Radio: Tetap Relevan di Abad Digital

SIAPA sih yang masih mendengarkan radio di saat teknologi digital sudah menjamur seperti sekarang ini?

Saya!

Iya, saya masih setia mendengarkan radio.

Dalam kehidupan saya, radio memiliki peran yang tidak tergantikan. Di saat saya kecil, saya masih ingat sebuah radio yang jika dijinjing dengan tubuh kecil saya saat TK dulu pastinya akan sangat berat.

Dulu radio memberikan saya kesempatan untuk mendengarkan banyak acara. dan sebuah kebanggaan tersendiri jika saya bisa terlibat di dalamnya.

Pernah saat saya masih duduk di bangku TK, TK saya diundang ke sebuah radio di kota asal saya. Radio Muria namanya.

Kami sekelas diberikan slot waktu tersendiri untuk berceloteh. Dan karena usia kami yang masih sangat muda, gaya bicara kami juga masih belum ‘mapan’, sehingga membuat orang merasa gemas dan terhibur.

Saya juga didaulat mengucapkan sepatah dua patah kata saat acara itu berlangsung. Kalimat apakah yang saya rapalkan, saya kurang ingat. Namun, setahu saya anak-anak TK yang diundang biasanya disuruh menjawab sejumlah pertanyaan, misalnya “sebutkan sila-sila dalam Pancasila”, “coba baca surat (nama surat pendek dalam juz ke 30 di Al Qur’an)”, dan sebagainya. Tahulah, sederet pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya mengandalkan memori. Guru-guru TK kami memang belum seperti sekarang yang sudah mengenal pentingnya daya nalar kritis. Ya sudahlah. Tapi toh itu saja sudah cukup untuk membuat audiens kami di rumah mereka ternganga dan terkagum karena otak kami yang begitu ‘cemerlang’ menghapal beragam pengetahuan yang orang dewasa saja sudah lupakan.

Begitu saya beranjak remaja, radio masih memegang peranan penting dalam mengisi waktu dan menghibur saya. Bahkan saya dan adik saya sampai berebut radio sehingga akhirnya orang tua kami membawakan satu radio yang tak terpakai di rumah kakek untuk digunakan.

Radio membuat saya juga bersemangat belajar. Di sebuah radio lokal, acara dikte syair lagu bahasa Inggris secara berkala diudarakan dan dari sinilah sedikit banyak saya mengasah kemampuan berbahasa Inggris saya.

Radio juga membuat jantung saya bisa berdegup kencang di tengah malam karena menyimak acara kisah misteri yang memberikan sensasi tersendiri. Dan lain dari film, kisah-kisah ini terasa begitu nyata sebab lokasinya biasanya ada di sudut-sudut yang saya juga pernah datangi. Itulah kenapa rasanya lebih mencekam dan intens.

Radio bagi saya sendiri sekarang lebih dari sekadar media informasi. Akhir-akhir ini saya lebih sering menyimak radio daripada media sosial dan lebih mengandalkan radio sebagai sumber informasi yang lebih tepercaya dan netral daripada situs-situs berita daring, akun-akun media sosial, terlebih lagi kabar burung di aplikasi chat WhatsApp yang akan segera menjadi aplikasi berbayar itu.

Untungnya ukuran radio sekarang sudah lesap ke dalam tipisnya ponsel pintar. Semua fungsi perangkat radio kuno kini bisa dikempeskan ke dalam sebuah chip yang kemudian bisa ditanamkan di ponsel. Untuk mengoperasikannya juga tak perlu menggunakan baterai sebesar botol atau mencolokkannya ke sumber listrik terus. Saya kini bisa membawanya ke mana pun saya pergi dalam kantong kemeja tanpa merasa keberatan dan kerepotan. Cuma butuh earpiece untuk memggantikan antena konvensional yang panjangnya mirip penggaris itu.

Bagaimana menurut Anda?

Apakah radio masih menjadi sumber informasi atau sudah terlupakan di tengah hiruk pikuknya teknologi digital yang sudah memperhamba kita semua? (*/)

Industri Kepenulisan di Tengah Pandemi

Ada tiga jenis perusahaan/ bisnis di kala pandemi ini. Pertama, perusahaan yang bisa dilakukan dengan bekerja di rumah. Misalnya, perusahaan yang berbasis digital seperti e-commerce. Kedua, perusahaan yang sebagian bisnisnya bisa dilakukan dengan bekerja di rumah dan sebagian lagi tidak bisa dikerjakan dari rumah. Sementara itu, ketiga ialah perusahaan yang sepenuhnya tidak bisa dilakukan dari rumah karena harus turun ke lapangan.

Masuk golongan yang manakah perusahaan tempat Anda bekerja?

Saya sangat beruntung bekerja di sebuah lembaga yang dengan lincah berpindah ke moda digital begitu pandemi ini benar-benar mencengkeram Jakarta, dan umumnya Indonesia. Ditambah dengan aspek pekerjaan saya yang tidak diharuskan turun ke lapangan, saya pun bisa tetap berkarya di dalam rumah. Kalaupun saya harus melakukan interaksi, saya bisa mengakalinya dengan alat-alat digital yang ada sehingga saya sebenarnya sangat terbantu dengan teknologi informasi dan Internet yang sudah sedemikian canggihnya saat ini. ‘Dapur’ saya tetap ‘ngebul’.

Pekerjaan saya sebagai penulis konten (content writer) atau penulis teks iklan (copywriter) beruntungnya bisa dilakukan di rumah. Dan saya pikir begitu juga dengan profesi-profesi lainnya yang basis keterampilannya adalah bahasa dan kemampuan merangkai dan menyusun kata-kata. Buktinya, teman-teman saya yang bekerja sebagai penerjemah buku, novel, dan sejenisnya masih belum mengunggah keluhan mereka soal surutnya industri mereka.

Namun, bagi para penulis yang harus turun ke lapangan untuk bisa mewawancarai narasumber atau berkeliling ke berbagai tempat seperti penulis perjalanan (travel writer), penulis artikel majalah, dan sebagainya, ternyata pandemi COVID-19 ini sangat signifikan dampaknya bagi ekonomi mereka.

Buktinya, salah seorang teman saya yang kebetulan mengais rezeki dengan menulis di waktu luang untuk sebuah majalah mengaku penyaluran kompensasi finansial ke pundi-pundinya menjadi terhambat karena pandemi ini mencekik Indonesia.

“Wawancara dibatalkan karena narasumber wawancara hanya mau diwawancara secara langsung, tatap muka. Maka dari itu, aku jadi pusing,” keluh teman saya itu. Maklum, ia butuh suntikan dana segera demi membiayai pengeluaran pendidikan anaknya.

Mendengar keluhannya itu, dalam hati saya muncul kegeraman sebetulnya. Mengapa di zaman secanggih sekarang, wawancara saja harus bertatap muka? Bukankah ada berbagai macam alat yang memungkinkan agar wawancara tetap terlaksana tanpa harus melihat batang hidung lawan bicara? Saya sungguh tidak habis pikir dengan kekolotan sebagian orang yang beranggapan bahwa berinteraksi secara daring kurang afdol.

Kekolotan itu mirip sebuah ketololan. Karena bukankah di abad lalu saja orang sudah melakukan wawancara dengan menggunakan telepon??! Lalu buat apakah ponsel cerdas semahal itu kalau tidak dipakai untuk berinteraksi demi menjaga jarak di tengah berkecamuknya pandemi seperti sekarang??!

Mungkin saya terlalu emosi untuk mengutuk tanpa memahami konteks tapi benarkah memang tidak bisa berbicara lewat telepon untuk menjawab pertanyaan wawancara?

Bagi para penulis fiksi,mungkin pandemi ini tidak banyak berpengaruh negatif pada mata pencaharian mereka. Mereka masih bisa memproduksi karya mereka di rumah. Duduk, mengetik, mengirim naskah via surel, pokoknya asal jaringan internet lancar, semua masih normal. Bahkan situasi genting dalam kesehatan publik seperti sekarang bisa memicu inspirasi untuk terus berkarya. Orang-orang makin butuh cerita untuk dikonsumsi demi membunuh waktu dalam masa isolasi fisik ini.

Maka dari itu, saya masih optimis dengan masa depan profesi kepenulisan di seluruh dunia. Umat manusia masih membutuhkan cerita. Apalagi di masa-masa seperti sekarang saat mereka membutuhkan harapan dan pengetahuan agar tetap bisa terus melaju dan menemukan alasan untuk tetap bertahan hidup di tengah absurditas hidup. (*/)

Cara Mengedukasi Anak-anak Tentang Pentingnya Jaga Jarak (Physical Distancing)

Kita sebagai orang dewasa tahu bagaimana gentingnya kondisi masyarakat Indonesia saat ini. Dengan makin banyaknya penderita COVID-19, kita harus makin waspada dengan risiko penularan apalagi dengan karakter dan budaya masyarakat kita yang sangat suka berkerumun. Serasa kurang afdol kalau belum menggerombol, berjabat tangan, berpelukan, cium pipi. Edukasi juga terus dilakukan berbagai pihak, baik pemerintah maupun swasta.

Namun, selama ini yang dijadikan fokus adalah orang dewasa. Bagaimana dengan anak-anak? Kita tahu bagaimana susahnya menanamkan kesadaran menjaga jarak (physical distancing) dan diam di rumah pada orang-orang dewasa. Apalagi pada anak-anak yang notabene belum memahami sepenuhnya kondisi saat ini?

Menurut Karina Aristiana, M. Psi. (psikolog profesional dan penulis “Cara Praktis Mengembangkan Kesiagaan Bencana pada Anak”), cara mendidik anak agar paham mengenai pentingnya menjaga jarak untuk mencegah meluasnya pandemi COVID-19 ini ialah memberikan keteladanan orang-orang dewasa di sekitar mereka.

Lalu bagaimana jika mereka protes dengan orang dewasa yang keluar untuk bekerja karena alasan yang kuat seperti belum adanya izin dari atasan untuk bekerja di rumah (working from home) atau untuk membeli bahan pokok yang dibutuhkan keluarga?

Anak sepatutnya mempertanyakan bagaimana orang dewasa masih ada yang keluar rumah sementara mereka disuruh beraktivitas hanya di dalam rumah. Meskipun ini sebenarnya urusan pemerintah untuk memberikan edukasi pada para pengusaha yang masih mememerintahkan karyawan-karyawan mereka untuk terus bekerja di tengah situasi seperti sekarang ini.

Anak-anak yang mempertanyakan semestinya diberikan pemahaman bahwa berkegiatan di luar rumah yang dilakukan sejumlah orang dewasa termasuk orang tua mereka bukanlah sebuah pengecualian aturan dan demi kesenangan belaka tetapi sebab ada kewajiban yang harus tetap ditunaikan. Dan yang juga tak kalah penting ialah orang tua juga menunjukkan bahwa dirinya sebelum dan setelah keluar rumah memiliki langkah-langkah perlindungan yang nyata dan ditunjukkan secara transparan kepada anak sehingga anak paham betul bahwa situasi pandemi COVID-19 ini tidak bisa diremehkan sedikit pun. Orang tua dan orang dewasa di sekitar mereka seharusnya memberikan pesan bahwa situasi pandemi ini sudah di level yang serius.

Orang tua dan orang dewasa di sekitar anak-anak harus juga menunjukkan bahwa mereka bisa mengambil keputusan secara konsisten dan benar. Anak-anak perlu diajari bagaimana mengambil keputusan secara mandiri juga, karena mereka kelak juga akan membuat keputusan mereka sendiri. Mereka harus memahami risiko yang datang bersamaan saat berkegiatan di luar rumah. Risiko-risiko ini ialah terjangkit dan juga bisa menularkannya pada orang lain termasuk si anak sendiri. Dan anak juga perlu diberitahu bahwa jika memang orang tua tidak pergi keluar rumah untuk bekerja maka tidak akan ada pendapatn bagi keluarga sehingga kebutuhan mereka juga tidak bisa tercukupi nantinya.

Pemahaman bagaimana mengambil keputusan oleh orang tua dan orang dewasa seperti ini kemudian anak bisa terapkan pada diri mereka sendiri. Sehingga saat mereka menerima ajakan bermain bersama oleh teman-temannya keluar rumah atau berkunjung ke rumah teman mereka, si anak yang bersangkutan akan bisa memutuskan sendiri. Ia paham bahwa jika keluar rumah ia akan berisiko tertular dan juga menulari orang lain yang ia temui. Namun, di sisi lain jika ia tidak pergi dan bertemu temannya, ia akan kehilangan kesempatan untuk bermain dan berinteraksi.

Ini belum dipahami betul oleh masyarakat Indonesia. Mereka masih memandang enteng risiko tertular Coronavirus baru ini. Mengapa bisa masyarakat menganggap remeh? Karena menurut Karina, pesan-pesan awal yang diterima masyarakat kita mengenai COVID-19 ini keliru. Misalnya dahulu saat wabah baru terjadi di Wuhan, pemerintah kita menyampaikan pesan seolah bahwa negeri kita yang ada di iklim tropis kebal dari serangan COVID-19 karena hingga saat itu belum ada kasus. Padahal teori bahwa COVID-19 tidak akan berkembang di negeri-negeri tropis sudah patah dengan ditemukannya kasus di Malaysia dan Singapura yang juga terletak di garis khatulistiwa. Dan yang harus digarisbawahi lagi ialah bahwa Coronavirus ini adalah virus yang baru sehingga karakternya belum sepenuhnya dipahami oleh ilmuwan-ilmuwan top apalagi oleh kalangan awam di seluruh dunia. Penelitian-penelitian masih terus dilakukan terhadap virus anyar ini dan kita tidak bisa menutup mata bahwa pernyataan-pernyataan pemerintah juga bisa salah seiring dengan berjalannya waktu dan kita makin mengenal virus ini.

Pesan keliru lainnya yang masyarakat kita terima dari pemerintah ialah bahwa COVID-19 ini akan bisa sembuh sendiri tanpa perawatan medis. Masyarakat juga terus dicekoki dengan pesan bahwa kita cukup meningkatkan imunitas tubuh saja agar bisa kebal dari virus ini. Lalu solusi yang masuk akal bagi masyarakat Indonesia ialah dengan minum jamu dan ramuan herbal lain. Padahal jamu dan ramuan itu semua tetap bukan obat yang bisa menyembuhkan apalagi menangkal virus. Yang berbahaya ialah saat masyarakat menelan mentah-mentah pesan peningkatan kekebalan tubuh cukup dengan konsumsi jamu teratur dan berjemur di terik matahari dan berkata mereka sudah minum jamu dan berjemur sehingga mereka merasa sudah terlindungi 100% dan berhak keluar rumah dengan mengabaikan langkah-langkah menjaga kebersihan diri seperti mencuci tangan dengan sabun selama minimal 20 detik dan menggosok permukaan tangan secara sempurna, tidak menyentuh wajah, mata, mulut dan hidung terutama di luar rumah dan sebelum mencuci tangan dengan sabun.

Masyarakat juga masih percaya bahwa meskipun mereka terkena juga nanti akan ada obatnya. “Kan pemerintah sudah impor obat,” sergah mereka. Namun, Karina menggarisbawahi ketiadaan pembahasan yang serius mengenai informasi yang benar dan penyampaian informasi tadi dengan cara yang konsisten dan merata pada setiap elemen masyarakat.

Pihak-pihak yang pernah mengeluarkan pernyataan-pernyataan keliru juga seharusnya mau mengakui kekeliruan mereka dan dengan ksatria membetulkan pernyataan mereka sebelumnya kepada masyarakat luas melalui media sehingga masyarakat yang sudah telanjur percaya bisa diedukasi kembali. Mereka harus dengan rendah hati menyatakan bahwa apa yang dikatakan salah dan langkah yang ditempuh sebelumnya ternyata belum sepenuhnya bisa menanggulangi penyebaran virus ini. Pemerintah terutama harus tampil di depan dan berkata tegas,” Inilah yang harus dilakukan dan tidak dilakukan.”

Karina sendiri merasa sangat prihatin dengan langkah-langkah pemerintah yang seolah meremehkan COVID-19 dengan mengangkat awak kapal yang bebas virus tersebut menjadi Duta Imunutas Coronavirus. Pun yang tak kalah mencengangkan ialah saat tiga penderita yang akhirnya sembuh itu malah diberikan minuman jamu, seolah menyisipkan pesan ke dalam benak masyarakat kita bahwa cukup dengan jamu, kita bisa sembuh dan bebas dari Coronavirus. “Malah pemerintah melupakan pesan untuk mencuci tangan sesering mungkin dan tidak menyebutkan pesan untuk tetap beraktivitas di rumah masing-masing,” keluhnya.

Risiko-risiko ini dianggap masih ringan dibandingkan risiko yang harus ditanggung jika mereka harus bekerja di luar rumah. Dan inilah yang kemudian dilihat oleh anak-anak kita. Jika orang tua mereka saja bersikap masa bodoh, anak-anak lazimnya akan meniru juga sikap serupa.

Cara untuk memberikan edukasi pencegahan COVID-19 pada anak-anak:

  1. Tidak menakut-nakuti: Daripada memberikan kalimat-kalimat yang mengintimidasi anak, kita bisa menyampaikan fakta. Pertama kita bisa tanyakan,”Apa yang kamu ketahui soal penyakit ini?” Dari sana kita bisa memberikan banyak fakta yang memang menunjukkan bahwa penyakit menular ini sangat serius. Untuk membuktikan berbahayanya virus ini, kita bisa menilik sikap dan pernyataan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia yang sangat tidak menganjurkan anak-anak untuk memeriksakan diri ke rumah sakit dan ke klinik tempat mereka praktik di saat sekarang jika tidak dalam kondisi yang sangat terpaksa. Kenapa? Karena ada risiko penularan yang tinggi jika ke klinik atau rumah sakit. Anak-anak hanya diperbolehkan ke rumah sakit tatkala kondisi sudah darurat. Mereka juga bisa ditunjukkan berita bahwa penyakit ini belum ada vaksin atau obatnya sehingga para ilmuwan di seluruh dunia sedan berupaya keras mencari obatnya. Dan anak bisa dinasehati agar tidak menambah luas penyebaran penyakit ini dengan tetap di rumah dan menjaga kebersihan tangan dan berpola hidup sehat. Jadikan kesempatan ini untuk mengasah kemampuan anak agar mereka bisa mengidentifikasi/ mengetahui hal yang mereka inginkan dan hal yang mereka sebetulnya butuhkan. Proses membedakan keinginan dan kebutuhan inilah yang nantinya sangat penting sebagai bekal mereka mengambil banyak keputusan dalam hidup.
  2. Melibatkan anak-anak dalam upaya perlindungan: Orang tua dan orang dewasa di sekitar mereka perlu sekali melibatkan anak-anak agar mereka tahu semua orang menganggap serius tentang pandemi global ini. Orang tua harus mencontohkan dan mengajari anak-anak mencuci tangan, menggunakan hand sanitizer dengan optimal agar mikroba mati (tidak dengan sembarangan), dan tidak keluar rumah kecuali untuk keperluan yang sangat amat mendesak. Orang tua dan orang dewasa lainnya juga harus menunjukkan upaya perlindungan mereka seperti tidak begitu saja menyentuh orang lain selepas pergi dari luar rumah tetapi membersihkan diri seperti mengganti baju dan mencuci tangan dengan sabun sebelum meneruskan kegiatan lainnya terutama yang melibatkan kontak fisik. Saat membersihkan rumah untuk mencegah bersarangnya virus juga orang tua dan orang dewasa di sekitar anak juga perlu melibatkan anak-anak agar mereka mengerti bagaimana caranya terhindar dari virus. Saat mereka mengatakan sudah bosan di rumah dan hendak keluar rumah, tanyakan alasan mereka ingin keluar. JIka alasan itu hanya untuk merasa tidak bosan dan bertemu teman, orang tua harus memberikan pemahaman bahwa ada cara lain agar tidak bosan dan tetap bisa berinteraksi dengan teman mereka yakni dengan menggunakan teknologi digital seperti menelepon, bercakap via aplikasi percakapan (chat), panggilan video (video call).

Zakat Bisa Kurangi Kewajiban Pajak? Belum Tentu!

Bulan Maret kita tahu biasanya adalah bulan pelaporan pajak. Bikin pusing tujuh keliling ya. Apalagi kalau Anda tergolong orang yang sibuk.

Dulu tiap Maret saya sendiri pusing karena berpikir,”Ah nanti pasti harus keluar kantor. Padahal kerjaan masih banyak. Lalu harus antre panjang. Capek, panas…”

Intinya pelaporan pajak dalam bentuk SPT itu adalah momok. Belum lagi cara mengisi formulirnya yang meskipun sudah berkali-kali melakukannya tiap tahun tapi setahu saya tidak ada orang awam pun yang benar-benar paham cara mengisinya tanpa dibantu petugas pajak.

Untungnya, republik ini terus didesak untuk berbenah diri. Tidak terkecuali urusan perpajakannya. Harus dipermudah, karena siapa yang mau bayar pajak dengan tetek bengek? Apalagi warga Indonesia belum sepenuhnya taat pajak. Kalau di media sosial saja gemar pamer kekayaan tapi begitu lapor pajak tidak jujur dan melaporkan yang lebih sedikit. Haha.

Jadi mulai tahun kemarin (2019), saya sudah melihat adanya pembenahan sistem paleporan pajak ini. Sangat bagus dan menggembirakan.

Tahun kemarin meski saya masih harus ke kantor pajak terdekat tapi setidaknya saya terlayani dengan cepat. Tidak ada antrean panjang atau berdiri lama. Ada kursi yang nyaman dan pelaporan sudah menggunakan sistem online. Kalau bingung, saya juga bisa dibimbing petugas pajak yang berjaga di sana. Pokoknya, lebih baik. Saya patut acungi jempol.

Kemudian tahun kemarin juga kita sudah diberikan nomor E-fin sebagai identitas diri wajib pajak. Sayangnya, setelah mendapatkan nomor E-fin dalam bentuk kertas kecil itu saya kesulitan menemukannya. Pun di email dalam bentuk digital juga saya tidak menemukan nomor E-fin itu. Alhasil, pada saat saya harus melaporkan pajak tahun ini saya harus pusing mencari nomor E-fin itu. Karena di catatan pribadi tidak ada, saya bertanya via Twitter Kring Pajak dan memang responsif! Sayangnya ada yang tidak beres dalam database mereka. Nomor ponsel saya sebagai salah satu data pribadi untuk verifikasi ternyata salah catat atau bagaimana sehingga nomor saya yang benar tidak cocok dengan database mereka. Lho kok bisa ya??

Baiklah. Saya pun lelah menunggu balasan hingga lebih dari seminggu. Saya angkat telepon dan tebak apa yang saya terima, bukannya suara manusia tapi mesin penjawab yang mengatakan saluran ini sedang tidak bisa dihubungi. Lalu apa faedahnya memasang nomor hotline?!

Oke saya berusaha bersikap sabar. Kemudian saya ke kantor pajak dekat kantor saya dan saya dapatkan lagi nomor E-fin itu dan sekalian saja melaporkan secara daring di kantor itu. Toh di situ ada petugasnya.

Akhirnya saya bisa melaporkan dan saya masukkan juga bukti pembayaran zakat maal yang pernah saya berikan untuk sebuah lembaga zakat swasta. Petugas berkata saya bisa mendapatkan kompensasi atas kelebihan bayar itu. Tinggal ditunggu dihubungi kantor pajak di mana NPWP saya terdaftar saja. Saya ragu. Masak iya tinggal menunggu? Bukannya saya harus proaktif?

Kemudian saya pulang dengan tenang.

Ternyata selang sehari kemudian saya dihubungi oleh petugas pajak dari kantor pajak daerah di mana saya mendaftar NPWP. Singkatnya, status kelebihan bayar saya itu harus dilaporkan ke kantor supaya SPT harus diubah dari manajemen dan kemudian mengirimkan ulang SPT itu.

Saya pun menyampaikan permintaan tadi ke HRD tapi belum ada respon jelas juga. Kemungkinan besar mereka malas melayani permintaan seorang karyawan yang merepotkan.

Benar saja. Sampai berhari-hari tidak ada kejelasan dari HRD. Baiklah.

Kemudian petugas pajak dari daerah asal itu menghubungi saya lagi dan mengatakan bahwa saya ternyata tidak perlu melakukan perubahan SPT itu.

“Kenapa pak?” tanya saya.

“Karena bapak menyalurkan zakat tidak melalui Baznas (Badan Amil Zakat Nasional). jadi tidak bisa dianggap sebagai pengurang beban pajak ya….,” terangnya lagi.

Saya pun lemas. Berusaha merelakan selisih uang yang hampir Rp500.000 itu.

Begitulah teman-teman. Kalau Anda ingin membayar zakat dan memasukkan zakat sebagai salah satu faktor pengurang beban pajak, silakan salurkan zakat hanya melalui BAZNAS! Jangan badan zakat swasta seperti yang saya lakukan karena Anda hanya akan kecewa nantinya. (*/)

How Content Creators Help During Pandemic

Just got a call from a friend, telling me he and his family are very concerned about their mental health during the physical distancing period owing to COVID-19 Global Pandemic that has ravaged the entire world nowadays as bad news is bombarding them endlessly every single day.

Apparently he is asking me to write an article that explains what to do or not to do and most importantly what to worry and not to worry about. Because worrying about everything that is out of your control is a recipe of mental breakdown.

At first I honestly wanted to tell him that I have no authority as a healthcare or medical worker. I am not qualified.

But then I realized I know at a certain extent how to fact check and what sources are reliable and less biased. And some people believe more what people they know (friends or family members) say than what people they are not familiar with (strangers) say.

The authorities have also failed to provide transparency and consistency of information, which is so disappointing to most of us in Indonesia.

So if you can create content that aims to explain what in fact happens and to calm people down, please do. Because maybe these people around you will listen to you more than others. But with a caveat: please fact check and find out trusted sources before you create your content (articles, videos, podcasts, etc).

Agar Brand dan Bisnis Anda Bertahan dari Pandemi COVID-19

Di masa awal ditemukannya beberapa penderita COVID-19 di Indonesia, masyarakat fokus pada peningkatan gaya hidup sehat. Mereka meningkatkan kewaspadaan untuk menjaga sistem kekebalan tubuhnya dengan melakukan banyak cara, seperti makan makanan bergizi, mengonsumsi suplemen kesehatan (jamu, multivitamin), berolahraga (melalui kelas daring di aplikasi maupun YouTube dan platform digital lainnya). Mereka juga makin sering menjaga kebersihan tangan sehingga penjualan produk pembersih tangan (hand sanitizer), cairan disinfektan berbahan dasar alkohol, sabun antikuman meningkat tajam.

Akan tetapi, begitu pandemi mulai menyebar lebih luas dengan ditandai oleh terus naiknya jumlah penderita COVID-19, kecemasan menjalar dan perilaku masyarakat akan makin mengarah ke pembelian bahan pokok dalam jumlah besar (stock-piling) yang agresif. Dan karena kegiatan di luar rumah semakin dibatasi, masyarakat juga akan makin bergantung pada platform belanja daring. Semua kegiatan jual beli dilakukan secara daring dan pengiriman paket makin tinggi frekuensinya. Inilah yang terjadi di China dan Italia, dua negara yang paling banyak mencatatkan jumlah penderita COVID-19.

Dan karena masa pandemi ini masyarakat lebih mencemaskan keselamatan, mereka juga lebih fokus pada belanja barang-barang kebutuhan pokok untuk bertahan hidup. Mereka terutama cenderung banyak membelanjakan uang dalam bentuk makanan siap saji yang bisa disantap kapan saja saat diperlukan tatkala karantina di rumah diperpanjang, makanan kaleng juga menjadi buruan.

Bisnis jual beli daring seperti Amazon.com justru makin moncer di masa pandemi ini. Tercatat Amazon.com malah kerepotan melayani pesanan pembeli dan sampai harus menambah jumlah karyawan sebanyak kurang lebih 100.000 orang. Belum lagi ada kemungkinan suplai sulit sehingga diperkirakan harga-harga barang kebutuhan pokok akan makin membubung tinggi.

Sektor-sektor yang Gugur

Dengan begitu cepatnya pandemi ini menyebar, bisnis-bisnis di bidang pariwisata, akomodasi (seperti hotel, penginapan) dan transportasi (seperti travel agent, maskapai penerbangan) sudah dipastikan terpukul hebat sebelum sektor lainnya terkena. Di Amerika Serikat saja, maskapai-maskapai penerbangan sudah meminta suntikan dana dari pemerintah agar tetap bisa terus beroperasi, dan tidak jatuh pailit karena kekurangan kas yang bisa diibaratkan darah bagi tubuh perusahaan. Hal ini bisa dipahami karena larangan bepergian (travel ban) diberlakukan di mana-mana.

Dan karena masyarakat tidak keluar rumah dan membatasi tingkat konsumsi mereka secara drastis hingga ke level kebutuhan pokok saja, laju ekonomi makin berat. Tidak heran jika bisnis barang elektronik rumah tangga (lemari es, AC), otomotif, ponsel pintar, serta produk-produk kebutuhan sekunder dan tersier lain akan makin turun peminatnya.

Sektor transportasi online juga menurun setidaknya 30% di Jakarta dan menurunkan pendapatan mereka. Karena itu, pemerintah mengimbau mereka beralih dari mengantar orang menjadi kurir barang saja karena justru saat ini makin banyak orang yang membeli barang dengan jasa pengiriman atau kurir.

Sektor perbankan juga diperkirakan bakal terpukul karena bank-bank akan terkena ‘default’.

Skenario terburuk ialah akan terjadi kelumpuhan ekonomi. Untuk menjaga diri dari kemungkinan terburuk inilah kita harus bersiap dari sekarang.

Sektor-sektor Subur

Sejumlah sektor bisnis justru mengalami pertumbuhan tatkala masyarakat didera krisis akibat Coronavirus (COVID-19). Di antaranya ialah sektor ritel (retail) yang di awal-awal pandemi mengalami lonjakan permintaan dari konsumen. Sektor ritel yang berbentuk toko konkret mungkin akan terpukul juga tetapi khusus untuk ritel di dunia maya alias online retail tampaknya akan berada di taas angin karena orang-orang segan ke luar rumah akibat kecemasan pandemi sehinga ada kemungkinan perilaku semacam ini akan terus tertanam di benak konsumen meski COVID-19 nantinya juga akan berlalu. Seperti kita ketahui, begitu presiden Jokowi mengumumkan kasus pertama COVID-19 di Indonesia sebagian masyarakat sudah melakukan panic-buying di mana-mana terutama di Jakarta sebagai episentrum. Produk-produk kebutuhan pokok (sembako) laku keras baik di toko offiline dan online. Hal ini sudah terbukti di China tatkala wabah SARS menyapu negeri itu tahun 2004, platform online shopping lokal banyak yang menuai laba berkat ketakutan masyarakat berbelanja secara langsung di luar rumah.

Di samping ritel sembako, sektor lain yang moncer ialah bidang kesehatan. Bisnis apotek tampaknya akan makin bersinar. Penjualan produk-produk kesehatan seperti vitamin C akan melonjak. Semuanya demi meningkatkan sistem kekebalan tubuh dalam menghadapi serangan virus.

Bisnis media seperti radio, berita daring akan terus bisa bertahan karena relatif aman sebab bisa dilakukan dari rumah atau dalam ruangan. Masyarakat yang tertawan di dalam rumah mereka sangat membutuhkan informasi untuk mengisi waktu. Konsumsi konten ini akan terus meningkat apalagi dengan berlakunya kebijakan bekerja dari rumah (work from home) sehingga makin banyak waktu untuk mengunjungi situs berita daring dan mendengar radio. Untuk bisnis televisi, mungkin akan terganggu sebab lebih membutuhkan kehadiran fisik secara bersamaan, misalnya dalam siaran langsung (live programs).

Bisnis gim daring (online games) juga diramal tambah menjanjikan sebab di rumah dengan banyaknya waktu, masyarakat terutama kaum millennials pasti mencari gim.

Bisnis-bisnis hiburan digital semacam Netflix sedang di atas angin. Apalagi dengan tidak diperbolehkannya orang berkerumun di bioskop, mereka akan beralih ke hiburan yang lebih bisa diakses secara privat di rumah. Buktinya saham Netflix dan sejenisnya membubung tinggi setelah pandemi terus meluas ke berbagai belahan dunia.

Di dunia olahraga sendiri, bisnis fitness center akan menurun. Studio yoga juga akan menurun pengunjungnya akibat larangan berkelompok. Sementara itu, sebaliknya platform olahraga online akan menjamur karena orang selain segan untuk berjejal dan menempuh perjalanan jauh, mereka akan memilih untuk di rumah dan berolahraga sendiri tanpa ada risiko tertular penyakit.

Platform-platform online yang menjembatani komunikasi yang dilakukan dalam bekerja di rumah juga akan berkembang sangat subur. Di Indonesia, bekerja di rumah rasanya masih jauh dari angan karena sebagian besar masyarakat kita tidak mengenal pekerjaan di rumah. Kalaupun mereka mengakuinya, profesi atau pekerjaan apapun yang bisa dilakukan di rumah adalah jenis yang mereka anggap tidak bergengsi, dipandang remeh dan tidak ada prestisenya. Dan ini bukan omongan saya saja, karena saya saja pernah mengalami ditolak permohonan perpanjangan paspor gara-gara saya dulu sempat hanya bekerja secara lepas alias tidak berkantor. Negara seolah masih menganaktirikan mereka yang bekerja secara lepas di rumah dan tidak menghamba pada korporasi. Masyarakat Indonesia saat ini mau tidak mau diharuskan bekerja dari rumah. Dan meski tidak bisa semuanya mengadopsi cara kerja begini, yang penting adalah masyarakat kita mulai sadar bahwa bekerja dari rumah adalah solusi yang sangat jitu bagi masalah yang mereka selama ini harus hadapi, dari kemacetan, banjir, dan sebagainya yang sangat menguras kondisi fisik, psikologis dan mental para pekerja. Perusahaan-perusahaan dan instansi pemerintah yang selama ini masih setengah-setengah menjalankan kebijakan bekerja dari rumah dipaksa menyelami plus minus bekerja dari rumah dalam beberapa bulan mendatang. Sebelum ini, pola kerja dari rumah memang sudah populer di kalangan Millennials yang mendambakan fleksibilitas kerja di mana saja tanpa terikat waktu dan tempat. Dengan pandemi ini, tidak hanya Millennials tetapi generasi-generasi sebelumnya juga dipaksa untuk mengadopsi. Tidak heran mungkin saja pola kerja ini akan diterapkan bahkan jika pandemi COVID-19 ini sudah berlalu. Apalagi jika terbukti efektif.

Dampak diadopsinya pola kerja dari rumah (working from home) akan mendorong perubahan yang begitu luas dalam masyarakat kita. Misalnya, online delivery akan makin dianggap wajar dan bagian dari kehidupan. Dan perkembangan ini bisa jadi mendorong makin banyak bisnis untuk mengembangkan layanan pengiriman barang dan produk mereka sendiri tanpa menggantungkan diri pada layanan pihak ketiga.

Pandemi COVID-19 juga mendorong perbankan digital untuk terus meluas di tengah masyarakat kita. Makin banyak layanan yang tidak memerlukan tatap muka sehingga risiko tertular menurun. Saat ini perbankan kita memang sudah menuju ke arah tersebut, ditandai dengan maraknya perbankan online di ponsel pintar. Kegiatan perbankan seperti membuka rekening sudah bisa dilakukan secara daring, tidak perlu ke kantor cabang bank yang bersangkutan dan mengantre dan menunggu lama dan berbicara dengan teller bank. Dengan pandemi ini, masyarakat akan secara otomatis tergiring untuk memanfaatkan kemudahan bertransaksi jarak jauh dari rumah mereka sendiri. Meskipun nantinya pandemi bisa berlalu, bisa jadi perubahan perilaku ini akan terus menetap dan menjadi permanen.

Semua kegiatan ekonomi akan dipaksa oleh pandemi COVID-19 ini agar menuju ke ranah digital. Konsumen menginginkan kontak fisik yang seminimal mungkin karena cemas dengan adanya virus dan di sisi lain perusahaan dan brand juga dipaksa menuruti kemauan pasar. Bagi mereka yang masih menjalankan semua kegiatan ekonomi di ranah offline dan belum berniat ke ranah online, sekarang saatnya melakukan revolusi itu sebelum sepenuhnya terlambat agar bisa mempermudah transaksi/ pembelian setelah para konsumen enggan meninggalkan rumah.

Apa Yang Bisa Dilakukan Marketers?

Lalu dari semua kondisi dan prediksi tadi, apa yang bisa dilakukan oleh para pemasar atau marketers di Indonesia terutama? Menurut penulis Yuswohady, yang paling masuk akal adalah menggenjot aktivitas dan kampanye di Humas (Public Relations). “PR yes, marketing no, selling absolutely no!” kata pembicara tersebut.

Saat inilah menurut Yuswohady, saat masyarakat dirundung musibah, saatnya brand sebagai corporate citizens melakukan aktivitas yang menunjukkan empati tinggi pada masyarakat. Perusahaan atau lembaga adalah warga negara juga dan mereka idealnya juga tidak hanya menjadi makhluk ekonomi yang mengejar keuntungan semata tetapi juga menjadi warga negara yang bertanggung jawab.

“Inilah saatnya brand itu harus memberi (giving), bukan menerima (getting) dengan menjadi bagian dari solusi bagi masalah yang menghadang (Coronavirus),” tuturnya.

Namun di saat yang sama, lazimnya semakin banyak yang kita berikan, semakin banyak yang kita terima pula. Makin tinggi empati yang diberikan pada masyarakat yang terkena dampak pandemi, semakin tinggi juga peluang brand untuk mendapatkan citra positif di dalam benak masyarakat bahkan saat pandemi berlalu.

Cara-cara membangun citra positif itu seperti biasanya adalah mengadakan kegiatan-kegiatan bertema tanggung jawab sosial korporat (Corporate Social Responsibility). Hal ini bahkan sudah diterapkan oleh beberapa perusahaan seperti Kimia Farma yang sudah membatasi pembelian masker dalam jumlah besar. Saat pihak lain menimbun dan mengekspor masker demi keuntungan pribadi, justru apotek Kimia Farma menyediakan masker dalam harga jual normal (Rp2.000 per lembarnya). Ruangguru juga mengizinkan platformnya dinikmati secara gratis saat pandemi berlangsung sehingga sekolah-sekolah ditutup sehingga proses belajar mengajar di sekolah tidak memungkinkan dan harus diganti dengan proses belajar mandiri di rumah. Beberapa media daring juga secara khusus berempati dengan menggratiskan konten premium mereka. Sekilas omset mereka justru menurun tetapi ini semua sejatinya adalah investasi jangka panjang sehingga konsumen akan terus mengingat brand mereka.

Sebenarnya ini adalah saat yang tepat bagi brand dalam membangkitkan kesadaran (awareness), kesetiaan (loyalty), sehingga advokasi bisa muncul dengan sendirinya. Advokasi ini terjadi saat sejumlah konsumen bangkit membela brand yang mereka anggap memiliki visi dan misi yang mulia dan selaras dengan pandangan mereka.

No Opportunism and Hard Selling!

Bahkan bagi brand-brand yang sedang menikmati keuntungan atas pandemi ini, ia menyarankan juga tidak secara blak-blakan melakukan kegiatan ‘hard selling’ sehingga mereka terkesan menikmati penderitaan orang banyak. Brand mereka akan dianggap masyarakat kurang empatik dan buruk. Ia menandaskan pentingnya menghindari strategi marketing yang oportunistik, terkesan memanfaatkan musibah. “Yang saya sarankan CSR dan lebih ke PR,” tegasnya.

Kondisi pandemi ini memberikan ruang bagi kehumasan (PR) yang selama ini dianaktirikan oleh brand karena dianggap tidak menghasilkan keuntungan secara langsung. “PR selama ini dicap sebagai kampanye pencitraan dan menghasilkan ‘image‘ semata tapi justru di masa-masa sulit seperti sekarang ini, PR itu yang paling kuat dan berdampak (powerful and impactful),” ungkapnya. Kegiatan CSR sebagai bagian dari kehumasan misalnya dianggap kurang ‘nendang’ dan hanya sebagai formalitas bagi brand padahal ada juga dampak positifnya bagi brand dalam jangka panjang. Dan memang hasilnya tidak bakal dinikmati saat ini juga (karena bagaimana mau mendapat untung karena masyarakat toh daya belinya melemah di saat pandemi). “Jadi (brand-brand -pen) sekalian ‘nyemplung’ dan empatik, menunjukkan itikad baik untuk menjadi warga negara yang baik untuk membantu masyarakat luas di tengah kondisi sulit.”

Brand-brand yang sudah menunjukkan aksi cepat tanggap dalam pandemi ini misalnya Grab Food memungkinkan pengiriman makanan tanpa ada kontak fisik antara si pembeli makanan dengan si kurir. Fitur ini diberikan demi memenuhi imbauan pemerintah agar masyarakat menerapkan ‘social distancing‘. Di sini brand masih bisa melakukan selling secara halus (soft), melakukan kegiatan bisnis mereka dengan tetap semaksimal mungkin menekan kontak fisik antarmanusia. Brand ini sukses mengedepankan solusi bagi masyarakat.

Mencontoh dari sini, brand-brand di Indonesia bisa mulai bekerja keras mencari masalah-masalah yang ada di masyarakat saat ini dan mempersembahkan solusi bagi mereka yang membutuhkan di masa kita semua harus bekerja dari rumah dan menjaga jarak dengan individu lainnya.

Resep Bertahan Bagi Bisnis Rentan

Bagi bisnis-bisnis yang rawan dengan efek negatif pandemi COVID-19 ini, sangat disarankan untuk mengamati perilaku konsumen dan mengubah strategi bisnis mereka agar bisa terus bertahan melewati krisis ini. Akan ada banyak sekali perilaku konsumen yang berubah setelah mengalami pandemi COVID-19 ini. Misalnya bisnis restoran yang saat ini lesu karena siapa yang mau makan di luar dengan risiko tertular virus?

Nasihat pertama dan paling utama ialah dengan segera beralih ke platform online. Ini sudah tidak bisa ditunda. Jika Anda ingin bisnis terus bertahan dan dapat melewati krisis, bangun strategi Anda sendiri untuk menuju ke kanal daring. Ibarat katalisator, COVID-19 terus mendorong terjadi revolusi digital dan online.

Yuswohady juga menyarankan agar brand-brand berlomba menjadi yang pertama dalam menyuguhkan solusi di bidang mereka terkait pandemi COVID-10. Misalnya langkah yang dilakukan Ruangguru membuatnya menjadi yang terdepan dan paling diingat (top-of-mind) di antara banyak platform belajar daring sejenis. Begitu juga Telkomsel yang memberikan bonus paket internet bagi pengguna untuk bisa belajar di rumah.

“Karena itu carilah masalah-masalah yang berkaitan dengan pandemi COVID-19, kebijakan working from home dan social distancing ini dan memberikan solusi inovatif berupa program CSR/ PR yang pertama di bidang kita masing-masing agar terus diingat masyarakat. Karena siapa yang mau mengingat yang kedua dan ketiga dan seterusnya?”

Bagaimana dengan brand-brand produk tersier semacam otomotif, peralatan elektronik rumah tangga, dan sejenisnya yang masyarakat akan lebih jarang butuhkan selama pandemi ini? Yuswohady mengatakan memang sulit. Salah satu jalan bertahan ialah dengan membangun brand saat mempertahankan penjualan sangat sulit. Bisa saja masih menjual tapi caranya dengan halus (soft selling), bukan hard selling.

Brand juga semestinya sadar bahwa penjualan mereka akan menurun dalam waktu dekat ini. Dan untuk merespon penurunan ini, mereka bisa mengandalkan PR (humas) untuk sekali lagi membangun brand. Karena toh mau berjualan sampai diskon habis-habisan pun akan percuma juga dengan melemahnya daya beli masyarakat dan pembatasan keuangan mereka untuk konsumsi barang-barang primer yang saat pandemi akan menjadi prioritas tertinggi. (*/)

Kapan Prank Jadi Keterlaluan?

Beberapa waktu lalu kita tahu ada fenomena maraknya “prank” di media sosial, terutama YouTube. Bagi saya sendiri, konten semacam ini sebetulnya bukan barang baru. Cuma medianya saja yang berbeda.

Kalau dulu, acara-acara berformat prank juga sudah ada. Sebut saja “Spontan” yang dikenal di SCTV dengan dikomandoi Komeng. Acara setengah jam itu cukup populer dan menghibur.

Hanya saja yang cukup berbeda dari format prank zaman Spontan dan zama digital sekarang adalah sasaran dan cara mengerjainya.

Saya sendiri mengamati bahwa dalam format prank ala Spontan, saya lebih sedikit menemukan unsur bahaya atau merugikan yang teramat sangat bagi si korban prank. Dengan kata lain, memang korban dikerjai tapi tidak sampai habis-habisan atau membuat dia jadi menangis atau kecewa atau benci dengan si oknum.

Kita juga menemukan ada fenomena budaya April Mop yang akarnya sudah ada sejak zaman dulu. Dan ini bagian dari humor yang berkembang dalam kebudayaan manusia di mana saja. Humor menjadi bagian dari alat untuk membangun ikatan sosial di antara para anggotanya sehingga ada semacam solidaritas.

Prank sendiri bisa dibagi menjadi tiga jenis utama: “positive prank”, “neutral prank”, dan “negative prank”. Di era media sosial yang ‘kebablasan’ akhir-akhir ini, kita menyaksikan bagaimana negative prank menjadi fenomena dan merugikan orang lain baik secara material maupun psikologis.

Lalu bagaimana dengan positive prank? Prank yang positif juga ada yakni prank yang bertujuan baik, misalnya prank yang bertujuan untuk memastikan apakah seseorang memang mudah tertipu atau tidak.

Hanya saja, harus ada batasan. Apalagi di tengah attention economy seperti sekarang saat semua orang seolah sangat haus perhatian berkat media sosial, humor termasuk prank menjadi komoditas yang seksi untuk dijual. Pada gilirannya, orang-orang yang haus perhatian ini menghendaki konten yang melampaui batas agar bisa menarik perhatian khalayak ramai. Supaya viral mana bisa cuma membuat konten yang standar? Harus lebih ini, lebih itu! Inovatif dan ‘out of the box’!!! Tanpa peduli bahwa prank atau lelucon ini harus mengorbankan keselamatan orang lain.

Yang memprihatinkan lagi ialah makin banyak orang yang haus perhatian demi kepentingan ekonomi. Ini bisa ditemukan di kalangan YouTuber yang sangat mengutamakan ‘pageviews’ konten video mereka demi mendapatkan jumlah pelanggan yang lebih banyak yang pada gilirannya memperbanyak pundi-pundi mereka.

Di sisi para pemilik situs media sosial, hal ini memang juga menguntungkan karena situs-situs mereka dikunjungi makin banyak orang. Namun, di sisi kemaslahatan masyarakat, makin banyak orang yang dirugikan juga. Jadi, kalau ditilik dari motivasi, kemunculan prank di media sosial juga mirip dengan hoaks atau kabar bohong yang beredar di masyarakat kita.

Lalu kenapa kita suka meski kita tahu prank yang keterlaluan itu jelek? Psikolog berargumen bahwa hal itu tidak bisa dihindari karena prank adalah bentuk humor dan kehidupan manusia juga tidak bisa dipisahkan dari humor. Humor memberikan kita bentuk hiburan dan rekreasi yang murah dan terjangkau oleh siapa saja, tanpa harus membayar mahal akses atau tiket masuk menuju ke tempat-tempat hiburan seperti taman bermain, bioskop, dan sebagainya.

Dan kenapa juga orang tidak keberatan terlibat dalam prank? Psikolog berpendapat keterlibatan dalam prank memberikan kita sebuah tempat di dalam masyarakat atau lingkaran sosial di mana kita hidup. Dan ini sangat penting. Adanya pengakuan tersebut bagi sebagian orang sangatlah penting bagi mereka. Dengan ini, mereka percaya diri dan bangga.Dengan menjadi target prank, seseorang juga mungkin bisa dianggap sebagai bagian penting dalam sebuah kelompok.

Akan tetapi, saat prank sudah dilakukan di luar motivasi untuk membangun ikatan sosial yang positif dan sudah melanggar norma dan batasan kewajaran tentu kita harus segera mengambil tindakan tegas agar tidak terulang lagi. Prank yang membahayakan ini misalnya prank bunuh diri yang tentunya selain membahayakan si pelaku sendiri juga merugikan pihak-pihak lain yang ada di sekitar mereka. Atau kasus prank di Inggris yang sampai mengharuskan korbannya mengungkap riwayat medis yang seharusnya dijaga kerahasiaannya. Atau kasus prank di tanah air yang menyasar para pengemudi aplikasi online yang dikerjai sedemikian rupa yang membuat mereka kerepotan akibat pesanan fiktif.

Mereka yang membuat prank demi konten dan tujuan komersial mestinya sadar terhadap adanya batasan-batasan pidana dan etika yang ada dalam masyarakat kita ini sehingga tidak sembarangan membuat konten bertema prank yang malah merugikan pihak lain demi keuntungan pribadinya semata.

Di sinilah masyarakat kita perlu dididik soal literasi digital yang di dalamnya juga ada aspek etika digital. Bahwa masyarakat seharusnya sadar bahwa di dalam dunia maya juga berlaku aturan sebagaimana dalam dunia nyata.

Kala video-video prank ini marak, kita seharusnya menggunakannya sebagai momentum untuk menilik ke dalam lingkungan keluarga, sekolah dan sekitarnya serta menanyakan pada kita sendiri apakah kita sudah memberikan edukasi perihal penanaman etika.

Terlebih lagi ialah pemerintah termasuka instansi sekolah kita agar mengambil peran yang lebih aktif dalam menanamkan etika ke dalam pribadi anak-anak dan remaja usia sekolah agar tidak terseret arus tren bernama prank ini.

Pemerintah kita juga seharusnya bisa menggunakan kekuatannya untuk menekan dan mendesak para pengelola dan pemilik situs-situs media sosial seperti YouTube yang menjadi wadah konten semacam ini untuk mengambil tindakan tegas misalnya dengan menghapus konten prank yang melanggar etika. Dengan demikian, kita bisa menekan kemunculan konten-konten prank negatif dan mencegah para pembuatnya menangguk untung dalam bentuk apapun dari konten tersebut.

Solusinya tentu bukan dengan pemblokiran akses terhadap layanan media sosial seperti YouTube karena patut diakui manfaat yang didapatkan dari YouTube juga tidak sedikit bagi masyarakat kita. (*/)

Hidup di Tengah Terpaan Coronavirus

Siapa sih yang tidak tahu dengan keriuhan isu Coronavirus alias COVID-19?

Saya sendiri yang tinggal di Jakarta semula mengganggap enteng virus mutan terbaru dari keluarga corona itu. Saya masih ingat seorang teman yang bekerja di Mega Kuningan termakan berita bohong soal ekspatriat dari negeri bambu yang konon demam dan masukm kerja dan sontak mereka yang kerja di gedung yang sama menjadi paranoid dan mengenakan masker setiap saat. Kemudian baru diketahui bahwa kabar tersebut tidak mencerminkan kenyataan sebenarnya.

Di bulan Januari 2020, kami di Jakarta masih menganggap virus ini jauh dari jangkauan. Memang ada tetapi hanya di China sana. Wuhan tepatnya. Dan dengan tindakan pencegahan dan penangkalan masuknya warga China ke teritori Indonesia, kami pun agak bisa bernafas lega. Kami juga lega dengan tindakan pemerintah menghentikan impor dari China sementara waktu ini hingga isu Coronavirus mereda.

Tapi kemudian kondisi ini mengalami ekskalasi. Perlahan namun pasti, kecemasan menggerayangi kami semua. Bagaimana tidak? Setiap hari kami dibombardir dengan kabar terbaru soal korban. Memang ada yang meninggal akibat komplikasi paru dan kegagalan organ penting. Tetapi juga ada yang berhasil sembuh dan bertahan hidup. Dan anehnya, korban anak-anak tidak ditemukan.

Begitu memasuki Maret 2020, Indonesia terutama Jakarta makin tercekam setelah Presiden Jokowi mengumumkan kasus pertama Coronavirus. Dan sejak itu jumlah penderita yang terdeteksi makin banyak.

Saya sendiri semula agak menganggap enteng. Ah, masih banyak penyebab kematian selain Coronavirus yang juga tidak kalah ganas dan mendadak, seperti serangan jantung yang diderita Ashraf Sinclair, kecelakaan lalu lintas akibat perilaku yang sembrono.

Tetapi makin lama, kecemasan saya makin tak bisa dibendung juga. Apalagi setelah dikabarkan ada penderita yang pernah bekerja di lingkungan saya dan kini ia masuk ke daftar pengidap Coronavirus.

Lalu krisis makin memburuk begitu jumlah korban yang terdeteksi (entah berapa yang tidak terdeteksi) makin banyak. Akal sehat mulai ditunggangi oleh ketakutan juga akhirnya.

Saya sendiri berusaha untuk menjaga kesehatan dan kekekbalan tubuh dengan makan dan minum sesehat mungkin, tidur cukup dan berolahraga dan menjemur diri tatkala matahari sedang bersinar.

Itu karena menurut saya sinar matahari sangat penting dalam menjaga kesehatan. Apalagi menurut studi ilmiah dari BYU, sinar matahari berguna meningkatkan kesehatan emosional dan mental kita di tengah andemi Coronavirus seerti sekarang saat kita diharap mengisolasi diri. Dengan suasana yang tak mengizinkan untuk berkerumun, rasanya memang sangat menyedihkan dan muram tetapi berkat sinar matahari stres dan depresi bisa lebih mudah dikendalikan sebetulnya.

Apapun yang terjadi di sekitar kita, jika kita masih bisa mendapatkan asupan sinar Matahari yang mencukupi maka tingkat stress emosional kita akan relatif bisa dikontrol. Begitu kita kekurangan sinar Matahari, tingkat stress ini akan meninggi. (*/)

%d bloggers like this: