Pentingnya Literasi Digital Demi Cegah Konflik

Indonesia sudah begitu porak poranda akibat peredaran hoax atau berita bohong atau disinformasi yang begitu deras beberapa tahun terakhir ini. Namun, tetap saja kita masih terjatuh di ‘lubang’ yang sama dari hari ke hari. Ini sangat menyedihkan.

Yang paling baru, kita bisa menyaksikan bagaimana kesimpangsiuran kabar mengenai wabah Coronavirus. Dan untuk menambah keprihatinan tersebut, ternyata tidak ada elemen masyarakat yang kebal dari hoax ini, termasuk aparat pemerintah, cendekiawan, politikus, bahkan instansi pers sekalipun! Maka dari itu, marilah kita jangan menyepelekan pentingnya literasi digital.

Pertama-tama, kita perlu tahu arti “literasi digital”. Menurut laman theedadvocate.org, literasi digital bermakna “kemampuan untuk menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membagikan, dan menciptakan konten dengan memakai teknologi informasi dan Internet”. Dengan demikian, istilah ini mencakup sejumlah keterampilan yang dianggap penting agar seseorang bisa sukses di dunia digital saat ini.

Lalu apa saja keterampilan yang perlu seseorang kuasai agar bisa dikatakan “melek digital”?

Jika saya boleh menilik kurikulum “Digital Literacy Course” dari Microsoft, maka seseorang bisa dibilang “melek digital” apabila ia sudah bisa:

  • Berinteraksi dengan perangkat keras dan gawai
  • Mengkonsumsi konten digital daring
  • Berkomunikasi secara daring
  • Mengenal dan menerapkan prinsip-prinsip privasi, keamanan, dan keselamatan komputer
  • Mengenal dan menerapkan etika dan adab berkomunikasi yang baik di dunia maya
  • Mengakses dan mengubah konten digital
  • Bekerjasama dengan yang lain secara daring

(sumber: https://www.microsoft.com/en-us/digitalliteracy/home)

MANFAAT LITERASI DIGITAL

Bagi Anda generasi baby boomers yang kurang familiar dengan literasi digital, rasanya mungkin sangat aneh untuk mencoba belajar menggunakan teknologi setelah Anda melewati usia belajar. Tapi, jangan antipati dulu dengan dunia digital yang Anda anggap identik dengan anak-anak muda seusia cucu atau anak Anda! Karena ternyata dengan mempelajari keterampilan digital, Anda akan bisa juga mempertajam atau setidaknya mempertahankan daya ingat Anda meski usia sudah menapak senja.

Dalam sebuah penelitian oleh tim yang dipimpin Andre Junqueira Xavier di Universidade do Sul de Santa Catarina, ditemukan adanya kaitan era antara literasi digital dan daya kognitif atau daya ingat seseorang. Studi ini melibatkan 6.442 peserta yang berumur 50 hingga 89 tahun selama 8 tahun penuh di Inggris Raya. Sebagai subjek penelitian, para lansia ini kemudian diberikan ujian untuk mengukur daya ingat mereka. Para lansia yang memiliki tingkat literasi digital yang lebih baik, berstatus ekonomi mapan, dan bertingkat pendidikan memadai cenderung memiliki daya ingat yang lebih baik; sementara itu, mereka yang menderita cacat fisik, penyakit degeneratif seperti diabetes, depresi dan memiliki penguasaan keterampilan digital yang lebih rendah menunjukkan kecenderungan untuk mengalami penurunan daya ingat dibandingkan rekan-rekan mereka. Temuan ini menegaskan bahwa literasi digital meningkatkan ketajaman otak dan kemampuan kognitif seorang manual. Karena itu, jika sebuah bangsa ingin agar generasi tuanya tetap dapat berkontribusi dan mandiri, setidaknya harus ada inisiatif untuk meluncurkan campur tangan agar generasi tua juga diajari keterampilan-keterampilan digital sebab literasi digital lebih dari sekadar ikut tren sesaat.

Generasi tua ini juga semestinya menjadi sasaran utama pelatihan literasi digital – bukannya anak-anak millennial yang sudah terampil menggunakan produk-produk digital itu.

Kenapa demikian?

Begini alasannya: menurut sebuah studi yang dilakukan tim peneliti di Social Media and Political Participation Lab milik New York University dan juga Princeton University, kebanyakan orang yang menyebarkan hoax justru adalah orang-orang yang usianya di atas 65 tahun.

Studi mereka ini berfokus pada warga Amerika Serikat saat musim kampanye pemilihan presiden tahun 2016 lalu. Mereka meneliti kelompok orang yang menyebarkan berita bohong di Facebook dan diketahui bahwa kecenderungan menyebarkan berita bohong ini lebih banyak ditemui di antara para lansia umur 65 ke atas, bukan anak-anak millennial.

PANDUAN SINGKAT LITERASI DIGITAL

Wartawan dan penulis @kangmaman1965 juga memiliki pemaknaan sendiri mengenai “literasi digital” secara lebih ringkas dan padat. Menurutnya, literasi digital mencakup petunjuk (do’s and don’ts):

  • Jangan asal bikin konten: Sebagai pengguna Internet, kita harus sadar bahwa konten yang kita buat pasti akan dikonsumsi (dibaca, dilihat, dimaknai) oleh pengguna Internet lainnya di seluruh dunia. Jadi jika kita memiliki itikad yang kurang baik dan kurang bisa mempertanggungjawabkan apa yang kita hasilkan, kita akan mempengaruhi banyak orang juga. Apalagi jika kita memiliki pengikut banyak dan memiliki tingkat pengaruh yang cukup luas, dampak destruktifnya akan jauh lebih luas.
  • Think before tweet(ing): Mirip dengan “think before you leap”. Berpikirlah dahulu sebelum bertindak. Bukannya menganjurkan ‘overthinking’ tetapi ini menjadi salah satu cara hidup berkesadaran. Dan yang terpenting ialah harus disadari juga bahwa sekali kita mempublikasikan konten di Internet, jejak digital itu akan terus ada. Bahkan jika ada opsi ‘delete’ (hapus).
  • Saring sebelum membagikan (sharing): Dengan pemikiran “fear of missing out” (takut ketinggalan zaman atau tren) atau “sekadar berbagi informasi”, kita malah menjadi agen penyebar hoax. Pernahkah Anda bertanya pada mereka yang membagikan berita-berita disinformasi dan kemudian bertanya, “Memang tahu benar dari mana?” atau “Sumbernya dari mana?”, sering mereka menjadi tergagap karena baru terpikirkan dalam benak mereka. “Oh iya ya. Kalau ternyata tidak benar bagaimana?” Akal sehat seolah terdahului oleh emosi dan keinginan untuk menjadi yang terdepan dalam menyebarkan informasi yang dianggap ‘belum banyak diketahui orang’, esklusif, dan sebagainya.
  • Boleh viral, jangan bikin sial: Contohnya video-video di YouTube tentang prank atau mengerjai orang lain yang tidak tahu menahu. Mirip dengan konsep acara “Spontan” yang dulu pernah populer di SCTV atau acara “Just for Laugh” yang kerap kita bisa saksikan di pesawat terbang.
  • Utamakan ketepatan, bukan kecepatan: Dengan begitu cepatnya membagikan informasi, kita sering lupa dengan aspek ketepatannya. Apakah konten yang kita bagikan itu akurat dari segi jurnalistik atau tidak? Apakah sebuah berita memiliki sumber yang kredibel dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan faktual? Untuk kalangan awam, hal ini jauh dari pikiran mereka.

Kemudian ia juga menambahkan bahwa kita perlu memastikan konten yang akan dibagikan memiliki 3 kandungan berikut ini:

  • Benar: Apakah berita atau konten yang akan kita bagikan di grup WhatsApp itu bisa dibuktikan kebenarannya? Apakah sumber berita ini valid/ sah?
  • Baik: Bagaimana dengan kandungan konten itu? Apakah akan memberikan kebaikan bagi yang menerima atau mengkonsumsinya? Atau hanya akan menjadi konten yang bersifat ‘sampah’?
  • Bermanfaat: Apakah konten yang akan dibagikan juga memiliki manfaat yang jelas bagi pengguna Internet lainnya?

Author: akhlis

Writer & yogi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: