Untuk Bahagia, Tak Perlu Bekerja Bagai Kuda

couple wearing horse mask

Haruskah bekerja siang malam bagai kuda sampai sukses tapi depresi atau cukup kerja santai dan lebih bahagia? Maunya sih kerja santai tapi juga sukses ya. ( Photo by THE COLLAB. on Pexels.com)

Di ibukota, bekerja 8 jam sehari sudah menjadi suatu kelaziman. Bahkan kalau itu belum cukup, bisa ditambah lembur, atau datang pagi, atau masuk lagi akhir pekan. Pokoknya, kalau bisa bekerja lebih lama dan keras, kenapa tidak?

Karena lebih lama kita bekerja, kita berpikir akan menjadi semakin produktif.

Ya, itu lain perkara.

Itu pola pikir bangsa Asia dan Amerika Serikat zaman sekarang. More is better.

Betul bahwa bekerja lebih baik daripada menganggur. Memiliki pekerjaan meskipun terkesan rendah asalkan halal dan tidak merugikan orang lain lebih terhormat daripada menjadi pengangguran di rumah.

Memiliki pekerjaan juga membuat kita lebih percaya diri di pergaulan masyarakat.

Dan yang terpenting, memiliki pekerjaan juga memberikan kita keseimbangan dalam hidup.

Bagaimana bisa?

Lihat saja hidup mereka yang sudah terlampau kaya. Mereka sampai harus menciptakan pekerjaan untuk diri mereka sendiri agar mereka tidak cuma hidup tanpa tujuan. Hidup yang cuma diisi foya-foya mungkin terasa menyenangkan bagi banyak orang tetapi secara mental dan psikologis serta spiritual, terasa hampa.

Namun, bagi banyak orang jelata seperti kita, bekerja adalah cara untuk mencapai kebahagiaan. Dan karena kebahagiaan butuh kemapanan finansial, kita bekerja untuk mendapatkan uang dan kenyamanan hidup.

Masalahnya kita sudah terlalu tergila-gila dengan bekerja. Elon Musk, entrepreneur  yang terkenal dengan PayPal, Space-X dan Tesla itu, pernah mengatakan bekerja selama 120 jam seminggu (yang artinya hampir setiap hari bekerja) adalah suatu keharusan jika mau sukses (yang logisnya kesuksesan membuat kita bahagia, meski tak selalu).

Tapi sebuah studi menyanggah pendapat Musk tersebut. Cuma dibutuhkan kerja selama 1 jam sehari agar seorang manusia bisa bahagia.

Studi ini melibatkan lebih dari 70.000 subjek di Inggris. Para subjek memiliki kesehatan mental yang lebih baik begitu mereka tidak lagi menganggur.

Namun, efek positif bekerja sudah bisa dirasakan pada keseimbangan mental manusia pada titik delapan jam kerja seminggu (1 jam per hari). Bukannya 8 jam sehari!

Bekerja lebih dari 8 jam seminggu, menurut ilmuwan, tidak akan menambah efek positif bekerja.

Betul bahwa tidak semua orang menginginkan jumlah jam kerja seminimal ini. Mereka yang sedang asyik membangun terobosan-terobosan baru seperti Elon Musk tentu saja tidak bisa cukup bekerja sejam sehari. Dapat dipahami jika (otak) mereka bekerja mati-matian bagai kuda.

Namun, jika Anda bukan tipe entrepreneur atau inventor atau maniak kerja seperti Musk, dan lebih ingin mendapatkan keseimbangan hidup dan kebahagiaan, cobalah bekerja selama 8 jam seminggu.

Lagi-lagi, ini juga tidak memungkinkan untuk semua orang.

Mereka yang bekerja penuh waktu atau di bawah kebijakan instansi atau dirundung masalah keuangan atau memiliki tanggungan yang masih butuh sokongan dana banyak, tentu saja bekerja sejam sehari bisa membuat mereka dirumahkan.

Ya, kalau tidak bisa, selanjutnya yang mungkin ialah menyiasati sikap dan pendekatan kita terhadap pekerjaan saja.

Anggap pekerjaan adalah suatu kegiatan positif pengisi waktu luang yang menyenangkan sepanjang masa produktif kita sebagai manusia modern.

Makanya jangan melakukan pekerjaan yang sangat dibenci. Atau kalau Anda benci, coba cari strategi untuk mencintainya.

Dengan mencintai pekerjaan, bekerja 8 jam sehari tak akan terasa demikian lama. Begitu kan? (*/)

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in entrepreneurship and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

1 Response to Untuk Bahagia, Tak Perlu Bekerja Bagai Kuda

  1. dwimp3 says:

    bekerja itu tanda dewasa, mandiri dan bertanggungjawab. jadi hati kita akan bahagia kalau kita sudah melakukan kewajiban dan tanggungjawab itu. jadi gak hanya umur kita yang dewasa, tapi jiwa juga. dewasa, mandiri dan bertanggung jawab itu kan termasuk urusan jiwa?
    bekerja sebagai karyawan, kalau melakukan tugasnya, itu artinya sudah memenuhi kewajiban, dan akad kerja. jadi dia pantas mendapatkan gaji. hal itu baru benar. bukankah dengan melakukan hal yang benar, baik dan bertanggung jawab hati manusia juga akan bahagia?
    so, bekerja itu nggak masalah, asalkan jangan berlebihan. manusia juga butuh istirahat, bersosialisasi dengan masyarakat, keluarga, dan beribadah. karena itu aku mau bekerja, tapi gak mau lembur. kalau ngeblog dan hobi, suka banget.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.