Kisah Odontektomiku

Jujur males banget sih tapi ya mau bagaimana lagi karena demi kenyamanan dan kesehatan jangka panjang ya kan?

Beginilah cerita odontektomiku…

Odontektomi sendiri ialah jenis operasi yang menurutku skalanya cukup besar ya (karena tanpa anastesi atau peredam sakit, itu kayaknya sebagian besar manusia pasti nggak bakal tahan) dan cukup berdarah-darah sih.

Seperti kita ketahui memang gigi geraham bungsu yang terletak di dekat rahang sering rawan dan menimbulkan masalah kesehatan jika tumbuh menyimpang. Posisinya bisa saja terdesak gigi lain atau tumbuh miring dan sebagainya.

Dalam kasusku, gigi geraham bawah kanan tumbuh dengan posisi yang miring dan melesak ke dalam sehingga untuk mengunyah juga tidak bisa maksimal. Malah ia menjadi sumber masalah sebab letaknya yang lebih rendah malah menjadi ‘tempat sampah’ bagi sisa makanan. Maka dari itu, aku memvonis: “Ya udah kamu harus enyahhhh!!!”

Keluhannya sebenarnya hilang dan muncul dari dulu. Kadang memang nyut-nyutan tapi masih tertahankan. Lalu makin tumbuh naik, ia menjadi sumber ketidaknyamanan saat mengunyah makanan. Dan jika tidak menggosok gigi dengan teliti sedikit sampai ke belakang, bau mulut bisa timbul dan terbukti mahkota gigi geraham belakang itu sudah agak kecokelatan sehingga pastinya sudah ada celah buat masuk mikrob pembusuk gigi.

Fix, no debate. Aku bulatkan tekad untuk ke dokter gigi untuk mencabutnya.

Pertama kusampaikan keluhan dan memang kasus ini lazim terjadi pada orang dewasa.

Memang tindakan yang dilakukan tidak serta merta mencabutnya, tapi dokter menyuruh saya menjalani foto panoramic gigi dahulu supaya tahu betul posisi gigi yang bermasalah ini apakah memang bisa menjadi sumber masalah atau bisa dilakukan tindakan lain yang lebih ringan.

Baru setelah dokter yakin memang gigi ini sumber masalah potensial bagi kesehatan saya, saya pun disiapkan untuk menjalani prosedur odontektomi. Jadi tidak bisa hari itu juga langsung dicabut setelah difoto panoramic. Harus sabar ya.

Setelah dokter siap, saya pun datang di sesi berikutnya dan menjalani odontektomi yang sekiranya berjalan lancar cuma makan waktu 1-2 jam saja. Kalau beruntung malah bisa kurang dari itu. Tergantung kondisi gigi yang bersangkutan sih. Kalau ukurannya dan akar giginya dalam dan besar, bahkan harus dipakai bor untuk memotong-motongnya dulu baru bisa dicabut sama sekali. Rumit memang.

Dan selama operasi tentu saja, mulut harus menganga terus. Duh! Pegal sungguh.

Sebelumnya saya disuntik anastesi lokal jadi gusi terasa kebas meski masih terasa sentuhan tangan dan bor dan gunting menyayat gusi saya tapi tak terasa sakit, sampai beberapa jam setelahnya.

Begitu operasi berakhir, saya harus terus menggigit kapas dan menggantinya beberapa jam sekali.

Di hari-hari pertama pasca odontektomi, tentu kegiatan makan dan minum adalah aktivitas yang sangat tidak nyaman sekali.

Tapi mau bagaimana lagi, kan saya lapar! Jadi saya lakoni saja meski harus sesekali menelan darah sendiri. Ugh.

Yang saya bisa telan hanyalah makanan halus dan minuman. Roti tawar dicelup ke susu, misalnya. Atau bubur. Pokoknya tidak ada kegiatan mengunyah. Stop sama sekali. Karena ya sakit sekali. Tekanan membuat darah tak kunjung berhenti.

Di hari pertama pasca odontektomi, saya mesti mengompres pipi dengan es agar darah berhenti lalu di hari berikutnya baru boleh kompres hangat supaya bengkaknya mengempis.

Di hari pertama dan beberapa hari setelahnya, saya juga disarankan makan yang dingin atau setidaknya bersuhu ruang. Tidak makanan panas yang bisa membuat suhu gigi dan gusi makin naik sehingga darah meleleh keluar lagi.

Di saat-saat ini, badan saya agak terasa demam sebab tubuh mengatasi luka setelah hilangnya gigi geraham tadi.

Selain hilang penderitaanku, tersedot juga anggaran. Tapi alhamdulillah bisa tercover asuransi swasta, karena klinik yang kupakai ini swasta. Bukan BPJS. Aku merasa ngeri karena di Puskesmas, ada yang bilang cabut gigi dengan anastesi ala kadarnya jadi kebasnya setengah-setengah, nggak bener-bener mati rasa. Ya namanya juga “terjangkau”, pasti dosisnya juga lebih irit. Duh! Nggak kebayang deh.

Saya sendiri habis odentoktomi masih bisa jalan ke mall untuk beli obat di apotek untuk meredakan nyeri dan menghentikan pendarahan luka.

Mungkin jika saya di Puskesmas, saya harus ditemani dan dibopong karena bisa jadi nyut-nyutannya itu nggak nahan.

Jadi memang harus diakui odontektomi ini adalah sebuah kemewahan ya. Tidak semua orang yang gigi geraham bungsunya perlu dicabut bisa menjalaninya dengan aman dan nyaman karena faktor dosis anastesi dan obat-obatan tadi yang memang nggak murah, bung! (*/)

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in health and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.