia. lebih banyak penghasilan juga di sana. jadi semakin banyak orang yang tertarik untuk bekerja di sana. penduduk pun meningkat tidak diimbangi dengan panjang jalan raya, kendaraan dan regulasi lingkungan yang memadai. akibatnya kepadatan penduduk, kemacetan, pemukiman kumuh, hunian sempit, masalah lingkungan dll.

    1. akhlis says:

      Jadi alasan Anda tinggal di daerah adalah….?

      1. dwimp3 says:

        nggak punya uang buat ikut urbanisasi 😀

      2. akhlis says:

        Waduh. Perlu modal nih ceritanya.

      3. dwimp3 says:

        nggak kok. soal jakarta saya juga pingin pindah ibukota. biar nggak jenuh. dari dulu setting cerita di sinetron dan FTV masak jakarta terus. masak cerita di TV jakarta terus? emang nggak ada yang lain? emang Indonesia isinya cuma jakarta? padahal ada ratusan budaya dan suku bangsa tapi cuma 1 yang terus-terusan disyuting.

      4. akhlis says:

        Memang Jakartasentrisme masih kental di dunia hiburan kita. Semuanya mengklaim “artis ibukota”. Mana ada yang mau jadi artis daerah? Wkwkw. Coba syutingnya di Blitar ya…

      5. dwimp3 says:

        setuju. *ketahuan nih kota asal saya*
        di Blitar ada makam proklamator bung karno, presiden pertama RI. ada bekas rumahnya. jadi cerita historis nantinya. mungkin ada budaya di tempat lain juga. akhlis tinggal di mana?

      6. akhlis says:

        Jakarta selatan, broh

      7. dwimp3 says:

        oh, jakarta. jadi sudah tau banget ya soal jakarta? tiap hari liat kemacetan. banyak orang lalu lalang, lalu ada pelanggar lalu lintas. jakarta selatan apa sering terkena banjir juga?

      8. akhlis says:

        Haha tidak semua bagian jakarta rawan banjir. Sudah tinggal di sini sejak 9 th lalu jadi ya lumayan paham lah.

      9. dwimp3 says:

        akhlis kerja apa lo di jakarta? btw, di blog kamu nggak ada halaman profil ya? adanya 2 widget arsip yang panjang. aku jadi pingin tau lebih banyak soal kamu. biar jadi fren.

      10. akhlis says:

        Jadi copywriter.Ada di laman portfolio.

      11. dwimp3 says:

        oh. ini ya? https://www.akhlis.net/about-akhlis-net/ hebat. sudah bisa wawancara orang asing. mahasiswa sastra ya?

      12. akhlis says:

        Iya betul

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.