Zakat Bisa Kurangi Kewajiban Pajak? Belum Tentu!

Bulan Maret kita tahu biasanya adalah bulan pelaporan pajak. Bikin pusing tujuh keliling ya. Apalagi kalau Anda tergolong orang yang sibuk.

Dulu tiap Maret saya sendiri pusing karena berpikir,”Ah nanti pasti harus keluar kantor. Padahal kerjaan masih banyak. Lalu harus antre panjang. Capek, panas…”

Intinya pelaporan pajak dalam bentuk SPT itu adalah momok. Belum lagi cara mengisi formulirnya yang meskipun sudah berkali-kali melakukannya tiap tahun tapi setahu saya tidak ada orang awam pun yang benar-benar paham cara mengisinya tanpa dibantu petugas pajak.

Untungnya, republik ini terus didesak untuk berbenah diri. Tidak terkecuali urusan perpajakannya. Harus dipermudah, karena siapa yang mau bayar pajak dengan tetek bengek? Apalagi warga Indonesia belum sepenuhnya taat pajak. Kalau di media sosial saja gemar pamer kekayaan tapi begitu lapor pajak tidak jujur dan melaporkan yang lebih sedikit. Haha.

Jadi mulai tahun kemarin (2019), saya sudah melihat adanya pembenahan sistem paleporan pajak ini. Sangat bagus dan menggembirakan.

Tahun kemarin meski saya masih harus ke kantor pajak terdekat tapi setidaknya saya terlayani dengan cepat. Tidak ada antrean panjang atau berdiri lama. Ada kursi yang nyaman dan pelaporan sudah menggunakan sistem online. Kalau bingung, saya juga bisa dibimbing petugas pajak yang berjaga di sana. Pokoknya, lebih baik. Saya patut acungi jempol.

Kemudian tahun kemarin juga kita sudah diberikan nomor E-fin sebagai identitas diri wajib pajak. Sayangnya, setelah mendapatkan nomor E-fin dalam bentuk kertas kecil itu saya kesulitan menemukannya. Pun di email dalam bentuk digital juga saya tidak menemukan nomor E-fin itu. Alhasil, pada saat saya harus melaporkan pajak tahun ini saya harus pusing mencari nomor E-fin itu. Karena di catatan pribadi tidak ada, saya bertanya via Twitter Kring Pajak dan memang responsif! Sayangnya ada yang tidak beres dalam database mereka. Nomor ponsel saya sebagai salah satu data pribadi untuk verifikasi ternyata salah catat atau bagaimana sehingga nomor saya yang benar tidak cocok dengan database mereka. Lho kok bisa ya??

Baiklah. Saya pun lelah menunggu balasan hingga lebih dari seminggu. Saya angkat telepon dan tebak apa yang saya terima, bukannya suara manusia tapi mesin penjawab yang mengatakan saluran ini sedang tidak bisa dihubungi. Lalu apa faedahnya memasang nomor hotline?!

Oke saya berusaha bersikap sabar. Kemudian saya ke kantor pajak dekat kantor saya dan saya dapatkan lagi nomor E-fin itu dan sekalian saja melaporkan secara daring di kantor itu. Toh di situ ada petugasnya.

Akhirnya saya bisa melaporkan dan saya masukkan juga bukti pembayaran zakat maal yang pernah saya berikan untuk sebuah lembaga zakat swasta. Petugas berkata saya bisa mendapatkan kompensasi atas kelebihan bayar itu. Tinggal ditunggu dihubungi kantor pajak di mana NPWP saya terdaftar saja. Saya ragu. Masak iya tinggal menunggu? Bukannya saya harus proaktif?

Kemudian saya pulang dengan tenang.

Ternyata selang sehari kemudian saya dihubungi oleh petugas pajak dari kantor pajak daerah di mana saya mendaftar NPWP. Singkatnya, status kelebihan bayar saya itu harus dilaporkan ke kantor supaya SPT harus diubah dari manajemen dan kemudian mengirimkan ulang SPT itu.

Saya pun menyampaikan permintaan tadi ke HRD tapi belum ada respon jelas juga. Kemungkinan besar mereka malas melayani permintaan seorang karyawan yang merepotkan.

Benar saja. Sampai berhari-hari tidak ada kejelasan dari HRD. Baiklah.

Kemudian petugas pajak dari daerah asal itu menghubungi saya lagi dan mengatakan bahwa saya ternyata tidak perlu melakukan perubahan SPT itu.

“Kenapa pak?” tanya saya.

“Karena bapak menyalurkan zakat tidak melalui Baznas (Badan Amil Zakat Nasional). jadi tidak bisa dianggap sebagai pengurang beban pajak ya….,” terangnya lagi.

Saya pun lemas. Berusaha merelakan selisih uang yang hampir Rp500.000 itu.

Begitulah teman-teman. Kalau Anda ingin membayar zakat dan memasukkan zakat sebagai salah satu faktor pengurang beban pajak, silakan salurkan zakat hanya melalui BAZNAS! Jangan badan zakat swasta seperti yang saya lakukan karena Anda hanya akan kecewa nantinya. (*/)

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in writing. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.