Ongkos Mahal di Balik Mudik Seratus Ribuan

city traffic people smartphone

Mudik dengan motor memang asyik tetapi risikonya besar. (Photo by Skitterphoto on Pexels.com)

Ia menunggu saya dengan setia di pelataran depan.

Kemudian mengangguk begitu melihat saya yang memakai jaket biru tua, sebagaimana yang saya katakan dalam percakapan di aplikasi.

Melesatlah kami menuju ke rute yang saya biasa lewati. Rupanya ia sudah familiar di jalur ini. Bagus. Karena ada kalanya saya dapat pengemudi ojek aplikasi yang beroperasi bukan di ‘wilayahnya’ sehingga tak paham betul jalur-jalur pemangkas waktu.

Dan ia mengatakan lalu lintas masih bersahabat.

Saya katakan, ya karena masih musim liburan sekolah. Kalau sudah masuk sekolah, pasti juga subuh sudah berjubel di Pancoran sini.

Melewati jalan belakang Menara Bidakara, ia melontarkan kecapekannya mudik lebaran kali  ini.

Saya baru saja pulang mudik hari ini tadi, katanya.

Wah, apa tidak capek pak langsung narik gini? Saya bergumam.

Iya dari Purbalingga mas.

500 kilometer…

GILA.

Saya mudiknya bareng istri dan anak saya. Baru 8 bulan umurnya, tambahnya.

LEBIH GILA LAGI!!!

Hah masak pak?

Saya sendiri tidak bisa membayangkan seorang bayi yang begitu lemah dan peka harus berjibaku dengan debu-debu jalanan trans Jawa.

Saya jalannya pelan-pelan. Dua jam berhenti. Dua jam berhenti. Buat kasih makan, minumin susu. Terus ganti popok kalau perlu, imbuh pengendara ojek ini lagi.

Alhasil, karena kecepatan serendah itu, ia harus menghabiskan waktu 20 jam di jalanan.

Dalam benak saya, susah sekali membayangkan seorang ibu menggendong anak bayinya menembus jalanan Jakarta dengan sepeda motor. Dan ini apalagi, jalanan Trans Jawa yang tak rata dan bercampur dengan bus dan truk dan trailer. Sinting.

Bayangkan jika lelah dan lengah sedikit dan sepeda motor itu oleng disenggol oleh kendaraan lain yang lebih besar dan pengemudinya mengantuk dan ugal-ugalan.  Tamat riwayat semua keluarga itu.

Memang kenapa nggak naik bus aja pak? Saya bertanya serius.

Apakah tarif bus semahal itu untuk dia? Saya bertanya dalam hati.

Ya, bayangin aja mas, mudik naik travel aja 400 ribu seorang. Istri ama anak saya sih baliknya naik travel. Saya pulang naik motor sendirian. Cuma berangkatnya aja yang barengan.

Jadi, untuk standar penghasilannya sebagai pengemudi ojek yang tidak diakui di sektor formal, ia tidak mendapatkan THR (Tunjangan Hari raya) sehingga saya bisa sangat pahami bahwa mudik dengan sehemat mungkin adalah keharusan.

Mudik dengan motor ini saya cuma keluar uang bensin 100 ribu. Irit banget ini motor. Tadi pagi saya isi bensin di Cikampek dan ini aja masih bisa narik seharian, ia berujar bangga.

Dengan 100 ribu rupiah, ia sudah bisa mengarungi jarak 500 kilometer sampai rumahnya di Purbalingga, Jawa Tengah.

Yang saya bayangkan adalah keselamatan sistem pernapasan keluarga muda ini.

Bayangkan sepanjang 500 km harus menghirup udara kotor penuh polusi dengan cuma berbekal masker kain seadanya yang bahkan secara ilmiah tidak bisa memberikan perlindungan dari partikel polutan yang sangat halus, kata artikel ini.

Dan bayi 8 bulan tadi, meskipun tidak masuk angin (saya masih ingat bagaimana ayahnya dengan bangga mendengar dari dukun bayi di kampung yang memeriksa dan memijat si bayi begitu sampai kampung dari perjalanan 500 km itu (ia mengukur lewat penunjuk jarak di motornya, meskipun di atas kertas, ternyata jarak Jakarta-Purbalingga cuma 389 km menurut situs ini)), sangat mungkin juga menghirup partikel polutan sebanyak bapak ibunya sepanjang perjalanan.

Ia juga mengatakan banyak ortu mengajak bayi mereka mudik dengan sepeda motor karena murah.

Tapi bagaimana dengan risiko kesehatan dan keselamatan yang harus ditanggung?

Beginilah masyarakat Indonesia dan mungkin manusia pada umumnya, jika dihadapkan pada keterbatasan, hal-hal yang paling musykil pun bisa dilakukan.

Dan di tengah pertumbuhan ekonomi yang makin membanggakan (entah itu semu atau fakta, merata atau terpusat), adalah kewajiban moral bagi pemerintah dan pemberi kerja untuk memikirkan sarana mudik yang aman dan nyaman bagi keluarga-keluarga muda ini.

Caranya mungkin dengan memberikan keringanan tarif bagi mereka yang memiliki bayi. Berikan diskon atau insentif atau prioritas dibandingkan pemudik lajang atau yang tak membawa bayi. (*/)

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in save our nation and tagged , , , . Bookmark the permalink.

10 Responses to Ongkos Mahal di Balik Mudik Seratus Ribuan

  1. Naik motor jauh memang berisiko tinggi, apalagi hanya berhenti sesaat di jalan. Saya mengalami perjalanan paling jauh sekitar 150 Km dengan bersepeda motor seorang diri sudah merasakan bahaya dan risiko perjalanan. Apalagi kalau membawa istri dan anak, tidak terbayang bagaimana rasanya berani mengambil risiko seperti itu. Harga angkutan umum memang relatif mahal, jika sudah kisaran ratusan ribu per orang untuk keluarga yang berpenghasilan UMR tanpa THR. Sepertinya belum ada rute kereta api dari Jakarta – Purbalingga, biasanya saya dan keluarga lebih memilih kereta api yang terjangkau dibandingkan bus.

  2. dwimp3 says:

    kesehtan itu mahal. mungkin mereka gak mampu bayar biaya perjalanan yang berkualitas untuk menjaga kesehatan, sehingga mampunya melakukan perjalanan dengan biaya murah dan mengorbankan kesehatan.

    • akhlis says:

      Ya begitulah. Kasihan sih tapi kalau ingat ekspresi dan nada cerianya pengemudi saat cerita, ia nggak mikir sampai ke situ. Sudah bisa sampai dg selamat dan kembali ke jakarta dengan utuh juga sudah karunia tersendiri. Nanti kalau kamu punya anak , jangan diajak mudik kayak gitu ya. Kasihan

  3. dwimp3 says:

    saya juga kurang bisa menjaga kualitas kesehatan karena membutuhkan biaya yang mahal. misalnya check up rutin ke dokter, periksa ke dokter gigi, pijat, fitness rutin ke gym dll.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.