Sekarang Zamannya Memiliki 2 Karier Lebih

party glass architecture windows

Tidak perlu memilih salah satu. Jalani semuanya! (Photo by Negative Space on Pexels.com)

Masalah ini sebenarnya sudah ada di benak saya sejak lama. Mungkin sejak 9 tahun lalu saat saya mulai mengenal yoga.

Saat itu selain pekerjaan sebagai penulis, saya juga mulai menekuni yoga. Porsinya banyak menulis. Yoga masih sebagai kegemaran pengisi waktu senggang.

Namun begitu saya mulai makin menekuni yoga dan ditawari untuk menjadi pelatih, saya pikir:

“Haruskah saya fokus pada satu karier saja atau lebih?”

Sejak itu, saya menjalani keduanya dengan membagi waktu. Ada saat saya bisa melakukan keduanya. Ada juga saat saya harus berfokus pada satu. Untuk sekarang, karier yoga saya sedang vakum. Saya merasa perlu memperkaya diri lagi dengan pengetahuan dan kebijaksanaan sebelum akhirnya mengajar kembali.

Pemikiran untuk memiliki dan mengembangkan dua karier atau lebih memang tidak terhindarkan. Di zaman sekarang ini, makin banyak keterampilan spesifik yang bisa dikuasai, rasanya makin aman. Asal mau terus meningkatkan dan memperbarui pengetahuan dan keterampilan saja. Jangan berpuas diri.

Karena itu, saya tidak begitu stres tatkala satu karier memghadapi ganjalan atau tantangan atau kurang mencapai target. Karena masih ada karier lain sebagai tumpuan.

Ternyata hal yang sama juga dialami banyak orang. Saya baru membaca satu artikel di hbr.org yang bertajuk “Why you should have (at least) two careers” dan banyak yang mengena pada diri saya juga.

Penulisnya Kabir Sehgal menyatakan dalam tulisannya bahwa kita bisa menjalani dua atau lebih karier berbeda. Dua lebih baik dari satu, ujarnya.

Dalam kasus saya, saya menjalani dua karier sebagai penulis dan yogi dalam waktu yang sama dengan pemikiran agar bisa menjalani kedua kegemaran yang juga pekerjaan ini dengan bergantian.

Kadang saat saya memiliki penghasilan yang lebih rendah di karier menulis, penghasilan saya di yoga bisa menopang dan menyelamatkan “dapur”. Begitu juga sebaliknya.

Ini juga berlaku untuk peningkatan keterampilan di kedua karier tersebut. Jika penghasilan di karier menulis lumayan, saya bisa gunakan untuk mendanai proses belajar yoga.

Dan inilah strategi agar kita bisa menjalani passion tanpa harus kelaparan. Tetap jalani passion tapi juga jalani pekerjaan yang benar benar menghasilkan duit setiap hari. Begitu kata Elizabeth Gilbert yang pernah bersumpah untuk menjalani pekerjaan apapun demi menopang passion menulisnya. Dan ia sukses.

Sehgal juga menyebut soal memperluas jejaring di berbagai bidang. Jangan cuma berkutat di lingkaran pergaulan itu melulu. Berusaha temui orang baru agar koneksi meluas.

Menekuni dua karier atau lebih juga bisa memberikan kita ide inovatif. Ya, karena kita bisa memiliki perspektif yang lebih luas. Tidak cuma dari sudut pandang X melulu. Makanya jangan berpikiran sempit dan terkotak-kotak. (*/)

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in writing. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.