“Yesterday”: Kebanggaan Semu Seorang Seniman Plagiat

Saat diajak menonton film “Yesterday”, saya sebenarnya agak kurang tertarik karena beberapa alasan.

Pertama, karena film ini bergenre fantasi. Saya lebih suka film yang bergenre kisah nyata yang diadaptasi menjadi film karena saya ingin menyaksikan kehidupan yang lebih ‘sesungguhnya’. Jadi, saya cenderung menyukai film-film dokumenter, biopic, fiksi historis dan sejenisnya yang bermuatan pengetahuan atau sejarah.

Kedua, karena film ini katanya berkaitan erat dengan band the Beatles yang bagi banyak orang sangat terkenal dan lagu-lagunya digandrungi. Tetapi karena di masa kecil saya entah kenapa lagu-lagu the Beatles kurang banyak berkumandang jadi saya tidak bisa merasakan euforia yang bisa dirasakan seorang penggemar the Beatles tatkala menonton film ini. Ada beberapa lagu yang saya masih bisa kenali seperti “Yesterday” dan “Hey Jude” (yang di film diplesetkan menjadi “Hey Dude”) dan “Here Comes the Sun” (yang itupun saya lebih kenal sebagai sebuah jingle iklan operator Mentari tempo dulu).

Ketiga, karena premis dalam film ini agak kurang masuk akal (namanya juga fantasi). Bagaimana bisa the Beatles yang setenar itu dalam sejarah musik modern tidak dikenal oleh mayoritas manusia masa kini? Tapi di dalam skenario film yang ditulis Richard Curtis ini, dikisahkan bahwa hal itu terjadi dan

Begitu menonton, saya patut mengapresiasi kerja keras sutradara Danny Boyle dan aktor Himesh Patel yang memerankan protagonis Jack Malik, seorang penyanyi amatiran yang ‘memanfaatkan’ karya-karya terbaik the Beatles untuk keuntungan dirinya sendiri.

Yang saya temukan di film ini dan patut dikritisi ialah beberapa kebingungan tentang penanda waktu yang diwujudkan dalam bentuk benda-benda khas di suatu era/ masa. Misalnya, pertama saya memahami latar waktu saat terjadinya kecelakaan sepeda Jack versus bus kota karena padamnya listrik di berbagai kota di dunia bersamaan dengan perayaan tahun baru 2000 (Y2K) yang dulu sempat menyita perhatian masyarakat dunia. Kalau saya tak salah, itu diucapkan karakter Ellie Appleton yang diperankan Lily James, gadis pujaan Jack Malik yang diperankan Patel.

Plus juga logo Google yang ditampilkan di layar komputer Jack saat mencari tahu soal The Beatles di internet yang ternyata agak kuno, dan lain dari logo Google sekarang ini.

Lalu saya kebingungan karena saat ia hendak menyanyi di depan kedua ortunya dan seorang tetangga, si tetangga ini mengangkat ponsel layar sentuh yang tentunya belum menjadi tren saat tahun 2000-an.

Menurut catatan Wikipedia, ponsel pertama yang memakai layar sentuh jenis capacitive ialah LG Prada yang dirilis Mei 2008, dan ini terjadi sebelum rilisnya iPhone pertama. Dan ini menegaskan ketidaksesuaian antara objek teknologi dalam film dengan latar waktunya.

Belum lagi kalau menilik gaya fesyen di kota asal Malik. Ellie Appleton diceritakan mengenakan pakaian yang bergaya agak kuno, jika mau dikatakan gaya fesyen tahun 2018-2019.

Plus, pemikiran Ellie yang kolot juga mengukuhkan bahwa dirinya terbilang puritan di dunia Barat. Ia menolak tidur dengan Jack walaupun mereka sebenarnya bisa dan memiliki banyak celah/ kesempatan. Bahkan karakter Rocky (Joel Fry) terus saja mengingatkan betapa bodohnya kedua muda mudi ini untuk tidak tidur bersama padahal mereka saling menyukai. Meskipun begitu, saya pikir pemikiran konservatif macam ini memang cocok dengan passion Ellie di bidang pendidikan. Ia sampai menolak mentah-mentah tawaran Jack untuk mengajaknya keluar kota asal mereka ini karena merasa begitu mencintai kota Lowestoft tempat mereka tinggal dan menolak menemani Jack ke Moscow untuk tampil sebagai musisi pembuka di konser Ed Sheeran karena ia memilih tetap menjalankan tugasnya di sekolah, menghadiri acara pertemuan orang tua dan wali murid di sana.

Tapi terlepas dari semua itu, satu pelajaran yang saya bisa ambil dari film ini ialah JANGAN BANGGA MENJADI PLAGIAT.  Dikisahkan di sini Jack yang diiming-imingi ketenaran dan uang oleh manajer ambisius dan serakah dari penyanyi solo pria terkenal Ed Sheeran (yang tampil di sini sebagai dirinya sendiri), Debra Hammer, menjalani hidup penyesalan tatkala ia sudah berada di puncak. Ia kehilangan Ellie (yang berkencan dengan Gavin, seorang teman yang juga pemilik studio rekaman dekat jalur kereta api yang membuat mereka harus berhenti sejenak saat proses rekaman berjalan) dan juga merasa kesepian karena mesti bepergian terus-menerus, dan Debra terus menekannya untuk ‘berkarya’/ menulis lagu padahal yang bisa dilakukan Jack cuma menggali ingatannya tentang lagu-lagu the Beatles.

Yang membuat saya agak was-was saat ada dua orang mencurigakan yang tampak mengawasi Jack terus. Saya mulanya berpikir mereka ini tahu bahwa Jack cuma seorang seniman peniru, pengekor, tidak otentik, tidak orisinal. Tetapi ternyata malah mereka juga penggemar berat The Beatles juga.

Yang saya paling sayangkan dari film ini ialah akhir yang terlalu manis dan mudah ditebak. Semua problem terpecahkan dengan sendirinya. Tidak ada yang masih menggantung. Akhir kisah tegas dan jelas. Kurang merangsang daya pikir dan pemikiran kritis para penonton, kalau saya boleh beropini. Dan berapa orang yang berani melakukan langkah nekat Jack untuk mengakui bahwa dirinya seorang musisi plagiat di depan umum dan mengemukakan cintanya di depan audiens konsernya? Belum lagi dengan keputusan Jack untuk begitu saja meninggalkan Debra Hammer. Di kehidupan nyata, mana ada seniman yang semudah itu melepaskan kerjasama yang telah diteken secara resmi dan sah di hadapan hukuman tanpa menghadapi konsekuensi pahit? “Oh, aku sudah terkenal dan ternyata terkenal itu nggak enak, jadi udah ah, aku mau berhenti jadi musisi selebriti…” begitu mungkin singkatnya kalau saya boleh menggambarkan bagaimana Jack menanggalkan ketenarannya sebagai selebriti yang lari dari tanggung jawabnya sebagai profesional. Terasa surreal. Tidak nyata. Oversimplifikasi alias penyederhanaan yang berlebihan dan mirip dengan plot-plot di film-film anak. Kurang bisa mencerminkan kehidupan yang senyata-nyatanya.

Dari 10 poin, saya bisa berikan 6 untuk film satu ini. Cukup, tetapi sebenarnya bisa lebih. (*/)

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in miscellaneous and tagged , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to “Yesterday”: Kebanggaan Semu Seorang Seniman Plagiat

  1. dwimp3 says:

    beatles itu populer tahun berapa ya? sering dengar tapi nggak tahu tahun rilisnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.