Pengalaman Menginap di Temmu Coliving Hostel, Bandung

MINIMALIS.

Begitu kesan pertama saya saat menjejakkan kaki di hostel yang dari luar tampak seperti sebuah kedai kopi ini.

Memang Temmu Coliving Hostel menghadirkan sebuah coworking space nyaman di lobi mereka. Selain saya bisa memanfaatkan internet berkecepatan tinggi sembari ‘kongkow’ di kursi dan sofa empuk yang disediakan oleh pengelola, ternyata saya juga bisa  memesan secangkir dua cangkir cairan hitam kental yang populer itu untuk menemani saat membuka laptop tatkala sibuk kerja atau sekadar menelusuri dunia maya.

Namun, karena saya bukan penyuka kopi, saya bisa menemani diri dengan segelas air putih yang menyegarkan dan disediakan secara cuma-cuma bagi para pengunjung di situ.

Hostel ini bukan hostel dengan konsep biasa. Konsepnya mirip hotel kapsul yang sudah populer di Jepang dan negara-negara lain.

Karena memang ruangnya yang lebih mungil, pastinya tarif menginap di sini juga sangat terjangkau. Setidaknya bagi mereka yang beranggaran terbatas atau hanya ingin sekadar menginap dengan fitur-fitur dasar alias basic. Tanpa kemewahan yang tidak perlu.

Kemewahan yang tidak perlu itu misalnya kolam renang Olympic size, bathtub dengan air hangat, ruangan tidur yang luas dan pemandangan alam yang mirip foto-foto indah di kalender, cemilan-cemilan yang tersedia di kulkas mungil, sachet berisi shampo dan sabun mandi, dan sebagainya.

Dengan memangkas semua hal ekstra tadi sembari tetap mempertahankan layanan dasar (seperti tempat tidur yang nyaman dan bersih, handuk yang tebal dan lebar), saya masih bisa menikmati istirahat malam yang nyenyak.

Bagi yang suka privasi terjaga ketat, menginap di hostel berkonsep kapsul semacam ini memang kurang memenuhi harapan. Namun, jangan salah di Temmu juga ada beberapa kamar dengan double bed dan terpisah dari ruangan tempat tidur yang menerapkan konsep kapsul tadi. Hanya saja, meski ruangan tidur itu terpisah, ia juga tidak seluas ruangan tidur di hotel berbintang sekian. Tetap hemat dan minimalis pokoknya.

Untuk menikmati kenyamanan nan hemat di Temmu, saya cuma merogoh kocek Rp130.000 per malam. Dan saya bahkan cuma membayar Rp100.000 setelah mendapatkan 2 voucher senilai Rp15.000 jika saya menginap setelah saya check out setelah menginap pertama kali. Dan karena saya ternyata masih ada waktu luang, saya pun menghabiskan waktu di Bandung dengan menginap di Temmu.

Menginap di Temmu akan sangat memudahkan bagi Anda yang bepergian ke Bandung dengan moda transportasi pesawat terbang sebab hostel ini dekat sekali dengan Bandar Udara Husein Sastranegara yang agak jauh dari pusat kota Bandung. Tapi karena Bandung tidak sebesar Jakarta, definisi ‘jauh’ itu terasa dekat. Saya saja bisa menempuh jarak dari Temmu di Jl. Abdul Rahman Saleh itu dalam waktu kurang dari 15 menit ke Braga, pusat kota meskipun saya sebenarnya sudah gentar dengan julukan Bandung sekarang sebagai Jakarta Kedua dalam hal tingkat kemacetan.

Bagi Anda yang naik kereta api dari Stasiun Bandung, menginap di Temmu memang agak jauh tapi saya buktikan saya bisa menempuh jarak stasiun dengan naik mobil ke Temmu dan sebaliknya cuma dalam 8 menit. Tapi, ya itu di dini hari sebelum subuh (haha).

Untuk Anda yang suka olahraga seperti saya, tak usah khawatir meskipun di Temmu tidak tersedia fasilitas olahraga apapun, saya bisa berjogging keluar saat udara Bandung masih segar-segarnya.

Sehabis subuh, saya sempat termotivasi oleh yel-yel dari belakang Temmu yang rupanya adalah sekolah penerbangan Nurtanio. Di situ saya melihat beberapa pria muda dan paruh baya berlarian mengitari bangunan, tanpa memperdulikan hawa dingin yang masih menyelimuti Bandung. Saya pikir itu sudah rutinitas harian bagi para prajurit yang dituntut bugar dan sehat selalu. Karena itulah, saya kemudian mengambil sepatu yang disimpan di loker dan melangkahkan kaki keluar.

Setelah itu, saya menyantap makan pagi sederhana di lantai 4 yang berupa roti tawar dan 3 jenis selai yang berbeda (kacang tanah, stroberi, dan cokelat). Dan juga tersedia alat pemanggang roti.

Meskipun termasuk baru, Temmu Coliving ternyata juga bukan cuma mulai dikenal pelancong dalam negeri. Dari tulisan kesan pesan yang ada di kaca di lobi depan, sudah ada pelancong dari sejumlah negara mampir di sini untuk menghabiskan malam. Saya sendiri juga menyaksikan ada satu penginap Kaukasia di seberang saya.

Menginap di Temmu Coliving cocok bagi Anda yang menyukai gaya berwisata ‘backpacking’, yakni melancong dengan anggaran hemat.  (*/)

Author: akhlis

Writer & yogi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: