Serba Serbi Tangisan Bayi

man holding and kissing baby

Photo by Leandro Vendramini on Pexels.com

Beberapa hari kemarin, saya jumpai berita tentang seorang selebritas muda yang geram karena di pesawat yang ia tumpangi ada bayi yang menangis dengan orang tuanya yang tak berdaya mendiamkan si bayi. Kenyamanan perjalanan yang terganggu itu membuatnya mengunggah sebuah kisah (story) di Instagram, dan nadanya yang membandingkan bayi dengan hewan peliharaan dan hewan lebih baik dan terkendali daripada bayi jika dibawa dalam pesawat (membawa hewan dalam pesawat memang dilarang keras). Sadar bahwa kekesalannya itu sebenarnya tak beralasan dan melihat orang tua si bayi yang kelelahan dan kebingungan, akhirnya si pesohor belia ini menghapus unggahannya itu.

Jujur, di masa mudik kemarin, di banyak penerbangan memang ada cukup banyak penumpang bayi dan balita. Saya sendiri menemukannya di pesawat yang saya tumpangi. Dan sama dengan kejadian yang dialami si artis tadi, seorang batita di pesawat yang saya naiki ini juga ‘berulah’. Sebelum pesawat lepas landas, ia sudah banyak meracau. Ingin turun, ingin ‘puyang’ (baca: pulang), dan sebagainya. Si pemangku yang mungkin orang tuanya sudah berulang kali berusaha mendiamkannya. Dan tangisan itu makin menjadi-jadi tatkala saat lepas landas tiba. Ia meraung-raung dan saya lihat para pramugari sudah menyerah dan ingin menutup telinga mereka sambil menghela napas panjang.

Mendengarkan tangisan anak kecil tanpa bisa berbuat apapun memang sangat amat menjengkelkan sekali. Mau cuek, kegaduhannya menggaruk-garuk lubang telinga. Mau ikut memberi saran dan sumbang tenaga untuk mendiamkan, sepertinya terlalu ikut campur tangan dan malah bisa menyinggung harga diri si orang tua. Yang hanya bisa dilakukan cuma menahan rasa masygul yang menumpuk terus menerus di setiap menit tangisan itu. Mau mengungkapkan kejengkelan secara terang-terangan seperti si artis tadi, yang akan dituai hanyalah kritikan pedas karena dianggap tidak punya hati nurani. “Coba saja nanti kalau punya anak serewel itu, baru tahu rasa!!!” begitu nada sanggahan pada para pengritik ini.

Tangisan bayi dan batita sering tak dipahami penyebabnya sehingga bahkan orang tua mereka tak tahu apa yang harus diperbuat. Biasanya alasan utamanya cuma 3: rasa lapar, rasa sakit, dan ketakutan. Hanya saja karena media komunikasi mereka terbatas dan bahasa juga belum dikuasai benar, akhirnya pelampiasannya hanya tangisan.

Menangis memang alat paling dasar dalam menyampaikan emosi-emosi negatif yang manusia rasakan.

Trik paling sederhana membedakan ketiga penyebab tangisan bayi ini cukup mudah sebenarnya. Kita bisa amati reaksi mata bayi. Jika menangis karena lapar atau ketakutan, biasanya mereka membuka mata saat meraung-raung. Namun, saat mereka merasakan sakit, biasanya mata akan tertutup.

Soal intensitas juga menentukan penyebab tangisan. Bila intensitasnya dari rendah ke makin tinggi, bisa diduga penyebab tangisan ialah rasa marah atau jengkel. Namun, jika intensitasnya sama terus menerus, kemungkinan pemicunya rasa sakit dan takut. Intensitas tangisan yang kencang dan konstan akibat sakit memang sudah desain alami agar sakit yang bisa jadi berbahaya bagi kelangsungan hidup bayi itu bisa langsung ditangani oleh manusia dewasa di sekitar bayi ini.

Tangisan bayi juga ternyata bisa mencerminkan kesehatannya secara umum. Bayi-bayi yang nada tangisannya sangat tinggi dan melengking mungkin memiliki problem kesehatan dalam tubuh dan syaraf mereka. Dari sebuah studi, diketahui bayi-bayi yang memiliki risiko medis (prematur misalnya), atau terpapar obat-obatan atau logam berat memiliki tangisan yang lebih melengking dan frekuensinya melebihi normal.

Lebih dari itu, tangisan bayi adalah tanda bahwa umat manusia memiliki penerus. Wajahat Ali berkata dalam TEF Talks-nya, memiliki bayi adalah suatu keputusan yang mulia. Tidak hanya karena makin banyak bayi berarti makin tinggi pertumbuhan ekonomi masa depan, tetapi juga karena memiliki bayi membawa banyak kebahagiaan – dan juga kesedihan dan banyak pengalaman – ke dalam kehidupan kita sebagai manusia di muka bumi ini. Dan pengalaman-pengalaman ini membuat kita merasakan keutuhan sebagai manusia. Tentu saja tak semua orang memiliki motif yang begini dalam dan filosofis soal memiliki anak tetapi alangkah bagusnya bila semua orang tua tahu alasan yang tepat untuk punya anak agar mereka lebih serius dalam membesarkan anak-anak mereka melewati masa depan yang tak pasti. (*/)

baby sleeping on white cotton

Photo by Pixabay on Pexels.com

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in writing. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.