Dari Yoga, Kepincut Gymnastics, Lalu Kombinasikan Keduanya

Pekan lalu, saya disuguhi sejumlah pertanyaan untuk wawancara sebelum berbagi di Komunitas PagiPagi Yoga di Bella Tera Mall, Jakarta. Karena saya memang suka sekali menjelaskan secara tertulis, jadilah hasil wawancara sebagai sebuah tulisan yang agak terlalu detail sampai seperti esai. Berikut adalah jawaban saya pada pertanyaan-pertanyaan yang diberikan tanpa saya sensor sedikitpun.

Bagaimana Anda pertama kali mengenal yoga?”

Saya pertama kali mengenal yoga lewat buku Leslie Kaminoff, “Yoga Anatomy”. Saya mencoba melakukan asana-asana tersebut sendiri. Dan karena tidak dipandu guru atau orang yang lebih berpengalaman tentunya teknik saya kurang bagus dan aman. Juga sayangnya di buku itu variasi asana yang disajikan tidak banyak sehingga saya terus ingin belajar. Barulah selang beberapa waktu kemudian saya mendengar ada komunitas yoga yang saat itu masih berskala kecil dan dirintis Yudhi Widdyantoro, seorang guru yoga di Jakarta. Dari sana, sejak Desember 2010 saya lebih banyak belajar yoga di komunitas Yoga Gembira, Taman Suropati, Menteng.

Mengapa tertarik dengan yoga?”

Saat pertama berlatih di komunitas Yoga gembira, saya merasa seperti menemukan sepotong bagian diri saya yang hilang. Sebenarnya saya sudah dari kecil tertarik berolahraga tetapi bukan jenis olahraga permainan dan tim seperti basket, voli, badminton dan sebagainya. Saya lebih menyukai olahraga ketangkasan individual seperti gymnastics tetapi sayangnya sarana dan prasarana di tempat saya berasal belum memadai untuk itu. Maka dari itu, saya menjadi malas berolahraga. Begitu saya mencoba yoga dan merasakan kemiripannya dengan gymnastics, saya pun tertarik. Dan sejak itu saya rajin setiap minggu hadir di kelas komunitas Yoga Gembira. Sensasinya berbeda dari olahraga kebanyakan karena dalam yoga ada aspek meditatif dan olah pernapasannya (pranayama) juga sehingga lebih terasa holistik dan lengkap.

Apa manfaat yang dirasakan dengan berlatih yoga?”

Setelah rutin beryoga, saya merasa lebih bugar, sehat dan produktif. Kebanyakan orang mungkin melakukan yoga karena ingin langsing atau menurunkan berat badan tetapi untuk saya yang memang tipe tubuhnya ectomorph (kurus), saya lebih berfokus pada menjaga kesehatan dan menguatkan tubuh sehingga tidak mudah sakit di tengah kesibukan. Yoga juga bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja sehingga saya bisa melakukannya saat saya butuh, tanpa harus tergantung dengan teman atau faktor-faktor lainnya. Dan yang terpenting saya bisa melakukannya tanpa harus keluar tempat tinggal karena saya sebisa mungkin ingin menghindari kemacetan ibukota yang menjadi salah satu sumber stres utama warga di dalamnya termasuk saya.

Apa motivasi mengajar yoga?”

Saya awalnya diajak mengikuti pelatihan mengajar yoga dengan motivasi ingin belajar untuk diri sendiri, bukan untuk mengajar orang lain. Lagi pula saya merasa belum begitu berpengalaman sehingga ada baiknya mematangkan diri dulu sebelum berbagi ke orang-orang di sekitar saya. Dan apakah nantinya saya akan mengajar atau tidak, saya putuskan nanti tanpa ada target atau ambisi. Just let it flow.  

Sekarang ini saya mengajar di samping kesibukan utama pekerjaan utama saya sebagai penulis penuh waktu karena permintaan sejumlah teman atau komunitas di sekitar Jabodetabek.

Motivasi saya mengajar yang paling utama ialah mendorong lebih banyak orang di sekitar saya untuk lebih sehat, hidup seimbang agar mereka bisa menjadi manusia yang lebih bahagia, mandiri, dan sehat. Itu karena saya melihat ada banyak orang yang bekerja begitu keras di ibukota ini sampai melupakan kesehatan dan begitu mereka sakit, uang yang mereka dapat malah akhirnya habis untuk berobat. Ironis sekali, menurut saya. Padahal sakit mereka ini bisa dicegah dengan mengubah pola pikir, pola makan, gaya hidup, dan sebagainya. Kalau urusan panjang umur atau tidak, itu urusan Tuhan. Kita sebagai manusia biasa hanya bisa berupaya menjaga kesehatan kita. Salah satunya ialah dengan berolahraga,  berpola hidup sehat. Bukan sekadar gaya hidup sehat, karena ‘gaya’ cenderung berlangsung sesaat, cuma tren. Padahal harusnya menjadi bagian tak terpisahkan kehidupan kita.

“Asana apa yang menjadi tantangan dalam belajar dan pelajaran/ kiat apa yang diperoleh dari sana?”

Banyak asana yang saya masih harus pelajari dengan baik. Handstand bisa jadi salah satu asana atau postur yoga yang paling saya susah lakukan. Meskipun saya tidak sampai terobsesi dengan berlatih handstand setiap hari, saya merasa agak penasaran juga. Rasa keingintahuan itu mengantar saya ke kelas Gymnastics yang dipandu oleh mantan pesenam artistik putra Indonesia Jonathan Sianturi. Saya belajar dari beliau tentang handstand dengan baik dan aman. Ada tahapan (progression) yang harus dilalui dengan sabar karena menurutnya semua itu adalah fondasi yang harus dikuatkan dulu agar bisa mencapai sesuatu yang lebih besar. Pendekatan gymnastics untuk melakukan handstand tersebut bagi saya terbukti lebih efektif daripada pendekatan yoga yang selama ini saya lihat di kelas-kelas sejumlah guru. Namun, bukan berarti mereka kurang bagus. Hanya saja pendekatan yang mereka berikan ternyata tidak bekerja sesuai harapan dalam kasus saya. Dan cara pandang terbuka semacam ini perlu diterapkan dalam belajar apapun. Apa yang menurut satu orang bagus bukan berarti otomatis bagus juga untuk orang lainnya.

Kiat saya untuk melakukan handstand dalam hal fisik ialah dengan mencoba melakukan banyak penguatan di telapak tangan, pergelangan tangan, bahu, otot trapezius (punggung atas). Dan mungkin kita perlu sadari bahwa sering persiapan untuk melakukan sebuah asana bukanlah dengan melakukan asana-asana lain atau mengulangi asana yang dimaksud berkali-kali sampai tenaga habis tetapi melakukan gerakan-gerakan lain yang tak termasuk dalam kategori asana tetapi mampu secara efektif menyiapkan fisik dalam mencapai gerakan itu dengan baik dan aman, relatif bebas cedera. Baru jika aspek fisik tadi sudah terpenuhi dan solid, kita bisa bergerak ke pengaturan napas dan aspek meditatif dan kontemplatif saat handstand. Karena logisnya, bagaimana kita bisa bernapas dengan penuh kesadaran di sebuah pose apapun itu jika kita masih kesulitan melakukannya dengan mulus? Jadi, kiat saya untuk bisa menguasai handstand secara mental ialah berpikir secara lebih luwes dan terbuka. Kalau memang di yoga tidak menemukan kuncinya, kenapa tidak mencarinya di disiplin lain? Begitu pemikiran saya. Dari situ, saya bisa melengkapi praktik yoga saya sehingga lebih holistik.

“Bagaimana kesibukan mengajar yoga sekarang?”

Sekarang saya lebih banyak mengajar di kelas privat di tempat saya bekerja dan di studio yoga baru “Holinest” di Tebet setiap Kamis sore.

“Bagaimana pengalaman mengajar pertama kali?”

Pengalaman mengajar saya yang paling berkesan ialah saat saya diminta mengajar oleh seorang ekspatriat yang ternyata bekerja sebagai petinggi di korporasi maskapai penerbangan di tahun 2013. Anehnya, kami belum pernah bertemu secara langsung. Ia menghubungi saya melalui surat elektronik setelah ia membaca blog saya tentang yoga. Saat itu saya masih belum mendapatkan sertifikat kelulusan mengajar yoga dan saya katakan saya belum bersertifikasi. Namun, tampaknya ia tidak keberatan dan kemudian barulah saya bersedia membimbingnya berlatih yoga secara privat. Beberapa bulan lalu, kami kembali bertemu di jejaring sosial LinkedIn dan saya bertanya apakah ia masih ingat saya dan ia jawab iya. Haha. Sungguh dunia yang kecil.

Ceritakan bagaimana Anda berlatih yoga sehari-hari.”

Saya sendiri lebih sering berlatih sendirian karena saya hanya memiliki waktu luang di pagi hari sebelum bekerja. Saya berlatih saat pagi hari di ruang terbuka juga karena udara lebih segar dan terkena sinar matahari. Namun demikian, saya juga menikmati beryoga bersama teman-teman saat akhir pekan atau ada kesempatan berlatih bersama. Tetapi sekali lagi untuk latihan harian saya ‘terpaksa’ latihan sendiri karena saya tidak ingin terlalu bergantung pada keberadaan guru atau teman untuk memotivasi. Menurut saya, motivasi yang terbaik adalah yang datang dari dalam diri sendiri.

Karena sudah terbiasa berlatih secara rutin itulah, saya sangat jarang berhari-hari tidak berlatih. Mungkin karena saya sudah tidak merasakan keterpaksaan tetapi merasa membutuhkan yoga demi kesehatan diri. Latihan yoga juga tidak harus melulu yang berat dan latihan untuk asana X atau Y. Kalau memang energi saya sedang agak turun dan merasa lelah, saya lebih banyak gerakan yang bersifat Yin dan rileks. Begitu juga sebaliknya. Jadi, kalau seminggu tidak latihan mungkin rasanya sudah tidak karuan. Kalau orang tidak sanggup memulai hari tanpa kopi atau kafein, saya tidak bisa memulai hari tanpa menggerakkan badan.

“Kapan Anda merindukan yoga?”

Saya bisa rindu latihan yoga saat saya sedang dirundung kesibukan yang sangat padat sehingga waktu luang cuma bisa saya isi dengan tidur. Saya pernah menjalani pekerjaan yang tidak memungkinkan saya beryoga pagi hari dan saya lebih sering sakit dan kurang bugar. Jadi, bisa beryoga di sela kesibukan itu bagi saya sebuah kemewahan yang patut dirindukan.

“Pernahkah mengalami kebosanan dalam beryoga dan bagaimana mengatasinya?”

Saya bisa mengalami kebosanan saat latihan yoga biasanya karena terlalu sering melakukan sekuen tertentu. Maka dari itu, saya menghindari kebosanan dengan berusaha memvariasikan yoga dengan jenis olahraga lain. Kalau ada waktu saya kadang jogging, atau high intensity training (HIIT), atau melakukan gerakan-gerakan conditioning yang saya pelajari di kelas Gymnastics. Kadang saya juga berlatih beban baik dengan dumbbell/ free weight atau resistance band untuk mengimbangi gerakan menekan (push) yang banyak dilakukan di yoga dengan gerakan-gerakan menarik (pull) sehingga badan lebih seimbang. Dan kalau sedang bosan dengan asana, saya sempatkan duduk untuk olah napas sejenak di pagi hari dan menghirup udara pagi sambil terkena sinar matahari untuk meningkatkan mood dan semangat. Simpel tetapi efektif bagi saya.

“Apakah Anda memilih latihan yoga di pagi, siang atau malam hari? Dan kenapa?”

Saya latihan yoga hampir setiap hari di pagi hari sekitar pukul 6 atau 6.30. Saya tipe orang pagi (morning person) jadi lebih merasa cocok latihan pagi hari. Kalau saya latihan malam, saya justru ‘overstimulated’ dan susah tidur sehingga pola tidur jadi terganggu. Dan saya yakin bangun pagi setelah tidur yang cukup malam harinya juga membuat kesehatan saya lebih terjaga dengan baik sehingga saya sangat menghindari begadang.

“Apa yang Anda sukai dari yoga?”

Yang saya suka dari yoga ialah bahwa ia bisa secara fleksibel diintegrasikan atau diselipkan dalam kehidupan kita, tak peduli seberapa sibuknya kita atau apapun profesi kita. Saya sendiri bekerja sebagai penulis dan berusaha melakukan yoga di sela pekerjaan saya. Cara mengaturnya sederhana saja, temukan waktu luang dan tempat untuk latihan dan berkomitmen pada diri sendiri untuk berlatih. Itu saja. Tidak muluk-muluk harus bisa ini itu. Pokoknya sudah sehat saja sudah bersyukur. Yang lain bonus semata.Haha.

“Apakah makna yoga bagi Anda?”

Yoga bagi saya adalah sebuah olah raga dan jiwa. Saya masih ingat leganya pikiran dan hati saya setiap selesai ber-savasana di taman tanpa harus memikirkan ‘Wah besok hari Senin, stres lagi!” Haha. Saya pernah merasakan seperti itu dan kemudian saya berhasil mengelola emosi dan stres sehari-hari salah satunya dengan beryoga.

“Pernahkah menderita cedera dan apa yang dilakukan agar tidak terkena cedera lagi?”

Syukurnya saya belum pernah cedera sampai berbulan-bulan dan parah. Tetapi saya pernah berlatih backbend yang mungkin terlalu sering sehingga terasa ngilu di sekitar sacrum dan sekarang sudah hilang. Sejak itu saya berupaya berlatih secara seimbang saja. Caranya dengan berlatih dengan kesadaran (awareness) dan tidak terobsesi dengan satu jenis asana saja lalu berlatih fokus ke gerakan-gerakan yang itu melulu.

Agar tidak cedera, saya berusaha agar melakukan pemanasan yang cukup. Dan kalau ikut kelas, saya wajibkan diri saya untuk ikut dari awal sampai akhir agar pemanasannya memadai dan pendinginan juga cukup. Keduanya penting sekali. Dan penting untuk mengikuti urutan sekuen yang diberikan guru. Jangan hanya karena saya merasa bisa kemudian saya ‘melompati’ sekuen yang diberikan dan langsung ke asana puncak. Di situlah ego kita diuji. Jadi harus sabar. Kadang walaupun kita sudah bisa melakukan satu asana, risiko cedera bisa saja masih ada jika kita terlalu menyepelekan dan terburu-buru.

Mengapa memilih tema kelas ‘Gymnastic Yoga’?”

Saya memilih tema “Gymnastic Yoga” karena saya beberapa tahun terakhir ini mengikuti kelas Gymnastics dan merasakan manfaatnya dalam latihan asana yoga saya. Ternyata juga setelah saya baca artikel ulasan buku “Yoga Body: the Origins of Modern Posture Practice” (2010) di tautan ini yang diterbitkan berdasarkan pada hasil penelitian disertasi Mark Singleton (seorang akademisi dari University of London), gymnastics dan yoga ada persinggungan sejarah juga! Dari sana, saya paham bahwa keduanya ternyata bersenyawa sedemikian rupa hingga menjadi yoga modern yang kita kenal sekarang ini. (*/)

Author: akhlis

Writer & yogi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: