Hamper: Harusnya Bukan Buat Anteran Tapi Piknik

Jaman dolo banget pas aku masih SD, pas uda Ivan Lanin belum memproklamirkan penulisan “Idul Fitri” menjadi “Idulfitri”, rasanya Lebaran itu jadi saat yang dinanti-nanti buat dapet makanan kemasan mahal-mahal yang nggak kebeli dengan uang saku sendiri atau karena ortu ogah beliin.

Jadi kebetulan almarhum kakekku dulu kan – uhuk – anggota DPRD jadi blio udah banyak relasi dan tiap Lebaran ya kebanjiran ama puluhan keranjang kayu dengan selimut plastik dan pita-pita warna cerah meriah. Sebuah istilah dipakai untuk menyebut keranjang penuh makanan kemasan mahal dan buah segar ini: parsel.

Isinya memang bikin ngiler. Dari biskuit mahal (sori, bukan khong guan), roti bagelen yang kering dan kalau dimakan bikin kesel karena rontok semua di baju, wafer, stik coklat yang namanya aku lupa, sirup orson rasa jeruk, buah pir, apel yang kulitnya mulus. Kira-kira begitu deskripsinya seinget aku.

Lalu di atas tumpukan benda-benda tadi, pasti ada kartu ucapan yang bagus-bagus. Ada yang menulis dengan tangan jadi agak susah dibaca tapi namanya tulisan orang jadul ya emang susah dibaca tapi lebih artistik dari orang sekarang.

Ucapannya indah dan khidmat dan tentu syahdu. Nggak ada lah ucapan sok nyleneh, kreatif, inovatif. Itu terlalu berisiko karena ya namanya juga kirim parsel ke kolega.

Jaman itu kirim mengirim parsel belum dilarang pemerintah. Masih lazim dan bisa diterima.

Eh tapi sejak masa reformasi, pemerintah (sok-sokan) melarang tradisi kirim parsel karena ya dianggap suap cuy!

Entah dengan tradisi itu di kalangan swasta tapi di kalangan birokrat dan legislatif tradisi itu pun raib.

Dan sekarang tiba-tiba saja tren hamper mengemuka. Ditambah dengan ketidakmampuan orang bertatap muka dengan banyak kenalan dan kolega, tren ini makin santer akibat disebar di medsos. Di instagram stories atau twitter, bolak balik ketemu foto-foto pamer penerimaan hamper.

Tapi sebenernya apa sih “hamper” ini artinya? Dari parsel kok jadi hamper?

Kata hamper sendiri artinya itu tempat cucian kotor lho. Ada juga yang memaknai hamper sebagai wadah makanan buat piknik. Setidaknya itu menurut kamusnya orang sono.

Tapi di Indonesia makna hamper tiba-tiba kok mirip parsel ya?

Kalau bedanya dari segi ukuran sih hamper itu lebih mungil. Nggak semeriah dan semevvah parsel. Parsel lebih mahal dan eksklusif. Hamper lebih minimalis tapi desainnya juga lebih artistik.

Soal kartu ucapan, banyak juga yang pakai tulisan tangan biar terkesan lebih personal terutama yang hubungan kerjanya dekat.

Ya udahlah ya, terdistorsinya makna hamper ini memang udah tak bisa ditanggulangi lagi.

Apakah karena warga +62 lagi kurang piknik dan cuma bisa melampiaskannya dengan kirim-kiriman ginian?

Bisa jadi.

Tapi tren hamper ini juga menandakan masih adanya kelompok masyarakat yang makmur meski yang lain babak belur digiles-giles pandemi.

Yang sedih sih ada yang maunya nabung THR tapi eh terpaksa ikut tren kirim-kirim hamper karena dia dikirimi hamper juga.

Kasian sih.

Tapi terlepas dari itu semua, mau hamper mau parsel yang penting itu tandanya ada geliat ekonomi di tengah masyarakat.

Ya patut disyukuri.

Rumah mah nanti aja belinya. 🤣

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in pandemic, writing and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.