Suka Duka Pekerja Jasa

Kalau naik bus transjakarta, saya kerap ingin bertanya pada sopir atau kondekturnya:”Kalau mau kencing di tengah jalan, atau pas macet, solusinya gimana?”

Bagaimana tidak saya ingin bertanya seperti itu. Sopir dan kondektur ini biasanya berjam-jam di jalan. Entah itu duduk atau berdiri.

Yang saya amati, para sopir biasanya pria yang lebih tua. Ada sopir yang mirip siput. Walaupun jalan lega, tak sekalipun ia berniat menginjak pedal gas lebih dalam lagi. Mungkin ia pernah terkena tilang yang traumatis, atau mendengar seseorang mengalami kecelakaan yang tragis dan mampus seketika di aspal Jakarta yang membara terpanggang matahari tropis.

Sementara itu, yang ugal-ugalan juga ada. Mengerem suka mendadak. Membuat penumpang di barisan paling belakang melambung saat ban belakang terantuk sambungan logam di batas antara jalan biasa dan jalan layang. Nyeri bukan main kalau kurang sigap mengamankan bokong dan tulang ekor yang begitu berharga ini.

Para kondektur umumnya pemuda-pemudi umur duapuluhan. Masih bugar. Belum didera penyakit-penyakit degeneratif. Kandung kemih mereka masih kuat sehingga masih bisa menahan kencing berjam-jam. Usus besar dan rektum juga kuat untuk menahan berak di atas bus yang beroperasi seharian.

Saya terus saja bertanya bagaimana manusia bisa sekuat itu bekerja sambil menahan berak dan kencing dan dinginnya AC di dalam bus yang kadang ekstrim. Karena saya saja yang bekerja di dalam ruangan berpendingin harus ke kamar kecil setidaknya 1 jam sekali.

Apakah mereka pernah kencing atau berak di celana?

Belum pernah saya punya kelancangan melontarkan penyelidikan ini.

Pun saat saya mengunjungi restoran tatkala musim berbuka puasa sekarang. Saya bertanya-tanya, apakah pelayan-pelayan restoran ini sudah berbuka sendiri atau mereka terpaksa tak puasa karena tuntutan kerja? Mereka terus saja memasakkan dan menyuguhkan hidangan pada tetamu tetapi bagaimana dengan mereka sendiri? Apakah mereka cukup makan juga?

Kadang saya merasa bersalah juga melihat pelayan-pelayan itu mencuri pandang pada saya yang sibuk mengunyah. Saya merasa amat egois. Tapi tak bisa berbuat apa-apa.

Jarang sekali saya melihat mereka ke kamar mandi atau sekadar salat selama 5 menit. Saat kerja, berjalan dan berdiri adalah menu utama. Duduk cuma sesekali saat restoran sepi.

Dan meski sepi, tak juga saya lihat mereka makan atau minum. Ini manusia atau mesin sih? Saya yang semula kasihan menjadi heran.

Begitulah kerasnya kehidupan pekerja jasa di Jakarta.

Bahkan jika penghasilan Anda di sektor ini melebihi sopir transjakarta dan pelayan restoran yang mungkin sedikit lebih tinggi dari upah minimum regional DKI, belum tentu Anda bisa bersantai di sela-sela jam kerja.

Apakah mereka pernah memikirkan hal yang lain selain kerja dan kerja dan kerja?

Hobi misalnya?

Olahraga misalnya?

Menjaga pola makan contohnya?

Memikirkan rencana pengembangan karier contohnya?

Atau sekadar bersantai di tujuan rekreasi yang cukup dekat dan terjangkau misalnya?

Atau mengetahui perkembangan kebudayaan kontemporer contohnya?

Rasanya susah karena dunia mereka tak mengizinkan itu.

Dan cara satu-satunya memutus lingkaran setan ini ialah dengan mengenyam pendidikan yang lebih tinggi lagi.

Sehingga saat mendengar seorang office boy putus kuliah, saya sarankan ia melanjutkan lagi di kelas karyawan atau kelas akhir pekan. Pokoknya jangan sampai tidak kuliah. Karena berbekal ijazah S1 saja, persaingan kerja begitu ketat. Apalagi cuma ijazah SMA? (*/)

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in writing. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.