Olahraga Ketahanan dan Prestise di Baliknya

topless man standing at middle of field
(Photo by RUN 4 FFWPU on Pexels.com)

KARENA saya penulis, orang yang saya pertama ketahui melakukan olahraga ketahanan alias “endurance sports” ialah Haruki Murakami. Dalam memoar larinya yang berjudul “What I Talk About When I Talk About Running“, ia berkisah bahwa di usia 33 tahun ia sadar bahwa pola hidup kurang sehat (tidur dini hari, menulis seharian tanpa banyak bergerak) membuatnya tak akan bisa hidup lama. Dan karena kesehatan raga bobrok, ia bertanya bagaimana ia bisa menulis? Pekerjaan apapun yang ingin kita lakukan butuh kesehatan jasmani (dan rohani tentu). Dari sana, ia merombak pola hidupnya dan memulai berolahraga dengan berlari di dekat tempat tinggalnya. Makin lama, ia makin mahir berlari dan makin kuat. Begitu jogging sudah menjadi rutinitas harian, ia memberanikan diri ikut lomba marathon. Dan begitu ia sudah merasa membutuhkan tantangan lagi, ia ikut triathlon. Di situ, Murakami harus belajar berenang dengan teknik yang benar agar lebih efisien dalam menempuh jarak. Karena ternyata teknik berenang asal-asalan membuat kita lebih cepat lelah dan lebih lama mencapai garis akhir.

Dalam pengamatan saya sendiri, ada beberapa kenalan saya yang semula menekuni yoga kemudian mulai merambah ke olahraga ketahanan semacam ini. Mereka rela berlatih berbulan-bulan demi mempersiapkan diri dalam menjalani perlombaan di luar kota. Mereka rela merogoh kocek dalam untuk membeli tiket transportasi dan berangkat dini hari dengan bus atau pesawat (karena biasanya area lomba di kawasan terpencil dan berudara bersih di luar Jakarta, atau bahkan luar negara ini) lalu menginap di hotel yang tak murah dan bukannya bersantai-santai di saat libur atau cuti, mereka malah sengaja ‘menyiksa diri’, berlari sampai jantung hendak copot, muka merah padam, keringat bercucuran.

Tak aneh jika kita mencap olahraga ketahanan semacam triathlon dan marathon ini sebagai olahraga yang menguras segala sumber daya yang dimiliki seseorang. Saya saja kaget begitu tahu bahwa hanya untuk mengikuti marathon, yang kelihatannya hanya sekadar lari jarak jauh begitu, membutuhkan setidaknya anggaran 1.600 dollar AS! Siapa sangka, bukan? Jadi kalau Anda pikir ini olahraga murahan, Anda salah besar. Lain cerita kalau Anda pakai kaos olahraga seadanya, celana pendek santai dan sepatu kets saja untuk berlari di sekitar kompleks rumah. Manfaat kesehatannya ada memang tapi kebanggaan dan prestise? Nol besar.

Lari marathon dalam pengamatan saya terhadap teman-teman saya yang menggandrunginya setidaknya mengharuskan Anda membeli sepasang sepatu lari yang ‘layak’. Bukan sekadar sepatu kets 500 ribuan. Belum lagi Anda harus membeli outfit atau pakaian lari yang standar dan bermerek. Celana pendek dan kaos lari yang minim agar tak membuat repot saat bergerak. Belum lagi pembelian ‘gear’ seperti topi lari, botol minum, dan yang tak kalah penting produk smartwatch atau activity tracker yang harganya bisa jutaan rupiah!

Untuk bisa memiliki anggaran sebanyak ini dan waktu luang untuk bisa berlatih secara rutin memang diperlukan sumber daya yang tidak sedikit. Di samping itu, faktor gizi juga menjadi hal penting lainnya. Untuk bisa berlatih sekeras ini, seseorang yang masih berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari seperti sandang, (cicilan) papan, dan pangan tentunya tidak akan terpikir untuk sampai ke sana. Untuk hidup sehari-hari saja susah, bagaimana bisa sampai punya uang dan waktu untuk latihan marathon atau triathlon?

photo of woman doing peace sign
(Photo by RUN 4 FFWPU on Pexels.com)

Mengikuti olahraga keras seperti ini mungkin tidak terpikirkan oleh sebagian besar orang. Apa sih manfaatnya?

Tapi mari kita telaah dari sudut pandang psikologis. Kita manusia modern sehari-hari bekerja dengan begitu banyak tuntutan eksternal yang tinggi dan parameternya kadang berubah-ubah dan dinamis (baca: tidak jelas). Kita harus memuaskan keinginan bos, konsumen, kolega, klien, pasangan dan sebagainya. Namun, saat kita lari marathon dan menjalani triathlon, kita hanya dituntut untuk menyelesaikan satu tugas yang targetnya jelas. Garis akhirnya juga jelas dan konkret. Dan ini sangat MELEGAKAN. Plus sangat menyehatkan juga karena tubuh kita diajak bergerak, bangkit dari kursi yang diduduki setidaknya selama 8 jam sehari (bahkan lebih!).

Maka, saya sangat paham mengapa Murakami, penulis idola saya ini, sangat menikmati marathon dan triathlon. Ia tidak cuma menikmati endorfin yang dikeluarkan tubuh pasca berolahraga intens tapi juga bisa melepaskan ketegangan dari rutinitasnya menulis. Duduk, berpikir keras, dan mengejar ‘target’ kesempurnaan yang dalam dunia sastra sangatlah subjektif. Bagus tidaknya sebuah karya sastra tidak bisa diukur secara nyata dan jelas. Itu juga sangat bergantung pada penilaian dan penghakiman dari dunia luar (pembaca, kritikus sastra, dan sebagainya). (*/)

Faedah Salat dari Kacamata Sains

SEBAGAI seorang muslim, saya tidak ragu bahwa salat akan mendatangkan kebaikan. Pahala, sebut mereka yang lebih memandang salat sebagai ritual transaksional. Semua berdasarkan untung rugi.

Sejenak lepaskan perspektif itu dan bertanya pada diri kita: apakah kita masih akan tetap salat bila para ulama tak mengatakan akan ada pahala dan dosa yang kemudian akan diakumulasi untuk ditukar dengan ‘tiket’ menuju neraka atau surga?

Saya tak bisa berkata banyak soal besaran pahala atau semacamnya karena itu semua otoritas Allah semata.

Mari kita kaji salat dari segi raga dahulu. Sebuah studi ilmiah menarik perhatian saya karena periset di Binghamton University, State University of New York mengumumkan bahwa gerakan rukuk dalam salat dapat mengurangi keluhan sakit di punggung bawah (lower back pain) asal dilakukan secara benar dan rutin.

Gerakan salat dikatakan mirip latihan terapi fisik atau yoga. Dan uniknya, gerakan terapeutik yang berkhasiat serupa juga ditemukan dalam ritual doa umat Kristiani dan Yahudi.

Kesehatan fisik kita dipengaruhi oleh beragam faktor. Misalnya faktor sosial, kondisi ekonomi, keyakinan da gaya hidup.

Ilmuwan juga menemukan adanya kaitan erat antara kegiatan doa dan kesadaran menjaga pola hidup sehat. Ritual doa bisa mengusir stres dan kecemasan dan juga dapat dianggap sebagai cara mengatasi disfungsi syaraf dan otot tubuh.

Gerakan salat mana yang berkhasiat menekan sakit punggung bawah?

Ternyata gerakan rukuklah yang memiliki khasiat itu.

Memang rukuk membuat bagian punggung bawah mengalami tekanan tetapi sakit justru bisa dihindari atau dikurangi jika kita menggunakan posisi lutut dan sudut yang tepat antara punggung dan kaki. Sudut dikatakan bisa bervariasi berdasarkan proporsi dan bentuk tubuh pelaku.

Gerakan duduk bersimpuh dan sujud juga bisa meningkatkan elastisitas persendian di kaki.

Hanya saja, menurut peneliti, pelaku perlu merasakan dan bereksperimen untuk bisa menentukan sudut yang pas antara kaki dan punggung agar manfaat bagi punggung bawah tercapai. Bila dilakukan secara asal-asalan dan sudutnya kurang tepat, sakit justru bisa makin menjadi-jadi.

Nah, karena itu jika Anda sudah salat lima kali sehari tetapi mengeluhkan sakit punggung bawah, cobalah amati gerakan rukuk Anda. Apakah sudutnya sudah pas? Apakah kedua telapak tangan sudah di titik yang pas di kaki? Itu tugas Anda untuk mengamati sendiri. (*/)

Untuk Bahagia, Tak Perlu Bekerja Bagai Kuda

couple wearing horse mask
Haruskah bekerja siang malam bagai kuda sampai sukses tapi depresi atau cukup kerja santai dan lebih bahagia? Maunya sih kerja santai tapi juga sukses ya. ( Photo by THE COLLAB. on Pexels.com)

Di ibukota, bekerja 8 jam sehari sudah menjadi suatu kelaziman. Bahkan kalau itu belum cukup, bisa ditambah lembur, atau datang pagi, atau masuk lagi akhir pekan. Pokoknya, kalau bisa bekerja lebih lama dan keras, kenapa tidak?

Karena lebih lama kita bekerja, kita berpikir akan menjadi semakin produktif.

Ya, itu lain perkara.

Itu pola pikir bangsa Asia dan Amerika Serikat zaman sekarang. More is better.

Betul bahwa bekerja lebih baik daripada menganggur. Memiliki pekerjaan meskipun terkesan rendah asalkan halal dan tidak merugikan orang lain lebih terhormat daripada menjadi pengangguran di rumah.

Memiliki pekerjaan juga membuat kita lebih percaya diri di pergaulan masyarakat.

Dan yang terpenting, memiliki pekerjaan juga memberikan kita keseimbangan dalam hidup.

Bagaimana bisa?

Lihat saja hidup mereka yang sudah terlampau kaya. Mereka sampai harus menciptakan pekerjaan untuk diri mereka sendiri agar mereka tidak cuma hidup tanpa tujuan. Hidup yang cuma diisi foya-foya mungkin terasa menyenangkan bagi banyak orang tetapi secara mental dan psikologis serta spiritual, terasa hampa.

Namun, bagi banyak orang jelata seperti kita, bekerja adalah cara untuk mencapai kebahagiaan. Dan karena kebahagiaan butuh kemapanan finansial, kita bekerja untuk mendapatkan uang dan kenyamanan hidup.

Masalahnya kita sudah terlalu tergila-gila dengan bekerja. Elon Musk, entrepreneur  yang terkenal dengan PayPal, Space-X dan Tesla itu, pernah mengatakan bekerja selama 120 jam seminggu (yang artinya hampir setiap hari bekerja) adalah suatu keharusan jika mau sukses (yang logisnya kesuksesan membuat kita bahagia, meski tak selalu).

Tapi sebuah studi menyanggah pendapat Musk tersebut. Cuma dibutuhkan kerja selama 1 jam sehari agar seorang manusia bisa bahagia.

Studi ini melibatkan lebih dari 70.000 subjek di Inggris. Para subjek memiliki kesehatan mental yang lebih baik begitu mereka tidak lagi menganggur.

Namun, efek positif bekerja sudah bisa dirasakan pada keseimbangan mental manusia pada titik delapan jam kerja seminggu (1 jam per hari). Bukannya 8 jam sehari!

Bekerja lebih dari 8 jam seminggu, menurut ilmuwan, tidak akan menambah efek positif bekerja.

Betul bahwa tidak semua orang menginginkan jumlah jam kerja seminimal ini. Mereka yang sedang asyik membangun terobosan-terobosan baru seperti Elon Musk tentu saja tidak bisa cukup bekerja sejam sehari. Dapat dipahami jika (otak) mereka bekerja mati-matian bagai kuda.

Namun, jika Anda bukan tipe entrepreneur atau inventor atau maniak kerja seperti Musk, dan lebih ingin mendapatkan keseimbangan hidup dan kebahagiaan, cobalah bekerja selama 8 jam seminggu.

Lagi-lagi, ini juga tidak memungkinkan untuk semua orang.

Mereka yang bekerja penuh waktu atau di bawah kebijakan instansi atau dirundung masalah keuangan atau memiliki tanggungan yang masih butuh sokongan dana banyak, tentu saja bekerja sejam sehari bisa membuat mereka dirumahkan.

Ya, kalau tidak bisa, selanjutnya yang mungkin ialah menyiasati sikap dan pendekatan kita terhadap pekerjaan saja.

Anggap pekerjaan adalah suatu kegiatan positif pengisi waktu luang yang menyenangkan sepanjang masa produktif kita sebagai manusia modern.

Makanya jangan melakukan pekerjaan yang sangat dibenci. Atau kalau Anda benci, coba cari strategi untuk mencintainya.

Dengan mencintai pekerjaan, bekerja 8 jam sehari tak akan terasa demikian lama. Begitu kan? (*/)

Catatan Sejarah Perpecahan Islam Dulu dan Sekarang (bag 1)

Apakah Gigi Geraham Bungsu Harus Selalu Dicabut?

pain armchair dentist suffering
Cabut gigi (Photo by Pixabay on Pexels.com)

BEBERAPA hari lalu saya menjalani odentoctomy, alias operasi pencabutan gigi geraham bungsu. Gigi ini memang kerap menimbulkan permasalahan. Di banyak kasus, pertumbuhannya yang paling akhir dibandingkan gigi yang lain membuat posisinya kurang pas sehingga menyulitkan proses pembersihan dengan sikat gigi.

Dalam kasus saya, gigi geraham bungsu ini awalnya tumbuh dengan menimbulkan rasa nyeri dan kelamaan tak terasa nyeri namun posisinya lebih rendah dari gigi lain. Karenanya ia juga tidak berfungsi optimal dan memang tidak ada fungsinya dalam proses menghalusan makanan.

Di samping tidak adanya fungsi, gigi geraham saya ini juga tumbuh dalam posisi yang tidak seharusnya sehingga susah dibersihkan dan mulai berlubang. Nah, di sini saya rasa harus segera diambil tindakan medis agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan, mengingat kesehatan gigi dan mulut berkaitan erat dengan kesehatan organ-organ penting dalam tubuh.

Pra Operasi

Sebelum saya menjalani operasi kecil ini, saya disarankan sekali untuk menghindari begadang. Mengapa demikian? Mungkin karena begadang membuat tekanan darah meninggi dan hal ini kurang disarankan saat akan menjalani prosedur pembedahan meskipun seminor ini.

Selain itu saya juga disarankan makan kenyang sejam sebelum operasi sebab operasi bisa berjalan berjam-jam. Kata dokter gigi saya, operasi kadang cuma berlangsung 30 menit tapi ada juga yang bisa berlangsung sampai 4 jam. Tidak bisa ditebak. Bergantung pada kondisi masing-masing orang.

Syukurlah, ternyata operasi saya cuma berlangsung selama 30 menit lebih sedikit. Namun, tentu sebelum dan sesudahnya saya sudah harus menjalani sejumlah tindakan medis untuk memastikan semuanya berjalan lancar.

close up photography of a laughing woman
Photo by Úrsula Madariaga on Pexels.com

Sebelum operasi, saya berbaring dan bagian akar gigi dan gusi saya kemudian disuntik anastesi. Kepekaan syaraf di sekitar area yang akan digarap kemudian diuji. Begitu saya sudah mengatakan kesemutan dan merasakan kebas di area rahang kanan yang akan dioperasi, dokter gigi saya segera memulai. Diambil beberapa foto agar dokter dapat membandingkan area yang dioperasi, dan mengikuti perkembangannya nanti.

Saya sungguh bersyukur hidup di zaman kedokteran modern yang sudah mengenal ilmu anastesi yang begitu maju karena bayangkan saja bagaimana menjalani pencabutan gigi ini jika saya berada dalam kondisi sadar penuh. Bahkan di kondisi terbius secara lokal itu saja saya masih bisa merasakan gigi saya digerakkan oleh alat-alat yang entah bagaimana bentuk dan cara kerjanya (karena mata saya ditutup saat 2 dokter gigi dan 3 asistennya bekerja).

Kata teman saya, makin mahal biaya pencabutan, makin tidak sakit rasanya. Dan saya pikir, ia benar. Ia menceritakan sakit tak tertahankan akibat cabut gigi di Puskesmas yang cuma 7000 dan cabut gigi 400 ribu di klinik yang lebih mahal. Untuk pencabutan satu gigi geraham ini, saya mesti merogoh kocek 3,5 juta! Lumayan juga kan. Untungnya semua tertutup asuransi. Dan harga ini bukan yang paling mahal lho. Konon ada dokter gigi berpengalaman yang tak ragu mematok harga 4 juta sekali cabut karena bisa menjamin bebas sakit sama sekali.

Karena itu, saya sarankan jika Anda hendak mencabut gigi geraham bungsu Anda, pilihlah dokter gigi yang berpengalaman. Kecuali jika Anda ingin berhemat dan siap untuk menahan sakit yang sangat amat menyiksa, silakan saja.

Saat Operasi

Selama lebih dari 30 menit, saya harus membuka mulut. Dan sesekali mendengar ada gerakan radikal di area geraham saya. Ditekan-tekan, diputar, lalu terasa kosong. Lega.

Anastesi bekerja cukup ampuh karena bahkan saya merasa mengantuk. Tak heran karena operasi dilakukan selama siang hari saat saya biasa tidur siang.

Pasca Operasi

Setelah gigi sukses dicabut, saya masih harus berkumur 1 menit dengan cairan antiseptik dan menjalani penjahitan gusi agar luka yang ditimbulkan pasca operasi bisa segera menutup dan darah tak terus mengucur. Kemudian masih ada perlakuan lain yang mengharuskan saya tinggal di klinik setidaknya sampai 30 menit. Saya meninggalkan klinik dengan menggigit kasa untuk menghentikan pendarahan.

beautiful black and white close up death
Photo by Pixabay on Pexels.com

Masih banyak aturan yang harus saya patuhi begitu operasi selesai agar penyembuhan bisa berlangsung cepat dan optimal. Berikut adalah aturan tersebut:

  1. Mengompres pipi dekat area operasi dengan es selama 24 jam untuk meminimalkan pendarahan di area luka.
  2. Mengompres dengan air hangat setelah 24 jam pertama untuk melebarkan pembuluh darah dan meredakan pembengkakan.
  3. Makan makanan dan minuman dingin dan lunak selama 24 jam pertama. Bahkan yang bersuhu ruangan saja tidak disarankan. Makanan pedas juga dilarang.
  4. Jangan makan makanan keras. Makanan lunak paling aman agar tidak berisiko menusuk area yang luka.
  5. Jangan minum dengan sedotan. Karena kekuatan isapan bisa memicu pendarahan lebih banyak.
  6. Jangan meludah. Sama juga alasannya dengan yang di atas. Namun, saya merasa kesulitan untuk tidak meludah sebab mulut saya penuh darah dan saya tak mau menelannya.
  7. Jangan mengisap-isap. Kalau ada sisa makanan, minum air putih saja dan goyangkan mulut pelan.
  8. Jangan mengganggu area luka. Sampai benar-benar sembuh dan tertutup sendiri, lebih baik kita tidak mengutak-atik area bekas operasi.
  9. Jangan menggosok gigi dan berkumur selama 24 jam pertama pasca operasi. Intinya, jangan banyak menggerakkan dan mengusik mulut selama pendarahan masih terjadi. Bahkan untuk berkumur dalam wudhu saya menggunakan air minum yang dimasak agar tak terkena bakteri yang berbahaya.
  10. Buang kapas ( atau kain kassa) di mulut setelah operasi. Saya sendiri masih harus menggigit kapas ini untuk meminimalkan pendarahan di area luka sampai esok paginya.
  11. Minum obat secara teratur.
  12. Jangan berolahraga dahulu. Logis sekali karena banyak bergerak akan membuat pendarahan makin hebat. Untuk salat saja saya bahkan memilih duduk karena berdiri dengan kepala yang bergerak terlalu intens membuat area luka terasa berdenyut kencang.

Seberapa Penting Pencabutan Gigi Geraham Bungsu

Sebenarnya mencabut gigi geraham bungsu bukanlah tindakan medis wajib atau darurat namun suatu tindakan pencegahan. Meski sekarang terasa baik-baik saja, gigi geraham bungsu yang tumbuh dalam posisi yang tidak seharusnya seperti yang terjadi pada saya memang seharusnya dicabut demi mencegah terjadinya gangguan kesehatan gigi di masa datang.

Keputusan untuk dicabut atau tidak harus diambil oleh dokter gigi untuk tiap kasus. Tidak bisa digeneralisasi.

Risiko Pencabutan

Ada yang bertanya, apakah ada risikonya melakukan pencabutan gigi geraham bungsu? Tentu saja ada. Pasca operasi, pasien bisa mengalami komplikasi seperti infeksi luka dan kerusakan syaraf. Namun, jangan cemas karena dengan perkembangan teknologi medis saat ini, semua itu bisa ditekan.

Saya sendiri diberikan obat antibiotik untuk mencegah infeksi pada luka saya dan sebelumnya telah menjalani pemotretan panoramic gigi (pemindaian dengan sinar X) sehingga diketahui kondisi gigi dan mulut dengan akurat. Tidak sembarang cabut.

Menurut peneliti Hossein Ghaeminia di Radboud University Nijmegen Medical Centre yang dipublikasikan tahun 2017 di situs sciencedaily.com, intervensi pembedahan pada gigi geraham bungsu ini disertai dengan risiko komplikasi (misalnya infeksi dan kerusakan syaraf di bibir dan dagu). Namun, di sisi lain pembiaran gigi geraham bungsu yang tak bermasalah juga menimbulkan potensi kerusakan pada gigi lain di sekitarnya. Dan inilah yang terbukti terjadi pada saya.

Ghaeminia menyatakan ada beberapa faktor risiko yang perlu dipertimbangkan sebelum menjalani operasi pencabutan gigi geraham bungsu, di antara ialah infeksi. Semakin tua seseorang, semakin tinggi risiko terjadi infeksi. Ghaeminia mengatakan mereka yang berusia 26 tahun lebih dan para pasien perempuan memiliki risiko lebih tinggi mengalami infeksi.

Para perokok juga harus waspada karena kebiasaan buruk ini juga mengakibatkan mereka memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan non-perokok.

Meskipun konsumsi antibiotik akan menjamin risiko infeksi lebih rendah, tanpa antibiotik pun kita masih bisa menekan risiko infeksi. Caranya adalah dengan membasuh area bekas operasi dengan air yang bersih dan masak.

Bagaimana dengan Anda sendiri? Sudah pernah menjalani prosedur pencabutan gigi geraham ini? Atau sedang menimbang-nimbang apakah harus melakukannya atau tidak? (*/)

Sekarang Zamannya Memiliki 2 Karier Lebih

party glass architecture windows
Tidak perlu memilih salah satu. Jalani semuanya! (Photo by Negative Space on Pexels.com)

Masalah ini sebenarnya sudah ada di benak saya sejak lama. Mungkin sejak 9 tahun lalu saat saya mulai mengenal yoga.

Saat itu selain pekerjaan sebagai penulis, saya juga mulai menekuni yoga. Porsinya banyak menulis. Yoga masih sebagai kegemaran pengisi waktu senggang.

Namun begitu saya mulai makin menekuni yoga dan ditawari untuk menjadi pelatih, saya pikir:

“Haruskah saya fokus pada satu karier saja atau lebih?”

Sejak itu, saya menjalani keduanya dengan membagi waktu. Ada saat saya bisa melakukan keduanya. Ada juga saat saya harus berfokus pada satu. Untuk sekarang, karier yoga saya sedang vakum. Saya merasa perlu memperkaya diri lagi dengan pengetahuan dan kebijaksanaan sebelum akhirnya mengajar kembali.

Pemikiran untuk memiliki dan mengembangkan dua karier atau lebih memang tidak terhindarkan. Di zaman sekarang ini, makin banyak keterampilan spesifik yang bisa dikuasai, rasanya makin aman. Asal mau terus meningkatkan dan memperbarui pengetahuan dan keterampilan saja. Jangan berpuas diri.

Karena itu, saya tidak begitu stres tatkala satu karier memghadapi ganjalan atau tantangan atau kurang mencapai target. Karena masih ada karier lain sebagai tumpuan.

Ternyata hal yang sama juga dialami banyak orang. Saya baru membaca satu artikel di hbr.org yang bertajuk “Why you should have (at least) two careers” dan banyak yang mengena pada diri saya juga.

Penulisnya Kabir Sehgal menyatakan dalam tulisannya bahwa kita bisa menjalani dua atau lebih karier berbeda. Dua lebih baik dari satu, ujarnya.

Dalam kasus saya, saya menjalani dua karier sebagai penulis dan yogi dalam waktu yang sama dengan pemikiran agar bisa menjalani kedua kegemaran yang juga pekerjaan ini dengan bergantian.

Kadang saat saya memiliki penghasilan yang lebih rendah di karier menulis, penghasilan saya di yoga bisa menopang dan menyelamatkan “dapur”. Begitu juga sebaliknya.

Ini juga berlaku untuk peningkatan keterampilan di kedua karier tersebut. Jika penghasilan di karier menulis lumayan, saya bisa gunakan untuk mendanai proses belajar yoga.

Dan inilah strategi agar kita bisa menjalani passion tanpa harus kelaparan. Tetap jalani passion tapi juga jalani pekerjaan yang benar benar menghasilkan duit setiap hari. Begitu kata Elizabeth Gilbert yang pernah bersumpah untuk menjalani pekerjaan apapun demi menopang passion menulisnya. Dan ia sukses.

Sehgal juga menyebut soal memperluas jejaring di berbagai bidang. Jangan cuma berkutat di lingkaran pergaulan itu melulu. Berusaha temui orang baru agar koneksi meluas.

Menekuni dua karier atau lebih juga bisa memberikan kita ide inovatif. Ya, karena kita bisa memiliki perspektif yang lebih luas. Tidak cuma dari sudut pandang X melulu. Makanya jangan berpikiran sempit dan terkotak-kotak. (*/)

Tunda Alzheimer’s dengan Gosok Gigi

human skull with white background
Photo by Pixabay on Pexels.com

TUBUH kita adalah sebuah sistem yang dirancang secara unik. Dan karena ia adalah suatu kesatuan maka tidak aneh jika kita menemukan bahwa satu keluhan di organ tertentu bisa mempengaruhi organ lain yang mungkin kita pikir tidak atau kurang berkaitan.

Pendekatan holistik memang sangat diperlukan dalam memecahkan masalah kesehatan. Salah satu masalah kesehatan yang turut mendapat sorotan beberapa tahun terakhir ini yakni penyakit Alzheimer’s.

Saya sendiri baru mengetahui apa dan bagaimana penyakit ini setelah menyaksikan serial “Grey’s Anatomy”. Saat itu diceritakan ibu Meredith Grey sang protagonis menunjukkan penurunan daya ingat, yang kadang muncul tetapi kadang menghilang begitu saja. Saat ingatannya berfungsi normal, ibunya bisa mengenali Meredith, tetapi begitu Alzheimer’s mengambil alih, ibunya sama sekali tak mengenali anaknya sendiri. Sangat menyedihkan. Mungkin lebih menyedihkan melihat orang yang kita cintai mati seketika tetapi menyaksikan orang yang kita cintai tidak mengenali kita lagi dan melupakan kita juga saya pikir sama perihnya.

Alzheimer’s adalah salah satu di antara begitu banyak penyakit di dunia yang masih belum diketahui secara pasti penyebab pastinya. Dan karena itulah, yang bisa kita lakukan sementara waktu ini ialah mengetahui cara agar dapat memperlambat atau sekadar menurunkan risiko.

Baru-baru ini saya membaca bahwa kemalasan menjaga kesehatan gigi dan mulut berhubungan dengan Alzheimer’s. Temuan yang didapat oleh tim peneliti University of Bergen ini menyatakan bahwa memang ada kaitan erat antara penyakit gusi dan penyakit Alzheimer´s.

Para peneliti menemukan bahwa saat seseorang menderita penyakit gusi (gingivitis), risikonya menderita Alzheimer’s juga naik.

Bagaimana bisa hal itu terjadi?

Mereka merinci bahwa bakteri yang memicu penyakit gusi bisa bergerak dari area mulut menuju otak. Logis, karena letak mulut dan otak kita sangat dekat.

Bakteri menghasilkan sejenis protein yang menghancurkan sel-sel syaraf di otak dan kemudian memicu penurunan daya ingat yang mengarah pada penyakit Alzheimer´s.

Dikatakan bahwa keberadaan bakteri di mulut bukan penyebab Alzheimer’s tetapi adanya bakteri mempertinggi risiko menderita penyakit tersebut secara signifikan serta mempercepat Alzheimer’s menggerogoti ingatan penderitanya. Dengan kata lain, kesehatan mulut dan gusi yang buruk adalah katalis yang ‘baik’ bagi Alzheimer’s.

Tak hanya menggosok gigi tetapi kita juga disarankan menggunakan benang gigi atau dental floss agar pembersihan makin sempurna. Apalagi jika kita terlanjur menderita penyakit gusi dan di keluarga sudah ada anggota keluarga yang menderita Alzheimer’s. Dengan faktor risiko yang setinggi itu, seseorang wajib memeriksakan diri secara teratur ke dokter gigi dan membersihkan gigi dengan rutin dan sebaik mungkin.

Bagaimana dengan kita yang mungkin tidak memiliki risiko Alzheimer’s setinggi itu? Fakta bahwa tidak ada anggota keluarga yang terdiagnosis menderita Azheimer’s dan gigi serta gusi kita sehat-sehat saja tidak serta-merta membuat kita bisa malas menggosok gigi. Karena menjaga kebersihan dan kesehatan gigi dan gusi juga penting untuk kesehatan secara umum, termasuk mencegah serangan jantung seperti yang pernah saya tulis.

Jadi, jangan malas menggosok gigi dua kali sehari ya! (*/)

Kisah Odontektomiku

Jujur males banget sih tapi ya mau bagaimana lagi karena demi kenyamanan dan kesehatan jangka panjang ya kan?

Beginilah cerita odontektomiku…

Odontektomi sendiri ialah jenis operasi yang menurutku skalanya cukup besar ya (karena tanpa anastesi atau peredam sakit, itu kayaknya sebagian besar manusia pasti nggak bakal tahan) dan cukup berdarah-darah sih.

Seperti kita ketahui memang gigi geraham bungsu yang terletak di dekat rahang sering rawan dan menimbulkan masalah kesehatan jika tumbuh menyimpang. Posisinya bisa saja terdesak gigi lain atau tumbuh miring dan sebagainya.

Dalam kasusku, gigi geraham bawah kanan tumbuh dengan posisi yang miring dan melesak ke dalam sehingga untuk mengunyah juga tidak bisa maksimal. Malah ia menjadi sumber masalah sebab letaknya yang lebih rendah malah menjadi ‘tempat sampah’ bagi sisa makanan. Maka dari itu, aku memvonis: “Ya udah kamu harus enyahhhh!!!”

Keluhannya sebenarnya hilang dan muncul dari dulu. Kadang memang nyut-nyutan tapi masih tertahankan. Lalu makin tumbuh naik, ia menjadi sumber ketidaknyamanan saat mengunyah makanan. Dan jika tidak menggosok gigi dengan teliti sedikit sampai ke belakang, bau mulut bisa timbul dan terbukti mahkota gigi geraham belakang itu sudah agak kecokelatan sehingga pastinya sudah ada celah buat masuk mikrob pembusuk gigi.

Fix, no debate. Aku bulatkan tekad untuk ke dokter gigi untuk mencabutnya.

Pertama kusampaikan keluhan dan memang kasus ini lazim terjadi pada orang dewasa.

Memang tindakan yang dilakukan tidak serta merta mencabutnya, tapi dokter menyuruh saya menjalani foto panoramic gigi dahulu supaya tahu betul posisi gigi yang bermasalah ini apakah memang bisa menjadi sumber masalah atau bisa dilakukan tindakan lain yang lebih ringan.

Baru setelah dokter yakin memang gigi ini sumber masalah potensial bagi kesehatan saya, saya pun disiapkan untuk menjalani prosedur odontektomi. Jadi tidak bisa hari itu juga langsung dicabut setelah difoto panoramic. Harus sabar ya.

Setelah dokter siap, saya pun datang di sesi berikutnya dan menjalani odontektomi yang sekiranya berjalan lancar cuma makan waktu 1-2 jam saja. Kalau beruntung malah bisa kurang dari itu. Tergantung kondisi gigi yang bersangkutan sih. Kalau ukurannya dan akar giginya dalam dan besar, bahkan harus dipakai bor untuk memotong-motongnya dulu baru bisa dicabut sama sekali. Rumit memang.

Dan selama operasi tentu saja, mulut harus menganga terus. Duh! Pegal sungguh.

Sebelumnya saya disuntik anastesi lokal jadi gusi terasa kebas meski masih terasa sentuhan tangan dan bor dan gunting menyayat gusi saya tapi tak terasa sakit, sampai beberapa jam setelahnya.

Begitu operasi berakhir, saya harus terus menggigit kapas dan menggantinya beberapa jam sekali.

Di hari-hari pertama pasca odontektomi, tentu kegiatan makan dan minum adalah aktivitas yang sangat tidak nyaman sekali.

Tapi mau bagaimana lagi, kan saya lapar! Jadi saya lakoni saja meski harus sesekali menelan darah sendiri. Ugh.

Yang saya bisa telan hanyalah makanan halus dan minuman. Roti tawar dicelup ke susu, misalnya. Atau bubur. Pokoknya tidak ada kegiatan mengunyah. Stop sama sekali. Karena ya sakit sekali. Tekanan membuat darah tak kunjung berhenti.

Di hari pertama pasca odontektomi, saya mesti mengompres pipi dengan es agar darah berhenti lalu di hari berikutnya baru boleh kompres hangat supaya bengkaknya mengempis.

Di hari pertama dan beberapa hari setelahnya, saya juga disarankan makan yang dingin atau setidaknya bersuhu ruang. Tidak makanan panas yang bisa membuat suhu gigi dan gusi makin naik sehingga darah meleleh keluar lagi.

Di saat-saat ini, badan saya agak terasa demam sebab tubuh mengatasi luka setelah hilangnya gigi geraham tadi.

Selain hilang penderitaanku, tersedot juga anggaran. Tapi alhamdulillah bisa tercover asuransi swasta, karena klinik yang kupakai ini swasta. Bukan BPJS. Aku merasa ngeri karena di Puskesmas, ada yang bilang cabut gigi dengan anastesi ala kadarnya jadi kebasnya setengah-setengah, nggak bener-bener mati rasa. Ya namanya juga “terjangkau”, pasti dosisnya juga lebih irit. Duh! Nggak kebayang deh.

Saya sendiri habis odentoktomi masih bisa jalan ke mall untuk beli obat di apotek untuk meredakan nyeri dan menghentikan pendarahan luka.

Mungkin jika saya di Puskesmas, saya harus ditemani dan dibopong karena bisa jadi nyut-nyutannya itu nggak nahan.

Jadi memang harus diakui odontektomi ini adalah sebuah kemewahan ya. Tidak semua orang yang gigi geraham bungsunya perlu dicabut bisa menjalaninya dengan aman dan nyaman karena faktor dosis anastesi dan obat-obatan tadi yang memang nggak murah, bung! (*/)

Jalan Pagi ala Petinggi Negeri

Pagi yang agak mendung ini saya awali dengan aktivitas pagi reguler: olahraga. Dibuka dengan yoga dan dilanjutkan dengan calisthenics dan latihan dengan resistance band.

Sampai di bicycle crunch, tiba-tiba dari kejauhan muncul serombongan orang. Mereka disambut dengan salaman dari orang-orang yang bermain basket di ujung selatan lapangan ini.

Ah, siapa lagi ini?

Area ini memang sudah bukan rahasia lagi dimiliki para orang kaya lama Jakarta.

Mungkin pebisnis terkenal.

Atau…

Melihat pakaian mereka yang didominasi putih dan sarung serta peci, saya simpulkan mereka adalah santri-santri.

Dengan mata yang belum begitu parah didera rabun jauh, saya sempat mengenali. Ya, politisi itu. Salah satu sosok yang didengungkan namanya di berita-berita politik negeri ini selain presiden.

Saya lanjutkan bicycle crunch saya di matras ysng saya gelar. Lalu mereka melintas. Saya lanjutkan terus sampai tuntas.

Salah satu pria yang berseragam kaos dan saya duga keras adalah bodyguard politisi itu melempar pandangan ke saya yang terengah-engah di mat.

“Sstt…,” bunyi mulutnya pelan. Entah apa tujuannya mengarahkan suara itu ke saya.

Saya balik memandang dan terus mengayuhkan kaki bergantian ke udara. Tak peduli.

Sesi yoga kelar dan saya lanjut ke bar.

Beberapa repetisi ‘skin the cat‘ untuk melatih mobilitas sendi bahu dan mereka melintas lagi.

Dua atau tiga kali mereka memutari taman ini dan beranjak kembali. Rumah yang mana, saya tak tahu menahu.

Karena saya masih terus melanjutkan sesi olah tubuh saya.

Sambil menggumamkan mantra: FOKUS…FOKUS..FOKUS…

Lalu saya lapar, olah tubuh usai.

Raga lelah dengan paripurna.

Saatnya pulang. (*/)

Ongkos Mahal di Balik Mudik Seratus Ribuan

city traffic people smartphone
Mudik dengan motor memang asyik tetapi risikonya besar. (Photo by Skitterphoto on Pexels.com)

Ia menunggu saya dengan setia di pelataran depan.

Kemudian mengangguk begitu melihat saya yang memakai jaket biru tua, sebagaimana yang saya katakan dalam percakapan di aplikasi.

Melesatlah kami menuju ke rute yang saya biasa lewati. Rupanya ia sudah familiar di jalur ini. Bagus. Karena ada kalanya saya dapat pengemudi ojek aplikasi yang beroperasi bukan di ‘wilayahnya’ sehingga tak paham betul jalur-jalur pemangkas waktu.

Dan ia mengatakan lalu lintas masih bersahabat.

Saya katakan, ya karena masih musim liburan sekolah. Kalau sudah masuk sekolah, pasti juga subuh sudah berjubel di Pancoran sini.

Melewati jalan belakang Menara Bidakara, ia melontarkan kecapekannya mudik lebaran kali  ini.

Saya baru saja pulang mudik hari ini tadi, katanya.

Wah, apa tidak capek pak langsung narik gini? Saya bergumam.

Iya dari Purbalingga mas.

500 kilometer…

GILA.

Saya mudiknya bareng istri dan anak saya. Baru 8 bulan umurnya, tambahnya.

LEBIH GILA LAGI!!!

Hah masak pak?

Saya sendiri tidak bisa membayangkan seorang bayi yang begitu lemah dan peka harus berjibaku dengan debu-debu jalanan trans Jawa.

Saya jalannya pelan-pelan. Dua jam berhenti. Dua jam berhenti. Buat kasih makan, minumin susu. Terus ganti popok kalau perlu, imbuh pengendara ojek ini lagi.

Alhasil, karena kecepatan serendah itu, ia harus menghabiskan waktu 20 jam di jalanan.

Dalam benak saya, susah sekali membayangkan seorang ibu menggendong anak bayinya menembus jalanan Jakarta dengan sepeda motor. Dan ini apalagi, jalanan Trans Jawa yang tak rata dan bercampur dengan bus dan truk dan trailer. Sinting.

Bayangkan jika lelah dan lengah sedikit dan sepeda motor itu oleng disenggol oleh kendaraan lain yang lebih besar dan pengemudinya mengantuk dan ugal-ugalan.  Tamat riwayat semua keluarga itu.

Memang kenapa nggak naik bus aja pak? Saya bertanya serius.

Apakah tarif bus semahal itu untuk dia? Saya bertanya dalam hati.

Ya, bayangin aja mas, mudik naik travel aja 400 ribu seorang. Istri ama anak saya sih baliknya naik travel. Saya pulang naik motor sendirian. Cuma berangkatnya aja yang barengan.

Jadi, untuk standar penghasilannya sebagai pengemudi ojek yang tidak diakui di sektor formal, ia tidak mendapatkan THR (Tunjangan Hari raya) sehingga saya bisa sangat pahami bahwa mudik dengan sehemat mungkin adalah keharusan.

Mudik dengan motor ini saya cuma keluar uang bensin 100 ribu. Irit banget ini motor. Tadi pagi saya isi bensin di Cikampek dan ini aja masih bisa narik seharian, ia berujar bangga.

Dengan 100 ribu rupiah, ia sudah bisa mengarungi jarak 500 kilometer sampai rumahnya di Purbalingga, Jawa Tengah.

Yang saya bayangkan adalah keselamatan sistem pernapasan keluarga muda ini.

Bayangkan sepanjang 500 km harus menghirup udara kotor penuh polusi dengan cuma berbekal masker kain seadanya yang bahkan secara ilmiah tidak bisa memberikan perlindungan dari partikel polutan yang sangat halus, kata artikel ini.

Dan bayi 8 bulan tadi, meskipun tidak masuk angin (saya masih ingat bagaimana ayahnya dengan bangga mendengar dari dukun bayi di kampung yang memeriksa dan memijat si bayi begitu sampai kampung dari perjalanan 500 km itu (ia mengukur lewat penunjuk jarak di motornya, meskipun di atas kertas, ternyata jarak Jakarta-Purbalingga cuma 389 km menurut situs ini)), sangat mungkin juga menghirup partikel polutan sebanyak bapak ibunya sepanjang perjalanan.

Ia juga mengatakan banyak ortu mengajak bayi mereka mudik dengan sepeda motor karena murah.

Tapi bagaimana dengan risiko kesehatan dan keselamatan yang harus ditanggung?

Beginilah masyarakat Indonesia dan mungkin manusia pada umumnya, jika dihadapkan pada keterbatasan, hal-hal yang paling musykil pun bisa dilakukan.

Dan di tengah pertumbuhan ekonomi yang makin membanggakan (entah itu semu atau fakta, merata atau terpusat), adalah kewajiban moral bagi pemerintah dan pemberi kerja untuk memikirkan sarana mudik yang aman dan nyaman bagi keluarga-keluarga muda ini.

Caranya mungkin dengan memberikan keringanan tarif bagi mereka yang memiliki bayi. Berikan diskon atau insentif atau prioritas dibandingkan pemudik lajang atau yang tak membawa bayi. (*/)

Bisakah Genodics Diterapkan untuk Manusia?

several bunch of grapes
(Photo by Pexels.com)

GENODICS terdengar asing di telinga kita karena Indonesia bukanlah budaya anggur. Terminologi ini lebih banyak dikaitkan dengan budaya dan masyarakat Perancis yang sudah sejak ratusan tahun lalu memupuk budaya anggur di tanah air mereka.

Dalam pendekatan ilmiah Genodics, diyakini bahwa tanaman anggur bisa mencapai tingkat kesehatan dan produktivitas puncaknya dengan hanya menggunakan musik. Para petani anggur ini tak boleh menggunakan produk pestisida maupun produk lain yang bersifat kimiawi buatan.

Kebun-kebun anggur yang dimiliki para petani yang setia dengan pendekatan ilmiah Genodics ini memiliki sejumlah pengeras suara yang mengumandangkan musik klasik yang dominan dengan alat musik gesek (biola) seperti karya-karya Mozart atau Chopin. Gelombang suara dari musik klasik yang diputar itu menembus sel-sel tanaman anggur di seluruh penjuru kebun dan diharapkan bisa merangsang pertumbuhan dan ketahanan alamiah mereka terhadap serangan hama. Tujuan lainnya ialah agar mengurangi penyakit pada tanaman anggur.

“Hasilnya adalah gabungan alam dan musik dalam setiap botol anggur kami,” tulis pemilik kebun anggur bernama Château Gaby, yang mengklaim turut menerapkan pendekatan unik itu pada kebunnya.

Para ilmuwan telah mengeksplorasi efek-efek musik terhadap pertumbuhan tanaman selama berpuluh-puluh tahun. Namun, Genodics sendiri mengalami kemajuan dalam hal proses dan hasilnya sejak tahun 2008.

Pendekatan yang dipatenkan oleh seorang dokter asal Perancis bernama Joël Sternheimer ini bisa digambarkan sebagai berikut: memutar musik klasik di kebun anggur.

Durasi pemutaran musik ini bisa bervariasi. Ada yang memutar selama 7-8 jam tanpa henti. Ada juga yang memutar secara terus menerus dalam 24 jam, alias sehari semalam.

Yang sangat menarik ialah kewajiban untuk menggunakan musik klasik dalam pendekatan ini. Anda tidak bisa seenaknya berkata bosan lalu mengganti musik itu dengan musik pop kontemporer semacam lagu-lagu Justin Bieber, the Beatles, dan sebagainya. Efek positif pemutaran musik pop atau musik country seperti itu tercatat tidak banyak, kalaupun tidak bisa dikatakan “tidak ada”.

Cuma musik klasik yang dapat memberikan dampak positif pada pertumbuhan tanaman. Musik jazz dikatakan juga memiliki dampak yang baik tetapi masih sedikit di bawah musik klasik.

Jadi, meskipun saya tahu bahwa mendengarkan musik klasik secara ilmiah tidak bisa meningkatkan kecerdasan secara instan tetapi tetap saja saya ingin tahu bagaimana dampaknya pada kesehatan saya.

Selama ini saya mencoba lebih banyak memutar musik klasik sepanjang saya berolahraga di pagi hari. Alih-alih memutar lagu-lagu New Agey yang biasa diputar di kelas-kelas yoga (saya biasanya beryoga di pagi hari), saya mencoba memutar musik klasik dan merasakan sama bagusnya dengan musik-musik New Agey yang ke-India-India-an itu.

Bagaimana efeknya?

Saya belum bisa klaim hasilnya sekarang. Namun, sejauh ini saya bisa merasakan fokus yang lebih baik saat berlatih karena musik klasik. (*/)

photo of green leaf plants with brown wooden fences on brown soil
(Photo by Pexels.com)

 

Serba Serbi Tangisan Bayi

man holding and kissing baby
Photo by Leandro Vendramini on Pexels.com

Beberapa hari kemarin, saya jumpai berita tentang seorang selebritas muda yang geram karena di pesawat yang ia tumpangi ada bayi yang menangis dengan orang tuanya yang tak berdaya mendiamkan si bayi. Kenyamanan perjalanan yang terganggu itu membuatnya mengunggah sebuah kisah (story) di Instagram, dan nadanya yang membandingkan bayi dengan hewan peliharaan dan hewan lebih baik dan terkendali daripada bayi jika dibawa dalam pesawat (membawa hewan dalam pesawat memang dilarang keras). Sadar bahwa kekesalannya itu sebenarnya tak beralasan dan melihat orang tua si bayi yang kelelahan dan kebingungan, akhirnya si pesohor belia ini menghapus unggahannya itu.

Jujur, di masa mudik kemarin, di banyak penerbangan memang ada cukup banyak penumpang bayi dan balita. Saya sendiri menemukannya di pesawat yang saya tumpangi. Dan sama dengan kejadian yang dialami si artis tadi, seorang batita di pesawat yang saya naiki ini juga ‘berulah’. Sebelum pesawat lepas landas, ia sudah banyak meracau. Ingin turun, ingin ‘puyang’ (baca: pulang), dan sebagainya. Si pemangku yang mungkin orang tuanya sudah berulang kali berusaha mendiamkannya. Dan tangisan itu makin menjadi-jadi tatkala saat lepas landas tiba. Ia meraung-raung dan saya lihat para pramugari sudah menyerah dan ingin menutup telinga mereka sambil menghela napas panjang.

Mendengarkan tangisan anak kecil tanpa bisa berbuat apapun memang sangat amat menjengkelkan sekali. Mau cuek, kegaduhannya menggaruk-garuk lubang telinga. Mau ikut memberi saran dan sumbang tenaga untuk mendiamkan, sepertinya terlalu ikut campur tangan dan malah bisa menyinggung harga diri si orang tua. Yang hanya bisa dilakukan cuma menahan rasa masygul yang menumpuk terus menerus di setiap menit tangisan itu. Mau mengungkapkan kejengkelan secara terang-terangan seperti si artis tadi, yang akan dituai hanyalah kritikan pedas karena dianggap tidak punya hati nurani. “Coba saja nanti kalau punya anak serewel itu, baru tahu rasa!!!” begitu nada sanggahan pada para pengritik ini.

Tangisan bayi dan batita sering tak dipahami penyebabnya sehingga bahkan orang tua mereka tak tahu apa yang harus diperbuat. Biasanya alasan utamanya cuma 3: rasa lapar, rasa sakit, dan ketakutan. Hanya saja karena media komunikasi mereka terbatas dan bahasa juga belum dikuasai benar, akhirnya pelampiasannya hanya tangisan.

Menangis memang alat paling dasar dalam menyampaikan emosi-emosi negatif yang manusia rasakan.

Trik paling sederhana membedakan ketiga penyebab tangisan bayi ini cukup mudah sebenarnya. Kita bisa amati reaksi mata bayi. Jika menangis karena lapar atau ketakutan, biasanya mereka membuka mata saat meraung-raung. Namun, saat mereka merasakan sakit, biasanya mata akan tertutup.

Soal intensitas juga menentukan penyebab tangisan. Bila intensitasnya dari rendah ke makin tinggi, bisa diduga penyebab tangisan ialah rasa marah atau jengkel. Namun, jika intensitasnya sama terus menerus, kemungkinan pemicunya rasa sakit dan takut. Intensitas tangisan yang kencang dan konstan akibat sakit memang sudah desain alami agar sakit yang bisa jadi berbahaya bagi kelangsungan hidup bayi itu bisa langsung ditangani oleh manusia dewasa di sekitar bayi ini.

Tangisan bayi juga ternyata bisa mencerminkan kesehatannya secara umum. Bayi-bayi yang nada tangisannya sangat tinggi dan melengking mungkin memiliki problem kesehatan dalam tubuh dan syaraf mereka. Dari sebuah studi, diketahui bayi-bayi yang memiliki risiko medis (prematur misalnya), atau terpapar obat-obatan atau logam berat memiliki tangisan yang lebih melengking dan frekuensinya melebihi normal.

Lebih dari itu, tangisan bayi adalah tanda bahwa umat manusia memiliki penerus. Wajahat Ali berkata dalam TEF Talks-nya, memiliki bayi adalah suatu keputusan yang mulia. Tidak hanya karena makin banyak bayi berarti makin tinggi pertumbuhan ekonomi masa depan, tetapi juga karena memiliki bayi membawa banyak kebahagiaan – dan juga kesedihan dan banyak pengalaman – ke dalam kehidupan kita sebagai manusia di muka bumi ini. Dan pengalaman-pengalaman ini membuat kita merasakan keutuhan sebagai manusia. Tentu saja tak semua orang memiliki motif yang begini dalam dan filosofis soal memiliki anak tetapi alangkah bagusnya bila semua orang tua tahu alasan yang tepat untuk punya anak agar mereka lebih serius dalam membesarkan anak-anak mereka melewati masa depan yang tak pasti. (*/)

baby sleeping on white cotton
Photo by Pixabay on Pexels.com

%d bloggers like this: