Pandemic Diary: Terjebak Enak

Dicekal dari Jayakarta

HIDUP di luar Jakarta katanya nggak enak. Begitu kata seseorang di twitter tempo hari karena menurutnya memilih tempat tinggal jauh dari tempat kerja adalah kegilaan dan kesia-siaan.

Buat nanti pensiun sih oke tapi buat rumah pas masih produktif no way. Mending kontrak atau ngekos, tuturnya.

Kontan ia digeruduk warga twitter yang berpandangan sebaliknya. Rumah adalah aset dan investasi, klaim mereka. Uh, padahal kalau dihuni sendiri mah bukan investasi sih. Tapi kalau tak dihuni malah jadi beban. Sad.

Tanpa bermaksud merendahkan, sepertinya sudah saatnya orang mencari atau menciptakan pekerjaan di luar Batavia yang sudah dari zaman VOC jadi episentrum ekonomi nusantara. Apa nggak bosen?

Ya kalau aku sih kalau memang beli rumah di luar Jakarta ya juga harus siap ganti kerja.

Jangan pekerjaan kantoran 9-5 yang mengharuskan di kantor selama hari kerja. Shit. That is so boring and tiresome. Bukannya kita udah di abad digital yang bikin kerjaan lebih luwes? Mau kerja di mana aja katanya bisa?

Ya sekali lagi memang nggak semuanya bisa menikmati kerjaan dengan privilege gini tapi kalau memang berniat jebol desa keluar ibukota, sangat disarankan ganti jenis kerjaan juga dong biar badan nggak rontok habis digerus angin jalanan dan kemacetan jalanan ibukota yang bikin…. Hoegh. Sick to the bone.

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in pandemic, writing. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.