Pandemic Diary: Bukti Nyata Akhir Pandemi Masih Lama

Hari-hari pandemi terus bertambah. Ibarat napi di tahanan, kita udah capek coret-coret dinding bikin turus.

Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, coret…

Begitu lagi dan lagi.

Dua lebaran sudah lewat ditelan pandemi.

Jumat siang tadi saya menjalankan ibadah salat Jumat. Dan menemukan makin banyak yang abai Protokol Kesehatan.

Ya saya maklumi. Kan mereka ini rakyat jelata, bukan hamba negara seperti aparat atau tenaga kesehatan atau birokrat yang harusnya memberi contoh.

Tapi kemudian, saya lihat seorang anggota TNI masuk.

Tanpa masker.

Kemudian ada beriringan dua orang pegawai Kommuter Line Jabodetabek.

Tanpa masker juga.

Lalu muncul seorang pria dengan kaos bertuliskan “Bangga sebagai Perawat”.

Duduk di tengah jamaah tanpa mengenakan masker pula.

Ketaatan menjalankan Prokes itu ternyata cuma berlaku di lingkungan kerja.

Di luar kantor atau tempat kerja, mereka merasa bebas.

Tiada sanksi.

Siapa juga yang berani menegur?

Kalau begini, rasanya memang ingin jadi gila.

Lalu membaca berita munculnya flu burung jenis baru. Lagi-lagi di China.

Benarkah alam begitu marahnya pada manusia?

Well, we get what we deserve. (*/)

8 Comments Add yours

  1. Maa syaa Allah.

    Saya baru pulang dari Buffalo, NY. Di sana diberlakukan pembatasan pada semua semua rumah ibadah. Masjid tempat saya biasa sholat Jumat memberlakukan kewajiban registrasi, sehingga tidak bisa “go-show” untuk sholat. Masjid lainnya pun juga menerapkan pembatasan.

    Dengan demikian, saya kira wajar angka pengidap COVID-19 di Negara Bagian New York sudah banyak berkurang. Orang banyak yang masih pakai masker walau sudah divaksin. Jumlah orang yang sudah mendapat vaksin pun juga semakin banyak. Alhamdulillah, saya dan istri yang sudah berumur kepala tiga juga sudah. Bahkan terakhir sebelum saya pulang, orang usia remaja sudah akan divaksin.

    Saya merasa agak kaget saat ke Bogor (tepat mertua) setelah melaksanakan isolasi mandiri. Suasana seolah “business as usual”, walaupun dengan masker. Saya lihat ada yang bandel pula. Memang di Buffalo, NY juga ada orang-orang bandel. Tapi terasa hawa pandeminya (walaupun sudah agak mereda). Semoga Indonesia bisa lekas sukses melawan pandemi.

    1. akhlis says:

      Ya begitulah mas. Semua di pelosok-pelosok daerah sepertinya ‘business as usual until it’s too late’. Kalau di DKI masih lumayan ketat (itu pun cuma di area fasum dan perkantoran ya). Jadi ya gitu deh. Haha. Pokoknya jangan terlalu dipikir sih supaya nggak gila.

      1. Siaap! Good to know DKI Jakarta lumayan ketat. Anyhow, stay safe!

      2. akhlis says:

        Alhamdulillah saya udah nggak tinggal di jakarta. Suburb sepi lebih aman.

      3. Wah, masih di Jabodetabek, atau di luarnya? Saya setelah beberapa tahun tinggal di kota agak kecil, jadi malas tinggal di kota super sibuk seperti Jakarta. Jadi mencari suasana lebih kalem.

      4. akhlis says:

        Luar DKI. Jakarta memang sudah nggak liveable kok. Yang tinggal juga karena nggak ada pilihan. Baru bisa pasrah saja. 😅

      5. Anyhow, much success to you ya!

      6. akhlis says:

        Makasih. Doa yang sama untuk pak Adhi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.