Jasa ‘Dosbing Ketiga’

SEORANG teman lama tiba-tiba menghubungi. Sebelumnya ia pernah mengajak saya menulis buku tapi karena kesibukan dia yang segunung sebagai mahasiswa PhD di negeri kanguru, saya maklum kalau ide itu tiba-tiba lesap bersama waktu.

Teman saya ini pernah menjadi mahasiswa berprestasi di universitas tempat saya kuliah S1 dahulu. Dia setahun lebih dulu masuk padahal usia kronologis kami sebenarnya cuma selisih beberapa bulan. Jadi dia terbilang masih muda untuk angkatannya.

Dan ia seminggu lalu mengirimkan sebuah pesan yang kemudian tenggelam dalam tumpukan pesan WhatsApp di ponsel saya.

Susah payah saya menggulung pesan-pesan dan menemukan pesannya begitu pekan berganti. Keterlaluan, mungkin begitu batinnya.

Tapi setidaknya saya akhirnya membalas.

Jadi ia bertanya soal sebuah kalimat dalam bahasa Inggris. Kemungkinan ia sedang mencoba menulis draft disertasi atau paper atau apalah, saya sendiri kurang paham. Pokoknya ia mau supaya saya membetulkan kalimat yang ia buat.

Lhoh, nggak salah nih? Mahasiswa S3 masih konsultasi ke saya yang cuma S2 dalam negeri?

Tapi ya karena ia butuh bantuan atau mungkin opini kedua, saya pun coba kirimkan usulan koreksi saya.

“Begini ya mas,” saya balas pesannya dengan diikuti kalimat yang sudah saya betulkan.

Ia kemudian memberikan saya kalimat lain untuk juga dibetulkan.

Waduh, semoga tidak jadi banyak ya. Untungnya tidak. Ia maklum saya juga habis kerja dan masih kram otak.

Di lain hari, saya menyaksikan story di Instagram seorang sahabat saat kuliah dulu: “Ah coba masih ada Akhlis, bisa minta ajarin nulis jurnal.”

Dia memang sekarang bekerja sebagai seorang guru sekolah menengah di Purwodadi, Jateng sana. Jadi mungkin sedang ada kewajiban menulis jurnal. Begitulah profesi guru sekarang. Kewajibannya makin banyak tapi kesejahteraannya masih… gitu lah.

Pesan-pesan kedua teman saya di atas tadi seakan membawa saya kembali ke belasan tahun lalu saat saya masih duduk di bangku kuliah.

Dulu saya sempat jadi ‘buruan’.

Saya juga nggak tahu bagaimana awal mulanya tapi teman-teman meminta saya jadi dosen pembimbing ketiga.

Hah?

Sebenarnya saya juga merasa aneh. Lha wong saya juga statusnya mahasiswa kok malah dijadikan tempat berkonsultasi penulisan skripsi.

Untuk urusan metode penelitian dan sebagainya, saya memang bukan pakarnya.

Tapi teman-teman saya ini banyak yang meminta bantuan demi untuk memperbaiki tata bahasa alias grammar dan ejaan (spelling) mereka. Sehari atau beberapa hari sebelum mereka berjanji bertemu dengan dosen pembimbing, mereka biasanya bertemu dengan saya.

Yang lucu saat mereka datang, sebagai adatnya orang Jawa yang meminta bantuan, saya seakan dimanjakan.

Ada yang berkonsultasi dengan membawakan makanan. Ada juga yang bertanya saya suka makan apa, dan saya pun dibawakan. Ditraktir begitulah pokoknya.

Saya jujur menikmati semua kemanjaan ini. Ya namanya juga udah kerja keras meneliti kalimat-kalimat orang yang mbulet, saya pikir saya pantas mendapatkan semua imbalan itu kan. Apa saya salah? Lha kan saya juga nggak memaksa lhooo. Mereka yang datang dan membawakan dengan kesadaran sendiri.

Syukur kalau kalimat-kalimat di draft skripsi teman-teman ini sedikit saja yang harus dikoreksi. Ada juga yang parah banget. Banyak yang harus dikoreksi. Kalimatnya nggak enak dibaca. Koherensi dan kohesivitasnya ughhh…

Ya sudahlah saya maklumi. Wong itu memang tujuan mereka ke saya. Agar saya bisa memermak kalimat-kalimat bahasa Inggris mereka yang amburadul.

Kalau apes, saya bisa sampai jam 11 malam ditunggui ‘klien’ karena saya harus ikut memikirkan kalimat-kalimat penggantinya yang bisa lebih masuk akal dan mudah dipahami.

Yang bikin emosi kadang kalau ditanya, klien ini nggak paham pesan yang mau disampaikan. Jadi saya makin kesal deh.

Kalau dia sendiri bingung, yang baca pasti lebih bingung!

Ingin saya membanting meja kalau sudah begini kejadiannya. Masalahnya saya orangnya nggak enakan, ‘ewuh pakewuh‘. Huh. Nggak enak banget jadi orang Jawa ya. Kadang mau sih jadi lebih blak-blakan tapi kadang mikir: “Kok aku kasar banget.”

Yang aneh bin ajaib lagi adalah datangnya beberapa kakak kelas. Lhoh, kok terbalik sih? Bukannya aku yang harusnya minta diajari ya. Ya, kakak kelas juga kadang ada yang merasa kurang percaya diri kalau akan berhadapan dengan dosbing. Berkonsultasi dengan saya seolah menjadi jamu penambah kepercayaan diri. Hah?! Really??

Kakak kelas ini bahkan sampai ada yang ke kos dan menunggui saya untuk mengoreksi seisi draftnya yang bakal diserahkan dosbing utama besok. “Pokoknya grammar-nya kalo salah betulin ya,” pesan kakak kelas ini sambil duduk di samping saya. Halus sih tapi tetep aja lah kayak orang kerja di bawah todongan senjata api. Dia mengamati setiap gerak-gerik saya saat saya membaca draftnya. Dan ini bisa berlangsung berjam-jam.

Padahal ya, saya juga punya tugas-tugas sendiri lhooo. Saya ingin menjerit begitu kadang sih tapi sekali lagi sebagai orang yang dimintai bantuan, saya sebaiknya tidak menampik. Kesempatan menolong orang lain adalah kehormatan, peluang berbuat baik, sebuah ladang amal. Halah!

Entah bagaimana di kampus saya juga ada beberapa mahasiswa asing dari Turki yang jadi adik kelas. Dan tampaknya mereka kuliah demi menjalankan tugas belajar. Anehnya mereka ini harusnya cerdas ya tapi kok ya masih minta bantuan saya. Saya sampai nggak percaya, “Lhah bukannya mahasiswa asing kayak kalian itu dikirim ke sini jauh-jauh karena pinter ya? Lha kok masih konsultasi ke aku mahasiswa pribumi ini?

Tapi lagi-lagi, saya memandang itu sebagai suatu kebanggaan. Saya menerima permohonan bantuannya. Sampai bahkan kelewat baik ya. Dia minta dibuatkan kalimatnya segala dan nanti saya dikasih imbalan. Waduh, jadi ‘joki’ dong aku!

Sesekali kadang saya menemukan beberapa klien yang lebih membikin capek jiwa raga karena berbagai sebab. Misalnya seorang klien yang nggak paham soal isi skripsinya sendiri jadi malah saya yang mesti banyak mikir. Lho ini skripsi punya siapa sih kok jadi saya yang stres lebih banyak?

Begitulah…

Tapi di balik semua permintaan bimbingan ini, saya justru menyadari bahwa keterampilan menulis dan menyunting saya makin tajam.

Dan akhirnya kok itu semacam sebuah kawah candradimuka bagi saya sebelum terjun ke dunia kerja yang memang sesuai jurusan. Anak sastra kerjanya di dunia tulis-menulis. Yo wis, klop lah!

Karena bidang kerja utama saya juga selalu saja lekat dengan kebahasaan, saya pun mensyukuri hal yang dulunya juga saya nikmati. Ternyata semua pengorbanan sampai mata pedes larut malam menelusuri kalimat-kalimat absurd di draft skripsi milik orang lain membikin saya lebih peka dan tajam terhadap rasa bahasa, tata bahasa, dan banyak hal tentang bahasa.

Semua pengalaman ini jadi terasa worth it. (*/)

About akhlis

Writer & yogi
This entry was posted in writing and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.