Ekstrim Nggak Seenak Es Krim

GAYA HIDUP yang dianggap ekstrim saat ini sedang menggejala di berbagai bidnag kehidupan. Sebut saja minimalisme (gaya hidup irit, minimalis), veganisme (berpantang produk hewani apapun), athletisisme (gaya hidup berkegiatan fisik dan berolahraga yang lebih banyak daripada rata-rata manusia modern) dan masih banyak lagi.

Gaya-gaya hidup semacam ini tidak bisa disangkal adalah salah satu cara manusia untuk bisa memetakan dunia yang sangat membingungkan, majemuk, kacau, dan acak ini. Pandangan hidup isme-isme ini bisa membantu menyederhanakan kekacauan dan kebesaran semua fenomena di muka bumi menjadi setidaknya dua kutub atau pihak: pihak yang sependapat, pro dan pihak yang tidak sependapat, kontra.

Pandangan hidup yang dikemas dalam berbagai -isme ini juga membantu manusia untuk mengetahui posisi dirinya di tengah dunia yang kacau ini. Dengan begitu, ia merasa memiliki makna. Bayangkan seseorang yang tak punya, katakanlah, nasionalisme. Ia tak punya kebangsaan dan bakal mengalami banyak masalah jika ia harus berurusan dengan manusia dari negara lain atau saat ia harus berpindah tempat tinggal ke negara lain, atau beraktivitas di tempat lain. Begitu juga dengan -isme yang berbau agama dan kepercayaan. Tanpa agama, seorang manusia apalagi di negara yang mengklaim dirinya relijius seperti Indonesia tak mungkin diizinkan hidup tanpa bisa dilacak agamanya. Agama itu meski cuma label hatus tertera jelas di kartu identitasnya. Sepenting itulah.

Saya sendiri sedang terjebak dalam sebagian gaya dan pandangan hidup tersebut. Dan mungkin Anda juga lho. Tiada manusia yang bisa terhindar dari hal ini.

Kata psikolog sih memang tiap manusia ada kecenderungan untuk terkena pengaruh gaya hidup ekstrim apapun itu. Yang punya kecenderungan terbuka untuk urusan agama, bisa jadi dia terkena pengaruh pemahaman agama yang menghalalkan kekerasan bagi manusia yang dianggap berseberangan meskipun mereka tidak memusuhi orang-orang ini.

Dan kadang kita mencap orang pinter dengan tingkat pendidikan tinggi bakal berisiko rendah terkena beginian. Nggak juga bung!

Baik yang intelijensia rendah sampai tinggi ada kok risiko masing-masing.

Yang berkecerdasan tinggi bisa saja dia merasa nyaman dengan -isme yang dia pilih sehingga apapun yang dihadapi pasti dipandang dari kacamata -isme itu.

Misalnya orang yang berpandangan relijius tinggi bakal cenderung menganggap semua masalah dan fenomena dalam hidupnya sebagai pesan, teguran, rahmat, atau kutukan dari tuhan dia.

Lain lagi dengan orang yang menghamba pada sains. Ia menganggap semua hal adalah fenomena ilmiah yang bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan. Yang nggak bisa dijelaskan dengan sains ya nggak patut dipercaya lah.

Intinya manusia manapun punya zona nyaman mereka sendiri. Bahkan manusia yang mengaku tak punya pandangan ekstrim apapun soal hidup.

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in miscellaneous and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.