Semua Orang Menangis

close up of teenage girl
Photo by Pixabay on Pexels.com

Tak mudah hidup di dunia ini. Tiap orang terus-menerus merasa kesal dengan hal-hal remeh yang tak berjalan sesuai keinginan mereka: yang satu dihina oleh seorang teman; yang lain diabaikan oleh keluarganya; tetapi yang lain bertengjar dengan pasangannya atau anaknya yang sudah remaja.

Sering orang menangis saat mereka tidak bahagia. Ini alami. Untuk jangka pendek, saat saya masih muda, saya bekerja di sebuah kantor. Menjelang waktu makan siang, saat orang-orang di kantor lapar dan lelah dan gusar, mereka mulai menangis. Atasan saya akan biasanya memberikan saya sebuah dokumen untuk diketik dan saya akan menyingkirkan dokumen itu dengan geram. Ia akan berteriak pada saya,”Ketik itu!” Saya akan balas menjawab,”Tidak mau!” Ia sendiri kesal di telepon dan membantingnya. Begitu ia akan bersiap untuk makan siang, ia begitu kesal sampai menangis. Jika seorang kenalan mampir ke kantornya dan membawanya keluar untuk makan siang bersama, ia akan menolak dan mengabaikan orang tadi. Kemudian mata orang itu juga akan bercucuran dengan air mata.

Setelah makan siang, kami biasanya merasa baikan, dan kantor kami penuh dengan kesibukan, orang-orang membawa map dan berjalan tergesa-gesa ke sana kemari, ledakan tawa muncul dari dalam kubikel-kubikel. Pekerjaan akan berjalan lancar hingga akhir sore. Kemudian saat kami lapar dan lelah, bahkan lebih lelah daripada di pagi harinya, kami biasanya mulai menangis kembali.

Kebanyakan kami terus menangis saat meninggalkan kantor. Di lift, kami saling menyikut dan di perjalanan menuju kereta bawah tanah kami menatap orang-orang yang datang menghampiri kami. Di tangga yang menurun menuju kereta bawah tanah, kami memaksa untuk menerobos kerumunan orang yang naik ke atas.

Saat itu musim panas. Saat itu, tidak ada pendingin udara di gerbong-gerbong kereta bawah tanah, dan saat kami berdiri mengantre, bergoyang di antara perhentian, air mata berlinang di pipi, keringat membasahi punggung dan kaki kami, dan kaki para perempuan sudah membengkak di dalam sepatu-sepatu mereka.

Sebagian orang secara perlahan-lahan mulai berhenti menangis begitu mereka makin dekat dengan rumah mereka dan terutama jika mereka berhasil mendapatkan tempat duduk. Mereka akan mengedipkan bulu mata mereka yang basah dan dengan puasnya menyedot jari-jemari mereka sembari membaca koran dan buku, mata mereka masih terus bersinar.

Mereka mungkin tak menangis lagi hari itu. Saya tak tahu, karena saya tak bersama mereka; saya hanya bisa membayangkan. Saya sendiri biasanya tidak menangis di rumah, kecuali di meja, jika makan malam saya sangat mengecewakan, atau jika saya hendak tidur, karena saya tidak ingin tidur, karena saya ingin bangun keesokan hari dan berangkat kerja. Tapi mungkin orang lain menangis di rumah, mungkin saat mereka menangis dan berhenti di malam hari, tergantung pada apa yang mereka temukan di sana. (*/)

Diterjemahkan dari cerpen di rubrik Flash Fiction NewYorker.com bertajuk “Everyone Cried” oleh Lydia Davis

Author: akhlis

Writer & yogi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: