Apakah Gigi Geraham Bungsu Harus Selalu Dicabut?

pain armchair dentist suffering

Cabut gigi (Photo by Pixabay on Pexels.com)

BEBERAPA hari lalu saya menjalani odentoctomy, alias operasi pencabutan gigi geraham bungsu. Gigi ini memang kerap menimbulkan permasalahan. Di banyak kasus, pertumbuhannya yang paling akhir dibandingkan gigi yang lain membuat posisinya kurang pas sehingga menyulitkan proses pembersihan dengan sikat gigi.

 

Dalam kasus saya, gigi geraham bungsu ini awalnya tumbuh dengan menimbulkan rasa nyeri dan kelamaan tak terasa nyeri namun posisinya lebih rendah dari gigi lain. Karenanya ia juga tidak berfungsi optimal dan memang tidak ada fungsinya dalam proses menghalusan makanan.

 

Di samping tidak adanya fungsi, gigi geraham saya ini juga tumbuh dalam posisi yang tidak seharusnya sehingga susah dibersihkan dan mulai berlubang. Nah, di sini saya rasa harus segera diambil tindakan medis agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan, mengingat kesehatan gigi dan mulut berkaitan erat dengan kesehatan organ-organ penting dalam tubuh.

Pra Operasi

Sebelum saya menjalani operasi kecil ini, saya disarankan sekali untuk menghindari begadang. Mengapa demikian? Mungkin karena begadang membuat tekanan darah meninggi dan hal ini kurang disarankan saat akan menjalani prosedur pembedahan meskipun seminor ini.

 

Selain itu saya juga disarankan makan kenyang sejam sebelum operasi sebab operasi bisa berjalan berjam-jam. Kata dokter gigi saya, operasi kadang cuma berlangsung 30 menit tapi ada juga yang bisa berlangsung sampai 4 jam. Tidak bisa ditebak. Bergantung pada kondisi masing-masing orang.

 

Syukurlah, ternyata operasi saya cuma berlangsung selama 30 menit lebih sedikit. Namun, tentu sebelum dan sesudahnya saya sudah harus menjalani sejumlah tindakan medis untuk memastikan semuanya berjalan lancar.

close up photography of a laughing woman

Photo by Úrsula Madariaga on Pexels.com

Sebelum operasi, saya berbaring dan bagian akar gigi dan gusi saya kemudian disuntik anastesi. Kepekaan syaraf di sekitar area yang akan digarap kemudian diuji. Begitu saya sudah mengatakan kesemutan dan merasakan kebas di area rahang kanan yang akan dioperasi, dokter gigi saya segera memulai. Diambil beberapa foto agar dokter dapat membandingkan area yang dioperasi, dan mengikuti perkembangannya nanti.

 

Saya sungguh bersyukur hidup di zaman kedokteran modern yang sudah mengenal ilmu anastesi yang begitu maju karena bayangkan saja bagaimana menjalani pencabutan gigi ini jika saya berada dalam kondisi sadar penuh. Bahkan di kondisi terbius secara lokal itu saja saya masih bisa merasakan gigi saya digerakkan oleh alat-alat yang entah bagaimana bentuk dan cara kerjanya (karena mata saya ditutup saat 2 dokter gigi dan 3 asistennya bekerja).

 

Kata teman saya, makin mahal biaya pencabutan, makin tidak sakit rasanya. Dan saya pikir, ia benar. Ia menceritakan sakit tak tertahankan akibat cabut gigi di Puskesmas yang cuma 7000 dan cabut gigi 400 ribu di klinik yang lebih mahal. Untuk pencabutan satu gigi geraham ini, saya mesti merogoh kocek 3,5 juta! Lumayan juga kan. Untungnya semua tertutup asuransi. Dan harga ini bukan yang paling mahal lho. Konon ada dokter gigi berpengalaman yang tak ragu mematok harga 4 juta sekali cabut karena bisa menjamin bebas sakit sama sekali.

 

Karena itu, saya sarankan jika Anda hendak mencabut gigi geraham bungsu Anda, pilihlah dokter gigi yang berpengalaman. Kecuali jika Anda ingin berhemat dan siap untuk menahan sakit yang sangat amat menyiksa, silakan saja.

Saat Operasi

Selama lebih dari 30 menit, saya harus membuka mulut. Dan sesekali mendengar ada gerakan radikal di area geraham saya. Ditekan-tekan, diputar, lalu terasa kosong. Lega.

Anastesi bekerja cukup ampuh karena bahkan saya merasa mengantuk. Tak heran karena operasi dilakukan selama siang hari saat saya biasa tidur siang.

Pasca Operasi

Setelah gigi sukses dicabut, saya masih harus berkumur 1 menit dengan cairan antiseptik dan menjalani penjahitan gusi agar luka yang ditimbulkan pasca operasi bisa segera menutup dan darah tak terus mengucur. Kemudian masih ada perlakuan lain yang mengharuskan saya tinggal di klinik setidaknya sampai 30 menit. Saya meninggalkan klinik dengan menggigit kasa untuk menghentikan pendarahan.

beautiful black and white close up death

Photo by Pixabay on Pexels.com

Masih banyak aturan yang harus saya patuhi begitu operasi selesai agar penyembuhan bisa berlangsung cepat dan optimal. Berikut adalah aturan tersebut:

  1. Mengompres pipi dekat area operasi dengan es selama 24 jam untuk meminimalkan pendarahan di area luka.
  2. Mengompres dengan air hangat setelah 24 jam pertama untuk melebarkan pembuluh darah dan meredakan pembengkakan.
  3. Makan makanan dan minuman dingin dan lunak selama 24 jam pertama. Bahkan yang bersuhu ruangan saja tidak disarankan. Makanan pedas juga dilarang.
  4. Jangan makan makanan keras. Makanan lunak paling aman agar tidak berisiko menusuk area yang luka.
  5. Jangan minum dengan sedotan. Karena kekuatan isapan bisa memicu pendarahan lebih banyak.
  6. Jangan meludah. Sama juga alasannya dengan yang di atas. Namun, saya merasa kesulitan untuk tidak meludah sebab mulut saya penuh darah dan saya tak mau menelannya.
  7. Jangan mengisap-isap. Kalau ada sisa makanan, minum air putih saja dan goyangkan mulut pelan.
  8. Jangan mengganggu area luka. Sampai benar-benar sembuh dan tertutup sendiri, lebih baik kita tidak mengutak-atik area bekas operasi.
  9. Jangan menggosok gigi dan berkumur selama 24 jam pertama pasca operasi. Intinya, jangan banyak menggerakkan dan mengusik mulut selama pendarahan masih terjadi. Bahkan untuk berkumur dalam wudhu saya menggunakan air minum yang dimasak agar tak terkena bakteri yang berbahaya.
  10. Buang kapas ( atau kain kassa) di mulut setelah operasi. Saya sendiri masih harus menggigit kapas ini untuk meminimalkan pendarahan di area luka sampai esok paginya.
  11. Minum obat secara teratur.
  12. Jangan berolahraga dahulu. Logis sekali karena banyak bergerak akan membuat pendarahan makin hebat. Untuk salat saja saya bahkan memilih duduk karena berdiri dengan kepala yang bergerak terlalu intens membuat area luka terasa berdenyut kencang.

 

Seberapa Penting Pencabutan Gigi Geraham Bungsu

Sebenarnya mencabut gigi geraham bungsu bukanlah tindakan medis wajib atau darurat namun suatu tindakan pencegahan. Meski sekarang terasa baik-baik saja, gigi geraham bungsu yang tumbuh dalam posisi yang tidak seharusnya seperti yang terjadi pada saya memang seharusnya dicabut demi mencegah terjadinya gangguan kesehatan gigi di masa datang.

 

Keputusan untuk dicabut atau tidak harus diambil oleh dokter gigi untuk tiap kasus. Tidak bisa digeneralisasi.

 

Risiko Pencabutan

Ada yang bertanya, apakah ada risikonya melakukan pencabutan gigi geraham bungsu? Tentu saja ada. Pasca operasi, pasien bisa mengalami komplikasi seperti infeksi luka dan kerusakan syaraf. Namun, jangan cemas karena dengan perkembangan teknologi medis saat ini, semua itu bisa ditekan.

 

Saya sendiri diberikan obat antibiotik untuk mencegah infeksi pada luka saya dan sebelumnya telah menjalani pemotretan panoramic gigi (pemindaian dengan sinar X) sehingga diketahui kondisi gigi dan mulut dengan akurat. Tidak sembarang cabut.

Menurut peneliti Hossein Ghaeminia di Radboud University Nijmegen Medical Centre yang dipublikasikan tahun 2017 di situs sciencedaily.com, intervensi pembedahan pada gigi geraham bungsu ini disertai dengan risiko komplikasi (misalnya infeksi dan kerusakan syaraf di bibir dan dagu). Namun, di sisi lain pembiaran gigi geraham bungsu yang tak bermasalah juga menimbulkan potensi kerusakan pada gigi lain di sekitarnya. Dan inilah yang terbukti terjadi pada saya.

 

Ghaeminia menyatakan ada beberapa faktor risiko yang perlu dipertimbangkan sebelum menjalani operasi pencabutan gigi geraham bungsu, di antara ialah infeksi. Semakin tua seseorang, semakin tinggi risiko terjadi infeksi. Ghaeminia mengatakan mereka yang berusia 26 tahun lebih dan para pasien perempuan memiliki risiko lebih tinggi mengalami infeksi.

 

Para perokok juga harus waspada karena kebiasaan buruk ini juga mengakibatkan mereka memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan non-perokok.

 

Meskipun konsumsi antibiotik akan menjamin risiko infeksi lebih rendah, tanpa antibiotik pun kita masih bisa menekan risiko infeksi. Caranya adalah dengan membasuh area bekas operasi dengan air yang bersih dan masak.

 

Bagaimana dengan Anda sendiri? Sudah pernah menjalani prosedur pencabutan gigi geraham ini? Atau sedang menimbang-nimbang apakah harus melakukannya atau tidak? (*/)

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in health and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

7 Responses to Apakah Gigi Geraham Bungsu Harus Selalu Dicabut?

  1. momo taro says:

    Wahhh… Ini kalau boleh tahu impaksinya berapa gigi???

    Saya juga harus cabut si bungsu karena tumbuh di dalam. *udah stres duluan. Hahaha

  2. Pingback: Apakah Gigi Geraham Bungsu Harus Selalu Dicabut? — Akhlis Blog – Media Informasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.