Laki Punya Diary

Kutipan dari buku “Expressive Writing: Words that Heal” dari James Pennebaker

TIDAK ada periode hidup yang paling menjemukan dan paling menyesakkan selain pandemi ini.

Setidaknya bagi saya. Entah bagi Anda. Bagi orang paling introvert pun, terpasung di rumah memang membuat stres. Jadi efeknya bagi orang-orang ekstrovert juga tak terbayangkan sih.

Banyak orang yang mencari metode pelampiasan stres yang berakumulasi selama pandemi. Di antaranya olahraga.

Tapi kadang beban pikiran tak bisa diatasi cuma dengan olahraga meski itu juga berguna.

Kondisi mental dan psikologis memiliki caranya sendiri untuk dipulihkan. Tidak dengan gerakan fisik tapi harus ditelisik dalam kesyahduan.

Saya pun mencari metode yang lebih efektif untuk menangani beban mental dan psikologis itu dengan membaca dan menulis.

Tapi ternyata tak semudah itu. Tak bisa sembarangan membaca dan menulis. Kalau salah membaca dan menulis malah jadinya makin stres. Lihat saja kondisi mental kita kalau baca berita Covid.

Saya pun membaca buku. Karena media online sudah bikin jemu.

Buku James Pennebaker yang berjudul “Expressive Writing: Words that Heal” ini lumayan bagus bagi mereka yang mengharapkan menulis bisa menjadi metode menerapi diri.

Kata Pennebaker, menulis secara lepas dan ekspresif membuat kita lebih rileks.

Dan yang dianjurkan lebih utama lagi ialah para pria.

Wah kenapa ya?

Itu karena kaum pria lebih jarang dan terbuka membicarakan dan mengakui masalah yang menggelayuti benak mereka.

Menulis diary atau jurnal pribadi secara merdeka membuat pria bisa menumpahkan beban pikiran dan emosi serta trauma mereka. Nah ini yang penting, trauma! Karena pria tak mau dianggap lemah, mereka jarang mau membuka luka dan trauma emosional apalagi seksual karena ada tekanan patriarki dan tuntutan masyarakat bahwa pria harus kuat, tak boleh lembek, apalagi menangis meraung-raung. Pria sejati diajarkan untuk menahan semuanya. Kecuali rasa gembira dan marah.

Maka dari itu, pria justru yang paling mendapatkan banyak manfaat jika ia menulis secara ekspresif. Bukan perempuan yang sudah leluasa membicarakan problem pribadi mereka pada teman atau tetangga atau semacamnya.

Dengan menuliskan uneg-uneg, kita bisa mendapatkan kelegaan yang relatif sama dengan membicarakannya dengan orang lain. Tapi bedanya kita tidak berisiko dihakimi atau masalah kita dibocorkan ke orang lain. Jadi aman. Sepanjang tulisan itu tak terbaca orang lain ya.

Jadi, yuk pria bikin diary. Nggak usah khawatir bakal dibaca orang. Bisa dibakar setelah merasa lega kok. (*/)

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in writing and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Laki Punya Diary

  1. Emang manfaatnya positifnya banyak banget ya bro, sayangnya masih banyak yang mikir kalo nulis diary atau journalling gitu buat kaum wanita doang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.