“Maybe Tomorrow”: Pengen Bunuh Diri Karena Pandemi? Mungkin Kamu Butuh Nonton Film Ini

LEBARAN yang penuh suasana desperate lagi tahun ini memang sangat menyesakkan ya. Terutama bagi kaum penganut mudik garis keras. Belum lebaran, kalau belum mudik tatap muka.

Sampai-sampai menteri pun sambat di singgasana gadingnya: “Heh jangan kan elu semua ye, eug aje silaturahim onlen juga kok. Udah dua lebaran ini! Udah deh jangan sok-sokan mudik ke kampung…”

Ya bu menteri siy enak, onlen sitaturahimnya pake wifi kenceng, gejet terkini, lha kita yang jelata ini megap-megap kalo ngomong di video call. Mau voice note aja kok ya nggak keliatan muka. Mau kirim-kiriman e-card kok ya, lama-lama mata pegel, jempol kram buat forward-forward ke orang se-WhatsApp. Kesel kan?

Karena itulah, eug mau menghabiskan waktu dengan lebih produktif (whatever that means).

Karena nggak langganan Netflix, Viu, dan layanan kayak gitu (ceritanya lagi bokek, pelit aja ding), ya udah ke Tubitv aja yang gretongan.

Eh setelah ngubek-ngubek kok nemu satu film yang bagus.

Temanya desperation gitu. Putus asa.

[SPOILER ALERT. Buat yang nggak suka dibocorin plotnya, jangan terusin baca ya.]

Dua karakternya remaja cowok dan cewek Perancis yang ketemu online buat merencanakan kapan mereka bisa bunuh diri bareng. Mereka chat intens. Belum membuka jati diri sih tapi udah tuker-tukeran gambar (kebetulan si cowok suka sketching dan si cewek suka menulis).

Si karakter cowok ini tipikal korban perisakan di sekolah. Dia itu nerd, berkacamata, anak rumahan, suka main gim komputer, nonton film porno, nggak demen olahraga jadi pas diajak si cewek mendaki gunung kepayahan gitu. Kasihan.

Sementara itu, si anak cewek ditelantarin ayah kandungnya dan memilih tebing di pedalaman Swiss sebagai tempatnya akan bunuh diri karena ayahnya pernah mengajaknya ke sana. Ia ke sana secara teratur berharap ayahnya ada di sana dan bertemu lagi tapi kok ya nggak nemu-nemu. Jadi, ini semacam keputusasaan dirinya dalam menemukan sang ayahanda yang bisa-bisanya menelantarkan dirinya. “Salah aku apa sih?” gumam dia.

Si cewek yang namanya Sarah ini karena kepahitan hidupnya juga menerima perundungan dari pria-pria di sekolahnya. Ia dikatai jelek (padahal ya nggak juga sih, dibanding Kekeyi aja dia masih lebih wow kok). Cuma memang Sarah ini suka ketus, sinis dan dingin, bahkan sama si Philip kenalan baru di internet itu.

Sementara itu, Philip ini cowok yang merasa dirinya lemah. Ia sejak dulu dirundung di sekolah dan bahkan guru-gurunya tak berbuat apapun untuk melindunginya. Seolah itu hal yang wajar tapi secara psikis, tindakan perundungan itu mengikis jiwa Philip. Ia jadi pribadi yang menutup diri. Ia pernah menjalani operasi usus buntu dan secara sadar ia mengorek-ngorek luka operasinya cuma agar tidak kembali ke sekolah terlalu cepat. ia tak mau kembali ke lingkungan yang membuatnya tersiksa secara batin.

Keduanya ngobrol-ngobrol santai malam harinya. Tapi obrolan santai itu merembet ke masalah-masalah filosofis dan eksistensialisme manusia.

Philip melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang meski terdengar klise namun terus saja relevan dengan apa yang dirasakan manusia. Misalnya:

“Manusia mengejar kebahagiaan yang tak kunjung datang.”

Duh perih kan, gan?

Lalu ia mengatakan manusia mirip hamster yang lari di sebuah roda. Lelah tapi tak bisa berhenti. Tapi anehnya orang tua tetap menganjurkan anak-anak mereka berlari dalam kehidupan meski mereka sendiri tak tahu esensi berlari seperti itu untuk apa.

Philip juga mengatakan kalimat yang mengiris: “Kamu bangun dalam kondisi depresi dan tak tahu alasannya.” Tapi manusia terus menjalani hidupnya dengan harapan hidup akan membaik padahal ya tetap gitu gitu aja.

Philip juga menggugat Tuhan (atau ‘tuhan’ dia sendiri?) dengan menganggap Tuhan sedang mempermainkannya dalam sebuah maze yang di dalamnya ia berlarian menemukan jalan keluar namun tak kunjung bisa keluar karena Tuhan menurutnya memblokade semua jalan keluar itu. Ia merasa seperti tikus lab yang cuma capek mondar-mandir.

Klimaksnya ialah saat keduanya mulai merasakan kedekatan dan bisa menghibur satu sama lain tapi kemudian Sarah menuduh Philip ini tak berani bunuh diri tapi cuma ingin tidur dengannya. Lalu mereka sudah bersiap terjun ke jurang tapi Sarah malah menghentikan upaya mereka dan ingin memeriksa surat bunuh diri si Philip. Ia berdalih ingin memastikan isinya sudah pas belum agar orang tidak berspekulasi nantinya.

Eh malah akhirnya mereka sibuk membaca surat terakhir untuk orang yang nantinya mendapati jenazah mereka. Isi surat Sarah menurut Philip lebih puitis dan menyentuh hati dan koheren. Sementara ia cuma menggambar sketsa dan puisi pendek. Ia merasa kurang berbakat, begitulah Philip.

Eh, Sarah yang tadinya menuduh Philip cuma bernyali kecil malah kemakan omongannya sendiri. Entah bagaimana ia terpeleset di bibir jurang dan hampir mati kalau Philip tidak mengulurkan tangannya dan menariknya lagi ke atas.

Sekembali di atas tebing, keduanya menenangkan diri sambil terengah-engah. Ternyata memang Sarah tak siap mati. Tubuhnya menggigil masih membayangkan betapa ngerinya bergelantungan di bibir jurang sesaat sebelumnya. Ia menemukan dirinya masih ingin hidup ternyata.

Dan keduanya malah sibuk mendiskusikan isi buku sketsa Philip yang menurut Sarah mengagumkan. Sebuah bangku yang ia anggap sebagai teman namun kemudian mesti dibongkar karena ada proyek konstruksi di taman itu. lalu ada juga sketsa manusia berhubungan seks, sebuah obsesi bagi Philip yang masih perjaka dan hanya bisa membayangkan seks melalui film-film porno di internet.

Akhir film ini cukup mengecewakan sih menurut eug, karena Philip dan Sarah yang sebenarnya sudah memahami satu sama lain dan Sarah juga sudah terang-terangan memuji Philip sebagai pria yang kiyut, humoris dan cerdas, eh malah Philip yang menampik. “Ah kamu becandain aku sekarang kan?” gitu katanya. Hambar deh jadinya.

Keduanya nggak jadi bunuh diri sih tapi malah meneruskan kehidupan masing-masing. Diringkas dalam sebaris teks di akhir film, Philip kemudian menuntut ilmu di universitas, dan lulus dari jurusan seni. Sementara si Sarah menekuni ilmu psikologi. Dan sehabis dari tebing Swiss itu, mereka diceritakan tak pernah bertemu kembali. Huh, padahal kupikir mereka akan menikah dan beranak-pinak.

Tapi eug tetap menganggap film ini oke sebab bisa mengecewakan aku. Nggak menuruti logika dan selera penonton. At least masih ada kejutannya. Dan ya memang aku terkejut sih, campur kecewa.

Satu pemikiran yang boleh diingat dari film ini ialah bunuh diri mungkin bukan jalan keluar, sebab manusia sewajarnya pasti masih ada hasrat bertahan hidup seburuk apapun kehidupan yang mereka jalani. Dan mungkin bukan karena terjalnya hidup ini yang menjadikan seseorang ingin bunuh diri tetapi lebih pada bagaimana menjalani hidup sesuai dengan panggilan jiwa masing-masing. Mereka yang terus menggunakan ‘topeng’ akan selalu ingin mengakhiri hidup. Tetapi begitu jiwa mereka bebas dan bisa menjalani hidup sebagai diri sendiri dan mendapat teman yang memahami, mereka pasti akan menemukan semangat hidup kembali. Bak sebuah bunga layu yang terpercik air, mekar perlahan.

Menonton film ini disarankan banget buat yang sedang capek dengan hidup, lelah dengan kondisi yang menghimpit kayak sekarang ini.

Ini linknya ya: https://tubitv.com/movies/559346/maybe-tomorrow?start=true

Jadi buat teman-teman yang berjuang untuk menemukan tujuan untuk bertahan hidup di masa pandemi yang mencabik-cabik jiwa ini, kuy kamu bisa! (*/)

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in fiction and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.