Pandemic Diary: Tentang PBJJ (Penulisan Biografi Jarak Jauh)

AKHIR pekan lagi. Fiuh.

Tapi ya namanya pekerja kreatif ya weekend kayak gini tetep kudu kerja otak. Tapi karena kerjaannya di bidang yang disukai jadi nggak terasa berat-berat banget. Untung lah. Bayangkan kalau aku disuruh kerja jadi, misalnya, aktor yang kayaknya wah atau glamor dan duitnya seabrek.

Jadi aktor atau talent atau model di industri hiburan kayaknya enteng ya. Apalagi kalau udah punya tampang ganteng dan tinggi dan putih. Jaminan sukses lah kalau punya fitur-fitur Kaukasia semacam hidung bangir, mata lebar, rambut pirang.

Tapi nyatanya nggak segitunya kok. Hidup jadi seorang pekerja seni begitu nggak seglamor yang dipikir orang.

Banyak aral melintang juga ternyata. Semua aset fisik itu memang memudahkan saat audisi tapi ya fungsinya cuma kayak mengantar kita lolos dari saringan tahap pertama. Kayak ijazah dan IPK gitu. Minimal bisa memenuhi syarat S1 atau IPK 3,00 atau lulusan universitas dengan reputasi yang nggak abal-abal.

Aku tahu ini dari seorang klien yang sedang menjalani proses PBJJ (lihat judul di atas) denganku. Ya, lumayanlah masa pandemi gini ada side hustle nulis biar bisa tetep jajan enak (karena nggak bisa masak).

Klien ini kebetulan memang sedang bekerja di Bali kemudian di tengah tahun 2020 lalu, setelah ia terjebak di Bali akibat pandemi, ia pun memutuskan pulang ke tanah air pacarnya di China sana. Ia sendiri orang Eropa.

Ternyata kehidupan pekerja seni seperti dia yang Kaukasia pun sebenernya penuh perjuangan. Mereka memang punya privilege di atas pekerja seni lokal tapi tantangan mereka untuk bertahan dan bisa merangsek ke papan atas ternyata juga nggak ringan lho.

Dan kalau dikatakan Jakarta itu keras, ya memang keras sih. Bahkan buat mereka yang orang Eropa juga.

Mereka harus kerja keras buat belajar bahasa, beradaptasi dengan budaya, makanan, gaya hidup orang Indonesia yang asing. Mereka juga nggak bisa sembarangan kerja di sini karena bisa digaruk petugas imigrasi dan dideportasi kalau ketahuan cuma punya visa turis dan nggak mengantongi izin kerja. Dan kalau sudah berurusan dengan birokrasi RI kan udah tau rumitnya dan korupnya.

Susah sih sebenernya buat nulis biografi tapi nggak pernah bertemu orangnya dan kami cuma berkomunikasi via WhatsApp. Untungnya kami tidak berada di belahan dunia yang terlalu jauh. Zona waktu tak begitu timpang. Masih selisih sejam dua jam lah. Jadi komunikasi bisa dilakukan lancar tanpa mengorbankan jam tidur.

Satu hal yang sangat membuatku berjuang keras di dalam menulis biografi secara jarak jauh begini ya ketidakmampuan menggali lebih dalam beragam informasi yang terkesan remeh tapi bisa melengkapi isi biografi agar lebih kaya.

Dan untuk mengatasi ini aku berusaha untuk memahami kepribadian dan cara ia berkomunikasi dan berpikir dengan menelusuri unggahan Instagram-nya. Iya, yang bisa kulakukan leluasa ialah dengan stalking akunnya. Jadi aku bisa mempelajari gaya dan langgam bahasanya. Aku mencoba menyelami kepribadiannya.

Selain Instagram, aku mencoba mengendus jejak-jejak digitalnya yang lain. Di YouTube, aku menemukan. Tapi ya seadanya.

Ya meski tantangannya banyak gini, kadang bersyukur sih masih bisa bekerja sesuai passion di rumah sambil duduk-duduk nyaman, nggak perlu ngantor dan mempertaruhkan kesehatan di masa pandemi.

Jadi ya udah lah aku mau nulis dulu. Minggu depan udah deadline. (*/)

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in writing and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.