Cara Mengedukasi Anak-anak Tentang Pentingnya Jaga Jarak (Physical Distancing)

Kita sebagai orang dewasa tahu bagaimana gentingnya kondisi masyarakat Indonesia saat ini. Dengan makin banyaknya penderita COVID-19, kita harus makin waspada dengan risiko penularan apalagi dengan karakter dan budaya masyarakat kita yang sangat suka berkerumun. Serasa kurang afdol kalau belum menggerombol, berjabat tangan, berpelukan, cium pipi. Edukasi juga terus dilakukan berbagai pihak, baik pemerintah maupun swasta.

Namun, selama ini yang dijadikan fokus adalah orang dewasa. Bagaimana dengan anak-anak? Kita tahu bagaimana susahnya menanamkan kesadaran menjaga jarak (physical distancing) dan diam di rumah pada orang-orang dewasa. Apalagi pada anak-anak yang notabene belum memahami sepenuhnya kondisi saat ini?

Menurut Karina Aristiana, M. Psi. (psikolog profesional dan penulis “Cara Praktis Mengembangkan Kesiagaan Bencana pada Anak”), cara mendidik anak agar paham mengenai pentingnya menjaga jarak untuk mencegah meluasnya pandemi COVID-19 ini ialah memberikan keteladanan orang-orang dewasa di sekitar mereka.

Lalu bagaimana jika mereka protes dengan orang dewasa yang keluar untuk bekerja karena alasan yang kuat seperti belum adanya izin dari atasan untuk bekerja di rumah (working from home) atau untuk membeli bahan pokok yang dibutuhkan keluarga?

Anak sepatutnya mempertanyakan bagaimana orang dewasa masih ada yang keluar rumah sementara mereka disuruh beraktivitas hanya di dalam rumah. Meskipun ini sebenarnya urusan pemerintah untuk memberikan edukasi pada para pengusaha yang masih mememerintahkan karyawan-karyawan mereka untuk terus bekerja di tengah situasi seperti sekarang ini.

Anak-anak yang mempertanyakan semestinya diberikan pemahaman bahwa berkegiatan di luar rumah yang dilakukan sejumlah orang dewasa termasuk orang tua mereka bukanlah sebuah pengecualian aturan dan demi kesenangan belaka tetapi sebab ada kewajiban yang harus tetap ditunaikan. Dan yang juga tak kalah penting ialah orang tua juga menunjukkan bahwa dirinya sebelum dan setelah keluar rumah memiliki langkah-langkah perlindungan yang nyata dan ditunjukkan secara transparan kepada anak sehingga anak paham betul bahwa situasi pandemi COVID-19 ini tidak bisa diremehkan sedikit pun. Orang tua dan orang dewasa di sekitar mereka seharusnya memberikan pesan bahwa situasi pandemi ini sudah di level yang serius.

Orang tua dan orang dewasa di sekitar anak-anak harus juga menunjukkan bahwa mereka bisa mengambil keputusan secara konsisten dan benar. Anak-anak perlu diajari bagaimana mengambil keputusan secara mandiri juga, karena mereka kelak juga akan membuat keputusan mereka sendiri. Mereka harus memahami risiko yang datang bersamaan saat berkegiatan di luar rumah. Risiko-risiko ini ialah terjangkit dan juga bisa menularkannya pada orang lain termasuk si anak sendiri. Dan anak juga perlu diberitahu bahwa jika memang orang tua tidak pergi keluar rumah untuk bekerja maka tidak akan ada pendapatn bagi keluarga sehingga kebutuhan mereka juga tidak bisa tercukupi nantinya.

Pemahaman bagaimana mengambil keputusan oleh orang tua dan orang dewasa seperti ini kemudian anak bisa terapkan pada diri mereka sendiri. Sehingga saat mereka menerima ajakan bermain bersama oleh teman-temannya keluar rumah atau berkunjung ke rumah teman mereka, si anak yang bersangkutan akan bisa memutuskan sendiri. Ia paham bahwa jika keluar rumah ia akan berisiko tertular dan juga menulari orang lain yang ia temui. Namun, di sisi lain jika ia tidak pergi dan bertemu temannya, ia akan kehilangan kesempatan untuk bermain dan berinteraksi.

Ini belum dipahami betul oleh masyarakat Indonesia. Mereka masih memandang enteng risiko tertular Coronavirus baru ini. Mengapa bisa masyarakat menganggap remeh? Karena menurut Karina, pesan-pesan awal yang diterima masyarakat kita mengenai COVID-19 ini keliru. Misalnya dahulu saat wabah baru terjadi di Wuhan, pemerintah kita menyampaikan pesan seolah bahwa negeri kita yang ada di iklim tropis kebal dari serangan COVID-19 karena hingga saat itu belum ada kasus. Padahal teori bahwa COVID-19 tidak akan berkembang di negeri-negeri tropis sudah patah dengan ditemukannya kasus di Malaysia dan Singapura yang juga terletak di garis khatulistiwa. Dan yang harus digarisbawahi lagi ialah bahwa Coronavirus ini adalah virus yang baru sehingga karakternya belum sepenuhnya dipahami oleh ilmuwan-ilmuwan top apalagi oleh kalangan awam di seluruh dunia. Penelitian-penelitian masih terus dilakukan terhadap virus anyar ini dan kita tidak bisa menutup mata bahwa pernyataan-pernyataan pemerintah juga bisa salah seiring dengan berjalannya waktu dan kita makin mengenal virus ini.

Pesan keliru lainnya yang masyarakat kita terima dari pemerintah ialah bahwa COVID-19 ini akan bisa sembuh sendiri tanpa perawatan medis. Masyarakat juga terus dicekoki dengan pesan bahwa kita cukup meningkatkan imunitas tubuh saja agar bisa kebal dari virus ini. Lalu solusi yang masuk akal bagi masyarakat Indonesia ialah dengan minum jamu dan ramuan herbal lain. Padahal jamu dan ramuan itu semua tetap bukan obat yang bisa menyembuhkan apalagi menangkal virus. Yang berbahaya ialah saat masyarakat menelan mentah-mentah pesan peningkatan kekebalan tubuh cukup dengan konsumsi jamu teratur dan berjemur di terik matahari dan berkata mereka sudah minum jamu dan berjemur sehingga mereka merasa sudah terlindungi 100% dan berhak keluar rumah dengan mengabaikan langkah-langkah menjaga kebersihan diri seperti mencuci tangan dengan sabun selama minimal 20 detik dan menggosok permukaan tangan secara sempurna, tidak menyentuh wajah, mata, mulut dan hidung terutama di luar rumah dan sebelum mencuci tangan dengan sabun.

Masyarakat juga masih percaya bahwa meskipun mereka terkena juga nanti akan ada obatnya. “Kan pemerintah sudah impor obat,” sergah mereka. Namun, Karina menggarisbawahi ketiadaan pembahasan yang serius mengenai informasi yang benar dan penyampaian informasi tadi dengan cara yang konsisten dan merata pada setiap elemen masyarakat.

Pihak-pihak yang pernah mengeluarkan pernyataan-pernyataan keliru juga seharusnya mau mengakui kekeliruan mereka dan dengan ksatria membetulkan pernyataan mereka sebelumnya kepada masyarakat luas melalui media sehingga masyarakat yang sudah telanjur percaya bisa diedukasi kembali. Mereka harus dengan rendah hati menyatakan bahwa apa yang dikatakan salah dan langkah yang ditempuh sebelumnya ternyata belum sepenuhnya bisa menanggulangi penyebaran virus ini. Pemerintah terutama harus tampil di depan dan berkata tegas,” Inilah yang harus dilakukan dan tidak dilakukan.”

Karina sendiri merasa sangat prihatin dengan langkah-langkah pemerintah yang seolah meremehkan COVID-19 dengan mengangkat awak kapal yang bebas virus tersebut menjadi Duta Imunutas Coronavirus. Pun yang tak kalah mencengangkan ialah saat tiga penderita yang akhirnya sembuh itu malah diberikan minuman jamu, seolah menyisipkan pesan ke dalam benak masyarakat kita bahwa cukup dengan jamu, kita bisa sembuh dan bebas dari Coronavirus. “Malah pemerintah melupakan pesan untuk mencuci tangan sesering mungkin dan tidak menyebutkan pesan untuk tetap beraktivitas di rumah masing-masing,” keluhnya.

Risiko-risiko ini dianggap masih ringan dibandingkan risiko yang harus ditanggung jika mereka harus bekerja di luar rumah. Dan inilah yang kemudian dilihat oleh anak-anak kita. Jika orang tua mereka saja bersikap masa bodoh, anak-anak lazimnya akan meniru juga sikap serupa.

Cara untuk memberikan edukasi pencegahan COVID-19 pada anak-anak:

  1. Tidak menakut-nakuti: Daripada memberikan kalimat-kalimat yang mengintimidasi anak, kita bisa menyampaikan fakta. Pertama kita bisa tanyakan,”Apa yang kamu ketahui soal penyakit ini?” Dari sana kita bisa memberikan banyak fakta yang memang menunjukkan bahwa penyakit menular ini sangat serius. Untuk membuktikan berbahayanya virus ini, kita bisa menilik sikap dan pernyataan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia yang sangat tidak menganjurkan anak-anak untuk memeriksakan diri ke rumah sakit dan ke klinik tempat mereka praktik di saat sekarang jika tidak dalam kondisi yang sangat terpaksa. Kenapa? Karena ada risiko penularan yang tinggi jika ke klinik atau rumah sakit. Anak-anak hanya diperbolehkan ke rumah sakit tatkala kondisi sudah darurat. Mereka juga bisa ditunjukkan berita bahwa penyakit ini belum ada vaksin atau obatnya sehingga para ilmuwan di seluruh dunia sedan berupaya keras mencari obatnya. Dan anak bisa dinasehati agar tidak menambah luas penyebaran penyakit ini dengan tetap di rumah dan menjaga kebersihan tangan dan berpola hidup sehat. Jadikan kesempatan ini untuk mengasah kemampuan anak agar mereka bisa mengidentifikasi/ mengetahui hal yang mereka inginkan dan hal yang mereka sebetulnya butuhkan. Proses membedakan keinginan dan kebutuhan inilah yang nantinya sangat penting sebagai bekal mereka mengambil banyak keputusan dalam hidup.
  2. Melibatkan anak-anak dalam upaya perlindungan: Orang tua dan orang dewasa di sekitar mereka perlu sekali melibatkan anak-anak agar mereka tahu semua orang menganggap serius tentang pandemi global ini. Orang tua harus mencontohkan dan mengajari anak-anak mencuci tangan, menggunakan hand sanitizer dengan optimal agar mikroba mati (tidak dengan sembarangan), dan tidak keluar rumah kecuali untuk keperluan yang sangat amat mendesak. Orang tua dan orang dewasa lainnya juga harus menunjukkan upaya perlindungan mereka seperti tidak begitu saja menyentuh orang lain selepas pergi dari luar rumah tetapi membersihkan diri seperti mengganti baju dan mencuci tangan dengan sabun sebelum meneruskan kegiatan lainnya terutama yang melibatkan kontak fisik. Saat membersihkan rumah untuk mencegah bersarangnya virus juga orang tua dan orang dewasa di sekitar anak juga perlu melibatkan anak-anak agar mereka mengerti bagaimana caranya terhindar dari virus. Saat mereka mengatakan sudah bosan di rumah dan hendak keluar rumah, tanyakan alasan mereka ingin keluar. JIka alasan itu hanya untuk merasa tidak bosan dan bertemu teman, orang tua harus memberikan pemahaman bahwa ada cara lain agar tidak bosan dan tetap bisa berinteraksi dengan teman mereka yakni dengan menggunakan teknologi digital seperti menelepon, bercakap via aplikasi percakapan (chat), panggilan video (video call).

Author: akhlis

Writer & yogi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: