Sukses Sekali dan Terakhir

harperlee_2007nov05Meskipun belum pernah membaca “To Kill a Mockingbird” (dan sekarang sedang meminjam bukunya untuk dibaca), saya tertarik dengan kisah novelis Nelle Harper Lee (1926-2016) yang bisa dikatakan menjadi “one hit wonder”, alias kesuksesan yang terjadi sekali seumur hidup.

Novel tersebut diterbitkan jauh sebelum saya lahir, yakni tahun 1960. Novel itu begitu sukses sampai dibuat sebuah film sebagai hasil adaptasinya. Si pengarang juga diganjar dengan Pulitzer prize pada tahun 1961. Tak cuma itu, “To Kill a Mockingbird” bahkan dinobatkan sebagai salah satu dari karya besar dalam jajaran karya sastra Amerika modern. Sebuah pencapaian yang tidak bisa dianggap remeh untuk seorang novelis perempuan yang baru saja menerbitkan karya perdananya.

Sebagai seorang penulis, deretan karyanya yang dikenal publik memang tidak banyak. Selain menulis esai soal sejarah Alabama, ia tercatat menelurkan satu novel saja semasa hidupnya. Novel “Go Set a Watchman” miliknya diterbitkan setelah ia meninggal dunia. Padahal usianya relatif panjang untuk seorang novelis, yakni 89 tahun. Ia bisa saja menulis lebih banyak novel sepanjang waktu hidupnya.

Orang-orang bertanya-tanya pula mengapa ia bisa terjebak dalam masa vakum yang selama itu. Apakah Harper Lee sudah bosan menulis? Apakah ia menemukan kesibukan dan passion lain yang lebih memberikan kepuasan bagi dirinya?

Pertanyaan itu mendapatkan sedikit pencerahan dalam sebuah tulisan yang dibuat oleh Lucas Wittmann di majalah Time edisi 20 Mei 2019 lalu. Berjudul “Harper Lee’s true-crime days“, tulisan singkat Wittmann menjelaskan kesibukan yang menyedot energi si pengarang setelah novel perdananya tadi meraup sukses dan filmnya diapresiasi oleh masyarakat secara luas.

Harper Lee dianggap menghilang dari peredaran di masa keemasan kariernya dan tak kunjung menerbitkan karya baru.

Ternyata ia menghabiskan waktunya melakukan observasi terhadap kehidupan Rev. Willie Maxwell, dan Tom Radney yang seorang pengacara progresif. Maxwell ialah pemuka agama di perdesaan yang dituduh melakukan tindakan pembunuhan terhadap 5 anggota keluarganya sendiri.

Dengan bantuan Radney, ia berhasil melepaskan diri dari jeratan hukum, meraup uang banyak dari polis asuransi yang diatasnamakan para anggota keluarganya yang tewas tanpa sebab jelas itu.

Keberuntungannya berakhir tatkala pemakaman putri tirinya dilakukan. Maxwell ditembak mati di pekuburan yang masih basah itu.

Harper Lee menulis kisah nyata ini namun upayanya menjadikan karya fiksi tak kunjung membuahkan hasil. Bahkan sampai ajal menjemputnya tahun 2016 lalu pada usia 89 tahun. (*/)

One Comment Add yours

  1. dwimp3 says:

    sekali berarti, setelah itu mati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.