Senyumlah Meski Tanpa Alasan

PAGI ini ada kejadian yang menurut saya sangat unik.

Seseorang tanpa alasan tersenyum pagi ini.

Bukan pada saya.

Bukan juga pada orang lain.

Entahlah. Saya pikir ia tidak memiliki alasan jelas untuk tersenyum.

Toh demikian, ia tetap tersenyum.

Sebenarnya, orang ini bukan orang yang sembarangan apalagi jika kita bergerak di bidang kebugaran.

Saya sering menontonnya dulu di televisi.

Tapi sekarang saya sesekali bisa melihatnya secara langsung.

Sebenarnya orangnya biasa saja.

Ia selebritas kawakan di tanah air. Wajahnya juga kadang menghiasi daftar pemain sinetron.

Ia kerap didapuk sebagai pemain karakter ibu yang judes atau tante yang antagonis.

Namun, saya yakin di kenyataannya ia sama sekali kebalikannya.

Pagi tadi saya seperti biasa naik layanan gojek ke kantor.

Dan tidak ada yang istimewa pagi tadi, sampai saya melihat sebuah kendaraan roda dua dari layanan serupa di depan kendaraan yang saya tumpangi.

Penumpangnya seorang perempuan. Ia mengenakan sebuah rok terusan. Bahunya yang putih terbuka. Lehernya tertutup syal dengan warna dan corak yang sangat biasa sehingga otak saya tak bisa mengingatnya lagi.

Rambutnya pendek.

Bahunya terbuka. Pahanya juga agak tersingkap.

Meskipun sudah tak muda lagi, otot tubuh perempuan ini masih terbilang kencang untuk seusianya.

Dan aku paham ini bukan sosok perempuan paruh baya yang lazim kutemui di masyarakat.

Ia pastinya sangat giat berolahraga.

Dan kendaraan kami terus melaju membelah jalan protokol Jakarta yang di pukul 6.30 pagi itu masih cukup lancar. Padat tapi masih mengalir terus. Tiada ketersendatan.

Saya sempat sekilas melihat sepuntung rokok di tangan kirinya. Ah, dia mencandu tembakau rupanya.

Jelang jembatan layang, motor yang dinaiki perempuan itu melamban karena ia akan berhenti sebab ada lampu lalu lintas, sementara saya dan sopir gojekku naik ke jembatan layang.

Di situlah saya bisa melihat wajah perempuan itu.

Ya, dugaanku ternyata benar.

Ia adalah Vicky Burki.

Dulu ia dikenal sebagai instruktur aerobik, kini ia sibuk menekuni pole dance.

Dan yang paling saya ingat dari Vicky tadi pagi ialah senyumnya.

Ya, saat saya naik jembatan layang itu, saya menyaksikan mulutnya yang menyungging senyum.

Bukan senyum yang terpaksa. Ia senyum dengan sepenuh hati. Matanya berbicara. Bukan senyum kosong ala pegawai minimart yang seharian ditugasi menyapa pengunjung.

Ia memandang ke depan sambil tersenyum.

Ia tersenyum ke siapa?

Ia menghadap ke depan saat kendaraan berjalan. Jadi, ia tersenyum ke siapa? Pada apa?

Ah, Vicky!

Rupanya itulah ritualmu menyambut hari baru.

Tersenyum dari dalam lubuk hati. (*/)

Author: akhlis

Writer & yogi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: