Meruntuhkan Prasangka Lewat Memoar Etgar Keret

20190526_0805346616150484285010499.jpg
Memoar yang isinya esai-esai pendek penulis Israel ini ditulis dengan bahasa yang lugas tetapi menggelitik nurani. (Foto: Dok. pribadi)

Di suatu Minggu pagi yang cerah, dua mobil perpustakaan DKI Jakarta menyambangi Taman Menteng yang kerap saya datangi untuk berolahraga. Di bulan puasa ini saya memang masih tetap berolahraga di pagi hari. Memang tidak haus? Dengan pengalaman berpuasa selama 30 tahun lebih, saya pikir saya sudah menjadi kampiun soal menahan haus dan lapar jika memang diharuskan. Terlebih lagi dalam rangka ibadah. Jangan dijadikan masalah.

Mobil-mobil ini parkir dan kemudian menggelar tikar di lantai taman. Sangat ideal untuk membaca dan bermalas-malasan di suasana yang hangat dan lembab ini.

Lalu saya memilih beberapa buku. “Buku-buku yang sana itu bagus, mas,” kata petugas, seorang pria paruh baya dengan rambut yang mulai beruban sana-sini. Sangat ramah.

Saya memindai deretan buku itu. Tak banyak pilihan. Namanya saja perpustakaan keliling. Jangan berharap selengkap perpustakaan nasional yang segedung tinggi menjulang itu.

Saya tertarik dengan satu buku berjudul “The Seven Good Years“. Saya pikir isinya bahasa Inggris, tetapi saya salah. Isi memoar ini sudah diterjemahkan. Ketebalannya yang tak begitu ‘mengancam’ membuatnya cocok dijadikan bacaan santai. Tak membuat jidat berkerut pokoknya. Ringan tapi ternyata sangat bermakna.

Poin lain yang membuat saya tertarik ialah adanya pernyataan dari Eka Kurniawan, sastrawan Indonesia pemenang penghargaan Man’s Booker Prize itu, di sampulnya. Penerbit yang cerdas!

Di dalam testimoninya, Eka menyatakan buku tulisan penulis Israel bernama Etgar Keret itu sangat ia sukai karena “ia suka membaca memoar atau apapun soal kehidupan manusia. Sangat mengasyikkan untuk mempelajari bagaimana seseorang menyikapi kehidupan dan bagaimana kehidupan mereka membentuk diri mereka. Dan lebih baik jika di dalamnya saya bisa mengetahui eksistensi mereka sehari-hari, yang meski secara superfisial sangat membosankan, tapi kita tahu sebenarnya tak demikian. Keret menulis tentang dirinya sendiri sebagai penulis, warga Yahudi, warga negara Israel, seorang ayah, suami dan anak dalam kompilasi esai pendeknya ini. Seperti kebanyakan cerpennya yang sudah dibaca Eka selama beberapa tahun belakangan ini, esai-esai ini penuh humor, olok-olok pada diri sendiri, dan tentu, alusi yang tajam terhadap situasi geopolitik Timteng. Ada sopir taksi Tel Aviv yang bertemperamen buruk yang bahkan meminta maaf sambil meludah dan pejabat kroup yang membayangkan diri mereka sebagai kucing-kucing gendut dan malas yang tak terjangkau hukum manusia. Dari kisah yang dipenuhi ketakutan keret tentang orang Jerman yang mabuk sampai kedatangannya di Indonesia yang mayoritas warganya muslim (dan benci Israel!) sebagian buku ini sangat menyentuh (misalnya, kisahnya mengenai kerinduan terhadap Warsawa), yang lain bersifat naif (tentang bagaimana ia dengan aman bisa menyimpan uang di rekening bank asing) dan yang lainnya terkesan konyol (bagaimana berbohong pada telemarketer yang tak mau menyerah). Buku ini mirip seperti sebuah potret diri dalam sketsa-sketsa pendek dari beragam sudut pandang: di satu sisi sangat kaya, dan di sisi lain cukup menghibur”. Demikian tulis Eka di publisherWeekly.com.

Eka sudah menjelaskannya dengan tepat. Dan saya juga ingin menambahkan bahwa sebagai sebuah bangsa yang sangat anti-Semit, orang Indonesia perlu sekali membaca buku-buku penulis Israel karena baiklah, kita benci sikap dan pendekatan pemerintah Israel sebagai opresor atau penindas Palestina. Namun, jangan menyederhanakan secara berlebihan isu ini sebagai isu perbedaan agama semata. Tidak bisa dipungkiri ada begitu banyak faktor yang terlibat di dalam konflik Palestina-Israel yang sudah kronis ini sehingga perlu ada sikap dewasa untuk memecahkannya dari banyak pihak yang terlibat.

Dan fungsi sastra ialah membangun jembatan melalui karya-karya tulis, seperti memoar Keret ini. Di dalam memoar, kita menjadi paham bahwa meskipun Keret warga Israel dan Yahudi tetapi ia memiliki simpati pada Palestina. Namun, ia juga manusia yang tidak bisa hidup tenang jika dihantui teror.

Dalam memoar ini, kita disuguhi kenyataan yang sangat kompleks bahwa manusia tidak hanya memiliki satu atau dua identitas dengan pemikiran yang seragam dan tipikal. Mereka bisa saja Israel tetapi pro Palestina. Ada orang Yahudi tapi juga masuk Islam atau Kristen. Ada Yahudi pendukung Zionisme, ada yang sama sekali tak setuju dengan itu. Mereka bisa saja sama-sama orang Yahudi tetapi berbeda pandangan tentang wacana mengizinkan anak laki-laki mereka ke angkatan bersenjata atau tidak.

Dan karena kerumitan inilah, konfliknya juga tidak bisa dipecahkan dengan pendekatan yang simplistik. Dan tentu saja, kita harus berani berlapang dada jika ada sebagian dari orang yang menentang narasi kemanusiaan ini. Mereka lebih suka menyederhanakan kaum lain sebagai musuh atau kawan. Yang musuh dihancurkan, yang kawan dirangkul.

Ada yang berpikir berjuang (baca: “jihad”) adalah dengan memerangi dan membunuh orang yang kafir termasuk orang Nasrani dan Yahudi. Konflik akan berakhir jika dan hanya jika musuh musnah sama sekali. Tetapi ada juga yang memilih berjuang mengakhiri konflik dengan cara yang lebih lembut dan manusiawi, yakni dengan pena seperti Etgar Keret di sini. Mana yang salah dan benar? Mungkin ini bisa dibicarakan di luar koridor benar atau salah. Akan lebih baik jika kita melihatnya sebagai suatu tantangan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik bukan cuma untuk kita sendiri tetapi juga manusia lain di luar kelompok kita dan setelah generasi kita. (*/)

Author: akhlis

Writer & yogi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: