Seberapa Banyak Olahraga yang Diperlukan Agar Tidak Kurang dan Tidak Berlebihan?

Berita kematian mendadak Ashraf Sinclair hari ini mengguncang masyarakat Indonesia. Saya sendiri baru menemukan kabar tersebut di Twitter karena pagi-pagi namanya sudah jadi Trending Topic. Jarang-jarang namanya disebut warganet seintens itu karena setahu saya juga dia selebriti yang berkelakuan baik, tidak pernah mabuk, setia, monogami, apalagi terlibat penyalahgunaan zat-zat psikotropika. Dan terlebih lagi gaya hidupnya juga sehat sekali. Ia suka berolahraga dan sempat saya menyaksikan foto-fotonya memamerkan badan hasil berolahraga keras itu.

Saya telusuri akun Instagram mendiang dan menemukan adanya unggahan saat ia menggunakan mesin yang konon fungsinya setara dengan melakukan puluhan ribu sit-up agar six-pack otot perut lebih terjaga. Lalu, serta merta warganet yang punya banyak waktu berlebih di jempol mereka menyerbu akun klinik kecantikan yang dimaksud dan menghujani dengan komentar pedas. Kasihan. Padahal belum tentu demikian juga penyebabnya.

Sementara itu, teman saya mendapat ‘bocoran’ bahwa mendiang baru saja pulang dari Amerika Serikat dan alih-alih tidur dan istirahat untuk memulihkan kondisi tubuh karena ‘jet-lag’ sebab perbedaan zona waktu, ia malah berolahraga. Entah ini betul atau tidak, silakan jika ada yang bisa mengklarifikasi lebih lanjut.

Saya berhenti di sini untuk mengupas soal kasus Ashraf ini dan beralih ke isu yang lebih krusial dan general bagi kita semua. Sekali lagi orang banyak bertanya:

Lho sudah bergaya hidup sehat, rajin olahraga, jaga makanan tapi kok masih juga kena serangan jantung di usia yang masih terbilang muda lagi!?

Jadi, apakah berolahraga teratur itu baik?

Jadi, apakah olahraga dengan tujuan untuk memburu ‘six-pack’ idaman itu haram?

Jadi, olahraga yang benar itu jumlahnya seberapa dan sesering apa supaya sehat dan panjang umur, bukannya kena serangan jantung atau meninggal mendadak?

Daripada berspekulasi, mari kita telaah beberapa sumber/ literatur yang lebih bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Ternyata olahraga juga bisa ‘membunuh’ kita bila dosisnya berlebihan. Banyak orang menyangka, olahraga lebih sering dan lebih keras pasti juga lebih baik buat kesehatan dalam jangka pendek dan panjang.

Keliru!

Meskipun olahraga teratur memang bagus dan bahkan wajib bagi mereka yang sudah menderita beragam penyakit degeneratif semacam penyakit jantung, diabetes, stroke, tekanan darah tinggi dan sebagainya, ternyata sebagaimana obat, olahraga juga punya ambang batasnya.

The Physical Activity Guidelines for Americans yang dipublikasikan Elsevier di tahun 2014 merekomendasikan orang berolahraga dengan intensitas moderat selama 150 menit per minggu. Jika mau berolahraga intensitas berat, silakan batasi sampai 75 menit saja per minggu.

Dari temuan studi Mayo Clinic Proceedings, dinyatakan bahwa ada bukti konkret bahwa kasus kematian akibat serangan jantung pada mereka yang sudah pernah menderita serangan jantung yang berolahraga sampai berlebihan juga ditemukan di tengah masyarakat. Para ilmuwan meneliti hubungan olahraga dan kematian akibat serangan jantung pada sekitar 2400 penyintas serangan jantung.

Manfaat positif olahraga semacam jalan kaki dan jogging menurut ilmuwan bisa dinikmati jika kita tidak melampaui jarak 30 mil seminggu atau berjalan sepanjang 46 mil per minggu.

Memang mereka tidak serta merta mengatakan kita yang berjalan kaki atau jogging melebihi jumlah itu akan mati cepat tetapi setidaknya membuat kita berpikir: “Apa faedahnya jika saya menghabiskan waktu untuk sesuatu yang bahkan kontraproduktif untuk kesehatan saya? Bukankah saya berolahraga agar sehat dan panjang usia?

Para peneliti memang menggarisbawahi bahwa olahraga intensitas tinggi yang dilakukan para atlet pro misalnya tidak membuat mereka tewas tetapi ingatlah bahwa kebanyakan dari kita tidak memiliki tingkat kebugaran dan ‘kemewahan’ dalam menjaga kesehatan sebagaimana dimiliki para atlet profesional ini. Mereka ini sudah mulai berolahraga dari kecil dan secara konsisten berolahraga dan menjaga pola hidup sehat dengan ketat. Sementara itu, kita yang bukan atlet profesional (cuma aktif di akhir pekan alias ‘weekend warriors‘) mengira bahwa dengan menjalani pola latihan dan makan atlet pro, kita akan bisa sebugar mereka. Padahal di balik itu ada banyak faktor yang bermain.

Para ilmuwan menamakan fenomena yang banyak ditemukan di tengah orang-orang yang berolahraga dengan strategi ‘lebih banyak, lebih baik’ ini sebagai “cardiac overuse injury“.

Jadi, yang terbaik itu yang bagaimana?

Bapak kedokteran modern Hippocrates mengatakan lebih dari 2000 tahun lalu bahwa semua manusia bisa sehat dengan cara yang aman jika mereka bisa mendapatkan asupan dan olahraga yang pas. Tidak terlalu rendah dan tidak juga terlalu berlebihan.

Mungkin kita perlu menjadikan lagu Vetty Vera (penyanyi dangdut era 1990-an) “Sedang-sedang Saja” sebagai semboyan kita dalam berolahraga. (*/)

Published by

akhlis

Writer & yogi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.