6 Kiat Menulis Lebih Baik

Buku The Reader’s Brain: How Neuroscience Can Make You a Better Writer (Cambridge University Press, 2015) yang ditulis oleh Yellowlees Douglas, pengajar komunikasi manajemen di Unversity of Florida, memberikan perspektif baru pada para penulis mengenai bagaimana cara menulis dengan lebih baik. Dan ini tidak hanya berlaku bagi para penulis profesional (mereka yang mencari nafkah dari menulis) tetapi juga semua orang yang ingin kemampuan menulis dasar mereka dalam kegiatan sehari-hari lebih baik lagi. Karena seperti kita ketahui, sejatinya menulis adalah salah satu kegiatan dasar sebagai manusia yang berakal sehat dan berbudaya.

Douglas menegaskan bahwa menulis yang baik memang tidak mudah. Seseorang tidak hanya mampu meniru kalimat-kalimat indah gubahan para sastrawan terkemuka dunia, tetapi lebih dari itu. 

Dalam bukunya, Douglas menyarankan 6 kiat menulis dengan lebih baik untuk semua orang.

Kiat pertama dari Douglas ialah siapkan pembaca. Bagaimana caranya menyiapkan pembaca Anda? Sampaikan apa yang akan Anda sampaikan di bagian isinya, sampaikan gagasan intinya lalu sampaikan lagi mengenai gagasan yang Anda baru sampaikan, begitu ujar Douglas. Mungkin terdengar seperti repetisi/ pengulangan, tetapi inilah tantangannya bagi penulis agar kesan berulang itu tidak terlalu kentara. Pentingnya menyiapkan pembaca ialah agar di kemudian hari mereka bisa mengingat informasi penting yang Anda sampaikan. Karena seberapapun indahnya kalimat Anda, jika informasi intinya tidak tersimpan dengan baik di otak pembaca, sia-sia saja. Kiat ini didapatkan Douglas dari ilmu psikologi dan neurosains. Jadi, ingat untuk selalu menjelaskan tujuan Anda pada pembaca di kalimat-kalimat pertama dalam memo, surel, atau esai Anda. Dengan begitu, peluang mengingat informasi akan lebih besar.

Kiat kedua yakni menggunakan resensi. Menyampaikan gagasan pokok di akhir tulisan akan menguatkan ingatan pembaca karena biasanya manusia lebih mengingat informasi yang baru saja mereka baca daripada yang sudah lebih lama dibaca. Efek resensi ini ampuh untuk memperpanjang ingatan jangka pendek dan jangka panjang. Para pembaca mengingat kalimat-kalimat terakhir dalam rangkaian paragraf, item di daftar dan paragraf dalam dokumen dengan lebih jelas, tandas Douglas lagi. Terutama bagi seorang copywriter, kiat ini penting karena di akhir tulisan biasanya mereka menambahkan kalimat-kalimat imbauan untuk bertindak (call-to-action) dan kapan tindakan itu mesti dilakukan.

Untuk mereka yang harus menyampaikan kabar yang kurang menyenangkan dalam tulisan (misalnya kabar duka cita atau kemalangan lainnya), kiat ketiga akan sangat berharga. Persiapan di awal dan resensi di akhir tadi akan membantu menyiapkan pembaca mengenai hal-hal yang tidak terduga karena bisa membuatnya sedih, gundah atau frustrasi. Menurut Douglas, efek persiapan dan resensi akan membantu penyampaian pesan yang kurang positif itu agar diterima lebih baik oleh pembaca. Karena kadang hal yang kurang baik akan terasa lebih baik jika cara menyampaikannya tepat. Dalam pengalaman saya, kiat ini mirip dengan konsep “roti isi” (sandwich), yang artinya seseorang perlu meletakkan berita buruk/ kritik/ kecaman di tengah dua pujian, mirip dua lapis roti yang enak mengapit sayur mayur yang pahit dan kurang mengundang selera makan tetapi tetap harus dimakan karena nutrisinya dibutuhkan tubuh.

Saran Douglas, Anda juga bisa mengubur berita buruk dengan menyiapkan paragraf pembuka yang netral. Isinya tidak menipu (karena terlalu positif dan mengada-ada) atau memberikan berita buruk secara gamblang dan “telanjang”. Pembaca bisa syok karenanya. Untuk menghindari itu, neurosains memiliki saran untuk tidak menyampaikan berita buruk di awal tulisan. Itu karena ternyata studi klinis membuktikan bahwa dampak berita buruk dalam paragraf pertama bisa berupa resistensi atau keengganan pembaca untuk melanjutkan membaca tulisan sampai akhir. Kalau sudah begitu, tulisan Anda bisa diabaikan padahal mungkin Anda memiliki pesan yang lebih penting di bagian tengah atau akhir tulisan.

Lalu Douglas menyarankan membuka paragraf kedua dengan fokus pada berita buruk dan penjelasannya agar bisa diterima dengan lapang dada oleh pembacanya. Jangan lupa jelaskan penyebab dan konsekuensi dari berita buruk itu dengan lebih rinci. Akhirnya, masukkan isi berita buruk itu dalam sebuah anak kalimat di bagian paragraf kedua ini. Tutup pragraf itu dengan kalimat netral, dengan menyebutkan manfaat apapun yang masuk akal yang masih bisa dinikmati pembaca dari situasi yang kurang mengenakkan itu.

Kemudian susun sebuah paragraf yang pendek dan positif sebagai penutup tulisan. Bagian akhir ini bersifat berorientasi pada masa datang, mempertahankan itikad baik pembaca Anda dengan menggunakan posisi resensi dari dokumen Anda. Pembaca akan mendapatkan informasi pentingnya tanpa harus memusuhi Anda.

Kelima, manfaatkan sebab dan akibat. Dari sudut pandang evolusi, manusia cenderung untuk melihat sebab dan akibat dalam berbagai kesempatan yang penting bagi keberlangsungan hidupnya. Saat Anda menempatkan alasan logis atas diambilnya keputusan yang kurang menguntungkan si pembaca sebelum Anda menyampaikan padanya keputusan tersebut, Anda memaksimalkan kekuatan sebab. Dalam studi-studi ilmiah di tahun 1940-an, para subjek penelitian selalu menggambarkan bayangan persegi dan segitiga sederhana yang terus bergerak sebagai sebab dan akibat. Pembaca Anda juga rawan menyaksikan penyebab. Saat Anda mengubah kalimat menjadi narasi mikro sebab dan akibat, Anda membuat tulisan lebih mudah dibaca dan diingat.

Terakhir, Douglas menyarankan untuk menghindari kalimat pasif. Alasannya sederhana: karena kalimat pasif memperlambat kecepatan membaca, tak peduli sesimpel apapun isinya.  (*/)

Pandemic Diary: Stock Investment Craze

DID you hear that people in Indonesia are getting so desperate they start to get infatuated by stocks and investment lately?

They think as the market crashes, they can take advantage of the economic malaise and reap the benefits.

Instantly.

In no time.

Which is not entirely wrong. But may be misleading in some way.

Investing in stock market is not a short-term investment and that’s not our celebgrams convey to the laymen.

They blindly recommended stocks in hopes that people start saving to buy stock in these amazingly weak economic period.

But it turned out the supposedly good and useful advice turned sour and proved to be a boomerang.

It’s because every one’s financial profile is unique and investing is thus to be manifested in a unique way too, according to their unique profile and context.

But I see this as a way to start dialogs about investment.

Yes, these celebgrams are there to cause debates and after that, dialogs arise and swirl around the web.

Some investment experts and legit investment institutions are asked about the phenomenon and of course they tell the truth.

That stock investment is not an instant, get-rich-quick scheme.

It takes a long time to be able to finally live on the dividend.

And it takes a longer time to be really really wealthy like Warren Buffet and even Mr Buffet still lives a modest life. So we all know this is not about how much money one has got or invested but more about the mindset and so forth. (*/)

Pandemic Diary: Large Scale Social Restriction in Indonesia Is Just a Joke

This is what happens when your country ignores science from the very beginning. Ignorance after ignorance and pig-headedness that accumulate in the head of uninformed heads filled with swirling hoaxes on WhatsApp ends up in a semi public health apocalypse.

“Just let them be. Let them do what they want until one of them die,” epidemiologist of University of Indonesia Tri Yunis said blatantly. 

It isn’t because he doesn’t care. It’s because he’s too tired and helpless to handle the stubborn Indonesians who believe this is all a plandemic (a pandemic that is planned) and Bill Gates will plant a chip to control us and change humans’s DNA through vaccination. If he wanted to do such a thing, he could easily do it by means of his Windows Operating System.

Further, he mentioned that the work from home scheme is also a joke. People are still seen on streets, malls, markets, and no fines are charged. “And the sum of fine is too low people don’t even care,” he quipped. The fine is only around 250,000 rupiahs. 

Isolation and quarantine at a large scale, more swab tests throughout the archipelago (which I’m not sure the government is committed to it after all), and a SERIOUS large scale social restriction which will still take place in a longer cycle are all the strategies and actions that the government should immediately take now but we all know they’re too sluggish to make fast actions.

Yunis again sees a ridiculous uncoordinated efforts among the government levels from the regional to central level. It is as if they acted separately to the different directions and goals. This is why the country is in a huge mess. And when the regional level administration are given freedom to make their own policy, they don’t base the policy on evidence. Most probably because they lack resources to gather data and manage and interpret the data. Or maybe they just don’t care.

Yunis said almost all of the policies made are not evidence based so the people in the grassroots do not obey the policy and the policy is not seriously observed. 

The epidemiologist said that the Covid-19 vaccination is what we need to combat the pandemic. So Indonesians must be willing to be vaccinated. Those anti vaccine folks have no ground. Despite all the facts that the vaccine efficacy is lower than the other vaccines, taking vaccine is just better than not taking at all. But if it can help us tame the Covid-19, then just do it anyway. Don’t be stubbornly reject it.

Indonesia has always been fussing about 3M (washing hands, wearing a mask, and keep a physical distance) but Yunis said it should be 7M. The other 3M are staying away from any crowds, taking a rest, taking care of immunity, and maintaining health. “And write them down anywhere!” he screamed. (*/)

Pandemic Diary: People Wear Masks But Forget to Wash Hands. WTF!

Why is it so important to wash your hands even if you already have worn a mask?

Because the surfactan in the soap/ detergent destroys the coronavirus at a certain extent. This is easy but lots of people are ignorant enough and forgetful enough to do this everytime they have to.

Also, can dogs get infected by Covid-19?

Yes, they can. In Hongkong, dogs get tested positive for Covid-19. But these dogs showed no symptoms. 

Pets like dogs are so far not proven to be the source of Covid-19 infection.

But what do you need to do in case you are tested positive for Covid-19 and thus cannot take care of your pets?

First, as the owner, you must wash the pets’ bodies completely while avoiding any bodily liquid as their body surface may be contaminated.

Once they are washed clean, these pets can be taken care of by friends or family members.

Besides that, people are wondering if Covid-19 can spread in sewage or ditches?

The new coronavirus can live in the respiratory tracts and lungs as well as intestines.

A condominium in Hongkong became an epicentrum of an local outbreak after saliva was alegedly let into the sewage.

This is why people need to close th etoilet lid just before they press that flush button. And after getting done with the toilet, they must wash both hands thoroughly, something that we don’t do rigorously. (*/)

Pandemic Diary: Indonesia Is in a Mess

Just a thoughtless young man with a sickening attitude and miserable discipline. Yuck!

The best thing about living in Indonesia is the amount of freedom you can have. Do whatever you want, as long as you don’t get noticed by the law enforcement, you’ll be fine.

You are so free because the government has too many affairs to handle, too. They work inefficiently and slowly and pathetically.

But this freedom is also the factor that allows coronavirus to spread massively and uncontrollably here.

It is certainly more about education and mindset.

You can see the above photo where a young man sits with his foot on the seat. Disgusting and impolite.

On top of that, he drops the mask down in a couch where other people are around.

This kind of shitty people are just so easy to find. Some are just afraid of security officers so they put on masks and act politely. But some others don’t even bother.

Sometimes I want to speak up and make them obey. But I feel too tired to take care of other people. (*/)

Pandemic Diary: Using YouTube as a Source of Serious Learning

We all know YouTube. It’s a platform for video makers who want to monetize their skills, capture audience’s attention, and be famous, etcetera.

I do sometimes visit and enjoy YouTube. Not sometimes but most of the times. Almost every day. I see it as a source of inspiration. 

Of course I’m upset with the algorithm that always serves me with viral content on the homepage. It’s about the current information news, viral content that I don’t really like and I don’t really need. It doesn’t serve my purpose of going there.

Lately I just knew how we can actually learn from YouTube. You should actively and consciously seek.

So here’s the thing: we tend to be distracted and carried away as we are shown provocative headlines or titles of videos. So, the most important tip for learner’s on YouTube is that you should come with one purpose of learning and stick with it throughout the time. Well, of course that sounds boring. But it’s possible if you want to.

A friend  told a story how he learned a lot of stuff on YouTube. He boasted about learning architecture, fengshui, language, sports, and the list goes on, on this platform only.

He doesn’t really like reading books. He is not a text person. So enjoying videos is a lot easier for him.

But the problem is, how can we find a reliable source of learning on YouTube known for its crazy, misleading viral content?

Of course you can. Of course we can!

Make a deliberate search. Have an intention of what you are going to learn. You can’t just open YouTube and let your mind wonder and dragged and be served with algorithm and its stupid viral content.

You should make conscious efforts of staying on your learning path. Having a focus so you will be more directed. The algorithm will help you find more quality content afterwards. It’s all about mind game. Just show the algorithm who the real master is.

I do try to use this tip when on YouTube. But I want to learn I stay with my purpose and search only the content that I need most. I never let myself wonder. Oh, well maybe sometimes. Most of the time I tried to learn and seek inspiration from the content makers there.

I also try to learn philosophy on YouTube. I love visiting MJS Channel. It’s a channel featuring a group of academicians, philosophers, thinkers, clerics, and teachers. Here I also found an interesting teacher.

Unlike any other simplistic, or over simplistic, approaches of thinking any or every issue in our life nowadays, teaches me how to think clearly and objectively. Well, not entirely because I’m still learning as well.

This is an ocean of knowledge and I’m just dipping my toes in it. So the journey is still long and winding. (*/)

Pandemic Diary: Vaccine, Please Save Me!

So the government of Indonesia has proudly declared that they have imported vaccines from  China.  The Chinese vaccin is considered not so effective because the efficacy rate is only about  60 percent. Pretty low for the  efficacy rate of vaccines, we must admit.

People are raving about this and the government doesn’t seem to give in.  The government presses forward by  making this vaccine compulsory for every citizen alive.

And the World Health Organization says that such a policy would be very counterproductive  because they learn  that the more people  are  made to get a vaccination, the more they are against it. 

But the government has another plan to convince people to get vaccines without reservation. the president himself broadcast he got the vaccines directly just simply to prove that the vaccine is safe  and will not kill  anyone. Despite that, there are some “morons” who  think that this is all a pandemic.  Yes,  they think it is a pandemic which was planned by the elite, for example Bill Gates and his foundation. 

But I  was wondering why Mr. Gates is demonized so much  while Zuckerberg or  Elon Musk doesn’t get the same condemnation. Because Zuckerberg is also enjoying this pandemic. More people are on his social media sites and apps more than ever before. And Elon Musk, thanks to the pandemic his electric car is gaining popularity, and his Company’s stock Tesla is soaring high. In the meantime, we are still suffering.  we are stuck at home. Maybe we’re not lacking food for dying of hunger, we are dying of loneliness and mental health problems and domestic violence and unreasonable fear  of losing what we may have  or not  have at all.

The government even plans to put those who are against vaccinations into jail. while some agree with this policy, the rest keep silent about it and some are vocal about rejecting vaccinations because not all of us are  healthy enough to get the vaccine.

This controversy, debate,  and angst  are endless and  useless and sickening. So instead I resort to something else : reading. (*/)

Pandemic Diary: Vaccine Approved, What’s Next?

Pandemic creates an endless supply of stories for us.

Indonesia is trying not to lose the momentum.

Its Clerics Council has recently issued approval of Sinovac Vaccine.

It’s HALAL and thus no muslims have no reason to reject Covid-19 vaccination.

One more step is taken.

But that is not the end.

We know there’re some people who are brainless enough to resist vaccination in this country.

More drama is expected to arise some months ahead. (*/)

Pandemic Diary: Headlines that Killed It

As a writer, I need to read a lot. Even that means reading something less classy. No offense.

This is the typical headline in the local newspaper distributed around Jakarta and the greater areas.

The newspaper has its online presence already but oddly enough its print version still thrives until 2021.

Galeri Semarang Berkomitmen Lejitkan Seniman-seniman Anyar

Berlokasi di Kota Lama yang kini menjadi areal pariwisata, berdirilah sebuah galeri seni. Galeri Semarang – demikian namanya – menempati salah satu bangunan tua di sana dan kemudian direnovasi untuk dapat digunakan sebagai galeri seni kontemporer. Lokasinya dekat Gereja Blenduk yang menjadi landmark Kota Tua Semarang.

Beroperasi sejak 16 tahun lalu (2001), Galeri Semarang didirikan oleh Chris Dharmawan dan dua orang mitranya yang bernama Hendra dan Handoko. Mereka bertiga bersama menjalankan galeri itu sampai tahun 2005. Di tahun itu, dua rekan lainnya mundur dan membuat Chris menjadi satu-satunya yang bertahan mengelola galeri itu hingga detik ini. Dan meski latar belakang Chris bukanlah seni rupa atau lukis, ia tidak gentar menjalankan galeri itu. Ia mengaku sebagai seorang arsitek yang kebetulan memiliki passion besar di bidang seni.

Chris dengan tekun mengumpulkan dan menyeleksi karya dari komunitas seni lokal. Ia banyak berinteraksi dengan seniman-seniman muda dan berpotensi di wilayah semarang dan sekitarnya. “Jika saya lihat ada yang berpotensi, saya ajak ikut pameran,” ujarnya.

Ditanya soal kriteria seniman potensial yang layak diikutsertakan dalam pameran di galerinya, Chris menjelaskan bahwa seorang seniman harus memiliki teknik dan konsep. “Aspek lain ialah kepribadian seniman tersebut memenuhi syarat,” imbuh pria itu. Karena seniman juga sebuah profesi, ia juga memperhitungkan bakat artistik orang yang bersangkutan. Ia mengklaim dari seniman-seniman muda berpotensi yang ia angkat di galerinya, ada beberapa yang sudah mendulang kesuksesan.

Chris beruntung karena meskipun Semarang belum seaktif Jakarta atau Yogyakarta, di kota pesisir itu sudah ada sebuah institusi pendidikan yang menjadi pusat lahirnya seniman-seniman baru. “Di Semarang, ada jurusan Seni Rupa Unnes (Universitas Negeri Semarang -pen) yang menghasilkan banyak seniman.” 

Ditanya soal jumlah seniman muda yang ia orbitkan ke dunia seni, Chris tidak yakin jumlah pastinya. Dengan frekuensi mengadakan pameran di galerinya dari enam sampai sepuluh kali dalam setahun, bisa ditaksir jumlah seniman muda yang karya-karyanya ia sudah tampilkan di galeri tersebut. “Dalam satu kali pameran, ada sekitar 5-7 seniman yang berpartisipasi. Jadi, bisa dikira-kira sendiri.”

Dalam urusan kurasi karya, Chris sengaja menyewa jasa kurator andal dan ia anggap cocok dan sukai. Ia tidak mengerjakan sendiri, apalagi ia berlatar belakang arsitektur. 

Dengan kiprahnya selama belasan tahun ini, Galeri Semarang sudah diperhitungkan dalam arena seni Jawa Tengah dan sekitarnya. Buktinya ialah baru-baru ini galeri tersebut dipilih sebagai salah satu tempat perhelatan ajang bergengsi “Biennale Jawa Tengah”. “Ada empat bangunan peninggalan masa kolonial Belanda di Kota Lama Semarang yang menjadi venue acara tersebut, dan salah satunya Galeri Semarang ini,” terangnya mengenai event yang diramaikan seratus lebih seniman Jateng.

Chris membidik para seniman ‘muda’ yang lulus dari institusi-institusi seni lokal. “Istilah ‘muda’ memang subjektif, tetapi intinya mereka seniman yang masih berkarya aktif dan masih masuk kategori ’emerging’. Usia bukan masalah. Empat puluhan pun masih bisa saya anggap muda,” tuturnya sambil diiringi tawa. Tema-tema karya seniman itu juga harus mengikuti perkembangan zaman sehingga lebih segar saat disuguhkan kepada audiens.

Di Semarang, Chris mengamati bahwa ada dua kelompok besar. Pertama yakni kelompok yang memiliki ketertarikan sebagai penikmat tetapi belum sampai tergerak untuk memboyong pulang karya seni yang dipamerkan. Sementara itu, yang kedua ialah kelompok yang memiliki ketertarikan sekaligus daya beli yang nyata. Mereka ini biasanya kolektor muda. “Kelompok pertama jauh lebih banyak daripada yang kedua,” tegasnya.

Untuk menjangkau kolektor baik di skala nasional dan internasional, ia memang masih mengandalkan jaringan kolektor di kota-kota besar di Indonesia dan mancanegara. Ia menyebut Jakarta dan Singapura sebagai kota yang memiliki jaringan kolektor yang bisa ia andalkan.

Biasanya seniman-seniman tersebut adalah anak-anak muda yang kuliah atau baru saja lulus kuliah di program studi seni rupa di institusi pendidikan formal. Biasanya mereka baru pulang kampung dari studi di kota besar di Jawa. “Tapi biasanya jika asalnya dari kota kecil dan kuliah di Yogyakarta misalnya, mereka akan cenderung berkarya di Yogyakarta. Jadi sebenarnya asal seniman-seniman di Yogyakarta itu bervariasi,” ucap pria berkacamata itu.

Galeri Semarang telah mengikuti beragam pameran seni bertaraf internasional. Chris mengaku ini kali keduanya ikut dalam Art Stage di Jakarta setelah yang pertama ia ikuti di Singapura. Kemudian ia juga pernah ke pameran seni di Hongkong dan Brussel. Dengan mengikuti pameran, ia terus bisa memperluas jaringan dan menjangkau lebih banyak kolektor seni di berbagai pelosok dunia.

Chris sendiri tidak dibesarkan di keluarga yang kental dengan pendidikan seni. “Keluarga saya keluarga pedagang,” tegasnya.

Tertarik pada seni sejak kuliah arsitektur, Chris mengakui ia mengenal seni rupa secara lebih dekat sejak awal dekade 1990-an. Ia mulai mengoleksi karya seni yang sekarang jumlahnya ratusan buah. Chris tidak memiliki sebuah tema khusus dalam koleksi seninya tetapi ia sangat meminati karya-karya ‘old masters’ yang telah berpulang. “Inilah yang dinamai orang Indonesian modern art,’ ia menjelaskan. Sementara itu, publik menamai karya-karya seniman yang lebih muda pasca era old masters sebagai contemporary Indonesian art.

Kekuatan Indonesia terletak pada keragamannya yang menonjol. Di kawasan Asia Tenggara saja, ujar Chris, Indonesia dapat dikatakan memiliki kemajuan seni yang relatif membanggakan. “Paling beragam dan menarik. Orang-orangnya memiliki keragaman latar belakang budaya dan meski studi di lembaga yang sama, karena latar belakang budaya berbeda, seniman-seniman itu menghasilkan karya yang berbeda,” tegasnya. (*/)

Dolorosa Sinaga dan Filosofi Gelas Penuh

“Jangan hidup seperti gelas yang sudah penuh,” tandasnya berapi-api. “Tak bisa lagi diisi.” Wanita itu tampak amat menjiwai perkataannya tadi. Ia hidup dengan pikiran yang terbuka, siap menyambut berbagai dialog, interaksi, dan pertukaran gagasan.


Dolo, demikian panggilan akrabnya, tak pernah merasa puas sehingga ia menolak untuk menjadi gelas yang penuh. Ia menyandarkan diri ke kursi lalu mengatakan sesuatu yang coba ia ingat dari masa lalu. Pandangannya menerawang sejenak dan sedetik kemudian berucap,”Setiap saya bertemu wartawan, saya teringat dengan tulisan seorang budayawan yang mengatakan ada empat aspek yang membuat kekuasaan tak bisa berdiri lagi. Yang pertama, kaum intelektualnya. Kedua, budayawannya. Ketiga, teknologi informasi. Dan terakhir, jurnalis.”

Ia mengimbuhi pernyataannya tadi dengan penjelasan: kaum cendekiawan akan selalu mempertanyakan kebijakan-kebijakan yang diambil pemegang kekuasaan; kaum budayawan akan terus-menerus berupaya mempertahankan nilai-nilai masyarakat yang bisa tergerus karena ambisi kekuasaan; teknologi informasi juga bisa meruntuhkan benteng kokoh penguasa di era digital seperti sekarang; dan kelompok pewarta berperan menjembatani penguasa dan rakyat banyak.  “Jadi, you are the agent of change, actually,” tegas perempuan itu lagi.

Sebagai agen perubahan, para jurnalis memiliki kekuatan dalam membentuk dan mengarahkan opini publik. “Saya juga bisa membangun opini publik tetapi tidak sehebat dan semasif kalian karena kalian mencetak berjuta-juta dan berulang kali dikonsumsi para pembaca sementara saya hanya satu.” 

Dolorosa bukan penganut aliran realis dalam berkarya sebagai perupa. Ia justru lebih tertarik pada bentuk-bentuk yang tidak secara jelas menggambarkan sosok manusia. Yang ia suguhkan pada para penikmat karyanya ialah bentuk-bentuk tiga dimensi yang sarat dengan gestur-gestur yang bermakna. Setiap kekaburan bentuk itu malah sanggup memberikan ruang yang lebih bebas bagi penikmat seni rupanya dalam menginterpretasikan. Ada ruang yang tersisa yang justru dapat diisi dengan fantasi dalam benak masing-masing orang yang melihatnya. 

Ia mencontohkan dalam sebuah pameran, ia menyaksikan bahwa karyanya yang bertajuk “Tak Terjudulkan” menjadi perhatian pengunjung karena pesan di dalamnya tidak mudah ditebak. Namun, karena Dolorosa piawai menyematkan pesan ke dalam karyanya, tanpa judul ia bisa mengajak audiens untuk berpikir lebih kritis memaknainya. Ia sempat menyaksikan diskusi seorang ibu dan anaknya mengenai “Tak Terjudulkan”. Sang ibu rupanya tengah menasihati anaknya untuk tidak takut dalam menyampaikan aspirasi dan pendapatnya, sebagaimana makna besar yang ia tangkap dari karya tersebut. Mengetahui diskusi yang terbangun dari karyanya itu, Dolorosa merasa berhasil sebagai seorang perupa.

Dolorosa memiki keahlian yang tidak diragukan lagi dalam hal analisis anatomi manusia. Pendidikannya di mancanegara memungkinkannya belajar aspek penting raga manusia sebagai subjek seni, yang turut berperan memberikannya ciri khas dalam setiap karya. Sebab ia merasa sudah ‘kenyang’ dengan gaya realisme itulah, Dolorosa kemudian memutuskan untuk menjajal gaya yang lebih unik, yakni dengan mengambil pemahaman atas gerak sebuah subjek. Jadi, ia tidak semata-mata menyuguhkan subjek secara ‘mentah’. Ia kemas lagi dengan gayanya sendiri yang tiada duanya.

Untuk menemukan seniman realis di Indonesia, kita lebih mudah. Di Yogyakarta, kita bisa jumpai banyak seniman realis, terang perempuan yang memiliki sapaan akrab Dolo ini. “Tetapi membuat figur itu mempunyai nyawa, dan bagaimana ia bisa dibuat gesturnya sehingga membuat orang berhenti.”

Dinamis dan ekspresif menjadi dua kata kunci utama yang ia utamakan dalam karya-karyanya. Dolo mengatakan figur-figur realis terlalu mementingkan akurasi dan menekankan aspek-aspek yang sebetulnya sudah diingat dan diketahui dengan baik oleh audiens. Inilah alasan Dolo tidak membuat figur-figur realistis. “Tetapi saya reenact (memeragakan kembali) gestur-gestur mereka sehingga membuat audiens harus berpikir lebih keras. Dengan begitu, mereka menjadi lebih produktif dan cerdas.”

Dolo memiliki suatu slogan dalam beraktivitas di ranah seni. “Seni itu mencerdaskan,” tegasnya. Ia meyakini bahwa semua produk manusia yang di dalamnya ada unsur kreativitas, membuat kita melihat adanyah kecerdasan dan kerja keras di dalamnya. Pencerdasan ialah suatu aspek terpenting dalam seni, menurutnya. Seni sepatutnya mendorong pikiran kita lebih bersemangat dan kritis dalam berpikir.

Di samping alat untuk mencerdaskan manusia, seni juga kata Dolo bisa berperan sebagai alat yang ampuh dalam menangkal kekerasan. Karena seni mendorong kita menuju keindahan dalam berbagai variasi bentuknya.

Meskipun bergerak dalam seni rupa, Dolo juga penikmat musik. Dalam berkarya di studionya, ia mengaku selalu mendengarkan musik untuk memacu semangat menghasilkan karya-karya anyar. 

Ada alasan kenapa menurutnya musik bisa menggiring pendengarnya ke suasana hati tertentu, kenangan masa lalu yang mengharu biru, dan semacamnya. “Karena telinga lebih dekat ke otak daripada indra lainnya,” terangnya.

Ditanya soal jenis musik yang ia dengarkan, Dolo berkata ia mendengar semua jenis musik. Bahkan dangdut sekalipun. “Dalam dangdut, Anda bisa menelusuri jejak sejarah,” terang perempuan berambut bergelombang itu. Ia menggarisbawahi keterbukaan dangdut sebagai bentuk seni yang dengan luwes mengakomodasi elemen-elemen yang datang dari luar dirinya. “Dangdut bisa memakai melodi-melodi melengking dari Zeppelin. Para pemusik dangdut itu mengadaptasikannya dan melebur menjadi dangdut juga,” tegasnya.

Seni itu menurut Dolo suatu entitas yang terbuka dan mampu memberikan pemahaman pada kita yang masih berpandangan sempit ini bahwa perbedaan itu ada dalam diri setiap manusia. Itulah mengapa setiap manusia dinamai berbeda, ia mencontohkan. Karena itu, ia sangat prihatin dengan adanya tren yang berkembang di tanah air untuk mengarah pada keseragaman dan memadamkan semangat pluralisme.

Selain sebagai perupa yang sudah berkarya ke tataran dunia, Dolo juga mendarmabaktikan waktunya sebagai seorang pengajar di Instutut Kesenian Jakarta (IKJ). Dan soal pendidikan, ia banyak memiliki kritik. “Negara kita memiliki pendidikan yang sangat terbelakang,” tandasnya dengan nada sedih. 

Bentuk pendidikan seni kita juga mengalami kemunduran. Dahulu, anak-anak selain mendapatkan pendidikan formal di sekolah, mereka juga mendapatkan waktu untuk menekuni seni di lingkungan sekitar mereka. “Dengan begitu, generasi muda masih memiliki jiwa tetapi sekarang sudah luntur,” tuturnya.

Dolo menyoroti bahwa jejak-jejak rezim militer Orde Baru yang represif itu masih ada. Reformasi juga ia anggap belum berjalan sebagaimana mestinya karena baru sanggup menggulingkan Suharto tetapi tidak memiliki fondasi yang kuat untuk menentukan masa depan Indonesia. “Jika saat itu, kita memiliki basis kuat itu dalam menentukan masa depan, ada banyak hal yang bisa kita kerjakan. (*/ Akhlis)

In Search of Deb Ng

Today feels like just another day in a monsoon season in Jakarta. Wet and windy and somber.

So I decided to just enjoy the morning by sitting and starting to work on my laptop. I’m handling a couple of writing projects and I can’t tell you how grateful I feel to work as a writer in the time of not-so-agreeable weather like today. It really is a privilege to stay indoors and still can make some money. Seriously, considering the pseudo lockdown we are now experiencing in Java and Bali (the United Kingdom, sorry you’re not alone!).

I remember on days like today, years ago I was religiously scouring that brown-dominated website called freelancewritinggigs.com and always admired the simplicity of the blog keeper’s style of writing. She hardly uses flowery sentences. Yes, her style seemed wordy but it was very natural and conversational. It was like reading an informal letter from a friend. But this one is a decent friend. Without swearing, the F word, complaints, or negativity. It was all about positivity and mood-lifting topics for emerging freelance writers around the globe.

She was Deb Ng. I still remember her iconic profile photo. Smiling with her double chin. She looked like a stocky and amiable personality to talk with. But I had never had a chance to interact with her, unfortunately. Mrs. Ng years later sold her blog. And it was the onset of brand deterioration. Tragic.

She started another blog called Kommein.com and seemed to emerge as a new celebrity of Twitter but she then vanished. Kommein never took off like her previous blog. And now I can’t seem to find her anywhere.

I’ve always dreamed of her lifestyle as a freelance writer and blogger who makes money at home, which seems to be the best and safest — if not the most lucrative — profession in the time of pandemic.

I kind of miss her and her writing.

In case you know her whereabouts on the web, let her know that it was she who kept my writing fire aflame on days when nobody even myself could trust my own potential and capability.

I’m glad I keep moving forward and making progress with my writing career despite my being amateurish 10 years ago when I got to know Mrs Ng through her encouraging writeups.

This is her back in 2008 (a year before I ran into her blog) in an interview. Observe how down-to-earth she really was. It was the year when having a social media presence was still a big deal, unlike now.

Wherever you are now, I thank you a zillion, Deb!

%d bloggers like this: